Sekilas Info
Selamat datang di Website Resmi Desa Sapari, Kecamatan Muruk Rian, Kabupaten Tana Tidung Provinsi Kalimantan Utara

Artikel & Berita

Perpustakaan Digital

ANTOLOGI GURINDAM : DIANTARA KATA DAN MAKNA

ANTOLOGI GURINDAM

DI ANTARA KATA DAN MAKNA

Dua Puluh Gurindam tentang Waktu, Pengetahuan, Manusia, dan Rahasia Kehidupan

Oleh: Slamet Riyadi

 

HAK CIPTA

DI ANTARA KATA DAN MAKNA
Dua Puluh Gurindam tentang Waktu, Pengetahuan, Manusia, dan Rahasia Kehidupan

© 2026 Slamet Riyadi

Hak cipta dilindungi undang-undang.

Seluruh isi buku ini, termasuk judul, susunan, gagasan artistik, dan karya gurindam di dalamnya merupakan karya sastra yang ditulis dan disusun oleh Slamet Riyadi.

Dilarang memperbanyak, menyalin, menerbitkan kembali, mendistribusikan, atau mengubah sebagian maupun seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun tanpa izin dari penulis, kecuali untuk kepentingan kutipan yang wajar dengan mencantumkan sumber.

Penulis: Slamet Riyadi
Tahun terbit: 2026

 

DISCLAIMER

Buku “Di Antara Kata dan Makna” merupakan karya sastra berupa kumpulan gurindam yang memadukan bentuk puisi lama dengan gagasan mengenai kehidupan manusia pada masa kini.

Sebagian karya dalam buku ini menggunakan simbol, perumpamaan, metafora, dan imajinasi. Oleh karena itu, isi gurindam tidak selalu dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah.

Pembahasan mengenai ilmu pengetahuan, teknologi, alam, manusia, dan semesta dalam buku ini ditempatkan sebagai bagian dari refleksi sastra, bukan sebagai karya ilmiah atau sumber rujukan akademis.

Setiap pembaca bebas memberikan penafsiran terhadap makna yang terkandung di dalamnya. Perbedaan penafsiran merupakan bagian dari kekayaan sebuah karya sastra.

 

 KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena antologi gurindam “Di Antara Kata dan Makna” dapat diselesaikan.

Gurindam merupakan salah satu bentuk sastra lama yang memiliki kekuatan tersendiri. Dengan jumlah baris yang sederhana, gurindam mampu menyampaikan pemikiran, nasihat, pengalaman, dan kebijaksanaan secara padat.

Kesederhanaan bentuk itulah yang menarik untuk dikembangkan.

Buku ini mencoba membawa gurindam keluar dari batas tema yang selama ini sering melekat padanya. Gurindam tidak hanya berbicara tentang nasihat moral dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dapat digunakan untuk membicarakan waktu, pengetahuan, pikiran manusia, teknologi, bumi, semesta, dan pertanyaan tentang keberadaan manusia.

Dua puluh gurindam dalam buku ini disusun sebagai perjalanan pemikiran.

Perjalanan itu dimulai dari waktu, sesuatu yang tidak pernah dapat dihentikan manusia. Kemudian bergerak menuju ilmu pengetahuan, karena manusia membutuhkan pengetahuan untuk memahami dunia. Setelah itu perjalanan memasuki pikiran manusia, ruang digital dan teknologi, bumi yang menjadi tempat kehidupan, hingga akhirnya sampai pada pertanyaan yang lebih dalam tentang siapa sebenarnya manusia di hadapan waktu dan semesta.

Setiap gurindam terdiri atas enam bait, dan setiap bait terdiri atas dua baris. Pola persajakan dijaga dengan rima AA, sementara hubungan antara kedua baris dibuat sedekat mungkin melalui pola sebab-akibat, syarat-akibat, pernyataan-kesimpulan, atau pertanyaan-jawaban.

Dengan demikian, bentuk gurindam tetap memiliki akar pada karakter puisi lama, tetapi gagasan yang dibawanya dapat berbicara kepada pembaca masa kini.

Judul “Di Antara Kata dan Makna” dipilih karena kata-kata hanyalah pintu. Makna yang sesungguhnya sering kali berada di balik pintu tersebut.

Satu kalimat dapat dibaca oleh banyak orang, tetapi melahirkan pemahaman yang berbeda. Satu nasihat dapat terdengar sederhana, tetapi menjadi sangat berarti ketika seseorang mengalaminya sendiri.

Karena itu, buku ini tidak bermaksud memberikan semua jawaban.

Sebaliknya, buku ini ingin mengajak pembaca bertanya.

Tentang waktu.

Tentang ilmu.

Tentang manusia.

Tentang teknologi.

Tentang bumi.

Tentang semesta.

Dan akhirnya, tentang diri sendiri.

Semoga antologi ini dapat menjadi salah satu upaya kecil untuk mempertemukan kembali kekayaan sastra lama dengan cara pandang manusia modern.

Jika setelah membaca satu atau dua gurindam pembaca berhenti sejenak, berpikir, kemudian menemukan makna yang sebelumnya tidak terpikirkan, maka buku ini telah menemukan alasan untuk hadir.

Slamet Riyadi
2026

 

 DAFTAR ISI

BAGIAN I — WAKTU DAN JEJAK KEHIDUPAN

Narasi Pembuka Bagian I

Gurindam 1 — Jika Waktu Terus Berjalan
Gurindam 2 — Detik yang Tidak Terulang
Gurindam 3 — Jejak yang Tertinggal
Gurindam 4 — Hari yang Tidak Kembali

BAGIAN II — ILMU DAN PENGETAHUAN

Narasi Pembuka Bagian II

Gurindam 5 — Jika Ilmu Menjadi Cahaya
Gurindam 6 — Buku yang Tak Pernah Usai
Gurindam 7 — Bertanya Sebelum Percaya
Gurindam 8 — Guru dan Cahaya Pengetahuan

BAGIAN III — MANUSIA DAN PIKIRANNYA

Narasi Pembuka Bagian III

Gurindam 9 — Pikiran yang Tak Pernah Diam
Gurindam 10 — Diam Sebelum Berbicara
Gurindam 11 — Cermin di Dalam Diri

BAGIAN IV — TEKNOLOGI DAN ZAMAN BARU

Narasi Pembuka Bagian IV

Gurindam 12 — Ketika Mesin Menjadi Cerdas
Gurindam 13 — Dunia di Balik Layar
Gurindam 14 — Jejak yang Tertinggal di Dunia Maya
Gurindam 15 — Cepatnya Zaman Berubah

BAGIAN V — BUMI DAN SEMESTA

Narasi Pembuka Bagian V

Gurindam 16 — Bumi yang Kita Tempati
Gurindam 17 — Hutan yang Berbicara
Gurindam 18 — Di Bawah Langit yang Sama

BAGIAN VI — RAHASIA KEBERADAAN

Narasi Pembuka Bagian VI

Gurindam 19 — Siapa Kita di Hadapan Waktu
Gurindam 20 — Di Antara Kata dan Makna

EPILOG

Setelah Kata Terakhir

 

PROLOG

Ketika Kata Menjadi Cermin

Manusia mengenal dunia melalui kata.

Dengan kata, manusia memberi nama kepada benda-benda yang ditemuinya. Dengan kata, pengalaman disampaikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dengan kata pula, manusia menyimpan pengetahuan tentang sesuatu yang pernah terjadi dan membayangkan sesuatu yang belum pernah ada.

Namun kata tidak selalu sama dengan makna.

Sebuah kata dapat terlihat sederhana, tetapi menyimpan pemikiran yang panjang. Sebuah kalimat dapat terdengar biasa, tetapi menjadi sangat dalam ketika dibaca oleh seseorang yang sedang mengalami sesuatu.

Di situlah sastra menemukan kekuatannya.

Gurindam mungkin hanya terdiri atas dua baris dalam setiap bait. Akan tetapi, dua baris itu dapat menjadi ruang yang luas bagi sebuah gagasan.

Baris pertama dapat membuka pertanyaan.

Baris kedua dapat memberikan jawaban.

Baris pertama dapat menunjukkan sebab.

Baris kedua dapat memperlihatkan akibat.

Baris pertama dapat mengajak manusia berpikir.

Baris kedua dapat membuat manusia melihat dirinya sendiri.

Buku “Di Antara Kata dan Makna” berangkat dari kesederhanaan tersebut.

Dua puluh gurindam di dalamnya tidak disusun untuk menggurui pembaca, melainkan untuk mengajak pembaca berhenti sejenak dari kesibukan dunia.

Sebab manusia modern hidup dalam kecepatan.

Informasi datang tanpa henti. Teknologi berkembang dari hari ke hari. Dunia berubah bahkan sebelum manusia selesai memahami perubahan sebelumnya.

Di tengah semua itu, manusia mungkin memiliki semakin banyak pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki semakin banyak waktu untuk merenung.

Maka gurindam hadir sebagai jeda.

Ia tidak membutuhkan halaman yang panjang.

Ia hanya membutuhkan beberapa kata yang tepat.

Dari waktu kita belajar tentang keterbatasan.

Dari ilmu kita belajar tentang pencarian.

Dari pikiran kita belajar tentang keraguan.

Dari teknologi kita belajar tentang perubahan.

Dari bumi kita belajar tentang kehidupan.

Dari semesta kita belajar tentang betapa kecilnya manusia.

Dan dari keberadaan kita sendiri, muncul pertanyaan yang mungkin tidak pernah memiliki jawaban terakhir:

Untuk apa manusia menjalani perjalanan ini?

Barangkali tidak semua pertanyaan harus segera dijawab.

Barangkali sebagian pertanyaan memang diciptakan untuk menemani manusia sepanjang hidupnya.

Karena itu, jangan terburu-buru membaca buku ini.

Baca perlahan.

Berhentilah pada gurindam yang terasa dekat dengan pikiran.

Bacalah kembali baris yang membuat hati bertanya.

Sebab mungkin makna sebuah gurindam tidak berada sepenuhnya di dalam kata-kata yang ditulis oleh penulis.

Sebagian maknanya mungkin baru lahir ketika kata-kata itu bertemu dengan pengalaman pembacanya.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang gurindam.

Buku ini adalah perjalanan kecil untuk melihat kembali hubungan antara kata, waktu, pengetahuan, manusia, dan makna.

Dan mungkin, ketika halaman terakhir nanti selesai dibaca, kita akan menyadari bahwa selama ini kata-kata bukan hanya digunakan untuk menggambarkan kehidupan.

Kata-kata juga dapat menjadi cermin untuk melihat siapa diri kita sebenarnya.

 

BAGIAN I

WAKTU DAN JEJAK KEHIDUPAN

Waktu adalah sesuatu yang paling dekat dengan manusia, tetapi sekaligus paling sulit untuk digenggam. Ia hadir dalam setiap detik, berjalan tanpa suara, dan tidak pernah kembali ke tempat yang sama.

Manusia dapat menyimpan foto, mencatat tanggal, membangun monumen, bahkan menulis sejarah. Namun tidak seorang pun dapat menyimpan waktu itu sendiri. Yang dapat ditinggalkan hanyalah jejak dari apa yang pernah dilakukan selama waktu masih memberi kesempatan.

Bagian pertama ini mengajak kita memandang waktu bukan sekadar sebagai hitungan jam dan kalender, melainkan sebagai perjalanan yang perlahan membentuk kehidupan. Setiap detik membawa pilihan, setiap hari meninggalkan pengalaman, dan setiap perjalanan akhirnya menjadi bagian dari sejarah diri.

 

GURINDAM 1

Jika Waktu Terus Berjalan

Jika waktu terus berjalan,
Jangan sia-siakan setiap kesempatan.

Jika hari berganti perlahan,
Isilah hidup dengan kebermanfaatan.

Jika usia terus bertambah,
Perbaikilah diri sebelum terlambat sudah.

Jika masa lalu telah menjadi kenangan,
Jadikan pengalaman sebagai pelajaran.

Jika esok belum menjadi kenyataan,
Persiapkan langkah dengan kebijaksanaan.

Jika waktu tak pernah mau menunggu,
Jangan biarkan hidup berlalu tanpa makna yang tentu.

 

GURINDAM 2

Detik yang Tidak Terulang

Jika detik berlalu tanpa disadari,
Kelak nilainya terasa ketika pergi.

Jika kesempatan datang menghampiri,
Sambutlah segera sebelum beranjak pergi.

Jika hari hanya diisi keraguan,
Banyak langkah tertunda oleh ketakutan.

Jika kesalahan datang dalam perjalanan,
Jadikan pengalaman untuk menemukan kebenaran.

Jika waktu terus bergulir tanpa menunggu,
Jangan biarkan hidup kehilangan arah dan tujuanmu.

Jika setiap detik menjadi bagian perjalanan,
Hargailah hidup sebelum berubah menjadi kenangan.

 

 GURINDAM 3

Jejak yang Tertinggal

Jika langkah meninggalkan sebuah jejak,
Jagalah arah agar tetap menuju bijak.

Jika tangan menanam sebuah kebaikan,
Kelak tumbuh menjadi warisan kehidupan.

Jika lisan meninggalkan sebuah perkataan,
Pikirkan dampaknya sebelum menjadi penyesalan.

Jika ilmu pernah diberikan kepada insan,
Biarkan manfaatnya tumbuh sepanjang zaman.

Jika hidup berakhir pada sebuah persinggahan,
Yang tertinggal bukan harta, melainkan perbuatan.

Jika nama kelak hilang dari ingatan,
Semoga kebaikan tetap hidup dalam kehidupan.

 

GURINDAM 4

Hari yang Tidak Kembali

Jika pagi telah membuka jendela hari,
Jangan biarkan waktumu berlalu tanpa arti.

Jika matahari meninggi di angkasa,
Kerjakanlah tugas dengan tekad dan asa.

Jika siang berganti menuju petang,
Renungkan langkah sebelum malam datang.

Jika malam menutup cahaya hari,
Syukurilah kesempatan yang telah dilalui.

Jika hari telah pergi bersama waktu,
Jangan berharap ia kembali menemuimu.

Jika esok membuka lembaran kehidupan,
Jadikan hari kemarin sebagai pembelajaran.

 

BAGIAN II

ILMU DAN PENGETAHUAN

Pengetahuan adalah cahaya yang membuat manusia mampu melihat dunia dengan lebih luas. Namun cahaya itu tidak datang hanya karena seseorang memiliki banyak informasi. Ia tumbuh melalui kemauan untuk belajar, keberanian untuk bertanya, kesediaan untuk membaca, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.

Di sepanjang sejarah, manusia berkembang karena pengetahuan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Sebuah buku dapat membawa pemikiran seseorang melampaui zamannya. Seorang guru dapat menyalakan rasa ingin tahu dalam diri muridnya. Sebuah pertanyaan sederhana bahkan dapat membuka pintu menuju penemuan yang besar.

Bagian kedua ini mengajak kita melihat ilmu bukan sekadar kumpulan pengetahuan, melainkan cahaya yang menuntun manusia untuk memahami, mempertanyakan, dan menemukan makna di balik apa yang dilihatnya.

 

GURINDAM 5

Jika Ilmu Menjadi Cahaya

Jika ilmu dicari dengan ketekunan,
Terbukalah jalan menuju pemahaman.

Jika buku dibaca dengan kesungguhan,
Luaslah dunia dalam pikiran.

Jika pertanyaan tumbuh dalam diri,
Terbukalah pintu untuk memahami.

Jika pengetahuan dipakai dengan bijaksana,
Jadilah manfaat bagi sesama manusia.

Jika ilmu tidak berhenti diwariskan,
Teranglah zaman oleh pengetahuan.

Jika belajar menjadi kebiasaan sepanjang masa,
Manusia tumbuh bersama cahaya ilmu yang bermakna.

 

GURINDAM 6

Buku yang Tak Pernah Usai

Jika buku dibuka dengan rasa ingin tahu,
Terbentang dunia yang belum pernah kau tahu.

Jika halaman dibaca dengan ketekunan,
Tumbuhlah pemahaman dari setiap bacaan.

Jika sebuah buku selesai dibaca,
Bukan berarti perjalanan ilmu telah selesai juga.

Jika satu jawaban telah ditemukan,
Akan muncul pertanyaan untuk pengetahuan berikutnya kemudian.

Jika buku diwariskan dari generasi ke generasi,
Hidup kembali pemikiran yang pernah mengisi sejarah negeri.

Jika manusia terus membaca sepanjang usia,
Tak akan habis dunia untuk dipahami maknanya.

 

GURINDAM 7

Bertanya Sebelum Percaya

Jika kabar datang membawa berita,
Jangan segera percaya sebelum jelas sumbernya.

Jika informasi beredar tanpa kepastian,
Periksalah dahulu sebelum menjadi kesimpulan.

Jika banyak orang berkata hal yang sama,
Belum tentu benar sebelum ada buktinya.

Jika pertanyaan tumbuh dalam pikiran,
Gunakan akal untuk mencari kebenaran.

Jika fakta bertemu dengan pemikiran,
Lahirlah pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jika manusia terbiasa menguji sebelum percaya,
Ia tidak mudah tersesat oleh kabar yang semu adanya.

 

GURINDAM 8

Guru dan Cahaya Pengetahuan

Jika seorang guru menyalakan cahaya,
Tumbuhlah harapan dalam jiwa manusia.

Jika ilmu diajarkan dengan ketulusan,
Tumbuhlah generasi dengan pemahaman.

Jika seorang murid tekun belajar,
Terbukalah jalan menuju masa depan yang lebar.

Jika pengetahuan dibimbing dengan kebijaksanaan,
Ilmu tumbuh menjadi kekuatan.

Jika seorang guru mewariskan pengetahuan,
Hidup ilmunya melampaui pergantian zaman.

Jika ilmu terus diteruskan kepada generasi,
Cahayanya tidak padam sepanjang sejarah negeri.

 

BAGIAN III

MANUSIA DAN PIKIRANNYA

Manusia tidak hanya hidup dengan apa yang terlihat oleh mata. Di dalam dirinya terdapat ruang yang jauh lebih luas: pikiran, pertanyaan, keraguan, keyakinan, dan imajinasi. Dari ruang itulah manusia menilai dunia sekaligus membentuk dirinya sendiri.

Pikiran dapat menjadi jendela menuju pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi ruang yang penuh prasangka. Ia dapat membawa seseorang menemukan jawaban, tetapi juga mengajarkannya bahwa tidak semua pertanyaan harus segera memiliki jawaban.

Karena itu, mengenal pikiran sendiri merupakan bagian penting dari perjalanan manusia. Sebelum memahami dunia di luar dirinya, manusia perlu belajar memahami apa yang bergerak di dalam dirinya.

Bagian ketiga ini mengajak pembaca memasuki ruang tersebut—ruang yang tidak terlihat, tetapi menentukan bagaimana seseorang memandang kehidupan.

 

GURINDAM 9

Pikiran yang Tak Pernah Diam

Jika pikiran selalu mencari jawaban,
Bertambah luaslah ruang pengetahuan.

Jika pertanyaan tumbuh dalam benak,
Jangan takut melangkah mencari jejak.

Jika keraguan datang menyapa,
Jadikan ia jalan menguji fakta.

Jika pikiran terbuka menerima pandangan,
Bertambah luaslah cakrawala pemahaman.

Jika akal dipandu oleh kebijaksanaan,
Tak mudah tersesat dalam penilaian.

Jika pikiran terus belajar sepanjang kehidupan,
Manusia menemukan dunia dalam setiap pertanyaan.

 

GURINDAM 10

Diam Sebelum Berbicara

Jika kata belum dipikirkan dengan bijaksana,
Diam sejenak lebih baik daripada menyesal karenanya.

Jika amarah memenuhi dada,
Jangan biarkan lidah menambah luka.

Jika berita belum jelas kebenarannya,
Jangan menyebarkannya menjadi fitnah semata.

Jika ucapan dapat melukai perasaan,
Pilihlah kata yang membawa ketenangan.

Jika hendak menyampaikan sebuah kebenaran,
Sampaikan dengan bahasa yang penuh kesantunan.

Jika lidah mampu menjaga perkataan,
Terpeliharalah hubungan dan kehormatan.

 

GURINDAM 11

Cermin di Dalam Diri

Jika ingin melihat kekurangan orang lain,
Lihatlah dirimu sebelum memberi penilaian.

Jika kesalahan mudah tampak di hadapan mata,
Periksalah diri sebelum menunjuk sesama.

Jika hati dipenuhi rasa keangkuhan,
Sulitlah diri menerima sebuah kebenaran.

Jika mampu mengakui kekurangan diri,
Terbukalah jalan untuk memperbaiki diri.

Jika keberhasilan membuat hati meninggi,
Ingatlah bahwa setiap langkah masih perlu diuji.

Jika manusia mengenal dirinya dengan kesadaran,
Ia lebih mampu memahami kehidupan dan sesama insan.

 

BAGIAN IV

TEKNOLOGI DAN ZAMAN BARU

Zaman berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat dilakukan dalam hitungan detik. Jarak yang pernah memisahkan manusia kini dipersingkat oleh layar, jaringan, dan berbagai teknologi yang terus berkembang.

Teknologi telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan menemukan informasi. Mesin semakin mampu melakukan pekerjaan yang dahulu hanya dapat dilakukan manusia. Kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dunia digital pun perlahan menjadi ruang kedua tempat manusia menjalani sebagian kehidupannya.

Namun setiap kemajuan membawa pertanyaan baru.

Apakah teknologi akan selalu membuat manusia menjadi lebih bijaksana? Apakah kecepatan informasi selalu berarti kebenaran? Dan ketika mesin semakin cerdas, apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia?

Bagian keempat ini mengajak kita melihat teknologi bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai cermin perubahan peradaban dan ujian bagi kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya.

 

GURINDAM 12

Ketika Mesin Menjadi Cerdas

Jika mesin semakin mampu berpikir dan bekerja,
Manusia harus semakin bijaksana menggunakannya.

Jika teknologi berkembang tanpa batas,
Gunakanlah dengan tanggung jawab yang jelas.

Jika mesin mampu memberi banyak jawaban,
Manusia tetap perlu menguji kebenaran.

Jika kecerdasan buatan membantu kehidupan,
Jadikan teknologi sebagai sarana kemanfaatan.

Jika pekerjaan dapat dilakukan oleh mesin,
Jangan biarkan nilai kemanusiaan menjadi asing.

Jika teknologi tumbuh sepanjang zaman,
Kebijaksanaan manusia harus menjadi pengimbang perubahan.

 

GURINDAM 13

Dunia di Balik Layar

Jika layar menjadi jendela dunia,
Gunakanlah dengan bijak agar tidak terlena.

Jika informasi datang tanpa batas,
Pilihlah yang benar agar pikiran tetap waras.

Jika dunia maya menjadi tempat berkomunikasi,
Jangan lupakan manusia yang hadir di sisi.

Jika waktu habis di depan layar,
Ingatlah kehidupan nyata tetap harus dikejar.

Jika media sosial menjadi ruang pergaulan,
Jagalah kata dan sikap dalam pertemanan.

Jika teknologi mendekatkan yang berjauhan,
Jangan sampai menjauhkan yang berada dalam jangkauan.

 

GURINDAM 14

Jejak yang Tertinggal di Dunia Maya

Jika kata ditulis di ruang maya,
Ingatlah jejaknya dapat tersimpan selamanya.

Jika gambar dibagikan kepada dunia,
Pikirkan akibatnya sebelum tersebar ke mana-mana.

Jika informasi disebarkan tanpa pertimbangan,
Kesalahan kecil dapat menjadi persoalan.

Jika identitas dijaga dengan kewaspadaan,
Terhindarlah diri dari berbagai kerugian.

Jika teknologi digunakan dengan kesadaran,
Jagalah privasi dan kehormatan dalam pergaulan.

Jika jejak digital terus mengikuti perjalanan,
Bijaklah bertindak sebelum menjadi penyesalan.

 

GURINDAM 15

Cepatnya Zaman Berubah

Jika zaman berubah dengan kecepatan,
Manusia perlu belajar tanpa keengganan.

Jika teknologi hadir membawa pembaruan,
Jangan menolak sebelum memahami perubahan.

Jika cara lama mulai ditinggalkan,
Ambillah yang baik tanpa melupakan pelajaran.

Jika dunia bergerak menuju masa depan,
Siapkan diri dengan keterampilan dan pengetahuan.

Jika perubahan datang tanpa pemberitahuan,
Jadikan kemampuan beradaptasi sebagai kekuatan.

Jika manusia mampu belajar sepanjang zaman,
Perubahan bukan ancaman, melainkan kesempatan.

 

BAGIAN V

BUMI DAN SEMESTA

Setelah perjalanan melewati waktu, pengetahuan, pikiran manusia, dan perubahan teknologi, pandangan kita kini diarahkan kepada ruang yang jauh lebih luas: bumi dan semesta.

Bumi adalah tempat yang begitu dekat hingga sering kali dilupakan nilainya. Kita berjalan di atas tanahnya, menghirup udaranya, meminum airnya, dan menikmati cahaya mataharinya setiap hari. Namun, ketika dilihat dari kejauhan, bumi hanyalah sebuah titik kecil yang mengambang di tengah keluasan semesta.

Di atas bumi terdapat langit yang menyimpan jutaan bintang. Di balik bintang terdapat galaksi, dan di luar galaksi terbentang ruang yang belum sepenuhnya dipahami manusia.

Semakin jauh pandangan diarahkan, semakin kecil manusia terlihat.

Namun justru di situlah muncul kesadaran: kecil bukan berarti tidak berarti.

Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, menjaga, mencipta, dan menentukan bagaimana kehidupan di bumi akan diteruskan. Karena itu, bagian ini tidak hanya berbicara tentang alam dan semesta, tetapi juga tentang tanggung jawab manusia sebagai bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.

 

GURINDAM 16

Bumi yang Kita Tempati

Jika bumi menjadi tempat kehidupan,
Jagalah alam dengan penuh kesadaran.

Jika tanah memberi ruang untuk berpijak,
Jangan biarkan keserakahan membuatnya rusak.

Jika air menghidupi setiap makhluk,
Jangan cemari sumbernya dengan perilaku buruk.

Jika hutan memberi udara dan perlindungan,
Jangan tebang tanpa memikirkan keberlanjutan.

Jika bumi diwariskan kepada generasi mendatang,
Rawatlah hari ini agar tetap layak dihuni sepanjang zaman.

Jika manusia menyadari dirinya bagian dari alam,
Ia akan menjaga bumi dengan hati yang lebih dalam.

 

GURINDAM 17

Hutan yang Berbicara

Jika hutan tumbuh menjadi penjaga kehidupan,
Jangan rusak dengan keserakahan dan pembakaran.

Jika pohon memberi teduh di tengah panas,
Tanamlah kembali agar kehidupan tidak lekas terkikis dan kandas.

Jika akar menahan tanah dari longsoran,
Jangan biarkan hutan hilang tanpa pertimbangan.

Jika sungai mengalir dari rimbunnya pepohonan,
Lindungilah hulu demi kehidupan yang berkelanjutan.

Jika burung dan satwa menjadikan hutan tempat berlindung,
Jangan rampas habitatnya hingga kehidupan mereka terkurung.

Jika manusia mampu mendengar suara alam,
Ia akan memahami bahwa hutan adalah kehidupan yang tak ternilai dalam.

 

GURINDAM 18

Di Bawah Langit yang Sama

Jika langit menaungi seluruh manusia,
Jangan jadikan perbedaan alasan untuk bermusuhan sesama.

Jika matahari menyinari tanpa memilih,
Belajarlah memberi tanpa membeda dan memilah kasih.

Jika bumi menjadi tempat hidup bersama,
Jagalah kedamaian agar dunia tetap bermakna.

Jika manusia tinggal di tanah yang berbeda,
Ingatlah bahwa setiap kehidupan memiliki harga.

Jika bahasa dan budaya tidak selalu serupa,
Hormatilah perbedaan agar persaudaraan tetap terjaga.

Jika kita menatap langit yang sama,
Semoga tumbuh kesadaran bahwa kita berbagi bumi yang sama.

 

BAGIAN VI

RAHASIA KEBERADAAN

Setelah menempuh perjalanan dari waktu, ilmu pengetahuan, pikiran manusia, teknologi, hingga bumi dan semesta, tibalah kita pada bagian terakhir.

Di sini perjalanan tidak lagi bergerak ke luar, melainkan kembali ke dalam diri.

Manusia dapat mengukur usia alam, menghitung jarak antarbintang, menciptakan mesin yang semakin cerdas, dan mengumpulkan pengetahuan yang begitu luas. Namun di balik semua kemampuan itu masih tersimpan pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling sulit: siapakah manusia, dan untuk apa ia berada di dunia?

Kita datang tanpa membawa apa-apa dan pada akhirnya akan meninggalkan banyak hal yang pernah kita miliki. Di antara kedatangan dan kepergian itulah manusia menjalani kehidupan, membuat pilihan, meninggalkan jejak, dan mencari makna.

Bagian terakhir ini menjadi ruang perenungan tentang keberadaan, keterbatasan, tujuan hidup, dan makna perjalanan manusia di hadapan waktu yang begitu luas.

 

GURINDAM 19

Siapa Kita di Hadapan Waktu

Jika manusia lahir membawa kehidupan,
Suatu hari ia akan kembali meninggalkan dunia kehidupan.

Jika usia terus bertambah setiap hari,
Ingatlah bahwa waktu tidak pernah kembali.

Jika harta menjadi kebanggaan sementara,
Jangan lupa semua akhirnya akan ditinggalkan juga.

Jika nama ingin dikenang sepanjang zaman,
Tinggalkanlah kebaikan, bukan sekadar kemegahan.

Jika hidup hanya sebentar dalam perjalanan,
Isilah dengan ilmu, karya, dan kebajikan.

Jika manusia memahami batas keberadaan,
Ia akan lebih menghargai setiap kesempatan.

 

GURINDAM 20

Di Antara Kata dan Makna

Jika kata hanya berhenti sebagai suara,
Maknanya akan hilang bersama udara.

Jika kata ditimbang sebelum diucapkan,
Tumbuhlah kebijaksanaan dalam kehidupan.

Jika tulisan lahir dari pengalaman,
Ia dapat menjadi cermin bagi perjalanan.

Jika ilmu dirangkai menjadi pemikiran,
Terbukalah jalan menuju pemahaman.

Jika kata digunakan untuk menebar kebaikan,
Ia dapat menjadi cahaya bagi kehidupan.

Jika makna ditemukan di balik setiap kata,
Manusia belajar mengenal dirinya dan dunia.

 

EPILOG

Setelah Kata Terakhir

Dua puluh gurindam telah membawa kita melewati perjalanan yang panjang—meskipun setiap bait hanya terdiri atas dua baris.

Kita memulai perjalanan dari waktu, sesuatu yang terus bergerak tanpa pernah menunggu. Kita belajar bahwa detik yang telah berlalu tidak dapat dipanggil kembali dan setiap hari yang diberikan kepada manusia sesungguhnya merupakan kesempatan yang tidak ternilai.

Kemudian kita memasuki dunia ilmu dan pengetahuan. Kita menemukan bahwa belajar tidak memiliki batas usia dan sebuah buku tidak pernah benar-benar selesai ketika halaman terakhirnya ditutup. Sebab setiap pengetahuan yang ditemukan justru dapat membuka pertanyaan baru.

Perjalanan berlanjut menuju pikiran manusia. Di sana kita menemukan pertanyaan, keraguan, keyakinan, dan kesadaran tentang diri sendiri. Kita belajar bahwa sebelum menilai dunia, manusia perlu berani melihat dirinya melalui cermin yang paling jujur: pikirannya sendiri.

Kita kemudian memasuki zaman teknologi. Dunia berubah menjadi semakin cepat, mesin semakin cerdas, dan kehidupan manusia semakin dekat dengan layar. Namun kemajuan teknologi tetap membutuhkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh mesin: kebijaksanaan manusia dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan.

Dari sana, pandangan kita diarahkan kepada bumi dan semesta. Kita melihat hutan, air, langit, dan kehidupan yang saling terhubung. Kita menyadari bahwa manusia bukan penguasa tunggal atas bumi, melainkan bagian kecil dari sebuah kehidupan yang jauh lebih besar.

Akhirnya, perjalanan membawa kita kembali kepada diri sendiri.

Siapa kita di hadapan waktu?

Apa yang akan tertinggal setelah kita pergi?

Apakah harta?

Apakah jabatan?

Apakah nama?

Atau barangkali sesuatu yang lebih sederhana: kebaikan yang pernah kita lakukan dan manfaat yang pernah kita berikan.

Di situlah kita kembali kepada judul buku ini:

Di Antara Kata dan Makna.

Kata hanyalah bentuk.

Makna adalah kehidupan yang berada di baliknya.

Sebuah nasihat tidak akan berarti jika hanya dibaca. Ia menjadi berarti ketika dilakukan.

Sebuah ilmu tidak akan bernilai jika hanya disimpan. Ia menjadi bernilai ketika digunakan untuk memberikan manfaat.

Sebuah pengalaman tidak akan menjadi pelajaran jika tidak direnungkan.

Dan sebuah kehidupan tidak akan meninggalkan jejak hanya karena pernah dijalani, tetapi karena pernah memberikan arti bagi kehidupan yang lain.

Mungkin dua puluh gurindam dalam buku ini tidak memiliki jawaban untuk semua pertanyaan.

Memang bukan itu tujuannya.

Gurindam hanya membuka pintu.

Pembacalah yang kemudian menentukan sejauh mana ia ingin masuk dan menemukan makna di dalamnya.

Karena setiap manusia datang dengan pengalaman yang berbeda, maka sebuah kata yang sama dapat menghasilkan makna yang berbeda pula.

Bagi seseorang, waktu mungkin berarti kesempatan.

Bagi yang lain, waktu mungkin berarti kehilangan.

Bagi seseorang, ilmu adalah cahaya.

Bagi yang lain, ilmu adalah jalan menuju pertanyaan yang lebih besar.

Bagi seseorang, teknologi adalah kemudahan.

Bagi yang lain, teknologi adalah ujian tentang bagaimana manusia menjaga dirinya.

Begitulah sastra bekerja.

Ia tidak selalu memberikan jawaban yang selesai.

Kadang-kadang ia justru membuat kita bertanya dengan lebih baik.

Dan mungkin, itulah makna terbesar dari perjalanan ini.

Ketika halaman terakhir telah dibaca, buku dapat ditutup.

Namun pertanyaan yang lahir dari dalamnya tidak harus ikut ditutup.

Biarkan ia tinggal.

Biarkan ia menemani langkah.

Biarkan ia tumbuh menjadi renungan.

Sebab selama manusia masih bertanya, selama manusia masih belajar, dan selama manusia masih berusaha menemukan makna dari kehidupannya, maka perjalanan itu belum benar-benar berakhir.

Kata terakhir telah selesai ditulis.

Tetapi makna tidak pernah benar-benar selesai.

Dan mungkin, di situlah perjalanan kita sesungguhnya baru dimulai.

Slamet Riyadi

2026

 

 

Beri Komentar

Komentar Facebook

layananmandiri

Hubungi Aparatur Desa
Untuk mendapatkan PIN

Statistik Penduduk

Desa Sapari

153 LAKI-LAKI

147 PEREMPUAN

Total

300

Orang/Jiwa

Pendidikan

Wilayah

Agama

Usia/Umur

Pemilih

Perkawinan

Pekerjaan

Vidio
Profil Desa
Menu Kategori
Arsip Artikel
Agenda
Sinergi Program
Komentar
Media Sosial
Statistik Pengunjung
Jam Kerja

MEDIA SOSIAL
Desa Sapari, Kecamatan Muruk Rian, Kabupaten Tana Tidung - Kalimantan Utara

Hari ini:79
Kemarin:84
Total:42.992
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:216.73.217.86
Browser:Mozilla 5.0
Hari Mulai Selesai
Senin 08:00:00 16:00:00
Selasa 08:00:00 16:00:00
Rabu 08:00:00 16:00:00
Kamis 08:00:00 16:00:00
Jumat 08:00:00 16:00:00
Sabtu 08:00:00 16:00:00
Minggu Libur
Peta Lokasi Kantor
Peta Wilayah Desa

Transparansi APBD Desa

APBDes 2026 Pelaksanaan

PENDAPATAN

Anggaran:Rp 1.711.962.157,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

BELANJA

Anggaran:Rp 2.530.182.580,98
Realisasi:Rp 0,00
0%

PEMBIAYAAN

Anggaran:Rp -285.987.262,98
Realisasi:Rp 0,00
0%

APBDes 2026 Pendapatan

Dana Desa

Anggaran:Rp 215.869.000,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

Bagi Hasil Pajak dan Retribusi

Anggaran:Rp 15.509.923,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

Alokasi Dana Desa

Anggaran:Rp 1.419.979.968,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

Lain-lain Pendapatan Desa Yang Sah

Anggaran:Rp 60.603.266,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

APBDes 2026 Pembelanjaan

BIDANG PENYELENGGARAN PEMERINTAHAN DESA

Anggaran:Rp 957.883.941,98
Realisasi:Rp 0,00
0%

BIDANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DESA

Anggaran:Rp 317.830.498,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

BIDANG PEMBINAAN KEMASYARAKATAN DESA

Anggaran:Rp 1.203.256.000,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

BIDANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

Anggaran:Rp 24.745.831,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

BIDANG PENANGGULANGAN BENCANA, DARURAT DAN MENDESAK DESA

Anggaran:Rp 26.466.310,00
Realisasi:Rp 0,00
0%