Perpustakaan Digital
CERPEN BADAI ASMARA
CERPEN BADAI ASMARA
Oleh:Slamet Riyadi
Senja di Kota Kapuas bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah ritual. Langit yang membentang di atas Sungai Kapuas berubah warna seperti kanvas pelukis yang sedang mabuk—jingga, merah bata, ungu, lalu biru gelap yang perlahan menelan semuanya. Di Jalan Simpang Adipura, pohon-pohon angsana berdiri seperti barisan saksi yang tak pernah bosan menonton kehidupan manusia. Daun-daunnya berdesir pelan, berbisik dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka yang pernah kehilangan.
Andika duduk di bangku ketiga dari ujung timur Taman Adipura. Bangku itu terbuat dari kayu besi yang dicat hijau, meski catnya sudah mengelupas di sana-sini—korban dari hujan dan matahari yang bergantian menghukumnya selama bertahun-tahun. Di depannya, kolam taman memantulkan langit senja. Airnya tenang, tapi mata Andika tidak tenang.
Ia menatap ponsel di tangannya. Layar itu masih menyala, menampilkan percakapan yang sudah ia baca puluhan kali dalam tiga hari terakhir. Setiap kata sudah ia hafal di luar kepala. Setiap tanda baca sudah ia bedah maknanya. Tapi tetap saja, tidak ada jawaban yang memuaskan.
"Dik, aku butuh waktu. Jangan cari aku dulu."
Maya—perempuan yang selama dua tahun terakhir menjadi alasan Andika tersenyum setiap pagi—tiba-tiba memutuskan untuk menghilang. Bukan hilang dalam arti fisik. Maya masih ada di Kota Kapuas, masih bekerja di kantor kecamatan, masih bernapas dengan udara yang sama. Tapi ia menghilang dari kehidupan Andika. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan yang bisa dipeluk.
Andika meletakkan ponsel di pangkuannya. Ia menatap kolam. Di permukaan air, bayangan pohon angsana bergoyang-goyang, terpecah oleh riak kecil yang entah datang dari mana. Seekor ikan mas koi berwarna oranye berenang malas, tidak peduli pada dunia di atasnya. Andika iri pada ikan itu. Ikan tidak perlu tahu apa itu rindu.
"Bang Andika?"
Suara itu membuat Andika menoleh. Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri di samping bangku, memegang layang-layang yang sobek di salah satu sisinya. Wajahnya kotor, tapi matanya cerah.
"Layang-layangku nyangkut di pohon, Bang. Bisa bantu?"
Andika tersenyum tipis. Ia berdiri, mengikuti anak itu ke pohon angsana di dekat kolam. Layang-layang merah putih itu tersangkut di dahan yang cukup tinggi. Andika meraihnya dengan hati-hati, lalu menyerahkannya kembali ke anak itu.
"Makasih, Bang!" Anak itu berlari pergi, ceria tanpa beban.
Andika kembali duduk. Ia menatap tangannya yang kosong. Dulu, tangan itu pernah menggenggam tangan Maya. Dulu, tangan itu pernah mengelus rambut Maya saat perempuan itu tertidur di bangku yang sama. Dulu.
Langit semakin gelap. Lampu-lampu taman mulai menyala, satu per satu, seperti kunang-kunang raksasa yang dipelihara kota. Andika masih duduk di sana, menunggu sesuatu yang tidak ia ketahui pasti. Mungkin ia menunggu Maya datang. Mungkin ia menunggu kekuatan untuk melepaskan. Mungkin ia hanya menunggu dirinya sendiri untuk mengerti.
Dua tahun lalu, Taman Adipura adalah tempat yang berbeda bagi Andika. Waktu itu, ia baru saja pindah ke Kota Kapuas dari desa kecil di hulu sungai. Ia bekerja sebagai penjaga toko di Jalan Simpang Adipura—toko kelontong milik Pak Haji Salim, yang menjual segala macam kebutuhan sehari-hari, dari beras sampai sabun cuci. Gajinya kecil, tapi cukup untuk menyewa kamar di belakang toko dan mengirim sedikit uang ke ibunya di desa.
Setiap sore, setelah toko tutup, Andika biasa berjalan-jalan ke Taman Adipura. Bukan karena ia punya banyak waktu luang, tapi karena taman itu adalah satu-satunya tempat di kota yang membuatnya merasa tidak asing. Pohon-pohonnya mirip dengan pohon-pohon di desanya. Suara anginnya mirip dengan suara angin yang dulu menemaninya tidur di rumah panggung kayu milik orang tuanya.
Sore itu, Andika melihat seorang perempuan duduk di bawah pohon angsana. Perempuan itu mengenakan kemeja putih lengan panjang dan rok abu-abu, seperti orang yang baru pulang kerja. Rambutnya diikat longgar, dan di tangannya ada sebuah buku—buku puisi, seperti yang kemudian Andika ketahui.
Andika bukan tipe orang yang berani menyapa perempuan asing. Tapi ada sesuatu tentang perempuan itu yang membuatnya merasa... akrab. Mungkin caranya membaca. Mungkin caranya tersenyum sendiri saat menemukan baris puisi yang ia suka. Atau mungkin hanya karena senja itu terlalu indah untuk dilewatkan sendirian.
"Buku apa itu, Kak?" tanya Andika, gugup setengah mati.
Perempuan itu mendongak. Matanya berwarna cokelat hangat, seperti kayu manis yang baru digiling. "Puisi. Kamu suka puisi?"
"Belum pernah baca. Tapi kalau Kakak yang baca, kayaknya menarik."
Perempuan itu tertawa. Tawanya tidak keras, tapi cukup untuk membuat Andika merasa bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang benar. "Namaku Maya. Kamu?"
"Andika. Orang sini manggil aku Dika."
Sejak hari itu, Taman Adipura menjadi tempat pertemuan mereka. Setiap sore, Andika datang lebih awal dari biasanya. Ia akan duduk di bangku ketiga dari ujung timur, menunggu Maya datang dengan buku puisi di tangannya. Kadang Maya membacakan puisi untuk Andika. Kadang Andika hanya mendengarkan, meski tidak selalu mengerti apa yang dibacakan. Tapi ia suka cara Maya membaca. Ia suka cara Maya menghidupkan kata-kata, membuatnya terasa seperti sesuatu yang bisa disentuh.
Maya adalah perempuan yang berbeda dari siapa pun yang pernah Andika kenal. Ia lulusan universitas di Pontianak, bekerja sebagai staf administrasi di kantor kecamatan. Ia suka puisi, kopi tanpa gula, dan hujan. Ia juga keras kepala, tapi dengan cara yang lembut—seperti air yang mengikis batu, bukan seperti palu yang menghancurkannya.
"Kenapa kamu suka puisi?" tanya Andika suatu sore.
Maya menutup bukunya. Ia menatap kolam taman, di mana ikan-ikan koi berenang tanpa tujuan. "Karena puisi tidak pernah memaksaku untuk mengerti. Ia hanya ada di sana, menunggu. Kalau aku siap, aku mengerti. Kalau aku belum siap, aku tetap bisa menikmatinya."
Andika mengangguk. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia suka cara Maya menjelaskannya. Ia suka cara Maya membuat hal-hal sederhana terasa dalam.
"Kamu pernah nulis puisi?" tanya Maya.
"Enggak. Aku nggak pinter nulis."
"Puisi bukan soal pinter atau enggak, Dik. Puisi itu soal jujur."
Andika terdiam. Jujur. Kata itu terasa berat di hatinya. Ia belum pernah jujur pada siapa pun, termasuk pada dirinya sendiri. Tapi di depan Maya, ia merasa bisa jujur. Ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.
Bulan-bulan berlalu. Taman Adipura menjadi saksi bisu bagaimana dua orang yang awalnya hanya teman bicara berubah menjadi sesuatu yang lebih. Andika mulai menunggu Maya bukan hanya karena ia ingin mendengar puisi, tapi karena ia ingin melihat wajah Maya. Maya mulai datang lebih awal bukan hanya karena ia ingin membaca puisi, tapi karena ia ingin mendengar suara Andika.
Mereka mulai berbagi hal-hal kecil. Andika bercerita tentang desanya, tentang ibunya yang menjual kue di pasar, tentang mimpinya membangun rumah kecil di tepi sungai. Maya bercerita tentang keluarganya, tentang ayahnya yang pensiunan guru, tentang ibunya yang ingin ia menikah dengan orang "yang mapan". Maya juga bercerita tentang mimpinya menjadi penulis, meski ia tahu itu sulit.
"Kenapa sulit?" tanya Andika.
"Karena menulis tidak menghasilkan uang," jawab Maya. "Setidaknya, tidak cukup untuk hidup."
"Tapi kamu suka nulis."
"Suka dan bisa hidup itu dua hal yang berbeda, Dik."
Andika terdiam. Ia ingin mengatakan bahwa Maya seharusnya mengejar mimpinya. Tapi ia tahu, hidup tidak sesederhana itu. Ia sendiri tidak pernah mengejar mimpinya. Ia hanya bertahan. Dan mungkin, bagi banyak orang, bertahan sudah cukup.
Suatu malam, saat hujan turun deras, mereka berteduh di bawah pohon angsana. Air mengalir deras di jalan Simpang Adipura, membawa daun-daun kering dan sampah plastik. Maya menggigil kedinginan. Andika melepas jaketnya dan menyelimutkan ke bahu Maya.
"Kamu nggak dingin?" tanya Maya.
"Enggak. Aku kuat."
Maya menatapnya. Ada sesuatu di mata Maya yang membuat Andika merasa... terlihat. Bukan sekadar dilihat, tapi benar-benar terlihat. Seperti Maya bisa melihat semua yang ia sembunyikan, semua yang ia takutkan, semua yang ia impikan.
"Dik," kata Maya pelan. "Kamu tahu nggak, kenapa aku suka duduk di sini?"
"Karena pohonnya rindang?"
Maya tersenyum. "Karena di sini, aku bisa jadi diriku sendiri. Di rumah, aku harus jadi anak yang penurut. Di kantor, aku harus jadi pegawai yang rapi. Di sini, aku cuma Maya. Dan kamu... kamu nggak pernah minta aku jadi siapa-siapa."
Andika merasa dadanya hangat. Bukan karena jaketnya sudah ia lepas, tapi karena kata-kata Maya. Ia ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang penting. Tapi ia tidak tahu bagaimana mengatakannya.
Maya menyandarkan kepalanya ke bahu Andika. "Dik, aku nyaman sama kamu."
Andika tidak bergerak. Ia takut kalau ia bergerak, momen itu akan hilang. Ia takut kalau ia bicara, ia akan merusak segalanya. Jadi ia hanya duduk di sana, membiarkan hujan turun, membiarkan Maya bersandar di bahunya, membiarkan waktu berjalan tanpa ia hitung.
Malam itu, di bawah pohon angsana, di Taman Adipura, di Jalan Simpang Adipura, Andika jatuh cinta. Bukan cinta yang datang tiba-tiba seperti kilat, tapi cinta yang tumbuh perlahan seperti akar pohon—dalam, kuat, dan sulit dicabut.
Setahun pertama hubungan mereka adalah tahun yang paling indah dalam hidup Andika. Mereka tidak punya banyak uang. Mereka tidak bisa makan di restoran mahal atau liburan ke tempat-tempat jauh. Tapi mereka punya Taman Adipura. Mereka punya bangku ketiga dari ujung timur. Mereka punya senja yang selalu datang tepat waktu.
Andika mulai menabung. Sedikit demi sedikit, dari gajinya sebagai penjaga toko. Ia ingin membelikan Maya sesuatu yang istimewa—bukan karena Maya memintanya, tapi karena ia ingin menunjukkan bahwa ia serius. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bukan hanya pemuda desa yang kebetulan lewat di hidup Maya.
Suatu hari, ia membeli sebuah buku puisi bekas di pasar loak. Buku itu sudah usang, sampulnya lecek, tapi isinya masih lengkap. Ia membungkusnya dengan kertas koran dan memberikannya ke Maya di Taman Adipura.
Maya membuka bungkusan itu. Ia menatap buku itu lama sekali. Lalu ia menatap Andika. Matanya berkaca-kaca.
"Dik... ini buku langka. Aku sudah lama nyari ini."
Andika tersenyum. "Aku nggak ngerti isinya. Tapi kalau kamu suka, aku senang."
Maya memeluknya. Pelukan itu singkat, tapi cukup untuk membuat Andika merasa bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang benar. Sesuatu yang berarti.
Mereka mulai berbicara tentang masa depan. Tentang rumah kecil di tepi sungai. Tentang anak-anak yang akan mereka ajari membaca puisi. Tentang senja-senja yang akan mereka habiskan bersama, di bangku yang sama, di taman yang sama.
"Kamu yakin mau sama aku?" tanya Andika suatu malam. "Aku cuma penjaga toko, May. Aku nggak punya apa-apa."
Maya menatapnya. "Kamu punya hati, Dik. Itu cukup."
Andika ingin percaya. Ia ingin percaya bahwa cinta cukup. Tapi di sudut hatinya, ada suara kecil yang bertanya: Apakah cukup? Apakah cinta bisa mengalahkan segalanya?
Ia mengabaikan suara itu. Ia terlalu bahagia untuk mendengarkannya.
Tiga minggu lalu, Maya datang ke Taman Adipura dengan wajah yang berbeda. Andika langsung tahu ada sesuatu yang salah. Maya tidak membawa buku puisi. Maya tidak tersenyum. Maya duduk di bangku, menatap kolam, dan diam untuk waktu yang lama.
"May?" Andika duduk di sampingnya. "Ada apa?"
Maya menarik napas panjang. "Orang tuaku mau aku menikah."
Andika merasa dunianya berhenti berputar. "Menikah? Dengan siapa?"
"Dengan anak pengusaha dari Pontianak. Namanya Ferry. Keluarganya punya kebun sawit. Orang tuaku bilang... dia bisa kasih aku hidup yang layak."
Andika terdiam. Kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Hidup yang layak. Apakah hidup yang ia tawarkan tidak layak?
"Kamu mau?" tanya Andika akhirnya. Suaranya serak.
Maya menatapnya. Matanya berkaca-kaca. "Aku nggak tahu, Dik. Aku... aku takut."
"Takut apa?"
"Takut mengecewakan orang tuaku. Takut... takut kehilangan kamu."
Andika ingin memeluk Maya. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tahu, itu bohong. Ia tidak bisa menjanjikan apa-apa. Ia tidak bisa melawan keluarga Maya. Ia tidak bisa bersaing dengan anak pengusaha yang punya kebun sawit.
"Maya," kata Andika pelan. "Aku nggak bisa kasih kamu hidup yang mewah. Aku cuma bisa kasih kamu... aku."
Maya menangis. Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Andika duduk di sampingnya, tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin menghapus air mata Maya, tapi ia tidak tahu bagaimana. Ia ingin mengambil rasa sakit Maya, tapi ia tidak tahu caranya.
Malam itu, mereka duduk di bangku ketiga dari ujung timur sampai lampu taman mati. Tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan. Tidak ada puisi yang bisa menyembuhkan luka yang baru saja terbuka.
Sejak hari itu, badai asmara benar-benar menghantam mereka. Maya mulai jarang datang ke Taman Adipura. Setiap kali ia datang, ia selalu terburu-buru, selalu gelisah, selalu menatap ponselnya seperti ada sesuatu yang menunggu jawaban.
Andika mencoba bersabar. Ia mencoba mengerti. Tapi setiap hari, rasa tidak berdaya itu semakin besar. Ia merasa seperti penonton dalam film yang tidak ia tulis. Ia melihat hubungannya dengan Maya perlahan-lahan hancur, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Suatu sore, mereka bertengkar. Bukan pertengkaran yang keras, bukan pertengkaran yang penuh teriakan. Pertengkaran mereka sunyi—penuh diam, penuh tatapan yang menghindar, penuh kata-kata yang tidak selesai.
"Kamu nggak ngerti, Dik!" suara Maya bergetar. "Aku bukan cuma milik diriku sendiri. Ada keluarga. Ada harga diri orang tuaku."
"Aku ngerti," jawab Andika pelan. "Aku cuma nggak ngerti kenapa cinta kita harus jadi korban."
Maya menangis. "Kamu pikir aku nggak sedih? Kamu pikir aku nggak mau sama kamu? Tapi hidup nggak sesederhana itu, Dik. Aku punya tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa? Tanggung jawab untuk bahagia dengan orang yang kamu nggak cinta?"
Maya terdiam. Kata-kata Andika menusuk lebih dalam dari yang ia maksudkan.
"Mungkin... mungkin cinta bukan segalanya," kata Maya akhirnya.
Andika merasa hatinya retak. "Kalau cinta bukan segalanya, terus apa yang kita punya selama ini? Apa yang kita bangun di taman ini? Apa yang kita rasain setiap kali kita duduk di bangku ini?"
Maya tidak menjawab. Ia hanya menangis, dan Andika tidak tahu harus berbuat apa.
Malam itu, Maya pergi tanpa pamit. Ia berjalan cepat meninggalkan Taman Adipura, meninggalkan Andika yang masih duduk di bangku, menatap kolam yang gelap. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkedip seperti bintang yang jatuh. Andika merasa seperti bintang itu—jatuh, jauh dari tempat yang ia sebut rumah.
Tiga hari setelah pertengkaran itu, Maya mengirim pesan:
"Dik, aku butuh waktu. Jangan cari aku dulu."
Andika membaca pesan itu berkali-kali. Ia mencoba membalas, tapi tidak tahu harus menulis apa. Ia mencoba menelepon, tapi tidak berani. Ia mencoba datang ke kantor Maya, tapi tidak sanggup.
Hari-hari tanpa Maya terasa seperti hidup dalam film hitam putih. Andika pergi ke toko, melayani pembeli, menghitung uang, pulang ke kamarnya. Ia melakukan semuanya seperti mesin—tanpa perasaan, tanpa semangat, tanpa tujuan. Setiap malam, ia duduk di bangku ketiga dari ujung timur Taman Adipura. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu, tapi ia menunggu.
Pak Haji Salim, pemilik toko tempat Andika bekerja, mulai memperhatikan perubahan pada pemuda itu.
"Dika," kata Pak Haji suatu hari. "Kamu kenapa? Sudah seminggu kamu kelihatan nggak semangat."
Andika menggeleng. "Nggak apa-apa, Haji."
Pak Haji menatapnya lama. "Cinta ya?"
Andika terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan.
"Anak muda," kata Pak Haji sambil duduk di samping Andika. "Cinta itu seperti sungai. Kadang tenang, kadang berombak. Tapi kalau kamu nggak pernah belajar berenang, kamu akan tenggelam."
Andika menatap Pak Haji. "Bagaimana kalau ombaknya terlalu besar, Pak Haji?"
"Ombak besar itu nggak selamanya. Yang penting kamu jangan lepas dari perahu."
Andika tidak sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud Pak Haji. Tapi kata-kata itu tinggal di hatinya, seperti benih yang menunggu waktu untuk tumbuh.
Suatu malam, saat Andika sedang membersihkan toko, ia menemukan sebuah buku di antara tumpukan barang bekas. Buku itu lusuh, sampulnya hampir lepas. Ia membukanya, dan di halaman pertama, ada tulisan tangan yang sudah memudar:
"Untuk Maya, yang mengajariku bahwa cinta bisa ditemukan di tempat yang paling tidak terduga."
Andika mengenali tulisan itu. Itu tulisannya sendiri. Buku itu adalah buku puisi yang ia belikan untuk Maya setahun lalu. Maya pasti meninggalkannya di toko tanpa sadar.
Andika duduk di lantai toko, memegang buku itu. Ia membuka halaman demi halaman, membaca puisi-puisi yang dulu dibacakan Maya untuknya. Ia tidak mengerti semua isinya, tapi ia mengerti perasaannya. Ia mengerti bahwa puisi-puisi itu adalah cara Maya berbicara tentang hal-hal yang tidak bisa ia katakan.
Di halaman terakhir, ada puisi yang ditandai dengan pensil. Andika membaca baris-barisnya:
"Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana,
dan tanpa tahu kapan,
aku mencintaimu dengan sederhana,
karena aku tidak tahu cara lain."
Andika menutup buku itu. Ia menatap langit-langit toko yang gelap. Ia merasa seperti baru saja menemukan sesuatu yang penting—bukan tentang Maya, tapi tentang dirinya sendiri.
Ia mencintai Maya. Itu fakta. Itu tidak berubah, bahkan setelah pertengkaran, bahkan setelah keheningan, bahkan setelah badai. Ia mencintai Maya dengan sederhana, karena ia tidak tahu cara lain.
Tapi apakah cinta cukup? Apakah cinta bisa mengalahkan badai?
Andika tidak tahu. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa terus menunggu tanpa melakukan apa-apa. Ia harus bicara. Ia harus jujur. Ia harus menjadi seperti puisi—jujur, tanpa pura-pura.
Esok paginya, Andika bangun lebih awal. Ia mandi, memakai baju terbaiknya—kemeja biru yang ia beli setahun lalu untuk acara keluarga Maya, yang akhirnya tidak pernah ia datangi. Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya.
"Kamu bisa, Dika," katanya pada diri sendiri. "Kamu harus bisa."
Ia pergi ke kantor kecamatan tempat Maya bekerja. Ia berdiri di depan gerbang, menunggu. Ia melihat pegawai-pegawai datang, satu per satu. Ia mencari wajah Maya di antara mereka. Tapi Maya tidak ada.
Andika bertanya pada satpam. "Pak, Maya ada?"
Satpam itu menggeleng. "Maya sedang cuti. Sudah seminggu."
Andika merasa hatinya berat. Ia berterima kasih pada satpam, lalu berjalan tanpa tujuan. Ia melewati pasar, melewati toko-toko, melewati jalan-jalan yang pernah ia lalui bersama Maya. Ia merasa seperti orang asing di kotanya sendiri.
Ia pergi ke rumah Maya. Ia berdiri di depan pagar, menatap rumah kecil berwarna krem itu. Ia tahu Maya ada di dalam. Ia bisa melihat sepatu Maya di teras. Tapi ia tidak berani mengetuk pintu. Ia takut. Takut ditolak, takut dimarahi, takut membuat segalanya lebih buruk.
Ia berdiri di sana selama hampir satu jam. Lalu ia memutuskan untuk pergi. Ia berjalan pulang dengan hati yang lebih berat dari sebelumnya.
Malam itu, Andika menelepon ibunya di desa. Ia sudah lama tidak menelepon. Ia terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri sampai lupa bahwa ada orang lain yang juga mencintainya.
"Halo, Dika?" suara ibunya serak, tapi hangat. "Kamu kenapa? Lama nggak telepon."
Andika terdiam. Ia ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tapi ia tahu, ibunya akan tahu kalau ia bohong.
"Bu," kata Andika pelan. "Aku lagi ada masalah."
"Masalah apa?"
Andika menceritakan semuanya. Tentang Maya, tentang keluarga Maya, tentang perasaan tidak berdaya yang ia rasakan. Ia menceritakan semuanya tanpa berhenti, seperti air yang lama tertahan di bendungan.
Ibunya mendengarkan. Ia tidak menyela, tidak menghakimi. Ia hanya mendengarkan.
"Dika," kata ibunya setelah Andika selesai. "Kamu tahu nggak, kenapa Bapak dulu bisa menikah sama Ibu?"
Andika menggeleng. "Nggak."
"Karena Bapak berani. Bapak datang ke rumah Kakek, walaupun Kakek nggak suka Bapak. Bapak bilang, 'Pak, saya nggak punya apa-apa. Tapi saya punya hati yang cuma mau untuk anak Bapak.' Kakek marah. Kakek usir Bapak. Tapi Bapak datang lagi. Dan lagi. Sampai akhirnya Kakek luluh."
Andika terdiam. Ia tidak pernah mendengar cerita ini sebelumnya.
"Kamu tahu apa yang Bapak ajarkan ke Ibu?" tanya ibunya. "Cinta itu bukan cuma perasaan. Cinta itu keberanian. Kalau kamu cinta, kamu harus berani. Berani datang, berani bicara, berani minta. Kalau kamu cuma diam, cinta itu nggak akan ke mana-mana."
Andika merasa matanya panas. "Tapi Bu, aku takut."
"Takut itu wajar, Dika. Tapi jangan biarkan takut mengalahkan cinta. Kalau kamu memang cinta Maya, kamu harus berani. Kalau kamu nggak berani, berarti kamu belum cukup cinta."
Kata-kata ibunya menusuk. Bukan karena keras, tapi karena benar. Andika sadar, selama ini ia terlalu sibuk merasa tidak berdaya sampai lupa bahwa ia punya pilihan. Ia bisa diam dan menunggu badai berlalu. Atau ia bisa berdiri dan menghadapi badai itu.
"Makasih, Bu," kata Andika.
"Kamu anak yang baik, Dika. Ibu yakin kamu bisa."
Telepon ditutup. Andika menatap ponselnya. Ia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Bukan perubahan yang besar, tapi cukup untuk membuatnya mengambil keputusan.
Malam itu, Andika duduk di meja kecil di kamarnya. Ia mengambil selembar kertas dan pena. Ia ingin menulis surat untuk Maya. Bukan pesan singkat, bukan chat, tapi surat—sesuatu yang bisa dipegang, sesuatu yang bisa dibaca berulang-ulang, sesuatu yang jujur.
Ia menulis:
Maya,
Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Jadi aku mulai dari yang paling sederhana: aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali aku lihat kamu duduk di bawah pohon angsana, membaca buku puisi. Aku mencintaimu sejak kamu bilang bahwa puisi itu soal jujur. Aku mencintaimu sejak kamu menyandarkan kepalamu ke bahuku saat hujan turun.
Aku tahu, aku bukan siapa-siapa. Aku cuma penjaga toko. Aku nggak punya kebun sawit. Aku nggak punya mobil. Aku nggak punya rumah besar. Tapi aku punya hati yang cuma mau untuk kamu. Aku punya tangan yang mau menggenggam tanganmu sampai tua. Aku punya telinga yang mau mendengar semua ceritamu, bahkan yang paling membosankan sekalipun.
Aku tahu, badai ini nggak mudah. Aku tahu, kamu ditekan dari segala arah. Aku tahu, kamu takut mengecewakan orang tuamu. Tapi aku juga tahu, kamu nggak bahagia. Aku bisa lihat di matamu, May. Setiap kali kamu datang ke taman, matamu selalu terlihat lelah. Bukan lelah karena kerja, tapi lelah karena berpura-pura.
Aku nggak minta kamu melawan orang tuamu. Aku nggak minta kamu memilih aku di atas mereka. Aku cuma minta kamu jujur pada dirimu sendiri. Apa yang kamu mau? Apa yang kamu butuhkan? Apa yang membuat kamu bahagia?
Kalau jawabannya adalah aku, aku akan ada di sini. Aku akan menunggu. Aku akan berjuang. Aku akan datang ke rumah orang tuamu, seperti Bapak dulu datang ke rumah Kakek. Aku akan bilang bahwa aku nggak punya apa-apa, tapi aku punya hati yang cuma mau untuk kamu.
Tapi kalau jawabannya bukan aku, aku akan mengerti. Aku akan merelakan. Aku akan berhenti menunggu. Karena aku mencintaimu, May. Dan cinta sejati itu bukan tentang memiliki. Cinta sejati itu tentang membahagiakan.
Aku akan ada di Taman Adipura, di bangku ketiga dari ujung timur, setiap sore, sampai lampu taman mati. Kalau kamu mau bicara, aku di sana. Kalau kamu nggak datang, aku akan mengerti.
Dengan cinta yang sederhana,
Andika.
Andika melipat surat itu. Ia memasukkan ke dalam amplop, lalu menulis nama Maya di atasnya. Esok paginya, ia akan mengantar surat itu ke rumah Maya. Ia akan mengetuk pintu. Ia akan bicara. Ia akan berani.
Esok paginya, Andika berdiri di depan rumah Maya. Surat itu ada di tangannya, sedikit lembap karena keringat. Ia menarik napas panjang. Ia mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi. Lebih keras.
Pintu terbuka. Seorang perempuan paruh baya berdiri di sana—ibu Maya. Wajahnya tegas, tapi ada kelelahan di matanya.
"Ya? Ada apa?"
"Selamat pagi, Bu. Saya Andika. Teman Maya."
Ibu Maya menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Maya sedang tidak di rumah."
"Bu, saya mohon. Saya cuma mau titip surat ini untuk Maya."
Ibu Maya menatap surat di tangan Andika. Ia tidak langsung menerimanya. "Kamu Andika yang sering disebut Maya itu ya?"
Andika mengangguk.
Ibu Maya menghela napas. "Dik, saya tahu kamu baik. Tapi kamu harus ngerti. Kami cuma mau yang terbaik untuk Maya."
"Saya juga mau yang terbaik untuk Maya, Bu," kata Andika. Suaranya bergetar, tapi ia tidak berhenti. "Saya tahu saya bukan siapa-siapa. Saya cuma penjaga toko. Tapi saya mencintai Maya. Dan saya akan melakukan apa pun untuk membahagiakannya."
Ibu Maya terdiam. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang sulit dibaca.
"Suratnya saya terima," kata Ibu Maya akhirnya. "Tapi saya nggak bisa janji Maya akan membacanya."
"Terima kasih, Bu."
Andika menyerahkan surat itu. Ia berbalik, berjalan pergi. Ia tidak tahu apakah suratnya akan dibaca. Ia tidak tahu apakah Maya akan datang. Tapi ia sudah melakukan apa yang bisa ia lakukan. Ia sudah berani.
Tiga hari setelah Andika mengantar surat, Maya belum juga datang ke Taman Adipura. Andika duduk di bangku ketiga dari ujung timur, menatap kolam yang gelap. Lampu taman sudah menyala. Angin malam bertiup kencang. Langit di atas Kota Kapuas gelap, tanpa bintang.
Andika merasa hatinya kosong. Ia sudah berani, tapi keberaniannya tidak membuahkan hasil. Ia sudah bicara, tapi kata-katanya tidak didengar. Ia sudah berjuang, tapi perjuangannya sia-sia.
Ia menutup matanya. Ia membayangkan wajah Maya. Wajah yang pertama kali ia lihat di bawah pohon angsana. Wajah yang tersenyum saat membaca puisi. Wajah yang menangis saat mereka bertengkar. Wajah yang ia cintai, bahkan ketika Maya tidak ada.
Hujan mulai turun. Gerimis dulu, lalu semakin deras. Andika tidak bergerak. Ia duduk di sana, membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Ia merasa seperti pohon angsana—berdiri tegak, meski badai menerjang.
Lampu taman mati. Satu per satu. Andika masih di sana. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin di sini. Di tempat yang pernah menjadi rumahnya.
Lalu, dari kejauhan, di bawah cahaya lampu jalan yang remang, sosok itu muncul. Berjalan pelan, dengan jaket biru yang sudah ia kenal baik. Maya.
Andika membuka matanya. Ia menatap sosok itu. Ia tidak bergerak. Ia takut kalau ia bergerak, sosok itu akan hilang. Tapi sosok itu semakin dekat. Semakin jelas.
Maya berhenti beberapa langkah dari bangku. Ia menatap Andika. Rambutnya basah kuyup. Matanya merah. Tapi ia tersenyum.
Andika berdiri. Ia melangkah mendekat. Ia ingin memeluk Maya. Ia ingin mengatakan bahwa ia merindukan Maya. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Maya. Tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya diam yang panjang, yang lebih jujur dari apa pun.
Maya melangkah mendekat. Ia meraih tangan Andika. Tangannya dingin, tapi genggamannya kuat.
"Dik," katanya pelan. "Aku baca suratmu."
Andika tidak bicara. Ia hanya menatap Maya.
"Aku... aku minta maaf," lanjut Maya. "Aku terlalu takut. Aku terlalu sibuk mikirin apa kata orang sampai lupa apa yang aku mau."
Maya menatap Andika. Matanya berkaca-kaca. "Aku mau kamu, Dik. Aku mau kita. Aku nggak tahu bagaimana caranya. Aku nggak tahu apakah orang tuaku akan setuju. Tapi aku tahu satu hal: aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
Andika merasa dadanya penuh. Ia ingin menangis. Ia ingin tertawa. Ia ingin berteriak. Tapi yang ia lakukan hanya satu: ia memeluk Maya. Erat. Seperti orang yang baru saja selamat dari badai.
Hujan masih turun. Lampu taman masih mati. Tapi di bawah pohon angsana, di Taman Adipura, di Jalan Simpang Adipura, dua orang berdiri dalam pelukan. Badai asmara belum sepenuhnya berlalu. Masih ada ombak yang harus mereka hadapi. Tapi malam itu, mereka memilih untuk bertahan.
Seminggu setelah malam hujan itu, Andika duduk di ruang tamu rumah Maya. Ia mengenakan kemeja biru yang sama, yang ia pakai saat mengantar surat. Di depannya, ayah dan ibu Maya duduk berhadapan. Maya duduk di samping Andika, tangannya menggenggam tangan Andika erat.
Ayah Maya—seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun, dengan rambut putih dan kacamata tebal—menatap Andika dengan tajam.
"Jadi, kamu Andika?" tanyanya.
"Iya, Pak."
"Apa kamu sadar, anak saya ini lulusan universitas? Apa kamu sadar, dia punya masa depan yang cerah?"
Andika mengangguk. "Saya sadar, Pak."
"Dan kamu? Apa yang bisa kamu tawarkan?"
Andika menarik napas panjang. Ia menatap ayah Maya. Ia tidak ingin berbohong. Ia tidak ingin berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
"Pak," kata Andika pelan. "Saya nggak punya banyak. Saya cuma penjaga toko. Gaji saya kecil. Saya nggak punya mobil, nggak punya rumah, nggak punya tanah. Tapi saya punya satu hal yang saya yakin nggak bisa dibeli dengan uang: saya mencintai Maya. Dan saya akan bekerja keras untuk membahagiakannya."
Ayah Maya terdiam. Ia menatap Andika lama sekali. Andika tidak menghindar. Ia menatap balik, meski hatinya berdebar kencang.
"Kamu tahu," kata ayah Maya akhirnya, "saya dulu juga bukan siapa-siapa. Saya cuma guru desa. Tapi saya berani datang ke rumah kakeknya Maya, dan saya bilang hal yang sama seperti yang kamu bilang sekarang."
Andika terkejut. Ia menatap Maya, yang tersenyum tipis.
"Tapi zaman berbeda," lanjut ayah Maya. "Dulu, cinta cukup. Sekarang, cinta nggak cukup. Kamu butuh uang. Kamu butuh masa depan."
"Saya tahu, Pak. Dan saya akan berusaha. Saya akan cari kerja yang lebih baik. Saya akan nabung. Saya akan lakukan apa pun."
Ayah Maya menghela napas. "Saya nggak bisa janji apa-apa. Tapi... saya akan pikirkan."
Andika mengangguk. Ia tahu, ini bukan kemenangan. Ini baru langkah pertama. Tapi ia sudah melangkah. Dan itu cukup.
Tiga bulan berlalu. Andika masih bekerja di toko Pak Haji Salim, tapi ia mulai berjualan online di waktu luangnya. Ia menjual kerajinan tangan dari desanya—anyaman rotan, tas dari kain tenun, dan lain-lain. Ia belajar dari YouTube, belajar dari teman-teman, belajar dari kesalahan. Perlahan-lahan, usahanya mulai berkembang.
Maya masih bekerja di kantor kecamatan. Ia masih suka puisi, masih suka kopi tanpa gula, masih suka hujan. Tapi sekarang, ia tidak perlu berpura-pura. Ia sudah bicara pada orang tuanya. Ia sudah mengatakan bahwa ia memilih Andika. Ayahnya masih ragu, tapi ibunya mulai melunak.
Setiap sore, Andika dan Maya masih duduk di bangku ketiga dari ujung timur Taman Adipura. Mereka masih menikmati senja, masih mendengarkan angin, masih membaca puisi. Tapi sekarang, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan yang tidak mereka rasakan sebelumnya. Ada keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama.
"Kamu tahu nggak," kata Maya suatu sore, "puisi favoritku itu bukan puisi tentang cinta."
"Terus tentang apa?"
"Tentang badai. Tentang bagaimana badai datang, menghancurkan segalanya, tapi kemudian pergi. Dan setelah badai pergi, ada ketenangan. Ada kedamaian. Ada awal yang baru."
Andika menatap Maya. "Kamu pikir badai kita sudah pergi?"
Maya tersenyum. "Nggak tahu. Mungkin masih ada badai lain. Tapi aku nggak takut lagi. Karena aku tahu, aku nggak sendirian."
Andika menggenggam tangan Maya. Ia menatap kolam taman, di mana ikan-ikan koi berenang tanpa tujuan. Ia menatap pohon angsana, yang masih berdiri tegak meski badai sudah sering menerjangnya. Ia menatap langit senja, yang masih berwarna jingga keemasan.
Ia tersenyum. Bukan karena semuanya sudah selesai, tapi karena ia tahu, apa pun yang terjadi, ia akan baik-baik saja. Karena ia punya Maya. Karena ia punya cinta. Karena ia punya keberanian.
Dua tahun kemudian, Andika dan Maya menikah. Pernikahan itu sederhana—diadakan di aula kecil dekat Taman Adipura, dihadiri oleh keluarga dan teman-teman dekat. Ayah Maya akhirnya merestui, meski dengan berat hati. Ibunya menangis saat memeluk Maya. Andika mengenakan kemeja biru yang sama, yang sudah agak pudar, tapi masih ia simpan.
Setelah menikah, mereka menyewa rumah kecil di dekat Jalan Simpang Adipura. Setiap sore, mereka masih berjalan ke Taman Adipura. Mereka masih duduk di bangku ketiga dari ujung timur. Mereka masih menikmati senja.
Suatu sore, Maya membawa sebuah buku. Buku itu lusuh, sampulnya hampir lepas. Buku puisi yang dulu Andika belikan untuknya.
"Aku baru ingat," kata Maya. "Buku ini tertinggal di toko Pak Haji. Aku ambil tadi."
Andika tersenyum. "Aku pernah baca buku itu."
Maya terkejut. "Kamu baca?"
"Iya. Waktu itu, aku lagi sedih. Aku baca puisi-puisi di dalamnya. Aku nggak ngerti semua, tapi ada satu yang aku suka."
"Yang mana?"
Andika membuka buku itu. Ia mencari halaman yang ditandai dengan pensil. Ia membaca baris-barisnya:
"Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana,
dan tanpa tahu kapan,
aku mencintaimu dengan sederhana,
karena aku tidak tahu cara lain."
Maya menatap Andika. Matanya berkaca-kaca. "Itu puisi favoritku."
"Aku tahu."
Mereka duduk di sana, di bangku ketiga dari ujung timur Taman Adipura, di Jalan Simpang Adipura, Kota Kapuas. Langit senja berwarna jingga keemasan. Pohon angsana bergoyang pelan. Kolam taman memantulkan cahaya lampu yang mulai menyala.
Badai asmara telah berlalu. Mungkin akan ada badai lain. Tapi mereka tidak takut. Karena mereka tahu, selama mereka bersama, tidak ada badai yang terlalu besar untuk dihadapi.
TAMAT
"Cinta bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna. Cinta adalah tentang memilih seseorang, dan kemudian memilih mereka lagi, dan lagi, dan lagi—bahkan ketika badai menerjang."
Sahrul r
22 Desember 2025 20:39:17
Mantap...