Sekilas Info
Selamat datang di Website Resmi Desa Sapari, Kecamatan Muruk Rian, Kabupaten Tana Tidung Provinsi Kalimantan Utara

Artikel & Berita

Perpustakaan Digital

NOVEL DESA YANG MENYIMPAN NAMAMU

NOVEL

DESA YANG MENYIMPAN NAMAMU

“Empat Puluh Hari Pengabdian, Sebuah Desa, dan Nama-Nama yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi”

Oleh: Slamet Riyadi

 

DISCLAIMER

Novel Desa yang Menyimpan Namamu merupakan karya fiksi.

Nama tokoh, karakter, dialog, hubungan antartokoh, peristiwa, serta rangkaian kejadian dalam cerita ini merupakan bagian dari imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, karakter, ataupun peristiwa dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan atau digunakan sebagai unsur penguat cerita.

Cerita ini mengambil latar kehidupan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa dengan segala dinamika pengabdian, pelayanan masyarakat, persahabatan, teknologi, literasi, dokumentasi, sejarah desa, serta hubungan emosional yang tumbuh di tengah keterbatasan waktu.

Novel ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan atau menilai suatu perguruan tinggi, pemerintah desa, mahasiswa, perangkat desa, maupun masyarakat tertentu.

Lebih dari sekadar kisah tentang empat puluh hari pengabdian, novel ini adalah cerita tentang manusia yang datang membawa program, bekerja bersama masyarakat, lalu pergi dengan meninggalkan sesuatu yang tidak selalu terlihat.

Sebab terkadang, keberhasilan sebuah pengabdian bukanlah tentang seberapa banyak program yang selesai.

Melainkan tentang seberapa banyak hal baik yang tetap hidup setelah orang-orang yang memulainya telah pergi.

 

 

PROLOG

Nama yang Tertinggal Setelah Mereka Pergi

Hujan baru saja berhenti ketika Raka berdiri di depan sebuah papan nama tua di ujung jalan desa.

DESA AWAN BIRU.

Tulisan itu masih sama.

Papan kayunya telah sedikit pudar. Cat putih di beberapa bagian mulai mengelupas. Tetapi bagi Raka, dua kata itu masih menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.

Awan Biru.

Sebuah desa yang dahulu hanya mereka kenal dari selembar surat tugas.

Sebuah desa yang mereka datangi dengan membawa koper, laptop, kamera, buku catatan, dan berbagai rencana program kerja.

Sebuah desa yang pada awalnya mereka pikir hanya akan menjadi bagian kecil dari perjalanan akademik mereka.

Empat puluh hari.

Hanya empat puluh hari.

Begitulah yang mereka pikirkan ketika pertama kali datang.

Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa waktu sesingkat itu akan meninggalkan begitu banyak cerita.

Raka menatap jalan yang membentang di hadapannya.

Dulu, jalan itu menjadi tempat mereka turun dari kendaraan untuk pertama kalinya. Saat itu matahari hampir tenggelam. Beberapa anak berlari mengikuti kendaraan mereka. Orang-orang berdiri di depan rumah. Perangkat desa menunggu di halaman kantor desa.

Mereka datang sebagai mahasiswa.

Mereka pulang sebagai bagian dari cerita sebuah desa.

Namun hari ini, setelah sekian lama, Raka kembali.

Ia tidak datang sebagai ketua kelompok KKN.

Tidak membawa surat tugas.

Tidak membawa daftar program kerja.

Tidak pula mengenakan jaket almamater.

Ia datang hanya dengan sebuah buku yang tersimpan di dalam tasnya.

Buku itu berjudul:

SEJARAH DESA AWAN BIRU.

Raka tersenyum tipis.

Buku yang dahulu hampir tidak selesai.

Buku yang menghabiskan begitu banyak malam.

Buku yang membuatnya berulang kali kembali ke kantor desa.

Buku yang mempertemukannya dengan banyak orang.

Dan buku yang diam-diam menjadi saksi tumbuhnya sebuah perasaan yang tidak pernah ia rencanakan.

Perasaan kepada seseorang yang dahulu hanya dikenalnya sebagai operator desa.

Raka menarik napas panjang.

Ia masih ingat hari pertama mereka bertemu.

Saat itu ia berdiri di depan meja administrasi, membawa beberapa lembar pertanyaan tentang sejarah desa.

Perempuan itu menatapnya dari balik layar komputer.

“Untuk apa data ini?”

“Untuk buku sejarah desa.”

“Buku sejarah?”

“Iya.”

Perempuan itu tersenyum kecil.

“Empat puluh hari cukup?”

Raka terdiam.

Pertanyaan sederhana itu dahulu terdengar seperti keraguan.

Kini, setelah bertahun-tahun, ia justru menyadari bahwa pertanyaan tersebut adalah awal dari begitu banyak hal.

Bukan hanya buku.

Bukan hanya sejarah.

Tetapi juga sebuah hubungan yang tumbuh tanpa pernah mereka rencanakan.

Raka melangkah perlahan.

Di sebelah kiri jalan, bangunan perpustakaan desa terlihat dari kejauhan.

Ia berhenti.

Dahulu bangunan itu hampir selalu sepi.

Rak-rak buku berdebu.

Koleksi tidak tertata.

Anak-anak jarang datang.

Namun sekarang, dari balik jendela, terlihat beberapa anak sedang membaca.

Raka tersenyum.

Ia teringat Evianti, Sifa, Bagas, Leni, dan Fajar.

Lima mahasiswa yang dahulu menghabiskan hampir seluruh waktu mereka untuk membersihkan, menata, mendata, dan menghidupkan kembali perpustakaan itu.

Mereka pernah berkata bahwa perpustakaan tidak boleh hanya menjadi ruangan tempat buku disimpan.

Perpustakaan harus menjadi tempat mimpi dimulai.

Raka kemudian menoleh ke kantor desa.

Di sana, dahulu Theo Rahman hampir setiap hari duduk di depan komputer.

Theo.

Mahasiswa yang awalnya hanya dianggap sebagai anak yang paling mengerti teknologi.

Namun kemudian menjadi orang yang mengubah cara perangkat desa memandang teknologi.

Theo tidak sekadar membuat folder.

Tidak sekadar memindahkan dokumen dari kertas ke komputer.

Ia membangun sebuah kebiasaan.

Ia mengajarkan bahwa arsip bukan sekadar tumpukan berkas.

Bahwa data bukan sekadar angka.

Bahwa teknologi tidak akan berarti jika tidak dapat diteruskan oleh manusia yang menggunakannya.

Dan dari kerja Theo, lahirlah sebuah gagasan yang dahulu terdengar terlalu besar untuk sebuah program KKN.

Perpustakaan Digital Desa Awan Biru.

Raka masih ingat bagaimana Theo pernah berkata:

“Kalau sistem ini berhenti setelah kita pergi, berarti kita belum berhasil.”

Kalimat itu sederhana.

Namun ternyata benar.

Keberhasilan mereka bukan ketika program selesai.

Keberhasilan mereka adalah ketika desa mampu melanjutkannya tanpa mereka.

Raka kembali berjalan.

Di sebuah dinding dekat kantor desa, ia melihat beberapa foto lama yang terpajang.

Foto kegiatan KKN.

Foto anak-anak membaca.

Foto perangkat desa bersama mahasiswa.

Foto kegiatan literasi.

Foto pelatihan komputer.

Foto pengumpulan sejarah desa.

Dan satu foto yang membuat langkah Raka terhenti.

Sepuluh mahasiswa berdiri di halaman kantor desa.

Senyum mereka masih sama.

Wajah mereka masih muda.

Tidak ada yang terlihat sedang memikirkan perpisahan.

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari setelah foto itu diambil, mereka akan menangis ketika harus meninggalkan desa.

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa dari mereka akan tetap berhubungan.

Sebagian akan sibuk dengan kuliah.

Sebagian akan lulus.

Sebagian akan bekerja di kota yang berbeda.

Dan sebagian mungkin akan menjadi nama yang hanya muncul sesekali dalam percakapan.

Tetapi Awan Biru menyimpan mereka.

Dalam foto.

Dalam dokumen.

Dalam buku.

Dalam perpustakaan.

Dalam sistem digital.

Dalam ingatan perangkat desa.

Dan dalam hati orang-orang yang pernah berjalan bersama mereka.

Raka menyentuh foto itu perlahan.

“Empat puluh hari,” gumamnya.

Dulu mereka menganggapnya singkat.

Kini Raka tahu, empat puluh hari bisa menjadi sangat panjang jika diisi dengan perjuangan.

Bisa menjadi sangat dalam jika diisi dengan persahabatan.

Bisa menjadi sangat berarti jika digunakan untuk mengabdi.

Dan bisa menjadi sangat abadi jika di dalamnya tumbuh sebuah perasaan.

Dari kejauhan terdengar suara anak-anak tertawa.

Raka menoleh.

Sore mulai turun.

Langit Awan Biru perlahan berubah warna.

Sama seperti sore ketika mereka pertama kali datang.

Bedanya, kali ini Raka datang bukan untuk memulai pengabdian.

Ia datang untuk melihat apa yang masih tertinggal setelah mereka pergi.

Ia datang untuk menyaksikan apakah semua yang dahulu mereka perjuangkan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan desa.

Dan mungkin, tanpa ia sadari, ia juga datang untuk mencari jawaban atas satu pertanyaan yang selama ini tidak pernah benar-benar selesai:

Apakah sesuatu yang lahir hanya dalam empat puluh hari dapat bertahan bertahun-tahun?

Raka memandang kembali papan nama desa.

DESA AWAN BIRU.

Ia tersenyum.

Kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan buku yang selama ini ia simpan.

Pada halaman pertama tertulis:

SEJARAH DESA AWAN BIRU

Di bawahnya ada nama penyusun.

Raka dan kawan-kawan.

Namun Raka tahu, buku itu sebenarnya bukan hanya milik mereka.

Buku itu milik desa.

Milik orang-orang yang pernah membuka pintu rumah mereka.

Milik perangkat desa yang memberikan arsip.

Milik para sesepuh yang membagikan cerita.

Milik anak-anak yang membuat perpustakaan kembali hidup.

Milik Theo yang membangun sistem digital.

Milik Agatha, Farida, dan Jevin yang mengabadikan setiap langkah melalui kamera.

Dan milik seseorang yang dahulu duduk di balik meja administrasi, lalu tanpa sadar menjadi bagian paling pribadi dari perjalanan Raka.

Seseorang yang mungkin masih ada di dalam kantor desa itu.

Raka menutup buku.

Ia belum tahu apakah pertemuan mereka nanti akan kembali seperti dahulu.

Ia juga tidak tahu apakah waktu telah mengubah segalanya.

Tetapi satu hal ia tahu.

Ada desa yang menyimpan cerita.

Ada jalan yang menyimpan langkah.

Ada foto yang menyimpan wajah.

Ada buku yang menyimpan sejarah.

Dan ada hati manusia yang menyimpan nama seseorang jauh lebih lama daripada yang mampu dilakukan oleh waktu.

Karena pada akhirnya, orang-orang memang akan pergi.

Program akan selesai.

Spanduk akan dilepas.

Jaket almamater akan disimpan.

Kamera akan berhenti merekam.

Laptop akan ditutup.

Kegiatan akan berakhir.

Tetapi jejak pengabdian tidak selalu ikut pergi bersama mereka.

Sebagian tinggal di tempat yang pernah mereka sentuh.

Sebagian hidup dalam kebiasaan yang mereka tinggalkan.

Sebagian tumbuh dalam mimpi anak-anak yang pernah mereka ajari.

Dan sebagian lagi...

tetap hidup dalam hati seseorang yang pernah mereka temui.

Raka melangkah menuju kantor desa.

Langkahnya semakin dekat.

Pintu kantor itu masih terbuka.

Dan di balik pintu tersebut, mungkin ada seseorang yang selama ini hanya tinggal sebagai nama dalam ingatannya.

Seseorang yang membuat sebuah desa tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.

Karena bagi Raka, Awan Biru bukan sekadar tempat mereka menjalankan KKN.

Awan Biru adalah tempat mereka pernah datang membawa pengabdian.

Tempat mereka belajar tentang kehidupan.

Tempat persahabatan tumbuh.

Tempat sebuah sejarah ditulis.

Tempat teknologi mulai mengubah kebiasaan.

Tempat sebuah perpustakaan kembali bernapas.

Dan tempat sebuah perasaan diam-diam menemukan rumahnya.

Empat puluh hari telah berlalu.

Tetapi nama mereka...

belum benar-benar pergi.

Dan kisah itu baru saja dimulai.

 

 

 

 

BAB I

KEDATANGAN YANG MEMBAWA BANYAK RENCANA

Pagi itu, Desa Awan Biru belum sepenuhnya terjaga ketika sebuah kendaraan berukuran sedang memasuki jalan utama desa.

Debu tipis beterbangan di belakang roda.

Beberapa anak yang sedang bermain di halaman rumah berlari ke pinggir jalan. Mereka berhenti sejenak, memandangi kendaraan yang berjalan perlahan melewati deretan rumah.

Di salah satu sisi jalan, seorang ibu yang sedang menyapu halaman ikut menoleh.

“Mahasiswa KKN?” tanyanya kepada seorang anak yang berdiri tidak jauh darinya.

Anak itu mengangguk.

“Iya, Bu. Katanya dari Universitas Harapan.”

Kabar tentang kedatangan mahasiswa memang sudah beredar sejak beberapa hari sebelumnya.

Pemerintah Desa Awan Biru telah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Tempat tinggal mahasiswa sudah ditentukan. Jadwal penerimaan telah disusun. Pertemuan dengan perangkat desa pun telah direncanakan.

Namun bagi masyarakat, kedatangan mahasiswa tetap menjadi sesuatu yang menarik.

Bagi sebagian orang, mereka adalah anak-anak muda yang akan membantu desa.

Bagi sebagian lainnya, mereka hanyalah mahasiswa yang akan tinggal selama empat puluh hari, kemudian pulang.

Tidak ada yang tahu saat itu bahwa empat puluh hari tersebut akan meninggalkan cerita yang jauh lebih panjang.

 

Kendaraan berhenti di halaman kantor desa.

Pintu terbuka.

Seorang mahasiswa laki-laki turun lebih dahulu.

Tubuhnya tegap, rambutnya tertata sederhana, dan sebuah map berwarna hitam berada di tangan kirinya.

Ia melihat ke sekeliling sebelum menarik napas panjang.

Raka.

Ketua kelompok KKN Universitas Harapan.

Ia menatap bangunan kantor desa yang berdiri di hadapannya.

“Jadi ini Awan Biru,” gumamnya.

Seorang mahasiswa lain turun dari kendaraan sambil membawa dua tas sekaligus.

“Rak, jangan melamun. Bantu turunkan barang.”

Raka menoleh.

“Sebentar, Theo.”

Theo Rahman mendengus.

“Sebentar terus. Kalau barangnya bisa turun sendiri, aku tidak akan protes.”

Raka tertawa kecil.

“Baik, baik.”

Theo kembali ke kendaraan.

Tidak banyak yang mengenal Theo pada saat itu.

Di antara sepuluh mahasiswa yang datang, Theo termasuk yang paling tenang. Ia tidak terlalu banyak bicara. Namun hampir semua anggota kelompok tahu bahwa kalau ada persoalan komputer, jaringan, data, atau perangkat digital, Theo biasanya menjadi orang pertama yang dicari.

Ia bukan tipe mahasiswa yang senang menjadi pusat perhatian.

Tetapi ia memiliki satu kebiasaan yang kelak akan membuatnya menjadi tokoh penting dalam perjalanan mereka.

Ia selalu bertanya:

“Bagaimana supaya ini tetap berjalan setelah kita pergi?”

Pertanyaan itu kelak akan menjadi dasar hampir seluruh pekerjaannya di Desa Awan Biru.

Satu demi satu mahasiswa turun.

Agatha membawa kamera.

Farida membawa tas berisi beberapa perlengkapan dokumentasi.

Jevin memeriksa kamera video sambil memastikan baterainya tidak tertinggal.

Evianti, Sifa, Bagas, Leni, dan Fajar sibuk membawa barang masing-masing.

Suasana yang semula tenang berubah menjadi ramai.

Tawa.

Panggilan.

Suara koper diseret.

Suara kardus dipindahkan.

Dan sesekali terdengar keluhan karena barang terlalu berat.

Raka berdiri di tengah halaman.

Ia memperhatikan semuanya.

Sepuluh mahasiswa.

Empat puluh hari.

Berbagai program kerja.

Dan sebuah desa yang belum mereka kenal.

Ia kemudian melihat ke arah pintu kantor desa.

Beberapa perangkat desa telah berdiri menunggu.

Seorang perempuan yang mengenakan pakaian kerja berjalan mendekat.

“Selamat datang di Desa Awan Biru.”

Raka segera mengulurkan tangan.

“Terima kasih, Bu.”

“Saya dari bagian administrasi desa. Nanti kalau ada kebutuhan data atau dokumen, bisa koordinasi dengan kami.”

Raka mengangguk.

“Baik. Terima kasih banyak.”

Perempuan itu kemudian menoleh kepada anggota kelompok lainnya.

Tatapan matanya sempat berhenti pada Theo yang sedang membawa sebuah laptop.

“Kalau urusan komputer mungkin nanti banyak bertemu dengan Mas Theo.”

Theo yang mendengar namanya langsung tersenyum.

“Semoga saya tidak merepotkan, Bu.”

“Justru kami yang mungkin banyak merepotkan.”

Semua tertawa.

Pertemuan pertama berlangsung sederhana.

Belum ada perasaan.

Belum ada konflik.

Belum ada cerita cinta.

Hanya perkenalan antara dua kelompok manusia yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Mahasiswa dan masyarakat desa.

Namun sering kali cerita besar memang dimulai dari sesuatu yang sederhana.

 

Beberapa saat kemudian, mereka memasuki ruang pertemuan.

Raka duduk di bagian depan bersama beberapa perangkat desa.

Anggota kelompok lainnya duduk berjejer.

Di atas meja terdapat beberapa map, dokumen, dan daftar program yang telah mereka susun sebelum berangkat.

Seorang perangkat desa membuka pembicaraan.

“Kami senang sekali menerima teman-teman mahasiswa di sini.”

Raka mengangguk.

“Kami juga berterima kasih karena diberi kesempatan untuk belajar dan mengabdi di Desa Awan Biru.”

“Harapan kami sederhana. Selama empat puluh hari ini, teman-teman tidak hanya menjalankan program yang sudah direncanakan kampus. Kalau memungkinkan, lihat juga apa yang memang dibutuhkan masyarakat.”

Raka mencatat kalimat itu.

Lihat apa yang dibutuhkan masyarakat.

Kalimat sederhana.

Tetapi itulah yang kemudian membuat mereka mengubah beberapa rencana.

Raka membuka catatannya.

“Sebelum kami menyampaikan program kerja, kami ingin mendengar dulu kondisi desa.”

Perangkat desa mulai menjelaskan.

Ada banyak hal.

Administrasi desa masih dalam proses penataan.

Sebagian arsip lama masih berupa dokumen fisik.

Dokumen digital belum sepenuhnya terorganisasi.

Data tersimpan di beberapa perangkat.

Dokumentasi kegiatan desa belum memiliki sistem pengarsipan yang teratur.

Informasi desa juga belum terdigitalisasi secara optimal.

Raka mencatat semuanya.

Theo yang duduk di sampingnya mulai memperhatikan lebih serius.

“Kalau arsip digitalnya sekarang bagaimana, Pak?” tanyanya.

Perangkat desa menjelaskan bahwa sebagian sudah menggunakan komputer.

Namun belum semua dokumen tersusun dalam sistem yang seragam.

Theo kembali mencatat.

“Berarti masalahnya bukan tidak ada komputer,” katanya perlahan.

“Lalu apa?” tanya Raka.

Theo menatapnya.

“Pengelolaan.”

Raka terdiam.

Theo melanjutkan.

“Kalau kita hanya membuat folder baru lalu pergi, masalahnya akan kembali lagi.”

Raka mengangguk.

Ia tahu Theo sedang menemukan sesuatu.

Bukan sekadar program.

Tetapi persoalan yang lebih mendasar.

 

Pembicaraan kemudian beralih ke perpustakaan desa.

“Perpustakaan sebenarnya ada,” kata seorang perangkat desa.

“Namun belum terlalu aktif.”

Evianti langsung mengangkat kepala.

“Boleh kami melihatnya?”

“Tentu.”

Sore itu, mereka akhirnya melihat perpustakaan Desa Awan Biru.

Ruangan itu tidak terlalu besar.

Beberapa rak buku berdiri di sepanjang dinding.

Sebagian buku tertata.

Sebagian lainnya menumpuk.

Ada buku pelajaran.

Buku cerita anak.

Majalah lama.

Buku pengetahuan umum.

Dan beberapa koleksi yang tampak jarang disentuh.

Sifa memandangi rak paling ujung.

“Bukunya lumayan banyak.”

“Tapi belum tertata,” kata Bagas.

Leni membuka sebuah buku catatan.

“Ini daftar peminjaman?”

Fajar melihat halaman berikutnya.

“Sudah lama tidak diperbarui.”

Evianti berjalan mengelilingi ruangan.

Ia kemudian berhenti di tengah ruangan.

“Tempat ini sebenarnya bisa hidup.”

Bagas menoleh.

“Maksudmu?”

“Bukan hanya dibersihkan.”

Evianti menunjuk rak buku.

“Kita harus membuat anak-anak mau datang.”

Sifa mengangguk.

“Berarti bukan sekadar revitalisasi ruangan.”

“Ya.”

Fajar tersenyum.

“Kita revitalisasi kegiatannya juga.”

Mereka saling berpandangan.

Program kerja yang awalnya hanya tertulis sederhana dalam proposal mulai menemukan bentuknya.

Revitalisasi Perpustakaan Desa.

Namun mereka belum tahu bahwa program itu nantinya akan terhubung dengan program Theo.

Perpustakaan fisik akan bertemu dunia digital.

 

Sementara itu, Agatha, Farida, dan Jevin sedang sibuk dengan kamera.

Agatha mengambil beberapa foto rak buku.

Jevin merekam kondisi ruangan.

Farida mencatat beberapa informasi.

“Kenapa kalian foto semuanya?” tanya Leni.

Agatha tersenyum.

“Karena kalau kita tidak dokumentasikan kondisi awal, nanti orang tidak akan tahu perubahan yang terjadi.”

Jevin mengangkat kameranya.

“PDD bukan cuma foto orang senyum.”

Farida tertawa.

“Betul. Kita harus punya cerita sebelum dan sesudah.”

Theo yang mendengar percakapan itu menoleh.

“Nanti kalau sudah ada perpustakaan digital, aku butuh foto koleksi buku.”

Agatha mengangguk.

“Siap.”

“Dan dokumentasi kegiatan.”

“Siap.”

“Dan kalau bisa foto ruangan sebelum dan sesudah.”

Agatha tersenyum.

“Banyak juga permintaanmu.”

Theo tertawa kecil.

“Karena data tanpa dokumentasi kadang sulit bercerita.”

Kalimat itu membuat Agatha terdiam sesaat.

Ia kemudian mengangguk.

“Baik. Kita kerja sama.”

Saat itu belum ada yang menyadari bahwa tiga bidang yang berbeda—digitalisasi, perpustakaan, dan PDD—perlahan sedang membangun satu rangkaian program yang saling membutuhkan.

 

Menjelang sore, Raka kembali ke kantor desa.

Ia membuka catatan yang dibuat sejak pagi.

Program administrasi digital.

Perpustakaan.

Dokumentasi.

Tetapi ada satu hal yang belum ia masukkan dalam daftar.

Sejarah desa.

Raka sebenarnya telah memikirkan gagasan itu sejak sebelum keberangkatan.

Di kampus, ia pernah membaca bahwa banyak desa memiliki sejarah panjang tetapi tidak memiliki dokumentasi sejarah yang tersusun dengan baik.

Ia ingin mencoba.

Namun ia tahu waktunya terbatas.

Empat puluh hari bukan waktu yang panjang untuk menulis sejarah sebuah desa.

Ia kemudian bertanya kepada perangkat desa.

“Apakah Desa Awan Biru punya buku sejarah desa?”

Perangkat desa saling berpandangan.

“Ada beberapa dokumen.”

“Buku khusus?”

“Belum lengkap.”

Raka mencatat.

“Kalau begitu, saya ingin mencoba menyusunnya.”

Salah seorang perangkat desa tersenyum.

“Kalau bisa selesai, itu bagus sekali.”

Raka tersenyum.

“Saya tidak bisa menjanjikan sempurna.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi saya akan mencoba.”

Dari belakang meja administrasi, perempuan yang tadi menyambut mereka memperhatikan percakapan tersebut.

“Kalau membutuhkan arsip lama, nanti saya bantu carikan.”

Raka menoleh.

“Serius?”

Perempuan itu mengangguk.

“Serius.”

“Terima kasih.”

“Jangan berterima kasih dulu. Arsipnya banyak.”

Raka tertawa.

“Justru itu tantangannya.”

Untuk beberapa detik, tatapan mereka bertemu.

Tidak lama.

Hanya sebentar.

Namun cukup untuk membuat Raka mengingat wajah itu lebih lama dari yang seharusnya.

Ia segera kembali melihat catatannya.

Belum ada apa-apa.

Belum.

Hanya sebuah pertemuan biasa antara mahasiswa KKN dan operator desa.

Begitulah yang Raka pikirkan.

 

Malam pertama di Desa Awan Biru terasa berbeda.

Para mahasiswa berkumpul di tempat tinggal mereka.

Koper masih belum sepenuhnya dibongkar.

Sebagian pakaian masih berada dalam tas.

Laptop terbuka.

Catatan berserakan.

Peta desa terpampang di dinding.

Raka berdiri di depan mereka.

“Besok kita mulai pemetaan.”

Theo mengangkat tangan.

“Untuk bagian digitalisasi, aku ingin melihat dulu semua perangkat yang digunakan desa.”

Evianti menyahut.

“Kami mau mulai dari perpustakaan.”

Agatha mengangkat kamera.

“PDD mulai dokumentasi kegiatan.”

Raka mengangguk.

“Bagus.”

Ia kemudian membuka buku catatan.

“Kita juga perlu menyusun sejarah desa.”

Bagas mengangkat alis.

“Sejarah?”

“Iya.”

“Dalam empat puluh hari?”

Raka tersenyum.

“Makanya kita mulai sekarang.”

Semua terdiam sejenak.

Theo menatap Raka.

“Kalau mau menulis sejarah, kita harus hati-hati.”

“Aku tahu.”

“Jangan hanya berdasarkan cerita yang kita dengar.”

Raka mengangguk.

“Kita cari dokumen dan narasumber.”

Theo tersenyum.

“Berarti kita punya pekerjaan tambahan.”

“Sejak kapan KKN kita ringan?”

Semua tertawa.

Suasana menjadi lebih cair.

Malam semakin larut.

Satu per satu mereka mulai kembali ke kamar.

Namun Theo masih duduk di depan laptop.

Raka menghampirinya.

“Belum tidur?”

“Belum.”

“Apa yang kamu kerjakan?”

Theo memutar layar laptop.

Sebuah struktur folder terlihat di sana.

DESA AWAN BIRU.

Di bawahnya terdapat beberapa folder:

ADMINISTRASI.

ARSIP.

DOKUMENTASI.

PERPUSTAKAAN.

SEJARAH DESA.

Raka memperhatikan layar itu.

“Kamu sudah mulai?”

Theo mengangguk.

“Kalau kita ingin membangun sistem, harus dimulai dari struktur.”

Raka tersenyum.

“Empat puluh hari cukup?”

Theo menatapnya.

“Tidak.”

Raka tertawa.

“Lalu?”

Theo kembali melihat layar.

“Cukup untuk memulai.”

Jawaban itu membuat Raka diam.

Cukup untuk memulai.

Mungkin memang begitu seharusnya sebuah pengabdian.

Bukan menyelesaikan semuanya.

Bukan membuat desa berubah dalam waktu empat puluh hari.

Tetapi meninggalkan sesuatu yang dapat diteruskan.

 

Di luar, malam Desa Awan Biru semakin sunyi.

Lampu-lampu rumah mulai padam.

Angin bergerak perlahan melewati pepohonan.

Di sebuah rumah, seorang anak membuka buku cerita yang baru saja ia temukan di perpustakaan.

Di kantor desa, sebuah komputer masih menyala.

Di dalamnya, sebuah folder baru telah dibuat.

DESA AWAN BIRU.

Di tempat lain, kamera Agatha menyimpan foto pertama mereka.

Foto sebuah perpustakaan yang belum tertata.

Foto sebuah kantor desa.

Foto jalan desa.

Foto masyarakat.

Foto sepuluh mahasiswa yang baru saja datang.

Dan tanpa mereka sadari, foto-foto itu sedang menyimpan awal dari sebuah perjalanan.

Sementara Raka berbaring sambil menatap langit-langit kamar.

Ia mencoba memikirkan program kerja.

Digitalisasi.

Perpustakaan.

PDD.

Sejarah desa.

Namun entah mengapa, pikirannya justru kembali kepada percakapan singkat sore tadi.

“Kalau membutuhkan arsip lama, nanti saya bantu carikan.”

Raka tersenyum sendiri.

Kemudian ia memejamkan mata.

Besok mereka akan mulai bekerja.

Masih ada tiga puluh sembilan hari lebih.

Masih banyak program yang harus dilakukan.

Masih banyak masalah yang belum mereka ketahui.

Dan masih banyak hal yang belum mereka pahami tentang Desa Awan Biru.

Termasuk tentang seseorang yang perlahan akan menjadi bagian penting dalam perjalanan Raka.

Mereka datang membawa banyak rencana.

Tetapi mereka belum tahu bahwa desa ini akan memberi mereka sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam proposal KKN.

Persahabatan.

Perjuangan.

Kegagalan.

Keberhasilan.

Dan mungkin...

cinta yang tidak pernah mereka rencanakan.

Empat puluh hari telah dimulai.

Dan Desa Awan Biru baru saja membuka halaman pertamanya.

 

 

 

 

 

 

BAB II

MEMBAGI LANGKAH, MEMBAGI TANGGUNG JAWAB

Pagi kedua di Desa Awan Biru datang bersama suara ayam yang bersahutan dari halaman rumah warga.

Matahari belum terlalu tinggi ketika Raka sudah berada di ruang tengah tempat mereka berkumpul.

Di atas meja tergeletak beberapa lembar kertas.

Ada peta desa.

Ada catatan hasil pertemuan dengan pemerintah desa.

Ada daftar nama anggota kelompok.

Dan di tengah semuanya terdapat satu lembar kertas yang sejak semalam belum selesai ditulis.

PEMBAGIAN PROGRAM KERJA.

Raka memandangi kertas itu cukup lama.

Hari pertama mereka gunakan untuk mengenal desa.

Hari kedua harus digunakan untuk menentukan langkah.

Empat puluh hari terdengar panjang ketika mereka datang.

Namun setelah satu hari berlalu, Raka mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Waktu ternyata bergerak jauh lebih cepat daripada yang mereka bayangkan.

Ia melihat jam tangannya.

Pukul tujuh lewat sedikit.

“Bangun semua!”

Suaranya terdengar ke seluruh ruangan.

Dari kamar sebelah terdengar suara Bagas.

“Lima menit lagi, Rak!”

“Lima menitmu sudah sejak setengah jam lalu!”

Tidak ada jawaban.

Raka menghela napas.

Ia kemudian mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah pintu kamar.

“Bangun!”

Terdengar suara tawa.

Satu per satu anggota kelompok akhirnya keluar.

Theo muncul paling terakhir dengan rambut sedikit berantakan dan laptop di tangan.

“Kamu tidur atau ngoding semalam?” tanya Raka.

Theo duduk.

“Dua-duanya.”

“Pantas matamu seperti belum kembali dari kampus.”

Theo tertawa kecil.

“Aku sudah buat rancangan struktur digital desa.”

Raka menatapnya.

“Pagi-pagi sudah bicara kerja.”

“Kalau kita tidak mulai sekarang, nanti kita yang dikejar waktu.”

Raka tersenyum.

Ia tahu Theo benar.

Hari itu mereka harus membagi langkah.

Bukan hanya berdasarkan siapa yang bisa melakukan apa.

Tetapi berdasarkan apa yang benar-benar dibutuhkan Desa Awan Biru.

 

Raka membuka rapat.

“Teman-teman, sebelum mulai, saya ingin kita sepakati satu hal.”

Semua memperhatikan.

“Jangan menganggap empat puluh hari ini sebagai perlombaan menyelesaikan sebanyak mungkin kegiatan.”

Tidak ada yang menyela.

“Kita harus meninggalkan sesuatu yang bisa dilanjutkan.”

Theo mengangguk pelan.

Raka melanjutkan.

“Kalau program kita selesai hanya karena kita ada di sini, lalu berhenti ketika kita pulang, berarti kita belum berhasil.”

Kalimat itu membuat suasana menjadi lebih serius.

“Jadi pembagian tugas kita bukan hanya siapa mengerjakan apa. Kita harus memikirkan siapa yang melanjutkan setelah kita pergi.”

Theo menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Setuju.”

Raka kemudian menulis beberapa kata di papan.

DIGITALISASI

PERPUSTAKAAN

PDD

SEJARAH DESA

Empat bidang utama.

Empat jalur yang berbeda.

Tetapi nantinya akan bertemu pada satu tujuan.

Meninggalkan sesuatu yang bermanfaat.

 

“Untuk digitalisasi,” kata Raka, “Theo menjadi penanggung jawab utama.”

Beberapa anggota langsung mengangguk.

Tidak ada yang keberatan.

Theo justru terlihat sedikit ragu.

“Sendirian?”

“Tidak.”

Raka tersenyum.

“Kamu penanggung jawab. Bukan pekerja tunggal.”

Tawa kecil terdengar.

Theo akhirnya mengangguk.

“Aku ingin mulai dari pemetaan kebutuhan.”

“Apa saja?”

“Komputer yang digunakan desa. Sistem penyimpanan dokumen. Arsip. Data administrasi. Cara perangkat desa menyimpan file. Sampai kebutuhan pelatihan.”

Raka mencatat.

Theo melanjutkan.

“Dan aku ingin memastikan operator desa dilibatkan sejak awal.”

Raka menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena nanti dia yang menggunakan sistem itu.”

Jawaban Theo sederhana.

Namun itulah cara berpikirnya.

Ia tidak ingin membuat sistem untuk dipamerkan.

Ia ingin membuat sistem yang digunakan.

“Bagus,” kata Raka.

Theo membuka laptopnya.

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

“Perpustakaan.”

Evianti langsung menoleh.

Theo melanjutkan.

“Kalau kalian memperbaiki perpustakaan, aku ingin data koleksi bukunya bisa masuk ke sistem digital.”

Evianti tersenyum.

“Berarti kita kerja sama.”

“Harus.”

Raka melihat mereka.

“Ini yang saya maksud. Jangan membuat program sendiri-sendiri.”

Semua mengangguk.

 

Giliran kelompok perpustakaan.

Raka memandang Evianti, Sifa, Bagas, Leni, dan Fajar.

“Kalian lima orang fokus pada revitalisasi perpustakaan.”

Evianti membuka catatannya.

“Kami sudah lihat kondisinya kemarin.”

“Bagaimana?”

“Ruangan masih layak.”

“Masalahnya?”

“Penataan, pengelolaan, dan kegiatan.”

Sifa menambahkan,

“Kalau hanya membersihkan dan mengecat, menurut kami tidak cukup.”

Bagas mengangguk.

“Kita harus membuat sistem.”

Leni membuka catatan.

“Koleksi buku harus didata.”

Fajar menambahkan,

“Anak-anak juga perlu dibuat tertarik datang.”

Raka tersenyum.

“Jadi?”

Evianti menjawab,

“Kami ingin membuat perpustakaan menjadi ruang literasi desa.”

Raka mengangguk puas.

“Bagus.”

Namun kemudian Evianti berkata,

“Dan kami ingin program itu bisa diteruskan.”

Theo langsung menoleh.

“Nah.”

Evianti tertawa.

“Jangan bilang kita harus masuk sistem digital juga.”

Theo tersenyum.

“Harus.”

Semua tertawa.

Untuk pertama kalinya mereka mulai menyadari bahwa program kerja mereka tidak berdiri sendiri.

Perpustakaan membutuhkan teknologi.

Teknologi membutuhkan data.

Data membutuhkan dokumentasi.

Dokumentasi membutuhkan sejarah.

Dan sejarah membutuhkan semua itu untuk menjadi cerita yang utuh.

 

Raka kemudian melihat Agatha, Farida, dan Jevin.

“PDD.”

Agatha langsung mengangkat kamera.

“Siap.”

“Bukan hanya dokumentasi kegiatan kita.”

Agatha menatap Raka.

“Lalu?”

“Dokumentasikan desa.”

Jevin mengangguk.

“Potensi?”

“Potensi, masyarakat, perangkat desa, kegiatan, program, perpustakaan, semuanya.”

Farida membuka buku catatannya.

“Termasuk kondisi sebelum program?”

“Ya.”

Agatha tersenyum.

“Supaya nanti ada pembanding.”

“Betul.”

Theo menyela.

“Aku juga butuh dokumentasi untuk perpustakaan digital.”

Jevin menunjuk Theo.

“Mulai keluar permintaan.”

Theo tertawa.

“Karena kalian yang punya kamera.”

Agatha menggeleng.

“Baik. Tapi kami punya syarat.”

“Apa?”

“Kalian jangan menyuruh kami memotret hanya saat kegiatan berhasil.”

Semua terdiam.

Agatha melanjutkan.

“Kalau ada proses yang gagal, kita dokumentasikan juga.”

Raka tersenyum.

“Itu justru lebih penting.”

PDD bukan sekadar menyimpan foto keberhasilan.

Mereka harus menyimpan perjalanan.

Sebab perubahan tidak selalu terlihat dari hasil akhir.

Kadang perubahan justru terlihat dari meja yang berantakan, tangan yang kotor, wajah yang lelah, dan orang-orang yang tetap bekerja meski hasil belum terlihat.

 

Setelah pembagian tiga bidang utama selesai, Raka mengambil satu lembar kertas lain.

“Terakhir.”

Ia menulis:

BUKU SEJARAH DESA AWAN BIRU

Ruangan kembali tenang.

Bagas memandang kertas itu.

“Ini benar-benar mau dikerjakan?”

Raka mengangguk.

“Ya.”

“Dalam empat puluh hari?”

“Kita coba.”

Theo menyandarkan tubuhnya.

“Ini bukan pekerjaan kecil.”

“Aku tahu.”

“Data sejarah harus diverifikasi.”

“Aku tahu.”

“Cerita masyarakat bisa berbeda.”

“Aku juga tahu.”

Theo tersenyum.

“Berarti kamu sudah siap pusing.”

Semua tertawa.

Raka ikut tertawa.

“Kalau saya tidak pusing, berarti bukan proyek sejarah.”

Ia kemudian menjelaskan.

“Aku ingin mengumpulkan sejarah desa dari berbagai sumber. Arsip pemerintah desa, cerita tokoh masyarakat, dokumen lama, foto-foto lama, dan kalau memungkinkan data perkembangan desa dari masa ke masa.”

Leni bertanya,

“Siapa yang membantu?”

Raka melihat semua anggota kelompok.

“Semua.”

“Semua?”

“Kalau menemukan informasi, catat. Kalau bertemu orang tua yang mengetahui sejarah desa, tanyakan. Kalau menemukan foto lama, dokumentasikan.”

Agatha langsung mengangkat tangan.

“Berarti PDD masuk juga.”

“Justru penting.”

Theo menambahkan,

“Arsip digital juga.”

Raka mengangguk.

“Dan perpustakaan bisa menyimpan salinannya.”

Mereka saling memandang.

Satu demi satu mulai memahami.

Buku sejarah itu tidak akan menjadi pekerjaan Raka seorang.

Ia akan menjadi hasil dari seluruh perjalanan mereka.

 

Rapat berlangsung hampir dua jam.

Namun setelah rapat selesai, mereka belum langsung berangkat.

Raka menempelkan pembagian tugas di dinding.

Nama.

Tanggung jawab.

Target.

Jadwal.

Semua terlihat jelas.

Theo memperhatikan lembar itu.

“Kalau mau selesai, kita harus punya target mingguan.”

Raka mengangguk.

“Buatkan.”

Theo mengambil spidol.

Ia membagi empat puluh hari menjadi beberapa tahap.

Minggu pertama: pemetaan dan pengumpulan data.

Minggu kedua: pelaksanaan awal.

Minggu ketiga: pengembangan.

Minggu keempat: penguatan dan evaluasi.

Minggu terakhir: serah terima dan keberlanjutan.

Raka membaca.

“Empat puluh hari ternyata cepat.”

Theo menatapnya.

“Makanya jangan banyak tidur.”

Bagas langsung menyela.

“Kalau begitu Theo saja yang tidak tidur.”

Tawa pecah.

 

Menjelang siang mereka berangkat ke kantor desa.

Kelompok dibagi sesuai tugas.

Theo membawa laptop dan buku catatan.

Evianti membawa daftar kebutuhan perpustakaan.

Agatha membawa kamera.

Raka membawa map untuk data sejarah.

Ketika mereka tiba di kantor desa, suasana sudah mulai sibuk.

Perangkat desa sedang mengurus berbagai keperluan masyarakat.

Ada warga yang datang mengurus dokumen.

Ada telepon masuk.

Ada berkas yang harus diperiksa.

Theo memperhatikan semuanya.

Ia tidak langsung bertanya.

Ia mengamati.

Cara petugas mencari file.

Cara dokumen disimpan.

Cara data dipindahkan.

Cara arsip dicari.

Setelah hampir setengah jam, barulah ia berkata,

“Boleh saya lihat struktur penyimpanan file yang sekarang?”

Operator desa mempersilakannya.

Theo duduk di depan komputer.

Ia melihat beberapa folder.

Sebagian menggunakan nama berdasarkan tahun.

Sebagian berdasarkan jenis dokumen.

Sebagian lagi menggunakan nama kegiatan.

Theo mengerutkan kening.

“Ini dibuat siapa?”

Operator menjelaskan.

“Beda-beda.”

Theo mengangguk.

“Pantas.”

“Kenapa?”

“Tidak ada pola yang sama.”

Operator tersenyum.

“Kami memang sering kesulitan mencari file lama.”

Theo menunjuk layar.

“Ini yang harus kita benahi dulu.”

Perempuan itu menatapnya.

“Bisa?”

Theo tersenyum.

“Bisa.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi bukan saya yang akan menggunakannya nanti.”

“Lalu?”

“Bapak dan Ibu di sini.”

Perempuan itu tersenyum.

Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Theo tidak datang membawa teknologi untuk menggantikan pekerjaan mereka.

Ia datang untuk membantu mereka bekerja lebih mudah.

 

Di sisi lain kantor desa, Raka sedang berbicara dengan seorang perangkat desa.

“Kalau sejarah desa, kira-kira siapa yang paling banyak tahu?”

“Banyak.”

“Siapa yang paling tua?”

Perangkat desa menyebut beberapa nama.

Raka mencatat.

“Kalau arsip lama?”

“Ada.”

“Di mana?”

“Sebagian di gudang.”

Raka tersenyum.

“Boleh saya lihat?”

“Boleh, tapi siap-siap berdebu.”

Raka tertawa.

“Tidak masalah.”

Dari meja administrasi, operator desa yang sebelumnya membantu Raka kembali memperhatikan.

“Kalau mau mencari arsip lama, saya ikut.”

Raka menoleh.

“Tidak merepotkan?”

“Kalau tidak saya bantu, nanti Anda mencari sendiri dan mungkin malah salah mengambil.”

Raka tersenyum.

“Baik. Saya terima bantuannya.”

Percakapan itu sederhana.

Tetapi untuk pertama kalinya mereka mulai bekerja berdua.

Mereka belum tahu bahwa kebersamaan kecil seperti itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

 

Sore harinya, seluruh kelompok kembali berkumpul.

Masing-masing membawa cerita.

Theo menemukan banyak persoalan administrasi digital.

Kelompok perpustakaan menemukan bahwa koleksi buku jauh lebih banyak daripada yang terlihat.

PDD menemukan banyak potensi desa yang belum pernah dipublikasikan.

Raka menemukan beberapa arsip lama.

Semua terlihat bersemangat.

Namun Raka juga melihat sesuatu yang berbeda.

Semangat saja tidak cukup.

Mereka akan menghadapi masalah.

Data yang hilang.

Arsip yang sulit ditemukan.

Perangkat desa yang belum terbiasa dengan teknologi.

Waktu yang terbatas.

Masyarakat yang belum tentu langsung menerima semua gagasan mereka.

Dan mungkin konflik di antara mereka sendiri.

KKN bukan sekadar tentang membuat program.

KKN adalah tentang bekerja bersama orang-orang yang memiliki kebiasaan, pemikiran, dan cara kerja berbeda.

Raka menatap teman-temannya.

“Mulai besok, kita benar-benar bekerja.”

Theo tersenyum.

“Bukannya hari ini sudah?”

“Besok lebih berat.”

“Kenapa?”

Raka menunjuk papan program.

“Karena sekarang kita sudah punya target.”

 

Malam itu, sebelum tidur, Raka membuka buku catatannya.

Ia menulis:

Hari kedua.

Program kerja mulai dibagi.

Theo: digitalisasi desa dan perpustakaan digital.

Evianti, Sifa, Bagas, Leni, Fajar: revitalisasi perpustakaan.

Agatha, Farida, Jevin: PDD.

Saya: koordinasi dan sejarah desa.

Target utama: jangan membuat program yang berhenti setelah kami pergi.

Raka berhenti menulis.

Kemudian menambahkan satu kalimat:

Empat puluh hari bukan waktu untuk mengubah semuanya. Empat puluh hari adalah kesempatan untuk memulai sesuatu yang bisa diteruskan.

Ia menutup buku.

Namun sebelum lampu dimatikan, pikirannya kembali kepada percakapan sore tadi.

Operator desa itu.

Senyumnya.

Cara bicaranya.

Dan tawarannya untuk membantu mencari arsip.

Raka menggeleng.

“Fokus, Rak.”

Ia memejamkan mata.

Tetapi sebuah pertanyaan kecil muncul dalam benaknya.

Mengapa pertemuan kedua terasa berbeda dari pertemuan pertama?

Ia belum memiliki jawabannya.

Mungkin karena pekerjaan.

Mungkin karena kebetulan.

Atau mungkin karena ada sesuatu yang baru saja mulai tumbuh tanpa disadari.

Di tempat lain, Theo masih bekerja di depan laptop.

Ia membuat rancangan sistem baru.

Folder demi folder.

Data demi data.

Sementara di sebuah ruangan perpustakaan, Evianti dan kawan-kawan sedang menyusun daftar buku.

Dan Agatha memindahkan foto-foto hari itu ke komputer.

Tiga pekerjaan berbeda.

Tiga jalan berbeda.

Tetapi semuanya menuju satu tempat yang sama.

Desa Awan Biru.

Mereka belum tahu bahwa hari-hari berikutnya tidak akan selalu berjalan sesuai rencana.

Akan ada data yang hilang.

Akan ada perbedaan pendapat.

Akan ada program yang hampir gagal.

Akan ada persahabatan yang diuji.

Akan ada rahasia yang terungkap.

Dan akan ada perasaan yang tumbuh di antara kesibukan pengabdian.

Namun malam itu mereka masih percaya bahwa semua dapat diselesaikan dengan rencana yang baik.

Mereka belum tahu satu hal:

Tidak semua persoalan dalam pengabdian bisa diselesaikan dengan rencana.

Karena ketika manusia mulai terlibat, selalu ada perasaan, kepentingan, kebiasaan, dan luka yang ikut masuk ke dalam cerita.

Dan Desa Awan Biru...

sebentar lagi akan mengajarkan semuanya.

 

 

BAB III

OPERATOR DESA DAN LAYAR KOMPUTER

Pagi ketiga di Desa Awan Biru dimulai lebih cepat daripada dua hari sebelumnya.

Jam dinding baru menunjukkan pukul enam ketika Theo sudah duduk di depan laptop.

Di meja kecil di sudut ruangan, secangkir kopi mengepulkan uap tipis. Di sampingnya terdapat buku catatan, kabel data, sebuah flash drive, dan beberapa lembar kertas hasil pemetaan awal.

Theo menatap layar cukup lama.

Di sana terdapat struktur folder yang ia buat malam sebelumnya.

DESA AWAN BIRU

Di bawahnya:

01 ADMINISTRASI

02 ARSIP

03 KEGIATAN

04 PERPUSTAKAAN

05 DOKUMENTASI

06 SEJARAH DESA

07 CADANGAN

Ia menggeser kursor perlahan.

Sistem itu masih sederhana.

Bahkan sangat sederhana.

Namun Theo tahu, sesuatu yang sederhana akan menjadi rumit jika orang yang menggunakannya tidak memahami alasan di balik pembuatannya.

Ia tidak ingin sekadar membuat folder.

Ia ingin mengubah cara perangkat desa bekerja.

Dan itu jauh lebih sulit.

Pintu terbuka.

Raka muncul sambil membawa dua gelas kopi.

“Sudah mulai?”

Theo tidak menoleh.

“Belum berhenti.”

Raka meletakkan kopi di sampingnya.

“Kamu tidur?”

“Tidur.”

“Berapa jam?”

Theo diam.

Raka tertawa.

“Berarti tidak perlu ditanya.”

Theo akhirnya menoleh.

“Aku sedang memikirkan sistem arsip.”

“Sejak semalam?”

“Kalau kita salah dari awal, nanti perangkat desa justru tambah bingung.”

Raka menarik kursi.

“Memangnya sesulit itu?”

Theo menutup laptop sebentar.

“Masalah digitalisasi bukan komputer.”

“Lalu?”

“Manusia.”

Raka mengerutkan kening.

Theo melanjutkan.

“Komputer akan melakukan apa yang kita perintahkan. Kalau struktur kita salah, komputer tetap bekerja. Yang kacau adalah kita.”

Raka mengangguk.

Ia mulai memahami cara berpikir Theo.

“Jadi hari ini?”

“Kita harus belajar dari operator desa.”

“Bukan mengajari?”

Theo tersenyum.

“Dua-duanya.”

 

Pukul delapan mereka tiba di kantor desa.

Suasana sudah ramai.

Beberapa perangkat desa sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Theo membawa laptopnya.

Raka membawa map sejarah desa.

Mereka langsung menuju meja administrasi.

Operator desa yang kemarin membantu Raka sudah berada di sana.

Ia sedang memeriksa beberapa berkas.

Ketika melihat Theo datang, ia tersenyum.

“Mas Theo?”

“Iya.”

“Sudah siap melihat berantakannya file kami?”

Theo tertawa.

“Jangan disebut berantakan dulu.”

“Memangnya bukan?”

Theo duduk.

“Kita lihat dulu.”

Raka berdiri beberapa langkah dari mereka.

Ia memperhatikan.

Ada sesuatu yang menarik.

Theo dan operator desa langsung berbicara tentang pekerjaan.

Tidak ada basa-basi panjang.

Mereka membahas komputer, dokumen, folder, arsip, dan kebutuhan desa.

Raka justru merasa dirinya tidak terlalu dibutuhkan dalam percakapan itu.

Ia tersenyum.

“Kalau begitu saya cari arsip sejarah dulu.”

Operator desa menoleh.

“Jangan lupa nanti kembali.”

Raka mengangguk.

“Siap.”

Ia berjalan pergi.

Namun entah mengapa, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia sempat menoleh sekali lagi.

Operator desa sedang menunjukkan sebuah folder kepada Theo.

Mereka terlihat serius.

Raka kemudian menggelengkan kepala.

“Fokus, Rak.”

Ia melanjutkan langkah.

 

Theo mulai memeriksa komputer.

Ia membuka folder satu per satu.

Beberapa dokumen menggunakan nama yang berbeda.

Ada file bernama:

SURAT 1

SURAT BARU

SURAT FIX

SURAT FIX BANGET

SURAT FINAL

SURAT FINAL 2

Theo berhenti.

Ia menatap layar.

Operator desa tertawa kecil.

“Jangan tanya.”

Theo menunjuk layar.

“Yang ini final?”

“Seharusnya.”

“Seharusnya?”

“Kadang ada yang lebih final.”

Theo tertawa.

“Ini masalah klasik.”

Ia membuka folder lain.

Ada foto kegiatan.

Dokumen administrasi.

File Excel.

Scan surat.

Semua bercampur.

Theo kemudian membuat sebuah catatan.

MASALAH YANG DITEMUKAN

  1. Penamaan file belum seragam.
  2. Folder belum memiliki struktur yang sama.
  3. Dokumen lama sulit dicari.
  4. Foto kegiatan bercampur dengan file administrasi.
  5. Belum ada sistem pencadangan rutin.
  6. Beberapa file tersimpan hanya pada satu komputer.
  7. Tidak semua perangkat memahami struktur penyimpanan digital.

Ia berhenti menulis.

Operator desa memperhatikan.

“Banyak ya?”

Theo mengangguk.

“Tapi semuanya bisa diperbaiki.”

“Berapa lama?”

Theo tersenyum.

“Kalau saya sendiri, lama.”

“Kalau kami?”

“Cepat.”

Operator desa terdiam.

Theo melanjutkan,

“Sistem ini harus dibuat bersama.”

“Kenapa?”

“Karena saya akan pergi.”

Kalimat itu membuat operator desa diam sesaat.

Theo menunjuk komputer.

“Saya cuma empat puluh hari di sini. Setelah itu kalian yang menggunakan.”

Operator desa mengangguk perlahan.

Kini ia memahami maksud Theo.

Ia bukan sedang mengajari mereka cara menggunakan komputer.

Ia sedang menyiapkan mereka agar mampu bekerja tanpa mahasiswa.

 

Sementara itu, Raka berada di gudang arsip.

Ia ditemani seorang perangkat desa dan operator desa yang tadi membantu Theo.

Ruangan itu sempit.

Bau kertas lama bercampur debu memenuhi udara.

Beberapa kardus tersusun di sudut.

Ada dokumen yang sudah menguning.

Ada foto lama.

Ada buku administrasi.

Raka membuka salah satu kardus.

“Ini tahun berapa?”

Operator desa melihat label.

“Sepertinya cukup lama.”

Raka tersenyum.

“Cukup lama itu tahun berapa?”

“Ya... lama.”

Mereka tertawa.

Raka mengambil satu bundel dokumen.

Di dalamnya terdapat catatan pemerintahan desa dari tahun-tahun sebelumnya.

Ia membuka halaman demi halaman.

Nama kepala desa.

Perubahan struktur pemerintahan.

Kegiatan pembangunan.

Catatan musyawarah.

Semua mulai membentuk potongan sejarah.

Raka merasa seperti menemukan harta karun.

“Ini penting.”

Operator desa mengangguk.

“Masih banyak.”

“Kalau semua seperti ini, kita mungkin membutuhkan waktu lebih dari empat puluh hari.”

“Makanya jangan pilih-pilih sendiri.”

Raka menatapnya.

“Maksudnya?”

“Buat prioritas.”

Raka tersenyum.

“Sekarang saya tahu kenapa Anda jadi operator.”

“Kenapa?”

“Cara berpikirnya praktis.”

Operator desa tertawa.

“Kalau tidak praktis, pekerjaan tidak selesai.”

Raka ikut tertawa.

Mereka kembali bekerja.

Tanpa disadari, jarak di antara keduanya semakin dekat.

Bukan karena pembicaraan tentang perasaan.

Belum.

Hanya karena mereka mulai terbiasa bekerja bersama.

 

Menjelang siang, Theo memanggil Raka.

“Rak.”

Raka mendekat.

“Apa?”

“Aku menemukan masalah lain.”

“Apalagi?”

Theo menunjukkan sebuah flash drive.

“Beberapa data penting hanya disimpan di sini.”

Raka mengerutkan kening.

“Tidak ada cadangan?”

“Tidak.”

“Kalau flash drive ini rusak?”

Theo diam.

Raka langsung memahami.

“Berarti hilang.”

Theo mengangguk.

“Bisa.”

Operator desa yang berada di dekat mereka ikut mendengar.

Ia terlihat khawatir.

“Data apa saja?”

Theo menjelaskan.

“Beberapa dokumen administrasi dan data kegiatan.”

“Bisa diselamatkan?”

“Bisa.”

“Bagaimana?”

“Pertama kita salin ke komputer. Kedua, buat cadangan.”

Theo berhenti.

“Dan jangan pernah menyimpan data penting hanya di satu tempat.”

Operator desa mengangguk.

“Baik.”

Theo mulai memindahkan data.

Satu folder.

Dua folder.

Tiga folder.

Proses berlangsung perlahan.

Mereka semua menunggu.

Tidak ada yang menyangka bahwa persoalan kecil itu akan menjadi pelajaran besar bagi pemerintah desa.

Data bukan sekadar file.

Data adalah bagian dari ingatan sebuah pemerintahan.

Ketika data hilang, bukan hanya dokumen yang hilang.

Tetapi juga sejarah pekerjaan yang pernah dilakukan.

 

Sore menjelang ketika Theo selesai membuat rancangan awal.

Ia kemudian menjelaskan kepada operator desa.

“Saya ingin kita membuat tiga lapis penyimpanan.”

Operator desa memperhatikan.

“Pertama, komputer kerja.”

Theo menunjuk layar.

“Kedua, penyimpanan cadangan.”

Ia menunjuk perangkat lain.

“Ketiga, salinan eksternal.”

Operator desa mengangguk.

“Kalau begitu lebih aman.”

“Lebih aman, iya. Tapi keamanan tidak hanya soal tempat penyimpanan.”

“Apa lagi?”

“Siapa yang boleh mengubah data.”

Operator desa mulai mencatat.

Theo menjelaskan tentang hak akses.

Tentang penamaan file.

Tentang struktur folder.

Tentang pencadangan.

Tentang pentingnya dokumentasi.

Tentang bagaimana setiap file harus memiliki tempat yang jelas.

Ia berbicara perlahan.

Tidak menggunakan istilah teknis yang sulit.

Ia ingin operator desa benar-benar memahami.

Di tengah penjelasan itu, Raka masuk.

“Sudah selesai?”

Theo menggeleng.

“Baru mulai.”

Raka tertawa.

“Kalau begitu kapan selesainya?”

Theo menatapnya.

“Ketika sistem ini tetap berjalan setelah kita pergi.”

Raka diam.

Kalimat itu kembali terdengar.

Setelah kita pergi.

Entah mengapa, sejak mereka datang, kalimat tersebut semakin sering muncul.

 

Sore itu, Raka kembali menyusun sejarah desa.

Ia membawa beberapa dokumen ke ruang pertemuan.

Operator desa duduk di seberangnya.

“Kita mulai dari sejarah awal desa.”

“Baik.”

“Siapa yang tahu?”

“Banyak.”

“Siapa yang harus saya temui?”

Operator desa menyebut beberapa nama.

Raka mencatat.

“Kalau cerita tentang perubahan wilayah?”

“Ada beberapa orang tua yang tahu.”

“Kalau sejarah pemerintahan?”

“Dokumennya ada.”

Raka tersenyum.

“Berarti kita punya dua sumber.”

“Apa?”

“Cerita manusia dan dokumen.”

Operator desa mengangguk.

“Jangan lupa foto.”

Raka menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena sejarah tanpa bukti visual kadang terasa jauh.”

Raka tersenyum.

“Pantas kamu cocok dengan tim PDD.”

“Bukan saya yang memotret.”

“Tapi kamu tahu pentingnya foto.”

“Karena saya bekerja dengan arsip.”

Raka memandangnya beberapa detik.

Ada sesuatu dalam cara perempuan itu berbicara yang membuatnya kagum.

Ia bukan sekadar operator.

Ia memahami pekerjaannya.

Ia memahami desa.

Dan mungkin, Raka mulai menyadari, ia juga memahami hal-hal yang tidak tertulis dalam dokumen.

 

Menjelang pulang, Theo memanggil seluruh anggota kelompok.

Ia menunjukkan hasil pekerjaannya.

“Ini struktur awal.”

Semua mendekat.

Di layar terlihat sistem folder baru.

ADMINISTRASI DESA

ARSIP

KEGIATAN

PERPUSTAKAAN

DOKUMENTASI

SEJARAH

CADANGAN

Evianti menunjuk folder perpustakaan.

“Berarti nanti data buku masuk di sini?”

Theo mengangguk.

“Bukan cuma data buku.”

“Apa lagi?”

“Foto buku, informasi koleksi, kegiatan literasi, dan kalau memungkinkan akses digital.”

Mata Evianti berbinar.

“Berarti perpustakaan kita bisa terhubung.”

“Ya.”

Sifa langsung bersemangat.

“Kalau anak-anak mencari buku, mereka bisa tahu koleksinya dulu?”

“Bisa.”

Bagas bertanya,

“Bisa dibuka dari ponsel?”

Theo mengangguk.

“Kalau sistemnya kita bangun dengan baik.”

Raka memperhatikan.

Ia melihat sesuatu yang mulai tumbuh.

Program yang semula terpisah mulai menjadi satu.

Perpustakaan tidak lagi hanya tentang buku.

PDD tidak lagi hanya tentang foto.

Digitalisasi tidak lagi hanya tentang komputer.

Sejarah desa tidak lagi hanya tentang masa lalu.

Semuanya mulai bertemu.

 

Malam itu, Theo kembali duduk di depan laptop.

Raka menghampiri.

“Masih bekerja?”

Theo mengangguk.

“Sedikit lagi.”

Raka duduk.

“Kamu senang?”

Theo berpikir sejenak.

“Senang.”

“Kenapa?”

“Karena masalahnya nyata.”

Raka tertawa.

“Orang biasanya senang kalau masalahnya sedikit.”

Theo tersenyum.

“Kalau masalahnya nyata, kita tahu apa yang harus dikerjakan.”

Raka mengangguk.

Mereka terdiam beberapa saat.

Kemudian Theo berkata,

“Rak.”

“Ya?”

“Kita harus hati-hati.”

“Dengan apa?”

“Dengan harapan.”

Raka menoleh.

Theo menutup laptop.

“Jangan sampai kita datang membawa banyak janji.”

Raka memahami.

“Kita tidak mungkin menyelesaikan semua.”

“Betul.”

“Kita hanya bisa membuat yang kita kerjakan benar-benar berguna.”

Theo mengangguk.

“Dan bisa dilanjutkan.”

Raka tersenyum.

“Kalimatmu itu lagi.”

Theo tertawa.

“Karena itu penting.”

 

Hari ketiga berakhir tanpa acara besar.

Tidak ada seremoni.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada berita.

Namun di kantor Desa Awan Biru, sesuatu telah berubah.

Sebuah struktur arsip baru mulai dibuat.

Dokumen mulai dikelompokkan.

Data mulai dicadangkan.

Daftar buku mulai disusun.

Foto-foto mulai dikumpulkan.

Sejarah desa mulai ditelusuri.

Dan dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal mulai menemukan ritme kerja yang sama.

Theo dan operator desa.

Raka dan operator desa.

Semua bermula dari pekerjaan.

Tidak lebih.

Setidaknya begitu yang mereka yakini.

Namun manusia sering kali tidak menyadari kapan sebuah kebiasaan berubah menjadi kedekatan.

Dan kedekatan berubah menjadi perhatian.

Malam semakin larut.

Di layar komputer Theo, folder baru itu telah tersusun rapi.

DESA AWAN BIRU.

Sementara di buku catatan Raka tertulis satu kalimat:

“Hari ketiga: kami mulai mengenal desa bukan dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang tersimpan.”

Raka menutup bukunya.

Ia belum tahu bahwa beberapa hari kemudian, data yang sedang mereka susun akan membawa mereka pada persoalan yang lebih besar.

Ia belum tahu bahwa sistem yang sedang dibangun Theo akan diuji oleh sebuah masalah serius.

Dan ia juga belum tahu bahwa perempuan di balik meja administrasi itu perlahan akan menjadi seseorang yang jauh lebih sulit ia tinggalkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Untuk sementara, mereka masih mahasiswa KKN.

Masih ada tiga puluh tujuh hari.

Masih banyak pekerjaan.

Masih banyak persoalan.

Dan masih banyak cerita yang menunggu.

Di Desa Awan Biru, layar komputer telah menyala.

Tetapi di balik layar itu, sebuah kisah tentang manusia mulai berjalan.

Sebuah kisah tentang data, sejarah, pengabdian, dan perasaan yang perlahan tumbuh di antara kesibukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PERPUSTAKAAN YANG HAMPIR DILUPAKAN

Pagi keempat di Desa Awan Biru terasa lebih cerah.

Matahari baru saja menyentuh pucuk-pucuk pohon ketika lima mahasiswa sudah berdiri di depan perpustakaan desa.

Evianti membawa buku catatan.

Sifa membawa kain lap dan beberapa perlengkapan kebersihan.

Bagas membawa sapu.

Leni membawa daftar koleksi buku yang akan mereka data.

Sementara Fajar datang paling akhir dengan dua kardus kosong.

“Untuk apa kardus?” tanya Sifa.

“Buku yang mau dipindahkan.”

“Kenapa dua?”

“Kalau satu kurang.”

Bagas tertawa.

“Optimistis sekali.”

Fajar mengangkat bahu.

“Daripada nanti kita kekurangan kardus.”

Evianti tersenyum.

“Sudah. Kita mulai.”

Di belakang mereka, pintu perpustakaan terbuka.

Ruangan yang sehari sebelumnya hanya mereka lihat sekilas kini terasa berbeda.

Lebih jelas.

Lebih nyata.

Dan setelah diperhatikan lebih lama, mereka baru menyadari bahwa masalah perpustakaan itu jauh lebih besar daripada sekadar debu dan rak yang tidak tertata.

Buku-buku ada.

Ruangan ada.

Rak ada.

Tetapi kehidupan di dalamnya hampir tidak ada.

Itulah yang ingin mereka ubah.

 

“Menurut kalian, masalah paling besar apa?” tanya Evianti.

Mereka berdiri di tengah ruangan.

Sifa melihat sekeliling.

“Penataan.”

Bagas menggeleng.

“Pengelolaan.”

Leni menambahkan,

“Data koleksi.”

Fajar menunjuk beberapa kursi.

“Dan kegiatan.”

Evianti mengangguk.

“Semua benar.”

Ia membuka buku catatan.

“Jadi kita jangan langsung memindahkan buku.”

“Lalu?”

“Kita petakan dulu.”

Mereka mulai bekerja.

Rak demi rak diperiksa.

Buku demi buku diambil.

Judul dicatat.

Penulis dicatat.

Kategori dicatat.

Kondisi buku diperiksa.

Buku yang masih layak dipakai dipisahkan.

Buku yang rusak dicatat untuk diperbaiki.

Buku yang tidak relevan dipisahkan untuk dibicarakan dengan pengelola.

Pekerjaan itu ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang mereka bayangkan.

Setelah hampir dua jam, lantai dipenuhi tumpukan buku.

Bagas mengusap keringat.

“Kalau ada yang bilang kerja di perpustakaan santai, suruh dia ke sini.”

Sifa tertawa.

“Belum sehari sudah mengeluh.”

“Aku bukan mengeluh. Aku sedang menyampaikan kondisi lapangan.”

Fajar tertawa.

“Bahasa mahasiswa KKN memang selalu dibuat ilmiah.”

Suasana kembali cair.

Namun mereka tetap bekerja.

 

Sekitar pukul sepuluh, Raka datang bersama Theo.

Di tangan Theo terdapat laptop.

Sementara Raka membawa beberapa lembar catatan.

“Kalian sudah mulai?” tanya Raka.

Evianti mengangguk.

“Dari pagi.”

Raka melihat keadaan ruangan.

“Wah.”

Theo tersenyum.

“Ini baru awal.”

Evianti menunjuk tumpukan buku.

“Masalahnya ternyata banyak.”

Theo melihat daftar yang dibuat Leni.

“Sudah didata?”

“Sedang.”

Theo mengangguk.

“Nanti saya bantu buatkan format digitalnya.”

Sifa langsung bertanya,

“Berarti data buku ini bisa masuk ke perpustakaan digital?”

“Bisa.”

Fajar menyela,

“Kalau nanti orang mencari buku tertentu?”

“Bisa diketahui apakah koleksinya ada.”

Bagas tersenyum.

“Kalau begitu kita harus serius mendata.”

Theo mengangguk.

“Justru data awal ini penting.”

Raka melihat mereka.

Ia senang.

Gagasan yang sebelumnya hanya berupa pembicaraan mulai memiliki bentuk.

Namun pagi itu ada satu orang lain yang ikut datang.

Seorang perempuan membawa beberapa map.

Usianya tidak jauh berbeda dengan para mahasiswa.

Ia mengenakan pakaian kerja sederhana dengan rambut diikat rapi.

Ia berhenti di pintu perpustakaan.

“Boleh masuk?”

Raka menoleh.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Siska.”

Perempuan itu tersenyum.

“Pagi.”

Namanya Siska Damayanti.

Operator Desa Awan Biru.

Usianya sebaya dengan para mahasiswa KKN.

Karena itulah sejak awal, Siska tidak terasa seperti seseorang yang jauh lebih tua atau berbeda generasi dengan mereka.

Ia mudah bergaul.

Bisa berbicara serius ketika bekerja.

Tetapi juga mampu tertawa dan bercanda ketika suasana mulai santai.

Bagi perangkat desa, Siska adalah operator yang menangani berbagai kebutuhan administrasi dan data digital.

Bagi para mahasiswa, ia perlahan menjadi salah satu orang yang paling sering mereka temui selama menjalankan program.

Dan bagi Raka, tanpa ia sadari, nama Siska Damayanti mulai memiliki tempat tersendiri dalam ingatannya.

 

“Saya diminta membantu mencari data perpustakaan,” kata Siska.

Evianti menyambut.

“Pas sekali.”

Siska melihat tumpukan buku.

“Sudah sebanyak ini?”

“Baru sebagian.”

Siska tertawa.

“Kalau begini, kalian perlu tenaga tambahan.”

Bagas langsung menunjuk Fajar.

“Dia.”

Fajar protes.

“Kenapa saya?”

“Karena paling kuat.”

“Dasar.”

Semua tertawa.

Siska ikut tertawa.

Raka yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut tersenyum.

Ia memperhatikan Siska.

Bukan karena ada sesuatu yang istimewa pada penampilannya.

Justru karena cara Siska bekerja.

Ia tidak banyak bicara.

Begitu melihat sesuatu yang harus dilakukan, ia langsung membantu.

Ia mengambil beberapa buku.

Memeriksa catatan.

Membuka lemari.

Mencari dokumen.

Dan ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai, ia langsung bertanya.

“Data koleksi lama ini siapa yang pegang?”

Leni menjawab,

“Belum tahu.”

Siska berpikir sebentar.

“Coba kita cari di kantor desa.”

Raka mendekat.

“Boleh saya ikut?”

Siska menoleh.

“Boleh.”

Theo langsung tersenyum.

“Sepertinya proyek sejarah punya partner baru.”

Raka menatap Theo.

“Jangan mulai.”

Siska tertawa.

“Apa?”

“Tidak ada,” jawab Raka cepat.

Theo hanya tersenyum.

 

Mereka kemudian kembali ke kantor desa.

Siska membuka beberapa arsip digital.

“Data perpustakaan ini sebenarnya pernah dibuat.”

Raka mendekat.

“Serius?”

“Iya.”

“Kenapa tidak digunakan?”

Siska menggeleng.

“Entah. Mungkin karena tidak diperbarui.”

Ia membuka file lama.

Data tersebut sudah beberapa tahun tidak diperbaharui.

Raka memperhatikan layar.

“Ini bisa kita gunakan sebagai data awal.”

Siska mengangguk.

“Tapi harus dicocokkan dengan buku yang ada sekarang.”

Raka tersenyum.

“Berarti pekerjaan kita bertambah.”

Siska menatapnya.

“Bukankah kamu yang bilang ingin menulis sejarah desa?”

“Iya.”

“Kalau begitu jangan takut pekerjaan bertambah.”

Raka tertawa.

“Kamu ternyata suka menyuruh.”

Siska tersenyum.

“Bukan menyuruh. Mengingatkan.”

“Baik, Bu Operator.”

Siska mengangkat alis.

“Jangan panggil Bu.”

“Kenapa?”

“Umur kita sebaya.”

Raka tertawa.

“Baik, Siska.”

Untuk pertama kalinya ia menyebut nama itu tanpa embel-embel.

Siska.

Sederhana.

Tetapi entah mengapa, nama itu terasa berbeda ketika keluar dari mulutnya.

Siska juga sempat terdiam sepersekian detik.

Kemudian kembali menatap layar.

Mereka tidak membicarakannya.

Tidak ada alasan untuk membicarakan sesuatu yang belum ada.

 

Sementara itu, di perpustakaan, perubahan mulai terlihat.

Rak pertama telah selesai dibersihkan.

Buku-buku mulai dikelompokkan berdasarkan kategori.

Buku anak ditempatkan di bagian yang mudah dijangkau.

Buku pengetahuan dipisahkan.

Buku pelajaran dikelompokkan.

Majalah dan terbitan lama ditempatkan pada rak khusus.

Leni membuat kode sederhana.

Fajar memindahkan rak.

Bagas memperbaiki beberapa bagian yang longgar.

Sifa membersihkan jendela.

Evianti menyusun konsep kegiatan literasi.

Mereka bekerja tanpa banyak mengeluh.

Namun menjelang siang, sebuah masalah muncul.

“Ini bukunya banyak yang hilang,” kata Leni.

Semua mendekat.

Ia membandingkan daftar lama dengan koleksi yang ada.

“Dari data lama ada seratus delapan puluh buku.”

“Sekarang?”

“Tidak sampai segitu.”

Bagas mengerutkan kening.

“Berarti hilang?”

“Belum tentu.”

Evianti berpikir.

“Mungkin pernah dipinjam tapi tidak tercatat.”

Fajar mengangguk.

“Atau dipindahkan.”

Sifa menambahkan,

“Atau rusak dan tidak dicatat.”

Mereka tidak langsung menyimpulkan.

Evianti berkata,

“Kita jangan menuduh siapa-siapa.”

Ia mengambil buku catatan.

“Kita buat data kondisi sekarang sebagai titik awal.”

Semua mengangguk.

Itulah salah satu pelajaran pertama mereka.

Dalam pengabdian, masalah tidak selalu harus dicari siapa yang salah.

Kadang yang lebih penting adalah bagaimana memperbaikinya.

 

Siang hari, Theo datang membawa laptop.

Ia membawa format pendataan yang baru dibuat.

“Ini.”

Leni melihat layar.

“Bagus.”

Theo menjelaskan.

“Setiap buku punya data.”

“Judul?”

“Judul, penulis, penerbit, tahun, kategori, kondisi, dan lokasi rak.”

Fajar mengangguk.

“Bisa ditambahkan status?”

“Status apa?”

“Bisa dipinjam atau tidak.”

Theo tersenyum.

“Bisa.”

Sifa langsung berkata,

“Tambahkan tanggal peminjaman dan pengembalian.”

Theo mengetik.

“Bisa.”

Evianti memperhatikan.

“Kalau nanti perpustakaan digital jadi, sistem ini yang menjadi dasar?”

Theo mengangguk.

“Ya.”

Ia kemudian menatap mereka.

“Karena itu saya minta jangan asal memasukkan data.”

Leni mengangguk serius.

“Harus akurat.”

“Betul.”

 

Menjelang sore, Siska kembali ke perpustakaan.

Ia membawa beberapa dokumen.

“Ini data lama.”

Evianti menerima.

“Terima kasih.”

Siska melihat keadaan ruangan.

“Sudah berubah.”

“Baru sedikit.”

“Kalau dibanding kemarin?”

Siska melihat sekeliling.

“Banyak.”

Ia kemudian melihat anak-anak yang mulai berdatangan.

Dua anak berdiri di pintu.

Mereka memperhatikan mahasiswa yang sedang bekerja.

Salah seorang bertanya,

“Kak, perpustakaannya buka?”

Evianti tersenyum.

“Buka.”

“Boleh masuk?”

“Tentu.”

Kedua anak itu masuk perlahan.

Mereka melihat rak-rak yang sedang ditata.

Salah satu mengambil buku cerita.

Kemudian duduk.

Tidak ada yang menyuruh.

Tidak ada yang meminta.

Ia hanya membaca.

Evianti memandang anak itu.

Senyumnya mengembang.

“Lihat.”

Sifa menoleh.

“Apa?”

“Ini alasan kita melakukan semua ini.”

Semuanya terdiam.

Mereka baru bekerja beberapa hari.

Tetapi seorang anak sudah mulai kembali membaca.

Sederhana.

Namun bagi mereka, itu adalah keberhasilan pertama.

 

Sore menjelang ketika Raka datang.

Ia membawa beberapa lembar hasil wawancara sejarah.

Siska masih berada di perpustakaan.

“Sudah selesai?” tanya Raka.

“Belum.”

“Sepertinya pekerjaanmu tidak pernah selesai.”

Siska tersenyum.

“Pekerjaan desa memang begitu.”

Raka duduk di kursi dekat jendela.

Ia memperhatikan anak-anak yang sedang membaca.

“Bagus.”

Siska mengangguk.

“Dulu jarang ada anak datang.”

“Sekarang?”

“Sudah mulai.”

Raka tersenyum.

“Berarti program kalian berhasil.”

Siska menatapnya.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kalian pergi dan mereka berhenti datang, berarti belum berhasil.”

Raka terdiam.

Kalimat itu terasa familiar.

Sangat mirip dengan cara Theo berpikir.

Program bukan tentang apa yang terjadi selama mahasiswa ada.

Program adalah tentang apa yang tetap berjalan setelah mahasiswa pergi.

Raka tersenyum.

“Kamu dan Theo ternyata sama.”

Siska tertawa.

“Kenapa?”

“Sama-sama memikirkan setelah kami pergi.”

Siska menatap Raka.

“Karena kalian memang akan pergi.”

Seketika suasana berubah.

Raka tidak langsung menjawab.

Siska kembali melihat anak-anak.

“Empat puluh hari itu sebentar.”

Raka mengangguk.

“Iya.”

“Jadi jangan cuma membuat kegiatan.”

Raka menatapnya.

“Lalu?”

“Buat sesuatu yang bisa kami lanjutkan.”

Raka tersenyum.

“Kamu tahu tidak?”

“Apa?”

“Kalau kamu bicara seperti itu, kamu terdengar seperti ketua KKN.”

Siska tertawa.

“Kalau begitu kamu harus bekerja lebih baik.”

Raka ikut tertawa.

Tetapi setelah tawa itu berhenti, ada keheningan kecil di antara mereka.

Raka menyadari sesuatu.

Siska bukan hanya operator desa yang membantu pekerjaan mereka.

Ia mulai menjadi teman bicara yang menyenangkan.

Dan justru karena itulah ia harus berhati-hati.

Mereka hanya memiliki waktu empat puluh hari.

 

Malamnya, seluruh mahasiswa berkumpul.

Evianti melaporkan perkembangan perpustakaan.

“Rak sudah dibersihkan.”

“Data koleksi mulai masuk.”

“Kegiatan anak-anak mulai dirancang.”

Theo melanjutkan.

“Format digital sudah siap.”

Agatha kemudian menunjukkan beberapa foto.

“Ini kondisi awal.”

Ia menampilkan foto perpustakaan sebelum ditata.

Kemudian foto setelah beberapa rak dibersihkan.

Perbedaannya belum terlalu besar.

Tetapi terlihat.

Raka melihat foto-foto itu.

“Bagus.”

Agatha tersenyum.

“Ini baru permulaan.”

Kemudian ia menampilkan sebuah foto.

Foto seorang anak yang sedang membaca di sudut perpustakaan.

Ruangan masih belum sempurna.

Masih ada kardus.

Masih ada buku yang belum tersusun.

Tetapi anak itu membaca dengan serius.

Semua terdiam.

Theo tersenyum.

“Foto ini masuk perpustakaan digital.”

Agatha mengangguk.

“Sudah saya simpan.”

Raka menatap layar.

Dalam sebuah foto sederhana, ia melihat sesuatu yang tidak tercantum dalam proposal.

Harapan.

 

Malam semakin larut.

Raka membuka catatan sejarah desa.

Ia menulis:

Hari keempat.

Perpustakaan mulai berubah.

Buku mulai tertata.

Data mulai dibangun.

Anak-anak mulai datang.

Dan kami mulai memahami bahwa perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku.

Ia adalah tempat menyimpan kemungkinan.

Raka berhenti menulis.

Kemudian ia menambahkan:

Hari ini saya semakin sering bekerja dengan Siska Damayanti.

Ia bukan hanya operator desa. Ia sebaya dengan kami, mudah diajak berdiskusi, memahami pekerjaan administrasi, dan memiliki kepedulian besar terhadap desa.

Saya tidak tahu mengapa kehadirannya mulai terasa berbeda. Mungkin karena kami sering bekerja bersama. Mungkin karena percakapan kami semakin nyaman.

Atau mungkin karena ada sesuatu yang belum berani saya beri nama.

Raka menatap kalimat terakhir.

Ia hampir menghapusnya.

Namun akhirnya tidak.

Ia menutup buku.

Di tempat lain, Siska sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan administrasi desa.

Nama-nama mahasiswa KKN terpampang dalam salah satu dokumen kegiatan.

Ia membaca satu per satu.

Kemudian matanya berhenti pada satu nama.

Raka.

Ia tersenyum kecil.

Siska segera menggeleng.

“Jangan macam-macam.”

Ia kembali bekerja.

Namun senyum itu belum sepenuhnya hilang.

 

Hari keempat telah berakhir.

Perpustakaan yang hampir dilupakan mulai memiliki kehidupan.

Anak-anak mulai berdatangan.

Buku-buku mulai menemukan tempatnya.

Data mulai tersusun.

Teknologi mulai masuk.

PDD mulai merekam perubahan.

Dan di antara semua pekerjaan itu, dua orang yang sama-sama sebaya mulai mengenal satu sama lain lebih jauh.

Raka dan Siska Damayanti.

Belum ada pengakuan.

Belum ada janji.

Belum ada cinta yang disebut.

Hanya pertemuan.

Percakapan.

Kerja sama.

Dan perhatian kecil yang perlahan tumbuh.

Namun empat puluh hari adalah waktu yang aneh.

Cukup singkat untuk membuat orang takut kehilangan.

Tetapi cukup panjang untuk membuat dua hati saling mengenal.

Dan di Desa Awan Biru, sebuah kisah baru mulai tumbuh.

Bukan di ruang pertemuan.

Bukan di halaman kantor desa.

Bukan pula di dalam proposal KKN.

Melainkan di antara rak-rak buku, layar komputer, tumpukan arsip, dan percakapan sederhana dua orang yang belum menyadari bahwa suatu hari nanti, mereka akan merindukan hari-hari ini.

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

MEMBANGUN DESA DI DALAM DUNIA DIGITAL

Pagi kelima di Desa Awan Biru dimulai dengan kesibukan yang berbeda.

Jika hari-hari sebelumnya para mahasiswa masih sibuk mengenali lingkungan dan membagi pekerjaan, pagi itu mereka mulai masuk ke tahap yang lebih serius.

Program kerja bukan lagi sekadar daftar yang tertulis di kertas.

Satu per satu mulai menyentuh kehidupan nyata.

Di perpustakaan, Evianti, Sifa, Bagas, Leni, dan Fajar melanjutkan pendataan buku.

Di halaman kantor desa, Agatha, Farida, dan Jevin mengambil beberapa gambar untuk dokumentasi.

Sementara di ruang administrasi desa, Theo Rahman duduk di depan sebuah komputer bersama Siska Damayanti.

Di antara mereka terdapat beberapa map dokumen, sebuah buku catatan, dan secangkir kopi yang mulai dingin.

Theo membuka laptop.

“Baik,” katanya.

Siska menoleh.

“Mulai dari mana?”

Theo menunjukkan struktur folder yang telah dibuatnya.

“Dari kebiasaan.”

Siska mengerutkan kening.

“Bukan dari komputer?”

“Bukan.”

“Kenapa?”

Theo tersenyum.

“Karena komputer tidak pernah salah menyimpan file. Yang salah biasanya orang yang memberinya perintah.”

Siska tertawa kecil.

“Berarti kita yang harus dibenahi?”

“Bukan dibenahi.”

Theo menunjuk layar.

“Dibuat lebih mudah.”

Siska mengangguk.

Ia mulai memahami cara kerja Theo.

Mahasiswa itu tidak datang dengan gaya seorang ahli yang merasa paling tahu.

Ia lebih banyak bertanya.

Bagaimana Siska bekerja.

Dokumen apa yang paling sering dicari.

Kesulitan apa yang muncul.

File apa yang sering hilang.

Bagian mana yang paling menyita waktu.

Theo mencatat semuanya.

Kemudian menyusun solusi.

Bagi Theo, digitalisasi desa bukan tentang membuat sistem yang terlihat canggih.

Ia ingin membuat pekerjaan yang sehari-hari dilakukan perangkat desa menjadi lebih sederhana.

 

“Coba saya lihat bagaimana biasanya mencari dokumen lama,” kata Theo.

Siska membuka beberapa folder.

“Misalnya surat kegiatan tahun lalu.”

Ia masuk ke beberapa folder.

Kemudian membuka folder lain.

Lalu folder lain lagi.

Theo memperhatikan.

“Berapa lama biasanya?”

“Kalau tahu filenya di mana, cepat.”

“Kalau tidak tahu?”

Siska tersenyum.

“Bisa lama.”

“Berapa lama?”

“Kadang lima menit.”

Theo mengangguk.

“Kalau sedang tidak beruntung?”

Siska tertawa.

“Bisa setengah jam.”

Theo mencatat.

“Berarti masalah pertama kita adalah pencarian.”

Siska mengangguk.

“Bukan hanya pencarian.”

“Apa lagi?”

“Kadang file ada, tetapi namanya tidak jelas.”

Theo membuka beberapa contoh.

SURAT1.docx

SURATBARU.docx

SURATFIX.docx

Ia tersenyum.

“Ini memang masalah.”

Siska tertawa.

“Jangan ditertawakan.”

“Saya bukan menertawakan. Saya sedang mencari cara memperbaikinya.”

Theo kemudian membuat aturan penamaan file.

Tanggal.

Jenis dokumen.

Kegiatan.

Nomor jika diperlukan.

Ia menjelaskan perlahan kepada Siska.

“Kalau semua orang menggunakan pola yang sama, nanti siapa pun bisa mencari.”

Siska mengangguk.

“Berarti bukan cuma saya.”

“Justru jangan hanya kamu.”

Theo menatapnya.

“Kalau sistem hanya dipahami satu orang, sistem itu rapuh.”

Siska terdiam.

Kalimat tersebut terasa benar.

Ia lalu berkata,

“Berarti perangkat desa lainnya juga harus belajar.”

“Ya.”

“Masalahnya tidak semua terbiasa dengan komputer.”

Theo tersenyum.

“Berarti kita mulai dari yang paling sederhana.”

 

Beberapa saat kemudian, Raka masuk ke ruang administrasi.

Ia membawa beberapa lembar dokumen sejarah desa.

“Bagaimana?”

Siska menunjuk Theo.

“Mas Theo sedang mengubah hidup saya.”

Theo tertawa.

“Jangan berlebihan.”

Raka ikut tertawa.

“Sudah sejauh apa?”

Theo menjawab,

“Baru tahap pertama.”

Raka melihat layar.

“Bentuknya?”

“Struktur arsip.”

“Bukan aplikasi?”

Theo menggeleng.

“Belum.”

Raka mengangguk.

Theo kemudian menjelaskan.

“Kalau fondasinya belum benar, membuat aplikasi hanya akan memindahkan masalah.”

Raka tersenyum.

“Masuk akal.”

Siska menambahkan,

“Dia juga melarang saya memberi nama file sesuka hati.”

Raka tertawa.

“Bagus.”

Siska menatap Raka.

“Jangan ikut-ikutan.”

“Tidak. Saya mendukung Theo.”

“Wah, kompak.”

Raka tersenyum.

Percakapan mereka terdengar ringan.

Tetapi bagi Siska, kehadiran mahasiswa KKN mulai terasa berbeda.

Mereka tidak hanya datang untuk menjalankan program.

Mereka mau mendengar.

Mau membantu.

Dan mau bekerja bersama perangkat desa.

Itulah yang membuat jarak antara mahasiswa dan perangkat desa perlahan menghilang.

 

Menjelang siang, Theo mengadakan pertemuan kecil dengan beberapa perangkat desa.

Ia tidak menggunakan presentasi yang rumit.

Hanya laptop dan sebuah papan tulis.

Di papan itu ia menulis:

DATA

ARSIP

DOKUMENTASI

CADANGAN

Kemudian ia berbalik.

“Empat hal ini saling berhubungan.”

Salah seorang perangkat desa bertanya,

“Kenapa dokumentasi masuk?”

Theo menjawab,

“Karena foto dan video juga bagian dari arsip.”

Ia menunjuk tulisan CADANGAN.

“Dan semua data penting harus punya salinan.”

“Kalau komputer rusak?”

“Data masih ada.”

“Kalau perangkatnya hilang?”

“Data masih bisa dipulihkan dari cadangan.”

“Kalau orang yang mengelola data pindah?”

Theo tersenyum.

“Justru karena itu sistem harus dibuat sederhana dan terdokumentasi.”

Siska yang duduk di sampingnya mencatat.

Ia kemudian mengangkat tangan.

“Mas Theo.”

“Ya?”

“Kalau nanti saya tidak di kantor, orang lain bisa mengoperasikan?”

“Itu targetnya.”

Siska mengangguk.

“Berarti kita harus membuat panduan.”

Theo tersenyum lebar.

“Nah. Itu ide bagus.”

Raka yang berada di belakang ikut menyela.

“Panduan sederhana?”

“Ya,” jawab Theo.

“Supaya perangkat desa yang baru nanti juga bisa memahami.”

Theo menuliskan satu kalimat:

SISTEM HARUS BISA DITERUSKAN.

Semua melihat tulisan tersebut.

Itulah prinsip utama Theo.

Dan tanpa disadari, prinsip tersebut akan menjadi salah satu warisan terbesar mahasiswa KKN di Desa Awan Biru.

 

Namun digitalisasi tidak berjalan semulus yang mereka bayangkan.

Masalah pertama muncul ketika beberapa dokumen lama ternyata memiliki format berbeda.

Ada dokumen yang dibuat dengan perangkat lunak lama.

Ada file yang tidak bisa dibuka.

Ada data yang hanya tersimpan dalam bentuk foto.

Ada pula dokumen yang kualitasnya sudah buruk karena pernah dipindai berkali-kali.

Theo memeriksa satu per satu.

“Yang ini masih bisa diperbaiki.”

Siska menyerahkan dokumen lain.

“Kalau yang ini?”

Theo mencoba membukanya.

Tidak berhasil.

Ia mencoba lagi.

Tetap gagal.

“Formatnya rusak.”

“Bisa diselamatkan?”

“Sebagian.”

Siska menghela napas.

“Berarti harus dikerjakan satu-satu?”

Theo mengangguk.

“Tidak ada jalan pintas.”

Siska tersenyum.

“Empat puluh hari semakin terasa sedikit.”

Theo tertawa.

“Baru hari kelima.”

“Justru itu.”

 

Sore harinya, Theo mengajak Siska melakukan inventarisasi perangkat.

Mereka mencatat komputer.

Printer.

Scanner.

Perangkat penyimpanan.

Jaringan internet.

Peralatan dokumentasi.

Semua dicatat.

Kondisinya.

Fungsinya.

Siapa yang menggunakan.

Dan kebutuhan perbaikannya.

Raka ikut membantu.

“Kalau nanti ada sistem digital desa, apa yang paling penting?” tanya Raka.

Theo menjawab tanpa ragu.

“Orang.”

Raka tersenyum.

“Jawabanmu selalu itu.”

“Karena memang itu.”

Theo menunjuk komputer.

“Komputer bisa diganti.”

Menunjuk jaringan.

“Internet bisa diperbaiki.”

Menunjuk perangkat penyimpanan.

“Perangkat bisa dibeli.”

Kemudian menunjuk Siska.

“Tapi kalau orang yang mengelola tidak memahami sistemnya, semuanya percuma.”

Siska tertawa.

“Jadi sekarang saya yang paling penting?”

Theo mengangguk.

“Operator memang penting.”

Siska menggeleng.

“Berat juga tanggung jawabnya.”

Raka menyahut,

“Makanya kami bantu.”

Siska memandang Raka.

“Terima kasih.”

Dua kata sederhana.

Namun Raka merasakan sesuatu yang aneh.

Tatapan Siska tidak segera berpindah.

Hanya beberapa detik.

Tetapi cukup membuat Raka salah tingkah.

Ia segera melihat ke arah lain.

Theo memperhatikan.

Namun tidak mengatakan apa-apa.

Hanya tersenyum tipis.

 

Sementara digitalisasi mulai berjalan, hubungan program dengan perpustakaan semakin kuat.

Evianti datang membawa daftar koleksi buku.

“Theo.”

Theo menoleh.

“Ya?”

“Data buku sudah kami rapikan.”

“Bagus.”

“Kapan bisa dimasukkan ke sistem?”

“Besok kita mulai.”

Sifa menyusul membawa beberapa foto buku.

“Ini dokumentasinya.”

Theo melihat.

“Bagus.”

Agatha juga datang.

“Foto ruangan sebelum dan sesudah sudah kami pisahkan.”

Theo mengangguk.

“Ini nanti penting untuk dokumentasi perubahan.”

Raka melihat semuanya.

Ia tersenyum.

Kini jelas bahwa masing-masing program mulai saling terhubung.

Perpustakaan menyediakan data.

PDD menyediakan dokumentasi.

Theo membangun sistem.

Pemerintah desa menjadi pengguna dan penerus.

Dan Raka menghubungkan semuanya dengan sejarah Desa Awan Biru.

 

Menjelang sore, Theo mendapat sebuah ide.

“Siska.”

“Ya?”

“Kalau perpustakaan digital ini jadi, jangan hanya berisi katalog buku.”

Siska menoleh.

“Lalu?”

“Bisa menjadi ruang informasi desa.”

Raka tertarik.

“Seperti apa?”

Theo menjelaskan.

“Informasi koleksi buku.”

“Dokumentasi kegiatan.”

“Sejarah desa.”

“Foto lama.”

“Profil desa.”

“Potensi desa.”

“Dan kalau memungkinkan, karya anak-anak.”

Siska memperhatikan.

“Berarti perpustakaan digital bukan hanya tempat mencari buku.”

“Betul.”

Theo tersenyum.

“Ini bisa menjadi bagian dari memori digital desa.”

Raka terdiam.

Kalimat itu membuatnya teringat pada proyek sejarah yang sedang dikerjakannya.

“Kalau begitu,” katanya, “buku sejarah desa juga bisa disimpan di sana.”

Theo mengangguk.

“Justru harus.”

Siska tersenyum.

“Berarti sejarah desa tidak hanya jadi buku yang disimpan di rak.”

Raka memandangnya.

“Ya.”

“Bisa dibaca generasi berikutnya.”

Raka mengangguk.

Untuk beberapa saat mereka bertiga terdiam.

Gagasan itu terasa sederhana.

Tetapi sesungguhnya mereka sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada program KKN.

Mereka sedang mencoba membuat desa memiliki ingatan digitalnya sendiri.

 

Malam mulai turun ketika mereka menyelesaikan pekerjaan.

Theo menutup laptop.

Hari itu ia merasa lelah.

Tetapi puas.

Siska masih memeriksa catatan.

“Mas Theo.”

“Ya?”

“Kalau empat puluh hari selesai, apakah semua ini benar-benar bisa kami lanjutkan?”

Theo menatapnya.

“Itulah tujuan saya.”

“Kalau nanti ada masalah?”

“Cari solusinya.”

“Kalau lupa?”

“Buka panduan.”

“Kalau tetap tidak bisa?”

Theo tersenyum.

“Hubungi saya.”

Siska terdiam.

“Setelah KKN?”

“Iya.”

“Masih mau membantu?”

Theo mengangguk.

“Selama saya bisa.”

Raka yang mendengar percakapan itu ikut tersenyum.

Itulah semangat yang mulai tumbuh di antara mereka.

Tidak lagi sekadar:

kami datang untuk membantu kalian.

Tetapi:

kita sedang membangun sesuatu bersama.

 

Malam itu, di tempat tinggal mahasiswa, Theo kembali membuka laptop.

Ia membuat sebuah dokumen baru.

Judulnya:

PANDUAN PENGELOLAAN ARSIP DIGITAL DESA AWAN BIRU

Di halaman pertama ia menulis:

Sistem ini dibuat bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk membantu manusia bekerja lebih tertib, cepat, dan aman.

Kemudian ia menambahkan:

Sistem ini harus dapat digunakan dan dilanjutkan oleh perangkat Desa Awan Biru setelah mahasiswa KKN selesai melaksanakan pengabdian.

Theo berhenti.

Ia membaca kembali kalimat tersebut.

Kemudian menyimpannya.

Di kamar sebelah, Raka sedang menulis catatan sejarah.

Ia membuka halaman baru.

Hari kelima.

Digitalisasi desa mulai dibangun.

Kami belajar bahwa teknologi bukan sekadar komputer dan internet.

Teknologi adalah tentang kebiasaan.

Tentang keteraturan.

Tentang keberanian meninggalkan cara lama.

Dan tentang orang-orang yang mau belajar.

Raka kemudian berhenti.

Pikirannya kembali kepada Siska.

Ia menambahkan:

Hari ini saya semakin mengenal Siska Damayanti.

Ia sebaya dengan kami, tetapi memahami pekerjaan desa dengan sangat baik. Ia tidak hanya membantu kami mendapatkan data, tetapi juga membuat kami memahami bahwa program KKN harus dilihat dari sudut pandang desa.

Saya belum tahu apakah kedekatan ini hanya karena pekerjaan. Mungkin memang begitu. Untuk sementara, saya tidak ingin memikirkan lebih jauh.

Raka menutup buku.

Namun sebelum tidur, ia melihat kembali kalimat terakhir.

Ia tersenyum kecil.

Mungkin benar.

Mungkin semua hanya karena pekerjaan.

Untuk sementara.

 

Hari kelima telah berakhir.

Di Desa Awan Biru, sebuah perubahan kecil mulai terjadi.

Dokumen yang sebelumnya tersebar mulai dikelompokkan.

Data mulai memiliki tempat.

Perangkat desa mulai mengenal pola baru.

Siska mulai memahami sistem digital yang sedang dibangun.

Theo mulai memahami bahwa teknologi tidak bisa dipisahkan dari manusia.

Perpustakaan mulai terhubung dengan dunia digital.

PDD mulai menyiapkan dokumentasi untuk menjadi bagian dari memori desa.

Dan Raka mulai menyadari bahwa sejarah desa bukan hanya sesuatu yang harus ditulis.

Sejarah juga harus disimpan.

Harus dirawat.

Dan harus dapat ditemukan oleh generasi yang akan datang.

Namun mereka belum tahu bahwa pekerjaan digitalisasi ini akan menghadapi ujian besar.

Sebuah persoalan akan muncul dari sesuatu yang selama ini mereka anggap aman.

Sebuah data penting.

Sebuah penyimpanan.

Dan sebuah kesalahan kecil yang hampir membuat mereka kehilangan hasil pekerjaan selama beberapa hari.

Theo belum mengetahuinya.

Siska belum mengetahuinya.

Raka pun belum mengetahuinya.

Untuk malam itu, mereka masih percaya bahwa sistem yang sedang dibangun akan berjalan sesuai rencana.

Padahal dalam sebuah pengabdian, justru ketika semua mulai terlihat berjalan baik, ujian sering kali datang tanpa mengetuk pintu.

Dan di Desa Awan Biru, ujian itu sedang mendekat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

KAMERA, CERITA, DAN WAJAH AWAN BIRU

Pagi keenam di Desa Awan Biru datang bersama cahaya matahari yang perlahan menembus sela-sela pepohonan.

Di halaman kantor desa, aktivitas mulai terlihat.

Beberapa perangkat desa datang membawa berkas. Anak-anak berjalan menuju sekolah. Seorang petani melintas dengan sepeda motornya. Ibu-ibu mulai membuka warung di sepanjang jalan utama.

Desa itu tampak biasa.

Namun bagi tiga mahasiswa KKN yang pagi itu berdiri dengan kamera di tangan, tidak ada yang benar-benar biasa.

Agatha menurunkan kameranya setelah mengambil gambar pertama.

“Bagus.”

Farida berdiri di sampingnya.

“Bagian mana?”

“Cahaya paginya.”

Jevin melihat layar kamera.

“Kalau cuma foto jalan desa, apa cukup?”

Agatha menggeleng.

“Bukan jalannya yang kita cari.”

“Lalu?”

“Cerita di balik jalan itu.”

Farida tersenyum.

“Mulai filosofis.”

Agatha tertawa kecil.

“Kita bukan cuma disuruh memotret kegiatan KKN.”

Jevin mengangguk.

“PDD.”

“Publikasi, Dokumentasi, dan Desain,” jawab Agatha.

“Berarti kita harus membuat orang tahu apa yang terjadi di sini.”

Agatha kembali mengangkat kamera.

“Bukan hanya apa yang terjadi.”

Ia membidik seorang ibu yang sedang membuka warung.

“Siapa yang membuat desa ini tetap hidup.”

Klik.

Satu gambar tersimpan.

Dan pagi itu, tim PDD mulai memahami bahwa tugas mereka jauh lebih besar daripada sekadar mengabadikan kegiatan mahasiswa.

 

Kamera yang Tidak Boleh Berbohong

Sekitar pukul delapan, Agatha, Farida, dan Jevin berkumpul di ruang kerja sementara mahasiswa KKN.

Di atas meja terdapat kamera, telepon genggam, tripod, laptop, kabel data, dan beberapa lembar konsep konten.

Farida membuka catatan.

“Kita harus buat sistem dokumentasi.”

Jevin mengangguk.

“Folder?”

“Folder.”

Agatha menambahkan,

“Jangan seperti arsip desa sebelum dibenahi Theo.”

Mereka tertawa.

Farida mulai membuat pembagian.

DOKUMENTASI KKN

01 — Kedatangan dan Kegiatan Mahasiswa

02 — Program Kerja

03 — Pemerintah Desa

04 — Masyarakat

05 — Perpustakaan

06 — Digitalisasi

07 — Sejarah Desa

08 — Potensi Desa

09 — Dokumentasi Harian

10 — Arsip Final

Jevin melihat daftar itu.

“Lumayan.”

“Harus lebih dari lumayan,” kata Agatha.

“Kenapa?”

“Karena nanti setelah kita pulang, foto-foto ini mungkin menjadi satu-satunya bukti visual bahwa kita pernah melakukan semua ini.”

Farida terdiam.

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Jevin kemudian berkata,

“Berarti kita harus menyimpannya baik-baik.”

Agatha mengangguk.

“Dan memberi nama file yang jelas.”

Mereka saling pandang.

Lalu tertawa.

Ternyata prinsip Theo mulai menular.

 

Bukan Sekadar Foto Kegiatan

Pagi itu mereka memutuskan untuk mengikuti kegiatan kelompok revitalisasi perpustakaan.

Evianti, Sifa, Bagas, Leni, dan Fajar sedang menyusun buku.

Agatha tidak langsung mengangkat kamera.

Ia memperhatikan terlebih dahulu.

Bagaimana Evianti mengatur daftar koleksi.

Bagaimana Sifa membersihkan rak.

Bagaimana Bagas memperbaiki bagian rak yang rusak.

Bagaimana Leni mencatat buku.

Bagaimana Fajar mengangkat kardus.

Kemudian kamera mulai berbunyi.

Klik.

Evianti sedang menulis.

Klik.

Sifa mengelap rak.

Klik.

Bagas memperbaiki rak.

Klik.

Seorang anak mengambil buku dari rak.

Agatha menurunkan kamera.

Ia tersenyum.

“Yang terakhir bagus.”

Farida melihat layar.

“Kenapa?”

“Karena anak itu tidak melihat kamera.”

Jevin mengangguk.

“Lebih natural.”

Agatha kembali melihat foto tersebut.

Anak itu duduk di sudut ruangan.

Buku terbuka di tangannya.

Di belakangnya masih terlihat rak yang belum sepenuhnya tertata.

Tetapi wajahnya menunjukkan kegembiraan.

Agatha berkata pelan,

“Foto seperti ini yang kita cari.”

 

Sebuah Foto yang Mengubah Cara Mereka Melihat Desa

Farida mengambil kamera dari tangan Agatha.

“Coba lihat.”

Ia memperbesar foto.

“Bagus.”

Jevin ikut melihat.

“Kalau diberi caption?”

Agatha berpikir.

“Jangan terlalu dibuat-buat.”

“Contohnya?”

Agatha menjawab,

“Satu buku, satu rasa ingin tahu. Dari sudut kecil perpustakaan Desa Awan Biru, sebuah kebiasaan membaca mulai tumbuh kembali.”

Farida tersenyum.

“Bagus.”

Jevin mengetik kalimat tersebut.

Kemudian mereka sadar sesuatu.

Dokumentasi ternyata bukan sekadar mengambil gambar.

Dokumentasi membutuhkan cerita.

Sebuah foto tanpa konteks mungkin hanya menjadi gambar.

Tetapi foto yang memiliki cerita dapat menjadi kenangan.

Bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa itu selesai.

 

Pertemuan dengan Theo

Menjelang siang, mereka menemui Theo di ruang administrasi desa.

Theo sedang bersama Siska Damayanti.

Di layar komputer terlihat struktur penyimpanan digital yang baru.

Agatha masuk membawa kamera.

“Theo.”

Theo menoleh.

“Kenapa?”

“Kita perlu bicara soal dokumentasi.”

“Silakan.”

Agatha duduk.

Farida dan Jevin ikut duduk.

“Kami ingin semua dokumentasi kegiatan nanti masuk ke sistem digital yang kamu buat.”

Theo mengangguk.

“Itu memang rencananya.”

“Bukan hanya foto kegiatan mahasiswa.”

“Lalu?”

“Dokumentasi desa.”

Theo langsung tertarik.

“Jelaskan.”

Agatha membuka catatan.

“Kami ingin mendokumentasikan kegiatan masyarakat, perpustakaan, sejarah desa, perangkat desa, potensi desa, dan perubahan yang terjadi selama KKN.”

Theo tersenyum.

“Bagus.”

Siska ikut memperhatikan.

“Kalau begitu nanti dokumentasinya bisa dipakai untuk perpustakaan digital.”

Agatha mengangguk.

“Itu yang kami inginkan.”

Theo menunjuk layar.

“Berarti kita buat satu kategori khusus.”

Ia mengetik:

DOKUMENTASI DESA AWAN BIRU

Siska melihatnya.

“Bagus.”

Farida bertanya,

“Kalau nanti KKN selesai?”

Theo menjawab,

“Folder itu tetap ada.”

“Dan bisa dilanjutkan?”

“Harus.”

Agatha tersenyum.

“Berarti PDD juga punya pekerjaan setelah KKN.”

Theo menatap mereka.

“Semua program harus punya kehidupan setelah KKN.”

Kalimat itu kembali menjadi prinsip mereka.

 

Siska dan Kamera yang Mengarah Padanya

Ketika Agatha hendak mengambil foto layar komputer, Farida tiba-tiba mengarahkan kamera kepada Siska.

“Eh, Siska.”

Siska menoleh.

“Kenapa?”

“Foto sebentar.”

Siska langsung menggeleng.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Saya tidak terbiasa difoto.”

Jevin tertawa.

“Padahal operator desa.”

“Operator, bukan model.”

Farida tersenyum.

“Bukan untuk model.”

“Untuk apa?”

“Dokumentasi.”

Siska masih ragu.

Agatha berkata,

“Ini bukan tentang wajah kamu.”

Siska mengangkat alis.

“Lalu?”

“Ini tentang orang-orang yang bekerja di balik layar.”

Siska akhirnya menyerah.

“Sekali saja.”

Farida mengangkat kamera.

Klik.

Satu foto tersimpan.

Siska kembali bekerja.

Raka yang baru masuk ke ruangan melihat kejadian itu.

“Wah.”

Siska menoleh.

“Apa?”

“Sudah jadi artis?”

Siska langsung menjawab,

“Jangan ikut-ikutan.”

Raka tertawa.

Agatha melihat mereka bergantian.

Kemudian Farida menyenggol Jevin.

Jevin hanya tersenyum.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Tetapi mereka mulai menangkap sesuatu.

Kedekatan Raka dan Siska semakin sering terlihat.

 

Mencari Wajah Desa

Siang itu tim PDD tidak hanya berada di kantor desa.

Mereka berjalan menyusuri beberapa bagian Desa Awan Biru.

Mereka tidak mencari acara.

Mereka mencari kehidupan.

Seorang petani yang sedang bekerja.

Anak-anak yang pulang sekolah.

Ibu-ibu yang berbincang di depan rumah.

Pemuda yang sedang memperbaiki fasilitas umum.

Seorang warga tua yang duduk di teras.

Semua mereka dokumentasikan dengan izin.

Agatha selalu berhati-hati.

“Jangan asal mengambil foto orang.”

Farida mengangguk.

“Kita harus meminta izin.”

“Karena mereka bukan objek.”

Jevin menambahkan,

“Mereka bagian dari cerita.”

Agatha tersenyum.

Itulah prinsip yang kemudian mereka pegang.

Dokumentasi bukan mengambil kehidupan orang lain.

Dokumentasi adalah merekam cerita dengan menghormati pemiliknya.

 

Seorang Tetua dan Sebuah Foto Lama

Dalam perjalanan, mereka bertemu seorang warga lanjut usia yang sedang duduk di teras rumah.

Agatha menyapa.

“Pak, boleh kami bertanya?”

Orang tua itu tersenyum.

“Mahasiswa KKN?”

“Iya.”

“Dari tadi saya lihat kalian membawa kamera.”

“Kami dari tim dokumentasi.”

Orang tua itu tertarik.

“Dokumentasi apa?”

“Desa.”

Orang tua itu diam sejenak.

Kemudian masuk ke rumah.

Beberapa menit kemudian ia keluar membawa sebuah album lama.

“Kalau mau mendokumentasikan desa, jangan hanya foto yang sekarang.”

Ia menyerahkan album tersebut.

“Lihat yang dulu.”

Agatha membuka perlahan.

Di dalamnya terdapat foto-foto lama Desa Awan Biru.

Jalan yang dahulu masih berupa tanah.

Bangunan yang belum ada.

Kegiatan masyarakat.

Tokoh-tokoh desa.

Anak-anak yang kini mungkin telah menjadi orang tua.

Agatha terdiam.

Farida ikut melihat.

Jevin mengambil napas panjang.

“Pak, apakah kami boleh mendokumentasikan foto-foto ini?”

Orang tua itu mengangguk.

“Boleh.”

“Tapi kami akan menjaganya.”

“Justru itu yang saya mau.”

Ia menunjuk album.

“Jangan sampai anak cucu kami tidak tahu seperti apa desa ini dulu.”

Kalimat tersebut membuat Agatha terdiam.

Ia segera menghubungi Raka.

 

Sejarah Bertemu Dokumentasi

Tidak lama kemudian Raka datang bersama Siska.

Begitu melihat album tersebut, mata Raka langsung berbinar.

“Ini luar biasa.”

Siska ikut melihat.

“Foto lama.”

Raka mengangguk.

“Bisa menjadi sumber sejarah.”

Agatha berkata,

“Dan dokumentasi.”

Raka melihat mereka.

“Ini harus disimpan dengan baik.”

Theo yang kemudian datang juga ikut melihat.

Ia langsung berkata,

“Harus dipindai.”

Siska mengangguk.

“Dan diberi keterangan.”

Theo tersenyum.

“Betul.”

Raka memandang semuanya.

Sekali lagi, semua program mereka bertemu.

PDD menemukan foto.

Raka menemukan sumber sejarah.

Theo menemukan bahan arsip digital.

Siska menemukan bagian penting dari dokumen desa.

Perpustakaan mendapatkan bahan sejarah lokal.

Tidak ada program yang berdiri sendiri.

Semuanya mulai membentuk satu jaringan.

 

Menyimpan Wajah-Wajah yang Pernah Ada

Sore itu mereka membawa salinan dokumentasi ke kantor desa.

Theo mulai membuat folder khusus.

SEJARAH VISUAL DESA AWAN BIRU

Siska menyiapkan informasi pendukung.

Nama orang.

Tahun.

Lokasi.

Peristiwa.

Agatha dan Farida memeriksa kualitas gambar.

Jevin menyiapkan desain.

Raka mencatat cerita yang menyertai setiap foto.

Pekerjaan berlangsung sampai matahari hampir tenggelam.

Raka melihat layar komputer.

Satu foto lama muncul.

Di bawahnya tertulis:

Desa Awan Biru — Tahun ...

Raka tersenyum.

“Kalau ini selesai, generasi berikutnya bisa melihat wajah desa sebelum mereka lahir.”

Theo mengangguk.

“Itulah kenapa dokumentasi penting.”

Siska menambahkan,

“Karena ingatan manusia bisa hilang.”

Raka menoleh kepadanya.

“Foto bisa membantu mengingat.”

Siska tersenyum.

“Foto dan cerita.”

Raka mengangguk.

“Benar.”

 

Ketika PDD Mulai Menjadi Mata Desa

Malam harinya, Agatha mengumpulkan tim PDD.

Mereka mengevaluasi hasil hari itu.

Farida membuka folder.

“Foto kita sudah banyak.”

Jevin mengangguk.

“Tapi belum semua bagus.”

Agatha berkata,

“Tidak masalah.”

“Kenapa?”

“Karena kita tidak sedang mengejar jumlah.”

Ia menatap mereka.

“Kita mengejar makna.”

Farida mengangguk.

Agatha melanjutkan.

“Mulai besok, setiap kegiatan harus punya tiga hal.”

Ia menuliskan:

APA YANG TERJADI

SIAPA YANG TERLIBAT

MENGAPA ITU PENTING

Jevin membaca.

“Ini akan membuat dokumentasi kita lebih kuat.”

“Ya.”

Farida tersenyum.

“Berarti kita bukan cuma fotografer.”

Agatha mengangguk.

“Kita pencerita.”

 

Malam yang Menyimpan Banyak Gambar

Malam itu, layar laptop Jevin dipenuhi foto.

Ada wajah mahasiswa.

Ada wajah perangkat desa.

Ada anak-anak.

Ada perpustakaan.

Ada dokumen.

Ada jalan desa.

Ada foto lama.

Ada senyum.

Ada lelah.

Ada tangan yang bekerja.

Ada mata yang berharap.

Jevin berhenti pada satu foto.

Foto itu memperlihatkan Raka dan Siska sedang berdiskusi di depan komputer.

Tidak ada yang istimewa.

Mereka hanya sedang bekerja.

Tetapi dari cara Raka memandang Siska, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Jevin memanggil Farida.

“Lihat ini.”

Farida mendekat.

Ia tersenyum.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Biarkan.”

“Kenapa?”

“Belum waktunya.”

Agatha yang mendengar percakapan itu ikut melihat.

Ia tersenyum.

“Kalau memang ada cerita, nanti akan muncul sendiri.”

Jevin mengangguk.

Foto itu akhirnya disimpan.

Bukan sebagai bahan candaan.

Tetapi sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan.

 

Raka dan Siska

Di kantor desa, Raka masih menyelesaikan catatan sejarah.

Siska duduk di meja seberang.

Mereka bekerja dalam diam.

Sesekali bertanya.

Sesekali berdiskusi.

Tidak ada lagi kecanggungan seperti hari-hari pertama.

Siska membuka sebuah foto lama.

“Raka.”

“Ya?”

“Kalau nanti buku sejarah ini selesai, kamu akan membawa satu?”

Raka menoleh.

“Buku sejarah?”

“Iya.”

“Harus.”

“Kenapa?”

“Karena saya ikut menulisnya.”

Siska tersenyum.

“Kalau begitu saya juga mau.”

Raka tertawa.

“Kamu kan bagian dari desa.”

Siska mengangguk.

“Justru itu.”

Mereka kembali diam.

Tetapi kali ini diam mereka tidak terasa canggung.

Ada rasa nyaman yang mulai tumbuh.

Raka tidak menyebutnya cinta.

Siska juga tidak.

Belum.

 

Malam semakin larut.

Tim PDD masih bekerja.

Theo masih menyusun sistem.

Kelompok perpustakaan masih merencanakan kegiatan.

Raka masih menulis sejarah.

Siska masih menyelesaikan administrasi.

Semua orang memiliki pekerjaan masing-masing.

Namun perlahan mereka sedang melakukan hal yang sama:

menyimpan cerita Desa Awan Biru.

Cerita tentang orang-orang yang hidup di dalamnya.

Cerita tentang perubahan yang mereka kerjakan.

Cerita tentang masa lalu yang hampir terlupakan.

Dan cerita tentang empat puluh hari yang suatu saat nanti akan menjadi masa lalu bagi mereka sendiri.

Sebelum tidur, Agatha membuka kembali folder dokumentasi.

Ia melihat foto pertama yang mereka ambil pagi itu.

Jalan desa.

Kemudian foto perpustakaan.

Anak yang membaca.

Petani.

Warga.

Foto lama.

Theo.

Siska.

Raka.

Semua tersimpan dalam satu tempat.

Agatha tersenyum.

Ia menulis pada catatan PDD:

“Kami datang ke Desa Awan Biru membawa kamera. Tetapi ternyata bukan hanya desa yang kami dokumentasikan. Kami juga sedang merekam diri kami sendiri—tentang siapa kami ketika bekerja, ketika lelah, ketika tertawa, dan ketika perlahan mulai merasa bahwa desa ini bukan lagi sekadar tempat KKN.”

Ia menutup laptop.

Di luar, suara malam mulai memenuhi desa.

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari kemudian, dokumentasi yang mereka kumpulkan akan menjadi bagian penting dari sebuah peristiwa yang menguji ketahanan sistem digital Theo.

Tidak ada yang tahu bahwa foto-foto itu kelak akan menjadi kenangan paling berharga.

Dan tidak ada yang tahu bahwa salah satu foto yang diambil tanpa sengaja akan menyimpan awal dari sebuah kisah cinta yang baru berani mereka pahami jauh setelah KKN berakhir.

Untuk saat ini, mereka masih memiliki waktu.

Empat puluh hari.

Dan hari keenam baru saja berlalu.

Di Desa Awan Biru, kamera terus menyala.

Karena setiap hari memiliki cerita.

Dan setiap cerita pantas memiliki jejak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII

NAMA-NAMA DI BALIK SEJARAH DESA

Hari ketujuh.

Pagi itu Raka bangun lebih awal dari biasanya.

Bukan karena jadwal kegiatan kelompok, bukan pula karena rapat dengan pemerintah desa.

Ada sesuatu yang sejak semalam memenuhi pikirannya.

Sejarah Desa Awan Biru.

Semakin banyak ia melihat dokumen lama, semakin ia menyadari bahwa tugas yang awalnya ia anggap sebagai program tambahan ternyata jauh lebih besar.

Ia tidak hanya sedang menulis sebuah buku.

Ia sedang mencoba menyatukan potongan-potongan ingatan yang selama bertahun-tahun tersimpan di kepala orang-orang, di dalam lemari arsip, di balik foto-foto lama, dan di sudut-sudut kantor desa.

Dan setiap potongan itu memiliki nama.

Nama orang.

Nama tempat.

Nama keluarga.

Nama tokoh.

Nama mereka yang pernah bekerja untuk desa.

Nama mereka yang mungkin tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi, tetapi jasanya masih diingat masyarakat.

Raka membuka buku catatannya.

Pada halaman pertama proyek sejarah, ia menulis:

“Sebuah desa tidak lahir hanya dari bangunan dan batas wilayah. Ia lahir dari manusia yang pernah berjalan di dalamnya.”

Ia berhenti.

Kemudian menambahkan:

“Tugas kami adalah menemukan nama-nama itu sebelum ingatan tentang mereka hilang.”

Raka menutup buku.

Hari ini ia harus mulai mencari.

 

Mencari Sejarah dari Ruang Arsip

Pukul delapan pagi, Raka sudah berada di kantor desa.

Siska Damayanti sedang bekerja di meja administrasi.

Seperti biasa, beberapa dokumen terbuka di depannya.

“Pagi,” sapa Raka.

Siska menoleh.

“Pagi.”

“Kamu datang pagi sekali.”

Siska tersenyum.

“Bukan cuma kamu.”

Raka meletakkan buku catatan.

“Saya mau mulai serius dengan sejarah desa.”

Siska mengangguk.

“Bagus.”

“Bisa bantu saya?”

“Kalau saya tidak bantu, nanti kamu tersesat di arsip.”

Raka tertawa.

“Berarti kamu pemandunya.”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Penjaga arsip.”

Raka mengangguk.

“Baik, Bu Penjaga Arsip.”

Siska langsung menunjuknya.

“Jangan panggil begitu.”

Raka tertawa.

“Kenapa?”

“Kedengarannya tua.”

“Padahal?”

“Sebaya dengan kalian.”

Raka mengangguk.

“Baik, Siska.”

Siska kembali tersenyum.

Mereka kemudian menuju ruang arsip.

 

Ruangan itu tidak besar.

Rak-rak kayu berdiri di sepanjang dinding.

Sebagian dokumen tersusun dalam map.

Sebagian lainnya masih berada di dalam kardus.

Siska membuka lemari paling bawah.

“Ini arsip lama.”

Raka melihat label tahun.

“Seberapa lama?”

“Beberapa puluh tahun.”

Raka langsung mengambil buku catatan.

“Ini yang saya cari.”

Siska tersenyum.

“Jangan terlalu senang dulu.”

“Kenapa?”

“Karena membaca arsip lama tidak semudah melihat judulnya.”

Raka membuka salah satu map.

Kertas-kertas tua tersusun di dalamnya.

Tulisan tangan.

Stempel.

Tanda tangan.

Nomor surat.

Catatan rapat.

Raka membacanya perlahan.

Sesekali ia berhenti.

Sesekali mencatat.

Sesekali memotret dokumen dengan telepon genggamnya sebagai referensi sementara.

Siska memperhatikan.

“Jangan lupa catat sumbernya.”

Raka mengangguk.

“Kenapa?”

“Kalau nanti ada yang mempertanyakan informasi dalam buku, kamu harus tahu sumbernya.”

Raka tersenyum.

“Kamu benar-benar operator.”

“Memangnya kenapa?”

“Selalu berpikir soal data.”

Siska mengangkat bahu.

“Karena data tidak boleh asal.”

Raka kembali melihat dokumen.

Dalam hati ia semakin mengagumi cara perempuan itu bekerja.

Siska tidak pernah menganggap pekerjaan administrasi sebagai rutinitas biasa.

Ia memahami bahwa setiap dokumen memiliki nilai.

Dan mungkin itulah sebabnya Raka semakin nyaman bekerja dengannya.

 

Sejarah Tidak Selalu Sama dengan Cerita

Menjelang pukul sepuluh, Raka menemukan sesuatu.

Ia membaca sebuah dokumen tentang sejarah awal pemerintahan desa.

Kemudian membuka catatan lain.

Ada perbedaan.

Raka mengerutkan kening.

“Siska.”

“Ya?”

“Di sini nama kepala desa pertama berbeda.”

Siska mendekat.

“Mana?”

Raka menunjuk dokumen.

“Ini.”

Siska membaca.

Kemudian membuka dokumen lain.

“Yang ini juga berbeda.”

Raka mulai serius.

“Berarti salah satu harus diverifikasi.”

Siska mengangguk.

“Jangan langsung pilih.”

“Kenapa?”

“Karena bisa jadi keduanya benar.”

Raka terdiam.

“Maksudmu?”

“Bisa jadi satu dokumen mencatat pejabat resmi, sementara cerita masyarakat mengingat tokoh yang berbeda.”

Raka memandang Siska.

“Menarik.”

“Sejarah desa memang begitu.”

“Banyak versi?”

“Banyak ingatan.”

Raka tersenyum.

“Berarti saya harus mencari orang yang masih mengingatnya.”

Siska mengangguk.

“Betul.”

Ia kemudian mengambil secarik kertas.

“Saya tahu siapa yang bisa kamu temui.”

 

Nama-Nama yang Tidak Ada di Buku

Siang itu Raka bersama Siska mendatangi seorang tokoh masyarakat yang telah lama tinggal di Desa Awan Biru.

Mereka duduk di teras rumah.

Raka membuka catatan.

Siska membawa beberapa dokumen sebagai pembanding.

Orang tua itu memandang mereka.

“Kalian mau menulis sejarah desa?”

Raka mengangguk.

“Iya, Pak.”

“Untuk apa?”

Raka menjawab,

“Supaya generasi berikutnya tahu bagaimana desa ini tumbuh.”

Orang tua itu tersenyum.

“Kalau begitu kalian harus banyak mendengar.”

Raka mengangguk.

“Siap.”

Orang tua itu mulai bercerita.

Tentang desa pada masa lalu.

Tentang jalan yang dahulu belum seperti sekarang.

Tentang tokoh-tokoh yang pernah berperan.

Tentang kegiatan masyarakat.

Tentang perubahan wilayah.

Tentang masa ketika fasilitas desa masih sangat terbatas.

Raka menulis.

Siska sesekali memberikan pertanyaan untuk memperjelas nama dan waktu.

“Pak, tahun berapa kira-kira?”

Orang tua itu berpikir.

“Sekitar...”

Ia menyebut perkiraan.

Raka mencatat.

“Kalau nama tokohnya?”

Orang tua itu menyebut nama.

Raka menulis lagi.

“Apakah ada dokumennya?”

“Entah.”

Siska berkata,

“Nanti kami cocokkan dengan arsip desa.”

Orang tua itu mengangguk.

“Jangan hanya percaya cerita saya.”

Raka tersenyum.

“Justru itu yang ingin kami lakukan, Pak.”

Orang tua itu menatapnya.

“Bagus.”

Kemudian ia berkata perlahan:

“Karena cerita manusia bisa lupa. Tapi kalau kalian menyatukan cerita dengan dokumen, mungkin sejarah desa bisa lebih lengkap.”

Raka terdiam.

Kalimat itu langsung ia catat.

 

Sejarah dari Dua Dunia

Dalam perjalanan pulang, Raka berjalan bersama Siska.

Matahari cukup terik.

Namun keduanya tidak terburu-buru.

Raka membuka catatannya.

“Menarik.”

“Apa?”

“Cerita Pak tadi dengan dokumen di kantor bisa berbeda.”

Siska mengangguk.

“Makanya harus dibandingkan.”

“Kalau berbeda?”

“Cari sumber lain.”

“Kalau tetap berbeda?”

Siska berpikir.

“Tulis perbedaannya.”

Raka menatapnya.

“Boleh?”

“Kenapa tidak?”

“Biasanya orang ingin satu versi.”

“Sejarah bukan soal membuat semua orang puas.”

Raka tersenyum.

“Lalu?”

“Sejarah harus jujur terhadap sumbernya.”

Raka berhenti berjalan sejenak.

Ia menatap Siska.

“Kamu tahu tidak?”

“Apa?”

“Kalau kamu bukan operator desa, mungkin kamu cocok jadi peneliti sejarah.”

Siska tertawa.

“Jangan bercanda.”

“Saya serius.”

“Kalau begitu kamu saja yang jadi peneliti sejarah.”

Raka tersenyum.

“Sudah telanjur jadi ketua KKN.”

Siska ikut tertawa.

Mereka kembali berjalan.

Namun percakapan sederhana itu terasa semakin nyaman.

 

Raka Mulai Menemukan Pola

Sore hari, Raka kembali ke kantor desa.

Ia menempelkan beberapa catatan pada papan kerja.

SEJARAH PEMERINTAHAN

SEJARAH WILAYAH

TOKOH DESA

PERUBAHAN PEMBANGUNAN

KEHIDUPAN MASYARAKAT

TRADISI DAN BUDAYA

POTENSI DESA

DOKUMENTASI VISUAL

Siska berdiri di sampingnya.

“Mulai terlihat bentuknya.”

Raka mengangguk.

“Buku ini tidak boleh cuma berisi kepala desa.”

“Betul.”

“Harus ada masyarakat.”

“Harus.”

“Anak-anak.”

“Ya.”

“Petani.”

“Ya.”

“Perempuan desa.”

Siska mengangguk.

“Jangan lupa pemuda.”

Raka menambahkan.

“Dan orang-orang yang bekerja di balik layar.”

Siska tersenyum.

“Seperti operator?”

Raka menoleh.

“Seperti operator.”

Siska tertawa.

“Jangan masukkan saya.”

“Kenapa?”

“Saya bukan tokoh sejarah.”

Raka menatapnya.

“Belum tentu.”

Siska terdiam.

Tatapan mereka bertemu.

Beberapa detik.

Kemudian Siska mengalihkan pandangan.

“Sudah. Kerja.”

Raka tersenyum.

“Siap.”

 

Theo Menemukan Hubungan Baru

Theo datang sore itu dengan laptop.

“Ada perkembangan?”

Raka menunjukkan papan.

Theo memperhatikan.

“Bagus.”

“Saya ingin semua sumber sejarah ini nanti masuk ke sistem digital.”

Theo langsung mengangguk.

“Bisa.”

“Termasuk foto lama?”

“Bisa.”

“Wawancara?”

“Bisa.”

“Dokumen?”

“Bisa.”

Theo kemudian berkata,

“Tapi kita harus membedakan sumber.”

Raka menoleh.

“Maksudnya?”

“Dokumen resmi.”

Ia menunjuk catatan.

“Wawancara.”

Kemudian menunjuk foto.

“Dokumentasi visual.”

Raka mengangguk.

“Supaya pembaca tahu asal informasi.”

“Betul.”

Siska ikut berbicara.

“Jadi sejarah desa nanti bukan hanya buku.”

Theo mengangguk.

“Buku dan arsip digital.”

Raka tersenyum.

“Dan dokumentasi PDD.”

Theo menambahkan,

“Kalau Agatha dan timnya mendapatkan foto lama, kita masukkan juga.”

Raka melihat mereka.

Sekali lagi program-program itu bertemu.

Sejarah.

Digitalisasi.

PDD.

Perpustakaan.

Semua mulai mengarah pada satu tujuan.

Menyimpan ingatan Desa Awan Biru.

 

Agatha Membawa Temuan

Tidak lama kemudian, Agatha datang bersama Farida dan Jevin.

“Kami punya sesuatu.”

Raka menoleh.

“Apa?”

Agatha menunjukkan beberapa hasil dokumentasi.

“Foto lama.”

Raka langsung mendekat.

“Dari mana?”

“Dari warga yang kami temui kemarin.”

Siska ikut melihat.

Ada foto sebuah kegiatan masyarakat.

Ada bangunan lama.

Ada sekelompok pemuda.

Ada anak-anak.

Ada tokoh masyarakat.

Raka tersenyum.

“Ini penting.”

Agatha berkata,

“Kami sudah meminta izin untuk mendokumentasikan.”

Theo mengangguk.

“Bagus.”

Jevin menyerahkan catatan.

“Kami juga sudah mencatat informasi yang diberikan pemilik foto.”

Raka membacanya.

Kemudian ia menatap Agatha.

“Terima kasih.”

Agatha tersenyum.

“Ini kan tugas kami.”

Raka menggeleng.

“Bukan sekadar tugas.”

Ia melihat foto-foto itu.

“Kalian sedang membantu menyelamatkan ingatan desa.”

Agatha terdiam.

Farida kemudian berkata,

“Kalau begitu kita harus lebih serius.”

Raka mengangguk.

“Ya.”

 

Sebuah Perdebatan Kecil

Sore mulai bergeser menjadi petang ketika muncul persoalan.

Salah satu informasi dari narasumber berbeda dengan dokumen resmi.

Raka ingin memasukkan cerita tersebut.

Namun Siska ragu.

“Kalau belum terverifikasi, jangan tulis sebagai fakta.”

Raka mengangguk.

“Tapi cerita itu penting.”

“Saya tidak bilang dibuang.”

“Lalu?”

“Tulis sebagai kesaksian masyarakat.”

Raka berpikir.

“Bukan sejarah resmi?”

“Bukan.”

“Cerita lisan?”

“Ya.”

Raka tersenyum.

“Itu bagus.”

Siska menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena ternyata perbedaan bisa menjadi bagian dari sejarah.”

Siska mengangguk.

“Selama pembaca tahu mana fakta dokumen dan mana kesaksian.”

Theo ikut menyela.

“Ini juga bisa kita buat dalam sistem digital.”

Raka menoleh.

“Bagaimana?”

“Setiap informasi diberi sumber.”

Ia membuka laptop.

“Jadi nanti pembaca bisa tahu apakah data berasal dari arsip desa, wawancara, foto, atau sumber lain.”

Raka tersenyum.

“Ini mulai menjadi buku yang serius.”

Siska tertawa.

“Bukankah dari awal memang begitu?”

Raka menjawab,

“Awalnya saya kira cuma program tambahan.”

Siska memandangnya.

“Sekarang?”

Raka melihat papan yang penuh catatan.

“Sekarang saya merasa sedang memegang sesuatu yang tidak boleh dikerjakan sembarangan.”

 

Nama yang Harus Tetap Hidup

Malam semakin dekat.

Raka masih berada di kantor desa.

Di depannya terdapat daftar nama.

Nama kepala desa.

Nama perangkat.

Nama tokoh masyarakat.

Nama pemuda.

Nama orang-orang yang berjasa.

Beberapa nama sudah memiliki dokumen.

Beberapa hanya memiliki cerita.

Beberapa bahkan hanya diingat oleh satu atau dua orang.

Raka memandang daftar itu.

Ia berkata pelan,

“Kalau nama mereka tidak ditulis, suatu hari siapa yang akan mengingat?”

Siska yang sedang duduk di seberang meja mendengarnya.

“Makanya kamu menulis.”

Raka mengangguk.

“Bukan untuk membuat mereka terkenal.”

“Lalu?”

“Supaya mereka tidak hilang.”

Siska terdiam.

Kalimat itu terasa dalam.

Kemudian ia berkata,

“Kadang orang tidak membutuhkan namanya terkenal.”

Raka menatapnya.

“Mereka hanya ingin apa yang pernah mereka lakukan tidak sia-sia.”

Raka tersenyum.

“Itu kalimat bagus.”

“Catat.”

Raka langsung menulis.

 

Percakapan yang Tidak Lagi Sekadar Pekerjaan

Setelah semua anggota mahasiswa pulang, Raka masih berada di kantor.

Siska juga belum selesai.

Suasana jauh lebih sepi.

Hanya suara kipas komputer dan beberapa kendaraan yang sesekali melintas.

Raka berkata,

“Siska.”

“Ya?”

“Kamu sudah lama bekerja di desa ini?”

Siska berpikir.

“Lumayan.”

“Tidak pernah ingin pergi?”

Siska tersenyum.

“Pernah.”

“Kenapa tidak?”

“Belum waktunya.”

Raka mengangguk.

“Kalau suatu hari ada kesempatan?”

“Mungkin.”

“Kamu akan pergi?”

Siska diam beberapa saat.

“Mungkin.”

Raka tersenyum.

“Berarti kita sama.”

“Sama bagaimana?”

“Kita sama-sama tidak tahu akan berada di mana nanti.”

Siska memandangnya.

“Bukankah memang begitu hidup?”

Raka mengangguk.

“Iya.”

Mereka kembali diam.

Namun kali ini diam itu terasa berbeda.

Ada sesuatu yang belum diucapkan.

Sesuatu yang mungkin belum waktunya diberi nama.

 

Satu Kalimat di Buku Sejarah

Malam itu Raka menyelesaikan catatannya.

Ia menulis:

Hari ketujuh.

Hari ini kami mulai mencari nama-nama di balik sejarah Desa Awan Biru.

Kami menemukan bahwa sejarah tidak selalu berada dalam buku.

Ia berada dalam ingatan orang tua.

Dalam dokumen yang mulai menguning.

Dalam foto yang hampir terlupakan.

Dalam cerita yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kami juga belajar bahwa tidak semua cerita memiliki satu versi.

Karena manusia mengingat dengan cara yang berbeda.

Tugas kami bukan memilih cerita yang paling nyaman.

Tugas kami adalah mencari kebenaran dengan menghormati setiap sumber.

Raka berhenti.

Kemudian ia menambahkan:

Dan hari ini saya kembali bekerja bersama Siska Damayanti.

Saya mulai menyadari bahwa ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan karena kita mencarinya. Mereka datang karena sebuah keadaan mempertemukan kita.

Mungkin Siska adalah salah satunya.

Tetapi saya belum ingin menyebutnya apa-apa.

Belum.

Ia menutup buku.

 

Sebuah Desa, Ribuan Ingatan

Hari ketujuh berakhir.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya satu minggu.

Tetapi bagi para mahasiswa KKN, satu minggu sudah cukup untuk membuat Desa Awan Biru terasa berbeda.

Mereka mulai mengenal jalan-jalannya.

Mulai hafal wajah perangkat desanya.

Mulai dikenal anak-anak.

Mulai memahami kebiasaan masyarakat.

Dan yang lebih penting, mereka mulai memahami bahwa pengabdian bukan hanya tentang apa yang bisa mereka berikan.

Tetapi tentang apa yang bisa mereka pelajari dari tempat yang mereka datangi.

Theo belajar bahwa digitalisasi harus dibangun bersama manusia.

Evianti, Sifa, Bagas, Leni, dan Fajar belajar bahwa perpustakaan tidak akan hidup hanya dengan buku.

Agatha, Farida, dan Jevin belajar bahwa kamera dapat menjadi alat untuk menjaga ingatan.

Raka belajar bahwa sejarah membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keberanian untuk mendengarkan banyak suara.

Dan Siska Damayanti mulai menyadari bahwa empat puluh hari bersama mahasiswa KKN mungkin akan meninggalkan sesuatu dalam hidupnya yang tidak tercatat dalam laporan resmi.

Sesuatu yang belum memiliki nama.

Di kantor desa, layar komputer Theo masih menyala.

Di perpustakaan, beberapa buku telah tersusun rapi.

Di folder PDD, foto-foto Desa Awan Biru mulai memenuhi ruang penyimpanan.

Di meja Raka, daftar nama tokoh desa terus bertambah.

Dan di antara dua meja yang berjarak beberapa langkah, Raka dan Siska masih menyimpan percakapan yang belum selesai.

Mereka belum tahu bahwa sejarah yang sedang mereka tulis akan menjadi salah satu warisan terpenting dari empat puluh hari pengabdian itu.

Mereka juga belum tahu bahwa perjalanan berikutnya tidak akan semudah hari-hari pertama.

Karena setelah sejarah mulai digali, akan muncul cerita lama yang tidak semua orang ingin dibicarakan.

Ada nama yang sengaja dilupakan.

Ada peristiwa yang hanya diketahui oleh beberapa orang.

Dan ada bagian masa lalu Desa Awan Biru yang selama bertahun-tahun disimpan rapat-rapat.

Raka belum mengetahuinya.

Siska pun belum mengatakannya.

Namun sebuah pintu menuju masa lalu telah terbuka.

Dan mereka baru saja melangkah masuk.

Karena untuk menulis sejarah sebuah desa, mereka harus berani mendengar bukan hanya cerita yang indah, tetapi juga cerita yang pernah menyakitkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VIII

KETIKA TEKNOLOGI BERTEMU KEBIASAAN LAMA

Hari kedelapan.

Pagi itu Desa Awan Biru tampak seperti biasa. Suara kendaraan mulai terdengar di jalan utama. Anak-anak berangkat sekolah. Beberapa warga menuju kebun. Kantor desa perlahan dipenuhi perangkat yang mulai menjalankan aktivitas masing-masing.

Namun bagi Theo Rahman, hari itu terasa berbeda.

Ia berdiri di depan komputer kantor desa sambil memandangi struktur folder yang sudah dibuat beberapa hari sebelumnya. Di layar tertulis:

DESA AWAN BIRU
→ ADMINISTRASI
→ ARSIP
→ KEGIATAN
→ PERPUSTAKAAN
→ DOKUMENTASI
→ SEJARAH DESA
→ CADANGAN

Secara teknis, semuanya terlihat rapi. Tetapi Theo tahu, sistem yang bagus di layar belum tentu menjadi sistem yang hidup dalam pekerjaan sehari-hari.

Siska Damayanti baru saja membuka map arsip ketika Theo memanggilnya.

"Siska."

"Ya?"

"Menurut kamu, masalah terbesar kita sekarang apa?"

Siska mengangkat alis. "Pertanyaan yang berat untuk jam delapan pagi."

Theo tidak tersenyum. "Aku serius."

Siska meletakkan map. Ia menatap Theo sebentar. Kemudian menghela napas.

"Bukan komputernya."

Theo mengangguk. "Benar."

"Orangnya?"

Theo tersenyum tipis. "Lebih tepatnya kebiasaan."

Siska berdecak. "Sudah saya duga."

"Sejak kapan?"

"Sejak hari pertama saya lihat kamu membuat folder." Siska menunjuk layar. "Kamu membuat sistem yang rapi. Tapi saya sudah tahu, yang paling susah bukan bikin sistem. Yang paling susah bikin orang mau pakai."

Theo menatapnya dengan rasa hormat baru. "Kamu lebih paham daripada yang saya kira."

"Aku bekerja di sini empat tahun, Theo. Aku melihat tiga kali mahasiswa KKN datang dengan program digitalisasi. Tiga kali semuanya mati setelah mereka pulang."

Theo terdiam.

"Kamu mau jadi yang keempat?" tanya Siska. Suaranya tidak tajam. Hanya datar. Seperti orang yang sudah lelah melihat harapan datang dan pergi.

Theo menatap layar komputernya. Folder-folder itu terlihat sempurna. Tetapi Siska benar. Kesempurnaan teknis tidak pernah cukup.

"Aku tidak mau jadi yang keempat," kata Theo akhirnya.

Siska mengangguk. "Kalau begitu kamu harus melakukan sesuatu yang berbeda dari tiga kelompok sebelumnya."

"Apa?"

Siska menatapnya. "Kamu harus membuat mereka mencintai sistem ini. Bukan hanya mengerti."

Theo tidak menjawab. Tetapi ia menyimpan kata-kata itu di dalam kepalanya.

 

Sistem Baru, Cara Lama

Pukul sembilan, Theo mengumpulkan beberapa perangkat desa di ruang pertemuan kecil. Raka ikut hadir, berdiri di sudut ruangan. Siska duduk di samping Theo.

Di papan tulis, Theo telah menuliskan struktur folder yang sama.

"Baik," kata Theo membuka pembicaraan. "Hari ini kita akan membahas sistem penyimpanan digital yang baru."

Pak Karto, perangkat desa tertua di antara yang hadir, menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi ekspresinya cukup jelas: ini anak muda lagi.

Theo menunjuk papan. "Mulai sekarang, setiap dokumen yang sudah selesai jangan hanya disimpan di komputer masing-masing."

Pak Karto mengangkat tangan. "Kalau selama ini saya sudah terbiasa menyimpan di komputer sendiri, bagaimana?"

Theo tersenyum. "Tidak masalah, Pak. Kita tidak mengubah semuanya dalam satu hari."

"Lalu kenapa kita harus pindah ke sistem baru?" tanya Pak Karto. Suaranya tidak bermusuhan, tetapi penuh skeptisisme.

Theo menunjuk layar yang ia sambungkan ke proyektor kecil. "Pak, lihat ini."

Ia membuka folder lama. Di dalamnya terdapat file-file dengan nama:

  • SURAT 1.docx
  • SURAT BARU.docx
  • SURAT FIX.docx
  • SURAT FIX BANGET.docx
  • SURAT FINAL.docx
  • SURAT FINAL 2.docx

Beberapa perangkat desa tertawa.

Pak Karto tidak tersenyum. "Itu file saya."

Suasana berubah canggung.

Theo tidak panik. Ia justru mengangguk. "Saya tidak menertawakan, Pak. Saya menunjukkan bahwa sistem lama membuat kita kesulitan mencari file yang benar."

"Tapi saya tahu file saya di mana," bantah Pak Karto.

"Kalau Bapak sendiri yang mencarinya?" Theo menunjuk layar. "Berapa lama?"

Pak Karto terdiam. Kemudian mengakui, "Lumayan."

"Kalau Bapak tidak ada di kantor, dan perangkat lain yang mencari?"

Pak Karto tidak menjawab.

Theo melanjutkan, "Kalau kita pakai pola penamaan yang sama, siapa pun bisa mencari. Bapak tidak harus mengingat di mana file itu disimpan. Cukup ketik kata kunci."

Pak Karto menggerutu. "Kata kunci apa?"

"Theo memberikan contoh. "Tanggal, jenis dokumen, dan kegiatan. Misalnya: 2026-08-15_Surat_Kegiatan_Desa."

Seorang perangkat desa lain, Bu Yanti, bertanya, "Kalau saya simpan di folder lama dulu, nanti dipindahkan?"

Theo mengangguk. "Bisa."

"Lebih cepat," kata Bu Yanti.

Theo tidak langsung menjawab. Ia memahami. Cara lama terasa lebih cepat karena sudah menjadi kebiasaan. Sistem baru membutuhkan waktu untuk dipelajari.

Ia menarik napas. "Bu, saya tidak minta Bapak dan Ibu langsung menguasai semuanya hari ini."

Semua memperhatikan.

"Kita belajar bertahap," lanjut Theo. "Hari ini kita coba satu jenis dokumen dulu."

Siska menambahkan dari samping, "Kalau ada yang bingung, kita catat. Nanti kita perbaiki bersama."

Pak Karto mendengus. "Kamu bilang bersama, tapi nanti yang mengerjakan kami. Kalian mahasiswa cuma datang sebentar lalu pergi."

Ruangan hening.

Raka yang dari tadi diam, hendak maju, tetapi Theo mengangkat tangan. "Biarkan saya."

Ia menatap Pak Karto langsung. "Pak, saya tahu Bapak sudah melihat tiga kelompok KKN sebelumnya. Saya tahu Bapak kecewa karena sistem mereka mati."

Pak Karto tidak membantah.

"Saya tidak bisa menjanjikan sistem saya akan hidup selamanya," kata Theo. "Tapi saya bisa menjanjikan satu hal."

"Apa?"

"Saya tidak akan membuat sistem yang hanya saya yang bisa mengerti."

Pak Karto menatapnya lama. Kemudian bertanya, "Berapa lama kamu di sini?"

"Empat puluh hari."

"Sudah hari kedelapan?"

"Sudah."

Pak Karto mengangguk perlahan. "Berarti kamu punya waktu tiga puluh dua hari lagi untuk membuktikan janjimu."

Theo tersenyum. "Cukup."

"Kami lihat nanti," kata Pak Karto. Tapi kali ini, suaranya tidak lagi penuh skeptisisme. Ada sedikit celah.

 

Bentrokan di Ruang Arsip

Setelah pertemuan, sebagian perangkat desa kembali ke pekerjaan masing-masing. Namun Pak Karto masih duduk.

"Saya mau lihat sistemnya," katanya tiba-tiba.

Theo terkejut. "Sekarang, Pak?"

"Sekarang."

Theo membawa Pak Karto ke komputer utama. Siska ikut mendekat. Raka memperhatikan dari belakang.

Pak Karto duduk di depan komputer dengan canggung. Tangannya tidak terbiasa dengan mouse.

"Ini yang Bapak perlu lakukan," kata Theo. Ia membuka folder kegiatan. "Coba Bapak simpan dokumen ini."

"Yang mana?"

Theo memberikan sebuah berkas fisik. Pak Karto membacanya. Surat kegiatan desa.

"Saya ketik di mana?"

Theo menjelaskan. Pak Karto mulai mengetik. Perlahan. Satu jari. Kadang salah.

Siska menahan senyum. Raka menutup mulutnya.

Pak Karto melihat mereka. "Kalian tertawa?"

"Tidak, Pak," kata Siska cepat.

Theo malah berkata, "Biar saya rekam, Pak. Nanti kalau Bapak lupa, bisa lihat ulang."

Pak Karto menghentikan ketikannya. "Kamu mau merekam saya? Dengan tangan saya yang gemetar ini?"

"Kenapa tidak, Pak? Ini bagian dari pembelajaran."

Pak Karto menatap Theo. Lelaki muda itu tidak bercanda. Matanya serius.

"Kamu aneh," kata Pak Karto akhirnya.

Theo tersenyum. "Saya sering dengar itu."

Pak Karto melanjutkan mengetik. Kali ini lebih tenang.

 

Satu Jam Kemudian

Setelah satu jam, Pak Karto berhasil menyimpan satu dokumen dengan pola yang benar. Ia memandangi layar dengan ekspresi sulit diartikan.

"Sudah?" tanya Theo.

"Sudah."

"Coba cari dokumen itu."

Pak Karto mengetik kata kunci. File muncul.

Ia terdiam cukup lama.

"Bagaimana, Pak?" tanya Siska.

Pak Karto tidak menjawab. Ia hanya menatap layar. Kemudian berkata pelan, "Selama ini saya pikir komputer itu merepotkan."

Theo menunggu.

"Tapi ini..." Pak Karto menggeleng. "Ini cepat."

Theo tersenyum. "Itu tujuan saya, Pak."

Pak Karto menatapnya. "Tapi saya masih belum percaya."

"Tidak apa-apa, Pak."

"Kenapa kamu tidak marah?"

Theo mengangkat bahu. "Bapak berhak tidak percaya. Tapi saya akan tetap mengajarkan sampai Bapak percaya."

Pak Karto menggeleng. "Kamu benar-benar aneh."

Kali ini ia tersenyum. Hanya sedikit. Tetapi cukup membuat Theo merasa bahwa pertempuran pertama dimenangkan.

 

Siska Berada di Tengah

Setelah Pak Karto pergi, Siska duduk di samping Theo.

"Kamu tahu," katanya, "Pak Karto tidak pernah mau belajar komputer selama empat tahun saya di sini."

Theo menoleh. "Serius?"

"Serius. Tiga kelompok KKN sebelumnya sudah mencoba. Semua menyerah."

"Kenapa?" tanya Raka yang mendekat.

Siska menatap mereka. "Karena mereka menganggap Pak Karto bodoh. Mereka mengajarinya dengan cara yang membuatnya merasa tua dan tidak berguna."

Theo terdiam.

Siska melanjutkan, "Tapi kamu berbeda."

Theo mengerutkan kening. "Bagaimana?"

"Kamu tidak mengajarinya sebagai orang yang lebih pintar. Kamu mengajarinya sebagai orang yang membutuhkan bantuannya."

Theo tidak mengerti.

Siska menjelaskan, "Kamu bilang 'Biar saya rekam, Pak. Nanti kalau Bapak lupa, bisa lihat ulang.' Kamu tidak bilang 'Bapak salah.' Kamu tidak bilang 'Bapak lambat.' Kamu justru memberi dia cara untuk belajar tanpa malu."

Theo tersenyum kecil. "Aku tidak menyadari itu."

"Karena kamu memang melakukannya dengan tulus."

Raka yang mendengar percakapan itu tersenyum. Ia melihat Theo dan Siska. Ada sesuatu di antara mereka yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan cinta. Tapi rasa hormat.

Siska tiba-tiba sadar bahwa Raka memperhatikan. Ia mengalihkan pandangan. "Sudah. Kerja."

Theo kembali ke komputer. "Siska, ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Kita harus memilih satu jenis pekerjaan yang paling sering dilakukan untuk dilatihkan dulu."

Siska mengangguk. "Surat dan arsip kegiatan."

"Kenapa itu?"

"Karena paling sering digunakan dan paling sering dicari." Siska menatap Theo. "Kalau berhasil di situ, baru diterapkan ke yang lain."

Theo tersenyum. "Pendekatan yang lebih baik."

Ia menulis di buku catatannya: MULAI DARI YANG PALING SERING DIGUNAKAN.

 

Belajar Tanpa Merasa Digurui

Siang itu Theo mengubah cara pelatihannya. Ia tidak lagi menjelaskan semua fitur. Ia memilih satu pekerjaan nyata.

Siska membawa sebuah dokumen kegiatan. "Coba kita simpan."

Theo tidak mengambil alih komputer. Ia membiarkan Siska yang bekerja.

"Nama filenya?"

Siska berpikir. Kemudian mengetik: 2026-08-15_Kegiatan_Literasi.docx

Theo mengangguk. "Bagus."

"Foldernya?"

Siska memilih folder kegiatan. "Benar."

"Sekarang salin ke cadangan."

Siska melakukannya.

Theo tidak banyak bicara. Ia hanya mengoreksi jika ada kesalahan.

Setelah selesai, Siska tersenyum. "Ternyata tidak sulit."

Theo menjawab, "Karena kamu sudah tahu alurnya."

Siska mengangguk. "Kalau begitu saya bisa mengajari yang lain."

"Itulah yang saya inginkan."

Siska terdiam. Ia mulai memahami sesuatu. Theo tidak sedang menjadikannya operator yang bergantung pada mahasiswa. Theo justru sedang mempersiapkannya menjadi orang yang dapat mengajarkan sistem tersebut kepada orang lain.

"Kamu sengaja?" tanya Siska.

"Sengaja apa?"

"Membuat saya bisa mengajar."

Theo tersenyum. "Kalau saya yang mengajari semua orang, sistem ini akan mati setelah saya pergi."

Siska menatapnya. "Jadi kamu tidak percaya pada sistem?"

"Aku percaya pada sistem. Tapi aku lebih percaya pada manusia yang menjalankannya."

Kalimat itu membuat Siska terdiam cukup lama.

 

Raka Melihat Perubahan

Raka berdiri di pintu. Ia memperhatikan Theo dan Siska. Beberapa hari lalu, Siska masih bertanya tentang struktur folder. Sekarang ia sudah mampu menjelaskan kembali kepada orang lain.

Raka tersenyum.

Theo menghampirinya setelah selesai. "Bagaimana?"

Raka menunjuk Siska. "Sudah jadi guru."

Theo tertawa. "Belum."

Siska menyela, "Jangan dilebih-lebihkan."

Raka tersenyum. "Kalian cocok."

Theo menatap Raka. "Dalam pekerjaan."

Raka langsung mengangguk. "Iya. Maksud saya dalam pekerjaan."

Siska tertawa. Suasana kembali ringan.

Namun Raka menyadari sesuatu. Siska semakin dekat dengan mereka. Bukan lagi sekadar operator desa. Ia sudah menjadi bagian dari tim.

"Siska," panggil Raka.

"Ya?"

"Kamu tahu kalau kamu bisa jadi bagian dari kami?"

Siska menoleh. "Bagian dari kelompok KKN?"

"Iya."

Siska tertawa kecil. "Aku bukan mahasiswa."

"Tapi kamu bagian dari perubahan."

Siska menatap Raka. Ada sesuatu di matanya yang sulit dibaca. "Kita lihat nanti."

 

Masalah Baru: Kebiasaan Menyimpan Data

Menjelang siang, Theo menemukan beberapa dokumen baru tersimpan di lokasi yang berbeda. Ia memeriksa. Ada dokumen yang sudah dimasukkan ke sistem. Tetapi ada juga yang kembali disimpan di folder lama.

Theo menarik napas.

Raka melihat wajahnya. "Masalah?"

"Belum."

"Kelihatannya seperti masalah."

Theo tersenyum. "Ini justru bagian dari proses."

Ia membuka salah satu file. Nama file masih menggunakan pola lama.

SURAT BARU FIX.docx

Raka tertawa kecil. "Masih ada."

Theo mengangguk. "Wajar."

"Lalu?"

"Jangan dimarahi."

"Kenapa?"

"Kalau dimarahi, mereka akan merasa sistem ini menyusahkan."

Raka mengangguk.

Theo kemudian memanggil perangkat yang bersangkutan. "Bu, boleh saya bantu?"

Bukan: "Ibu salah." Tetapi: "Boleh saya bantu?"

Bu Yanti menoleh. "Ada apa, Mas?"

"Theo menunjukkan file di layar. "Ini dokumen Ibu?"

Bu Yanti melihat. "Oh, iya. Saya simpan di folder lama."

"Boleh saya pindahkan ke sistem baru?"

Bu Yanti tersenyum. "Boleh, Mas."

Theo memindahkan file. Kemudian menjelaskan, "Lain kali, Ibu bisa langsung simpan di folder ini."

Ia menunjukkan lokasi yang benar.

Bu Yanti mengangguk. "Baik."

"Apa Ibu mau coba sekarang?"

Bu Yanti ragu. "Saya takut salah."

Theo tersenyum. "Saya di sini. Kalau salah, kita perbaiki."

Bu Yanti akhirnya mencoba. Satu file. Dua file. Tiga file.

Setelah selesai, ia berkata, "Ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan."

Theo mengangguk. "Karena Ibu sudah mencoba sendiri."

 

Ketika Kertas Masih Menjadi Sahabat

Namun tidak semua masalah selesai dengan mudah.

Pak Karto kembali datang dengan segenggam dokumen kertas. "Ini. Semua arsip kegiatan lima tahun terakhir."

Theo terbelalak. "Semua, Pak?"

"Semua."

"Berapa banyak?"

"Kira-kira dua ratus dokumen."

Theo menelan ludah. "Saya pikir kita mulai bertahap, Pak."

Pak Karto tersenyum puas. "Kamu bilang mau buktikan. Ini kesempatan."

Theo terdiam. Ia melihat tumpukan kertas itu. Dua ratus dokumen. Jika satu dokumen butuh lima menit, totalnya hampir tujuh belas jam kerja.

Siska mendekat. "Pak Karto, ini terlalu banyak."

Pak Karto mengangkat bahu. "Kalau memang sistemnya bagus, kenapa takut?"

Theo menarik napas. "Baik, Pak. Kami akan kerjakan."

Pak Karto terkejut. "Kamu serius?"

"Serius." Theo menatap lelaki tua itu. "Tapi saya minta satu syarat."

"Apa?"

"Bapak harus belajar bersama kami."

Pak Karto mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Saya ingin Bapak yang mengetik dokumen-dokumen ini."

Semua terkejut. Raka menatap Theo tidak percaya. Siska menahan napas.

Pak Karto tertawa. "Kamu gila. Saya tidak bisa mengetik cepat."

"Bapak tidak perlu cepat. Bapak perlu belajar."

Pak Karto terdiam. Kemudian bertanya, "Kenapa kamu minta saya?"

Theo menjawab dengan tenang, "Karena setelah saya pergi, Bapak yang akan menjaga arsip ini."

Ruangan hening.

Pak Karto menatap Theo lama. Kemudian ia duduk di depan komputer.

"Ajar saya," katanya.

 

Satu Dokumen Pertama Pak Karto

Pak Karto mulai mengetik. Perlahan. Satu huruf demi satu huruf.

Siska duduk di sampingnya, siap membantu jika diperlukan. Theo berdiri di belakang, hanya mengawasi.

Raka memperhatikan dari sudut ruangan. Ia tidak pernah membayangkan akan melihat pemandangan ini: Pak Karto, lelaki tua yang keras kepala, sedang belajar komputer dengan tekun.

Setelah sepuluh menit, Pak Karto menyelesaikan satu dokumen.

"Sudah," katanya.

Theo memeriksa. "Bagus, Pak."

Pak Karto menatap layar. "Ini... tidak terlalu sulit."

"Memang tidak, Pak."

"Kenapa selama ini saya tidak mau belajar?"

Theo tersenyum. "Karena belum ada yang mengajari dengan cara yang Bapak butuhkan."

Pak Karto mengangguk perlahan. Ia kemudian menatap Theo. "Kamu berbeda."

"Apa bedanya, Pak?"

"Kamu sabar."

Theo tidak menjawab. Tetapi senyumnya melebar.

 

Pak Karto Menceritakan Masa Lalunya

Sore itu, setelah menyelesaikan lima dokumen, Pak Karto berhenti sejenak.

"Theo," panggilnya.

"Ya, Pak?"

"Ayah saya dulu kepala desa di sini."

Theo terkejut. "Serius, Pak?"

Pak Karto mengangguk. "Empat puluh tahun lalu. Semua arsip ditulis tangan. Tidak ada komputer."

Ia menatap layar. "Saya tumbuh dengan kertas. Kertas adalah sahabat saya. Kertas tidak pernah berbohong. Kertas tidak pernah mati."

Theo mendengarkan.

"Lalu kalian datang dengan komputer. Saya pikir kalian mau menghapus semua yang sudah saya jaga."

Theo menggeleng. "Kami tidak mau menghapus, Pak."

"Lalu?"

"Kami ingin membuat apa yang Bapak jaga tetap hidup lebih lama."

Pak Karto menatap Theo. Matanya sedikit berkaca-kaca. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengangguk.

Kemudian ia kembali ke komputer. "Ajar saya lagi."

Theo tersenyum. "Baik, Pak."

 

Perpustakaan Ikut Menghadapi Masalah

Sementara itu, di perpustakaan, Evianti dan kelompoknya menghadapi persoalan serupa.

Mereka telah membuat daftar koleksi. Namun beberapa buku tidak memiliki informasi lengkap. Tidak ada tahun penerbit. Tidak ada nomor katalog. Beberapa sampul sudah rusak.

Leni mengeluh, "Kalau data digital harus lengkap, bagaimana dengan buku seperti ini?"

Theo yang kebetulan datang melihat buku tersebut. "Jangan dibuat-buat."

Leni menatapnya. "Maksudnya?"

"Kalau datanya tidak ada, kosongkan."

"Boleh?"

"Lebih baik kosong daripada kita menulis informasi yang tidak benar."

Evianti mengangguk. "Berarti nanti bisa diperbarui."

"Betul."

Sifa tersenyum. "Teknologi ternyata mengajarkan kita jujur."

Theo tertawa. "Bukan teknologinya."

Ia menunjuk data. "Datanya yang harus jujur."

 

PDD dan Standar Dokumentasi

Tim PDD juga mulai mengalami masalah.

Agatha membuka folder dokumentasi. "Ini foto siapa?"

Farida melihat. "Tidak tahu."

"Diambil kapan?"

"Tidak tahu."

"Dalam kegiatan apa?"

Jevin terdiam.

Agatha menghela napas. "Kita harus memperbaiki cara dokumentasi."

Ia kemudian membuat format baru. Setiap kegiatan harus memiliki: Tanggal, Lokasi, Nama kegiatan, Tokoh yang terlibat, Keterangan foto, Nama fotografer.

Farida mengangguk. "Jadi foto juga harus punya data."

Agatha tersenyum. "Sekarang kamu mulai bicara seperti Theo."

Jevin tertawa. "Virus digitalisasi."

 

Raka dan Sejarah yang Semakin Rumit

Sementara semua orang menghadapi persoalan masing-masing, Raka terus bekerja dengan Siska untuk menyusun sejarah desa. Namun masalah yang mereka temukan semakin banyak.

Salah satu informasi dari tokoh masyarakat tidak sesuai dengan arsip resmi. Ada perbedaan tahun. Ada perbedaan nama. Ada pula perbedaan cerita tentang sebuah peristiwa penting.

Raka terlihat bingung. "Siska."

"Ya?"

"Kalau semua berbeda begini, bagaimana saya menulisnya?"

Siska menjawab tenang. "Jangan terburu-buru."

"Lalu?"

"Cari sumber lain."

Raka mengangguk. "Kalau tetap berbeda?"

"Tulis sebagai perbedaan sumber."

Raka tersenyum. "Kamu selalu punya jawaban."

"Tidak." Siska tertawa. "Saya cuma tidak mau kamu membuat kesimpulan terlalu cepat."

Raka menatapnya. "Kalau begitu saya beruntung punya kamu."

Siska terdiam. Kalimat itu keluar begitu saja. Raka sendiri tampak menyadari apa yang baru saja diucapkannya.

Siska menunduk. "Sudah. Lanjutkan."

Raka tersenyum kecil. "Baik."

 

Theo dan Pak Karto: Pertempuran yang Belum Selesai

Menjelang sore, Theo kembali ke ruang administrasi. Ia membuka komputer. Kemudian tiba-tiba berhenti.

"Siapa yang mengubah folder ini?"

Siska mendekat. "Kenapa?"

"Beberapa file pindah."

Raka ikut melihat. "Terhapus?"

Theo memeriksa. "Tidak." Ia menarik napas lega. "Hanya berpindah lokasi."

Siska bertanya, "Masalah?"

"Bukan masalah besar."

Theo kemudian memeriksa riwayat perubahan. Ia menemukan bahwa salah satu file tersimpan di folder yang salah. Ia mengembalikannya.

Kemudian berkata, "Ini contoh kenapa kita harus punya aturan."

Siska mengangguk. "Kalau file benar-benar hilang?"

Theo menatap layar. "Makanya kita harus punya cadangan."

Ia kemudian memeriksa sistem pencadangan. Semuanya masih aman. Namun pengalaman kecil itu membuat Theo semakin sadar. Sistem digital tidak boleh hanya dibangun. Ia harus diawasi. Harus dipelihara. Dan harus dipahami oleh semua pengguna.

Pak Karto yang mendengar percakapan itu dari meja sebelah, berkata, "Theo."

"Ya, Pak?"

"Kalau file-file itu hilang, apa yang terjadi?"

Theo menjawab jujur, "Kita kehilangan data, Pak."

"Data apa?"

"Arsip desa. Sejarah. Dokumentasi."

Pak Karto terdiam. Kemudian berkata, "Berarti kita harus benar-benar menjaga sistem ini."

Theo mengangguk. "Iya, Pak."

Pak Karto menatap layar komputernya. "Kalau begitu, ajar saya lebih banyak besok."

Theo tersenyum. "Baik, Pak. Besok kita lanjutkan."

 

Rapat Malam: Theo Mengubah Strategi

Malam hari, Theo mengadakan rapat kecil dengan seluruh mahasiswa. Raka duduk di sampingnya.

Theo membuka pembicaraan. "Kita harus mengubah pendekatan."

Semua memperhatikan.

"Selama beberapa hari ini kita terlalu fokus membuat sistem." Ia berhenti. "Mulai sekarang kita fokus membuat sistem itu dipakai."

Evianti bertanya, "Bagaimana?"

Theo menjawab, "Jangan buat terlalu banyak."

Ia menunjuk masing-masing kelompok. "Perpustakaan fokus pada katalog. PDD fokus pada dokumentasi yang terstruktur. Raka fokus pada sejarah dan sumber."

Kemudian ia menunjuk dirinya sendiri. "Saya fokus menghubungkan semuanya."

Raka mengangguk. "Jadi setiap program saling menguatkan."

"Ya."

Theo kemudian berkata, "Dan perangkat desa harus menjadi bagian utama."

Siska yang duduk di antara mereka mengangguk. "Kita tidak boleh membuat mereka merasa hanya sebagai pengguna."

Theo tersenyum. "Betul."

Fajar mengangkat tangan. "Theo, aku dengar kamu berhasil mengajak Pak Karto belajar."

Theo tersenyum kecil. "Dia baru menyelesaikan lima dokumen."

"Lima dokumen?" Agatha terkejut. "Pak Karto yang tidak pernah mau sentuh komputer?"

"Iya."

Bagas bersiul. "Kamu benar-benar ajaib."

Theo menggeleng. "Bukan ajaib. Aku cuma tidak menyerah."

 

Malam dan Percakapan Theo dengan Raka

Setelah rapat selesai, Theo dan Raka duduk di teras. Desa sudah mulai sepi.

Raka berkata, "Kamu kelihatannya mulai stres."

Theo tertawa. "Kelihatan?"

"Sedikit."

Theo menatap jalan. "Aku takut gagal."

Raka terdiam.

"Bukan karena sistemnya," lanjut Theo. "Aku takut setelah kita pergi, semua kembali seperti semula."

Raka mengangguk. "Itu kekhawatiran yang masuk akal."

"Apa menurutmu kita bisa?"

Raka berpikir. "Kita tidak bisa menjamin semuanya."

Theo menoleh. "Tapi?"

"Kita bisa meninggalkan orang yang tahu cara melanjutkannya."

Theo tersenyum. "Siska?"

"Termasuk Siska."

Raka kemudian menatap Theo. "Kamu tahu?"

"Apa?"

"Siska cepat belajar."

Theo mengangguk. "Dia memang punya kemampuan."

Raka tersenyum. "Dan dia mulai dekat dengan kita."

Theo tertawa. "Dengan kita?"

Raka langsung diam.

Theo tersenyum penuh arti. "Dengan kelompok KKN, maksudmu?"

Raka menggeleng. "Sudah."

Mereka tertawa. Namun Theo tahu ada sesuatu yang sedang tumbuh antara Raka dan Siska. Ia tidak ingin mengganggu. Tidak sekarang.

 

Kebiasaan Lama Tidak Harus Menjadi Musuh

Hari kedelapan ditutup dengan sebuah kesadaran baru.

Theo akhirnya memahami bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan. Ia tidak datang untuk menghapus kebiasaan lama. Ia datang untuk membantu menciptakan kebiasaan yang lebih baik.

Perangkat desa juga mulai memahami bahwa mahasiswa KKN tidak sedang mencari kesalahan. Mereka sedang mencari cara.

Siska Damayanti menjadi jembatan di antara keduanya. Ia mengerti dunia administrasi desa. Ia juga memahami cara berpikir para mahasiswa. Dan karena usianya sebaya dengan mereka, komunikasi terasa lebih cair.

Di perpustakaan, anak-anak masih membaca. Di meja PDD, foto-foto mulai tersusun rapi. Di buku Raka, nama-nama tokoh desa terus bertambah.

Dan di komputer Theo, sistem digital perlahan mulai hidup. Belum sempurna. Masih banyak kesalahan. Masih ada kebiasaan lama. Masih ada perangkat yang lupa menyimpan file pada tempat yang benar.

Tetapi setidaknya mereka mulai berubah.

Dan bagi Theo, itu sudah merupakan keberhasilan.

 

Sebelum Tidur

Malam itu, sebelum tidur, Theo membuka buku catatannya.

Ia menulis:

"Hari ke-8.

Pak Karto akhirnya mau belajar. Butuh waktu empat puluh menit untuk satu dokumen. Tapi dia belajar. Itu yang penting.

Saya mulai mengerti bahwa teknologi tidak akan pernah memenangkan perubahan jika manusia merasa sedang dikalahkan olehnya.

Mungkin tugas kami bukan membuat Desa Awan Biru menjadi desa digital. Tugas kami adalah membantu desa ini menemukan cara menggunakan teknologi tanpa kehilangan cara mereka menjadi diri sendiri."

Ia menatap kalimat itu cukup lama. Kemudian menambahkan:

"Dan hari ini, untuk pertama kalinya, saya melihat Pak Karto tersenyum setelah berhasil menyimpan satu file. Senyum itu membuat semua kerja keras ini terasa berarti."

Theo menutup buku.

Di tempat lain, Raka menulis tentang sejarah. Siska menyelesaikan pekerjaan administrasi. Agatha menyimpan foto. Evianti dan kelompok perpustakaan merapikan data buku.

Masing-masing berada di tempat berbeda. Tetapi mereka sedang berjalan menuju tujuan yang sama.

Membangun sesuatu yang bisa tetap hidup setelah empat puluh hari berakhir.

Mereka belum tahu bahwa prinsip itu akan segera diuji. Karena di balik sistem digital yang sedang mereka bangun, ada satu persoalan yang belum mereka sadari: data penting yang selama ini mereka anggap aman ternyata belum benar-benar aman.

Dan ketika persoalan itu muncul, Theo harus membuktikan bahwa digitalisasi bukan hanya soal membuat sistem. Tetapi juga tentang menjaga kepercayaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IX

PERPUSTAKAAN YANG MULAI BERNYAWA

Hari kesembilan.

Pagi itu, sebelum matahari benar-benar tinggi, pintu perpustakaan Desa Awan Biru sudah terbuka.

Tidak ada upacara.

Tidak ada acara resmi.

Tidak ada spanduk.

Hanya pintu kayu yang terbuka, jendela yang mulai dimasuki cahaya pagi, dan aroma khas buku-buku lama yang memenuhi ruangan.

Evianti berdiri di tengah ruangan sambil memperhatikan perubahan yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

Rak-rak yang sebelumnya berantakan mulai tersusun.

Buku-buku yang dahulu menumpuk kini sudah dikelompokkan.

Lantai yang sebelumnya penuh debu telah dibersihkan.

Meja baca mulai tertata.

Namun bagi Evianti, semua itu belum cukup.

Ia memandang sudut ruangan yang masih kosong.

“Masih terasa sepi.”

Sifa yang sedang menyusun buku menoleh.

“Memangnya mau bagaimana?”

“Perpustakaan ini harus hidup.”

Bagas tertawa.

“Bukankah sudah hidup?”

Fajar menunjuk rak.

“Bukunya hidup.”

Leni ikut tertawa.

Evianti menggeleng.

“Bukan begitu.”

Ia mengambil sebuah buku dari rak.

“Perpustakaan bukan cuma tempat menyimpan buku.”

Sifa mengangguk.

“Tempat orang membaca.”

“Lebih dari itu.”

Evianti memandang ruangan.

“Tempat orang bertemu dengan pengetahuan.”

Mereka terdiam.

Kemudian Fajar berkata,

“Kalau begitu kita harus membuat orang datang.”

Evianti tersenyum.

“Ya.”

 

Dari Ruang Penyimpanan Menjadi Ruang Kehidupan

Hari itu mereka kembali melakukan inventarisasi.

Satu demi satu buku diperiksa.

Judul.

Penulis.

Penerbit.

Tahun terbit.

Kategori.

Kondisi buku.

Nomor koleksi.

Leni duduk di depan laptop.

“Ada buku yang datanya tidak lengkap.”

Sifa menjawab,

“Masukkan yang ada dulu.”

“Kalau tahun terbitnya tidak diketahui?”

“Kosongkan.”

“Seperti kata Theo?”

“Seperti kata Theo.”

Mereka tertawa.

Perlahan pekerjaan menjadi lebih teratur.

Tidak ada lagi buku yang sekadar diletakkan di rak tanpa identitas.

Setiap buku mulai memiliki tempat.

Setiap koleksi mulai memiliki catatan.

Dan setiap catatan mulai dipersiapkan untuk masuk ke sistem digital yang sedang dikembangkan Theo.

 

Satu Perpustakaan, Dua Dunia

Menjelang siang, Theo datang membawa laptop.

Evianti langsung menghampirinya.

“Theo.”

“Ya?”

“Katalog kita sudah mulai jadi.”

“Bagus.”

“Bisa dimasukkan ke sistem digital?”

Theo mengangguk.

“Itu tujuan kita.”

Ia duduk di depan komputer.

Evianti memperlihatkan data yang telah mereka buat.

Theo memeriksanya satu per satu.

“Sudah bagus.”

Sifa bertanya,

“Kalau nanti masyarakat ingin tahu apakah buku tertentu tersedia?”

“Mereka bisa melihat katalog digital.”

“Tanpa datang?”

“Untuk melihat informasinya, bisa.”

Leni tersenyum.

“Berarti perpustakaan ini punya dua dunia.”

Theo menoleh.

“Maksudnya?”

“Dunia nyata dan dunia digital.”

Theo tersenyum.

“Bagus.”

Evianti langsung mengambil spidol dan menulis di papan kecil:

SATU PERPUSTAKAAN, DUA DUNIA

Theo memandang tulisan itu.

“Ini bisa jadi konsep utama kita.”

Sifa tersenyum.

“Perpustakaan fisik tetap ada.”

Leni menambahkan,

“Informasinya tersedia secara digital.”

Fajar mengangguk.

“Jadi orang tidak hanya datang untuk meminjam buku.”

Evianti menatap mereka.

“Perpustakaan mulai menjadi pusat pengetahuan desa.”

 

Buku-Buku yang Kembali Menemukan Rumah

Sore sebelumnya, mereka menemukan beberapa kardus lama di bagian belakang ruangan.

Hari ini kardus-kardus itu dibuka.

Satu demi satu buku dikeluarkan.

Sebagian masih dalam kondisi baik.

Sebagian lainnya mulai menguning.

Ada buku pelajaran.

Ada buku cerita anak.

Ada buku pertanian.

Ada buku keterampilan.

Ada buku pengetahuan umum.

Ada pula beberapa buku yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan.

Bagas mengangkat sebuah buku tebal.

“Ini masih bagus.”

Fajar mengambil buku lain.

“Ini juga.”

Sifa membuka halaman pertama sebuah buku.

Di dalamnya terdapat nama pemilik lama.

“Lihat.”

Evianti mendekat.

“Punya siapa?”

“Tidak tahu.”

Mereka saling pandang.

Kemudian Evianti berkata,

“Masukkan sebagai koleksi. Jangan dibuang.”

“Walaupun ada nama orang?”

“Justru itu bagian dari cerita buku ini.”

Mereka kembali bekerja.

Buku-buku yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan di dalam kardus mulai kembali menemukan tempatnya.

 

Anak Pertama yang Datang

Sekitar pukul tiga sore, terdengar suara dari pintu.

“Boleh masuk?”

Semua menoleh.

Seorang anak berdiri di sana.

Tangannya memegang tas kecil.

Evianti tersenyum.

“Tentu.”

Anak itu masuk perlahan.

“Boleh baca buku?”

“Boleh.”

“Mau cari buku apa?”

Anak itu mengangkat bahu.

“Tidak tahu.”

Sifa tertawa kecil.

“Kalau begitu kita cari bersama.”

Anak itu mengikuti Sifa menuju rak.

Beberapa menit kemudian ia menemukan sebuah buku cerita.

Ia duduk di lantai.

Membuka halaman pertama.

Dan mulai membaca.

Evianti memandangnya.

Tidak ada kegiatan resmi.

Tidak ada program besar.

Hanya seorang anak yang masuk ke perpustakaan dan membaca.

Namun bagi mereka, itulah tanda pertama bahwa sesuatu mulai berubah.

 

Perpustakaan Mulai Didatangi Anak-Anak

Keesokan harinya bukan hanya satu anak.

Ada tiga.

Kemudian lima.

Sebagian datang karena ingin membaca.

Sebagian karena ingin melihat buku bergambar.

Sebagian hanya ingin duduk.

Namun Evianti tidak mempermasalahkan.

“Biarkan mereka mengenal tempat ini dulu.”

Sifa mengangguk.

“Kalau mereka sudah merasa nyaman, membaca akan mengikuti.”

Bagas menambahkan,

“Yang penting jangan sampai mereka merasa perpustakaan itu tempat yang membosankan.”

Mereka kemudian membuat beberapa kegiatan sederhana.

Membaca Bersama

Menceritakan Kembali Isi Buku

Menggambar dari Cerita

Membaca Lima Belas Menit

Bercerita tentang Cita-Cita

Tidak ada hadiah besar.

Tidak ada fasilitas mewah.

Yang ada hanya buku, ruang, dan mahasiswa yang bersedia menemani.

Namun justru dari hal sederhana itu, perpustakaan mulai memiliki suara.

Suara anak-anak.

Suara halaman buku yang dibuka.

Suara tawa.

Suara pertanyaan.

Dan suara cerita.

 

Theo Membawa Perpustakaan ke Layar

Sementara itu, Theo mulai mengintegrasikan katalog perpustakaan dengan sistem digital.

Ia duduk bersama Leni.

“Coba masukkan data buku ini.”

Leni mengetik.

“Judul?”

Ia memasukkan.

“Penulis?”

Masuk.

“Kategori?”

Masuk.

“Nomor koleksi?”

Masuk.

Theo memeriksa.

“Bagus.”

Leni tersenyum.

“Berarti sudah masuk?”

“Sudah.”

“Kalau dicari?”

Theo mengetik judul buku.

Data muncul.

Leni terkejut.

“Cepat.”

Theo tersenyum.

“Itulah gunanya data yang rapi.”

Evianti ikut melihat.

“Jadi nanti kalau ada ratusan buku, kita tidak perlu mencari satu per satu?”

“Tidak.”

“Kalau ribuan?”

Theo tersenyum.

“Semakin banyak koleksi, sistem seperti ini justru semakin penting.”

Evianti mengangguk.

Ia mulai memahami bahwa digitalisasi bukan sekadar membuat sesuatu terlihat modern.

Digitalisasi membuat pekerjaan yang semakin besar menjadi lebih mungkin dikelola.

 

Satu Anak dan Sebuah Pertanyaan

Sore itu seorang anak duduk di depan Theo.

“Kak.”

“Ya?”

“Kalau bukunya ada di komputer, berarti bukunya tidak perlu ada di sini?”

Theo tersenyum.

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Kan sudah ada di komputer.”

Theo menunjuk rak.

“Kalau kamu ingin memegang buku?”

Anak itu mengangguk.

“Mau.”

“Kalau ingin membaca sambil duduk di sini?”

“Mau.”

“Nah.”

Theo tersenyum.

“Makanya buku tetap ada di sini.”

Anak itu kemudian bertanya lagi,

“Terus komputer buat apa?”

Theo menjawab,

“Untuk membantu kita menemukan buku.”

Anak itu berpikir.

“Oh.”

Ia kemudian menunjuk rak.

“Berarti komputer itu seperti peta?”

Theo tersenyum lebar.

“Ya.”

Anak itu kembali membaca.

Theo menatapnya beberapa saat.

Kalimat sederhana seorang anak itu membuat konsep mereka terasa jauh lebih jelas.

Perpustakaan digital bukan pengganti perpustakaan fisik.

Ia adalah peta yang membantu orang menemukan jalan menuju pengetahuan.

 

Agatha Menangkap Perubahan

Agatha, Farida, dan Jevin datang membawa kamera.

Begitu masuk, mereka terkejut.

“Ramai.”

Evianti tersenyum.

“Baru beberapa anak.”

“Ini sudah perubahan.”

Agatha mengangkat kamera.

Klik.

Seorang anak membaca.

Klik.

Sifa membantu seorang anak mencari buku.

Klik.

Leni memasukkan data.

Klik.

Theo bekerja di depan komputer.

Klik.

Bagas merapikan rak.

Klik.

Fajar membimbing anak-anak menggambar.

Agatha kemudian mengambil gambar seluruh ruangan.

Perpustakaan yang beberapa hari lalu terlihat seperti ruang penyimpanan kini mulai memiliki kehidupan.

Farida berkata,

“Ini harus masuk dokumentasi utama.”

Jevin mengangguk.

“Bukan cuma foto sebelum dan sesudah.”

Agatha tersenyum.

“Tapi prosesnya.”

 

Perpustakaan dan PDD Bersatu

Agatha kemudian mengusulkan sesuatu.

“Bagaimana kalau kita buat dokumentasi khusus perpustakaan?”

Evianti bertanya,

“Seperti apa?”

“Perjalanan perpustakaan.”

Agatha menjelaskan:

“Foto kondisi awal.”

“Proses revitalisasi.”

“Penataan buku.”

“Kegiatan anak-anak.”

“Pengembangan katalog digital.”

“Dan kondisi setelah program selesai.”

Fajar mengangguk.

“Jadi nanti bisa terlihat perubahan.”

Agatha tersenyum.

“Bukan hanya terlihat.”

Ia memandang anak-anak yang sedang membaca.

“Bisa diceritakan.”

Evianti menyukai gagasan itu.

“Setuju.”

 

Siska Datang Membawa Data

Sore itu Siska Damayanti datang ke perpustakaan.

Ia membawa beberapa dokumen.

“Evianti.”

“Ya?”

“Saya bawa data lama perpustakaan.”

Evianti langsung berdiri.

“Serius?”

Siska menyerahkan map.

“Ini daftar koleksi lama.”

Leni segera membuka.

“Banyak.”

Sifa melihatnya.

“Sebagian buku yang ada sekarang ternyata sudah tercatat.”

Siska mengangguk.

“Kalau cocok, gunakan sebagai data awal.”

Theo ikut melihat.

“Ini membantu sekali.”

Siska tersenyum.

“Makanya saya cari.”

Evianti berkata,

“Terima kasih, Siska.”

Siska menggeleng.

“Sama-sama.”

Ia kemudian melihat keadaan perpustakaan.

“Sudah jauh berbeda.”

Evianti tersenyum.

“Belum selesai.”

Siska memandang anak-anak.

“Kalau begini, rasanya sudah mulai hidup.”

Evianti menjawab,

“Belum cukup hanya hidup.”

Siska tertawa.

“Lalu?”

“Harus terus hidup setelah kalian pergi.”

Siska terdiam.

Kalimat itu terasa penting.

 

Program yang Harus Bisa Dilanjutkan

Malam harinya, seluruh tim kembali berkumpul.

Raka memimpin rapat.

“Bagaimana perpustakaan?”

Evianti menjelaskan perkembangan.

“Rak sudah tertata.”

“Data koleksi mulai masuk.”

“Kegiatan anak-anak sudah berjalan.”

“Katalog digital mulai dibuat bersama Theo.”

Raka mengangguk.

“Bagus.”

Kemudian ia bertanya,

“Kalau kalian pulang?”

Ruangan menjadi sedikit sunyi.

Evianti menjawab,

“Itu yang sedang kami pikirkan.”

Raka menunggu.

“Kita harus membuat sistem yang bisa dilanjutkan.”

Theo menimpali,

“Bukan hanya sistem digital.”

Ia menunjuk catatan.

“Pengelolaan buku.”

“Pencatatan peminjaman.”

“Pemutakhiran katalog.”

“Kegiatan literasi.”

“Pengelola.”

Siska menambahkan,

“Harus ada orang desa yang bertanggung jawab.”

Raka mengangguk.

“Berarti program ini tidak boleh bergantung pada kalian.”

Evianti menjawab,

“Justru itu tujuan kami.”

 

Mencari Cara agar Perpustakaan Tidak Kembali Sepi

Pertemuan berlanjut.

Fajar mengusulkan jadwal membaca.

Sifa mengusulkan kegiatan anak setiap minggu.

Leni mengusulkan pemutakhiran katalog.

Bagas mengusulkan kegiatan pemuda.

Evianti mengusulkan satu hal lagi.

“Harus ada pengelola lokal.”

Raka mengangguk.

“Siapa?”

Mereka saling melihat.

Siska berkata,

“Bisa dikoordinasikan dengan pemerintah desa.”

Theo menambahkan,

“Dan pengelola harus bisa menggunakan sistem sederhana yang kita buat.”

Raka mencatat.

“Baik.”

Ia kemudian menulis:

PROGRAM PERPUSTAKAAN BERKELANJUTAN

Di bawahnya:

  1. Pengelola Lokal
  2. Katalog Buku
  3. Sistem Peminjaman
  4. Kegiatan Literasi
  5. Pemutakhiran Data Digital
  6. Dokumentasi Kegiatan
  7. Evaluasi Berkala

Raka menatap semua anggota.

“Ini baru program yang bisa bertahan.”

 

Hari Ketika Perpustakaan Mulai Memiliki Nama

Hari kesembilan hampir berakhir.

Namun sebelum pulang, Evianti berdiri di depan pintu perpustakaan.

Ia melihat tulisan sederhana yang mereka tempel di dinding:

PERPUSTAKAAN DESA AWAN BIRU

Di bawahnya ada kalimat:

“Membaca Hari Ini, Menyiapkan Masa Depan.”

Sifa berdiri di sampingnya.

“Bagaimana?”

Evianti tersenyum.

“Bagus.”

“Masih sederhana.”

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa?”

Evianti memandang ke dalam ruangan.

“Karena yang membuat perpustakaan bukan cat di dinding.”

Sifa mengangguk.

“Lalu?”

“Orang-orang yang menggunakannya.”

Di dalam ruangan, seorang anak masih duduk membaca.

Ia belum tahu bahwa ia menjadi bagian dari sebuah perubahan kecil.

Ia juga belum tahu bahwa foto dirinya sedang membaca akan disimpan dalam arsip digital Desa Awan Biru.

Bertahun-tahun kemudian, mungkin seseorang akan melihat foto itu.

Dan bertanya:

“Kapan perpustakaan ini mulai hidup?”

Jawabannya mungkin tidak akan tertulis dalam satu tanggal.

Karena perpustakaan itu tidak hidup dalam satu hari.

Ia hidup melalui tangan-tangan yang membersihkannya.

Melalui mahasiswa yang menata bukunya.

Melalui perangkat desa yang menjaga datanya.

Melalui anak-anak yang datang membaca.

Melalui teknologi yang membantu mengelola koleksi.

Dan melalui masyarakat yang perlahan mulai merasa bahwa perpustakaan itu adalah milik mereka.

 

Dua Dunia yang Mulai Terhubung

Sebelum meninggalkan perpustakaan, Theo memeriksa katalog digital sekali lagi.

Satu demi satu koleksi mulai muncul.

Buku cerita.

Buku pendidikan.

Buku pertanian.

Buku keterampilan.

Buku pengetahuan umum.

Dan beberapa dokumen sejarah lokal.

Theo tersenyum.

Di layar komputer, koleksi yang sebelumnya hanya berada di rak kini memiliki jejak digital.

Di dalam ruangan, anak-anak tetap membaca buku secara langsung.

Dua dunia.

Satu tujuan.

Theo kemudian berkata kepada Evianti,

“Ini baru awal.”

Evianti mengangguk.

“Kami tahu.”

“Kalau kalian konsisten, beberapa tahun lagi tempat ini bisa jauh lebih besar.”

Evianti tersenyum.

“Bukan kami.”

Theo menoleh.

“Siapa?”

Evianti menunjuk ruangan.

“Desa.”

Theo terdiam.

Kemudian tersenyum.

“Benar.”

 

Malam yang Berbeda

Malam itu Raka menulis laporan perkembangan KKN.

Ia mencatat digitalisasi.

Ia mencatat dokumentasi.

Ia mencatat sejarah desa.

Namun ketika sampai pada bagian perpustakaan, ia berhenti.

Ia tidak ingin hanya menulis:

“Perpustakaan telah ditata dan dikembangkan.”

Itu terlalu sederhana.

Ia menggantinya dengan:

“Perpustakaan Desa Awan Biru mulai berubah dari ruang penyimpanan buku menjadi ruang tumbuhnya kebiasaan membaca masyarakat.”

Raka membaca kalimat itu.

Kemudian menambahkan:

“Perubahan terbesar bukan terletak pada jumlah rak atau buku yang tersusun, tetapi pada munculnya anak-anak yang mulai datang dengan keinginan membaca.”

Ia menutup laptop.

Di luar, Desa Awan Biru mulai sunyi.

Namun di dalam perpustakaan, beberapa buku baru saja menemukan pembaca.

Di komputer Theo, katalog digital terus bertambah.

Di kamera Agatha, wajah-wajah baru tersimpan.

Di meja Siska, data lama perpustakaan menunggu untuk diolah.

Dan di dalam pikiran Raka, proyek sejarah desa semakin berkembang.

Tanpa mereka sadari, semua program yang mereka jalankan mulai menyatu menjadi satu cerita besar.

Digitalisasi memberi perpustakaan masa depan.

PDD memberinya ingatan.

Sejarah memberinya identitas.

Dan masyarakatlah yang akan menentukan apakah semuanya benar-benar bertahan.

Empat puluh hari masih panjang.

Tetapi untuk pertama kalinya, mereka mulai melihat sesuatu yang sebelumnya hanya mereka bayangkan:

Desa Awan Biru mulai bergerak dengan caranya sendiri.

Dan di antara rak-rak buku yang baru tertata itu, sebuah perubahan kecil telah dimulai.

Satu perpustakaan.

Dua dunia.

Satu harapan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB X

RAKA DAN PERTUNJUKAN YANG TERLALU LAMA

Hari kesepuluh.

Sepuluh hari.

Angka itu sederhana, tetapi pagi itu terasa berbeda bagi Raka.

Ia berdiri di depan kalender yang ditempel di dinding ruang sekretariat mahasiswa KKN. Tanggal-tanggal yang telah mereka lewati diberi tanda.

Hari ke-1. Kedatangan.
Hari ke-2. Pembagian tugas.
Hari ke-3. Digitalisasi mulai berjalan.
Hari ke-4. Perpustakaan mulai ditata.
Hari ke-5. Dokumentasi desa.
Hari ke-6. Sejarah mulai digali.
Hari ke-7. Arsip mulai dibenahi.
Hari ke-8. Teknologi berhadapan dengan kebiasaan lama.
Hari ke-9. Perpustakaan mulai hidup.

Dan sekarang—

Hari ke-10.

Raka menarik napas panjang.

Tiga puluh hari lagi.

Hanya tiga puluh hari.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa waktu bergerak terlalu cepat.

Bukan karena program KKN belum selesai.

Justru karena semuanya mulai berjalan.

Dan semakin banyak hal yang berjalan, semakin banyak pula alasan baginya untuk tetap berada di Desa Awan Biru.

Salah satu alasan itu bernama Siska Damayanti.

Raka segera mengalihkan pandangan dari kalender.

Ia merasa dirinya mulai terlalu sering memikirkan perempuan itu.

Padahal sejak awal ia sudah berusaha menjaga batas.

Siska adalah operator desa.

Ia mahasiswa KKN yang hanya akan tinggal empat puluh hari.

Mereka bekerja bersama karena tugas.

Hanya karena tugas.

Setidaknya itulah yang terus Raka katakan kepada dirinya sendiri.

Namun hati sering kali tidak mau bekerja mengikuti jadwal.

 

Bukan Lagi Sekadar Koordinasi

Pukul sembilan pagi, Raka menuju kantor desa.

Siska sedang berada di depan komputer.

“Pagi,” sapa Raka.

Siska menoleh.

“Pagi.”

“Kamu sudah sarapan?”

Siska mengangkat wajah.

“Sudah.”

“Benar?”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Siska menyipitkan mata.

“Kamu kenapa pagi-pagi begini?”

Raka tertawa kecil.

“Tidak kenapa-kenapa.”

Siska kembali menatap layar.

“Kalau mau bahas sejarah, datanya sudah saya siapkan.”

Raka mendekat.

“Bukan itu.”

Siska berhenti mengetik.

“Lalu?”

“Buku sejarah.”

“Bukankah itu juga sejarah?”

Raka tertawa.

“Ya, maksud saya itu.”

Siska menggeleng.

“Kamu aneh.”

Raka duduk di kursi di sampingnya.

“Begitu?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak datang ke sini.”

Raka tersenyum.

“Berarti kamu sudah memperhatikan saya sejak awal.”

Siska langsung terdiam.

Raka sendiri baru menyadari kalimatnya.

Suasana mendadak canggung.

Siska kemudian kembali mengetik.

“Jangan mulai.”

“Mulai apa?”

“Bercanda yang aneh-aneh.”

Raka tersenyum.

“Baik.”

Tetapi senyum itu tidak bisa menyembunyikan sesuatu.

Mereka mulai terlalu nyaman satu sama lain.

 

Buku Sejarah dan Dua Gelas Kopi

Hari itu Raka dan Siska harus memeriksa beberapa dokumen sejarah desa.

Mereka duduk bersebelahan cukup lama.

Siska menyiapkan dokumen.

Raka mencocokkannya dengan catatan wawancara.

Sesekali mereka berdiskusi.

“Ini tahunnya berbeda,” kata Raka.

Siska melihat dokumen.

“Yang mana?”

“Dokumen ini menyebut tahun yang berbeda dari cerita Pak Hasan.”

“Berarti kita tandai.”

Raka mencatat.

“Jangan disimpulkan dulu.”

“Betul.”

Beberapa menit kemudian Siska berdiri.

“Mau kopi?”

Raka mengangguk.

“Boleh.”

“Manis?”

Raka menjawab,

“Sedang.”

Siska tersenyum.

“Saya tahu.”

Raka menatapnya.

“Kamu tahu?”

Siska baru menyadari jawabannya.

“Dari kemarin.”

Raka tersenyum.

“Berarti kamu memperhatikan.”

Siska membawa dua gelas kopi.

“Jangan geer.”

Raka tertawa.

“Siap.”

Mereka kembali bekerja.

Namun dua gelas kopi di atas meja terasa seperti sesuatu yang lebih dari sekadar minuman.

Sederhana.

Biasa.

Tetapi bagi Raka, perhatian kecil seperti itu mulai memiliki arti.

 

Pertanyaan yang Tidak Seharusnya Ditanyakan

Menjelang siang, pekerjaan mereka berhenti sementara.

Raka menatap Siska.

“Siska.”

“Ya?”

“Kamu punya pacar?”

Siska langsung berhenti membuka dokumen.

Beberapa detik ia tidak menjawab.

Kemudian menatap Raka.

“Kenapa bertanya?”

Raka tersenyum canggung.

“Tidak apa-apa.”

“Kalau tidak apa-apa, kenapa bertanya?”

Raka tidak bisa menjawab.

Siska akhirnya tertawa kecil.

“Tidak punya.”

Raka menundukkan kepala.

“Oh.”

“Kenapa?”

“Tidak.”

Siska tersenyum.

“Sekarang giliran saya.”

Raka mengangkat wajah.

“Kamu?”

“Punya pacar?”

Raka tertawa.

“Tidak.”

Siska mengangguk.

“Bagus.”

Raka langsung menatapnya.

“Bagus?”

Siska tersadar.

“Maksud saya... ya biasa saja.”

Raka tersenyum.

Untuk pertama kalinya hari itu, mereka sama-sama salah tingkah.

 

Batas yang Mulai Kabur

Raka sebenarnya tahu bahwa kedekatan seperti ini berbahaya.

Bukan karena Siska melakukan sesuatu yang salah.

Bukan karena dirinya melakukan sesuatu yang salah.

Tetapi karena mereka tahu waktu mereka terbatas.

Siska bukan bagian dari kelompok KKN.

Ia memiliki pekerjaan dan kehidupannya sendiri di Desa Awan Biru.

Sementara Raka akan pulang ke kampus setelah empat puluh hari.

Jarak akan datang.

Kesibukan akan datang.

Kehidupan masing-masing akan kembali.

Lalu apa yang akan terjadi setelah itu?

Pertanyaan itu mulai muncul dalam benak Raka.

Ia tidak ingin memulai sesuatu yang hanya akan berakhir ketika KKN selesai.

Namun ia juga takut bahwa jika terus diam, ia akan menyesal.

 

Teman-Teman Mulai Membaca

Sore hari, Raka kembali ke tempat tinggal mahasiswa.

Theo sedang bekerja di laptop.

Agatha, Farida, dan Jevin sedang memeriksa dokumentasi.

Evianti, Sifa, Bagas, Leni, dan Fajar baru selesai dari perpustakaan.

Raka masuk.

Farida langsung melihatnya.

“Kok senyum?”

Raka berhenti.

“Siapa yang senyum?”

“Kamu.”

“Biasa.”

Jevin ikut melihat.

“Memang beda.”

Raka mengerutkan kening.

“Beda bagaimana?”

Agatha tersenyum.

“Tidak usah pura-pura.”

“Pura-pura apa?”

Farida menjawab,

“Pulang dari kantor desa selalu kelihatan lebih bahagia.”

Semua tertawa.

Raka melihat Theo.

“Jangan ikut-ikutan.”

Theo justru tersenyum.

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Itu lebih menyebalkan.”

Mereka kembali tertawa.

Raka mengambil tasnya.

“Sudah. Saya mau mandi.”

Farida berseru,

“Jangan lupa sampaikan salam!”

Raka menoleh.

“Salam untuk siapa?”

“Untuk operator desa!”

Suasana langsung pecah oleh tawa.

Raka menggeleng sambil berjalan masuk.

Namun wajahnya memerah.

Theo memperhatikan dari jauh.

Ia tidak ikut menggoda.

Ia hanya tersenyum kecil.

Ia tahu, ada perasaan yang sedang tumbuh.

Dan ia tahu pula bahwa Raka belum siap mengakuinya.

 

Nasihat Theo

Malam itu Raka dan Theo duduk berdua.

Lampu halaman menyinari sebagian teras.

Theo sedang menutup laptop.

“Kamu suka Siska?”

Pertanyaan itu langsung membuat Raka terdiam.

“Kenapa tiba-tiba bertanya?”

“Karena kelihatan.”

Raka tertawa kecil.

“Kelihatan sekali?”

“Bagi orang yang memperhatikan, iya.”

Raka menunduk.

“Entahlah.”

Theo tidak mendesak.

Raka melanjutkan,

“Aku nyaman kalau bersama dia.”

“Itu awal yang baik.”

“Tapi saya takut.”

Theo menatapnya.

“Takut apa?”

“Takut ini cuma karena KKN.”

Theo diam.

Raka meneruskan.

“Kita bekerja bersama setiap hari. Bertemu hampir setiap hari. Menghadapi masalah bersama. Wajar kalau muncul rasa dekat.”

Theo mengangguk.

“Tapi?”

“Bagaimana kalau setelah pulang semua berubah?”

Theo berpikir sejenak.

“Kamu tidak akan tahu kalau tidak pernah mencoba.”

Raka menggeleng.

“Tidak sesederhana itu.”

“Memang.”

Theo kemudian berkata,

“Jangan terburu-buru mengatakan cinta.”

Raka menatapnya.

“Lalu?”

“Kenali dia.”

“Sudah.”

“Lebih dalam.”

Raka diam.

“Dan yang paling penting,” lanjut Theo, “jangan menjadikan Siska bagian dari cerita KKN hanya karena kamu ingin punya kisah cinta.”

Raka menatap Theo cukup lama.

“Itu maksudnya?”

“Kalau kamu serius, hormati dia sebagai pribadi. Jangan hanya sebagai seseorang yang kebetulan hadir selama empat puluh hari.”

Kalimat itu menancap dalam.

Raka mengangguk.

“Kamu benar.”

 

Siska Juga Mulai Gelisah

Di kantor desa, Siska mengalami kegelisahan yang sama.

Ia membuka kembali dokumen yang telah selesai.

Tidak ada yang salah.

Namun pikirannya tidak berada di sana.

Ia teringat percakapan dengan Raka.

Tentang kopi.

Tentang pasangan.

Tentang masa depan.

Siska menyandarkan tubuhnya.

“Kenapa saya jadi begini?”

Ia mencoba kembali bekerja.

Namun tidak berhasil.

Siska membuka telepon genggamnya.

Tidak ada pesan dari Raka.

Entah kenapa ia merasa sedikit kecewa.

Ia kemudian tersenyum sendiri.

“Kenapa saya menunggu?”

Pertanyaan itu justru membuatnya semakin gelisah.

 

Pertemuan di Bawah Hujan

Sore berikutnya, hujan turun cukup deras.

Raka masih berada di kantor desa.

Ia menunggu hujan reda karena tidak membawa payung.

Siska berdiri di dekat pintu.

“Belum pulang?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Hujan.”

Siska tersenyum.

“Alasan yang bagus.”

Raka tertawa.

Mereka berdiri berdampingan memandangi halaman kantor desa.

Air hujan membasahi jalan.

Suara hujan menenggelamkan suara lainnya.

Siska berkata,

“Empat puluh hari ternyata cepat.”

Raka menoleh.

“Baru sepuluh hari.”

“Justru itu.”

“Kenapa?”

“Karena rasanya baru kemarin kalian datang.”

Raka diam.

Siska melanjutkan,

“Nanti kalian pergi.”

Kalimat terakhir diucapkan lebih pelan.

Raka menatap hujan.

“Iya.”

“Dan kembali ke kampus.”

“Iya.”

“Semua kembali seperti semula.”

Raka tidak langsung menjawab.

Kemudian berkata,

“Belum tentu.”

Siska menoleh.

“Kenapa?”

Raka menatapnya.

“Karena mungkin setelah ini ada sesuatu yang tidak kembali seperti semula.”

Siska terdiam.

Mereka saling memandang.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Hujan terus turun.

Namun percakapan mereka terasa jauh lebih keras daripada suara hujan.

 

Kalimat yang Tidak Jadi Diucapkan

Raka hampir mengatakan sesuatu.

Namun ia mengurungkan niat.

“Siska.”

“Ya?”

“Kalau nanti kami pulang...”

Siska menunggu.

Raka berhenti.

“Kenapa?”

“Tidak jadi.”

Siska tersenyum tipis.

“Kamu sering begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Mau mengatakan sesuatu, lalu berhenti.”

Raka tertawa kecil.

“Takut salah.”

Siska menjawab pelan,

“Kadang-kadang diam juga bisa salah.”

Raka terdiam.

Kalimat itu membuatnya semakin ingin berbicara.

Namun sekali lagi, ia menahan diri.

Belum.

Belum saat ini.

 

Pertunjukan yang Terlalu Lama

Malam itu Raka menyadari sesuatu.

Selama sepuluh hari, ia dan Siska telah memainkan sebuah pertunjukan yang sama.

Mereka berpura-pura bahwa semua hanya tentang pekerjaan.

Tentang arsip.

Tentang sejarah.

Tentang data.

Tentang buku.

Tentang kegiatan desa.

Padahal di sela-sela semua itu ada perhatian kecil.

Kopi.

Pesan singkat.

Tatapan.

Senyum.

Pertanyaan tentang kabar.

Dan kegelisahan ketika tidak bertemu.

Mereka belum menyebutnya cinta.

Namun mereka juga tidak lagi bisa menyebutnya sekadar pekerjaan.

Pertunjukan itu sudah terlalu lama.

Dan semakin lama dimainkan, semakin sulit membedakan mana peran dan mana perasaan sebenarnya.

 

Siska Menyimpan Satu Foto

Malam itu Siska membuka folder dokumentasi yang dibagikan PDD.

Ia menemukan sebuah foto.

Raka sedang berdiri di depan papan sejarah desa.

Wajahnya terlihat serius.

Di tangannya ada buku catatan.

Foto itu diambil Agatha tanpa sepengetahuan Raka.

Siska menatap layar cukup lama.

Kemudian tersenyum.

Ia tidak menyimpan foto itu untuk sesuatu yang khusus.

Setidaknya itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Tetapi beberapa detik kemudian ia mengunduhnya.

Dan memasukkannya ke folder pribadi.

Ia berhenti.

Kemudian tertawa kecil.

“Kenapa saya simpan?”

Tidak ada jawaban.

 

Raka dan Sebuah Keputusan Kecil

Di tempat lain, Raka juga membuka dokumentasi PDD.

Ia menemukan foto Siska yang sedang bekerja di depan komputer.

Foto yang diambil Farida beberapa hari lalu.

Siska tidak melihat kamera.

Wajahnya serius.

Namun ada ketenangan di sana.

Raka menatap foto itu.

Kemudian menutup layar.

Ia tidak menyimpannya.

Belum.

Ia memilih untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Tetapi ia tersenyum.

Mungkin Theo benar.

Ia tidak perlu terburu-buru.

Ia hanya perlu mengenal Siska.

Dan membiarkan waktu menjawab.

 

Hari Kesepuluh yang Mengubah Sesuatu

Pagi berikutnya, Raka kembali ke kantor desa.

Siska sudah berada di sana.

“Pagi.”

“Pagi.”

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada godaan.

Tidak ada kalimat yang aneh.

Mereka hanya duduk dan kembali bekerja.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Mereka kini sama-sama sadar.

Bahwa ada perasaan yang mulai tumbuh.

Belum diucapkan.

Belum diberi nama.

Tetapi sudah ada.

Raka membuka catatan sejarah.

Siska membuka arsip.

Mereka bekerja berdampingan.

Dan untuk pertama kalinya, diam di antara mereka tidak lagi terasa kosong.

 

Sementara Desa Terus Berjalan

Di tempat lain, program KKN terus bergerak.

Theo mulai memperkuat sistem digital.

Evianti, Sifa, Bagas, Leni, dan Fajar mempersiapkan kegiatan literasi berikutnya.

Agatha, Farida, dan Jevin terus mendokumentasikan perubahan desa.

Raka melanjutkan penulisan sejarah.

Siska tetap menjadi penghubung penting antara mahasiswa dan pemerintah desa.

Semuanya berjalan sesuai rencana.

Namun tanpa mereka sadari, sebuah persoalan baru mulai mendekat.

Bukan persoalan program.

Bukan persoalan teknologi.

Bukan pula persoalan perpustakaan.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih manusiawi:

perasaan.

Karena semakin dekat Raka dan Siska, semakin besar pula kemungkinan bahwa hubungan itu akan diuji oleh kenyataan bahwa mereka berasal dari dua kehidupan yang berbeda.

Raka memiliki batas waktu.

Siska memiliki desa yang menjadi bagian dari hidupnya.

Dan di antara keduanya hanya ada empat puluh hari.

Sepuluh hari telah berlalu.

Tiga puluh hari tersisa.

Namun tidak seorang pun tahu apakah tiga puluh hari cukup untuk membuat sebuah perasaan tumbuh menjadi cinta.

Atau justru cukup untuk membuat mereka takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat mereka miliki.

Raka menatap kalender.

Kemudian melihat ke arah kantor desa.

Di sana Siska sedang bekerja.

Ia tersenyum kecil.

Dan dalam hati ia berkata:

“Kalau waktu kita memang hanya empat puluh hari, aku tidak ingin menghabiskannya dengan berpura-pura bahwa kamu tidak berarti.”

Tetapi kalimat itu masih tinggal di dalam hati.

Belum menjadi suara.

Belum menjadi pengakuan.

Belum.

 

 

 

 

 

 

 

BAB XI

KETIKA DATA HAMPIR HILANG

Hari kesebelas.

Pagi itu Desa Awan Biru masih berjalan seperti biasanya. Kantor desa mulai ramai. Perangkat desa datang membawa pekerjaan masing-masing. Di perpustakaan, Evianti dan kelompoknya melanjutkan pendataan buku. Tim PDD mulai memilih dokumentasi. Raka kembali menelusuri dokumen-dokumen lama.

Sementara itu, Theo Rahman duduk sendirian di depan komputer.

Ia sedang memeriksa hasil digitalisasi yang telah dikerjakan selama beberapa hari. Folder demi folder dibuka. ADMINISTRASI. ARSIP. PERPUSTAKAAN. DOKUMENTASI. SEJARAH DESA.

Theo mengangguk puas. Sistem mulai terlihat rapi.

Ia kemudian membuka folder DOKUMENTASI KKN.

Layar komputer tiba-tiba berhenti.

Theo menunggu. Kursor bergerak sebentar. Kemudian—

Not Responding.

Theo mengerutkan kening. "Jangan sekarang."

Ia menunggu beberapa detik. Layar kembali normal. Theo mencoba membuka salah satu folder. Kosong.

Ia membuka folder lain. Beberapa file muncul. Namun sebagian tidak dapat dibuka.

Theo mulai serius. Ia mencoba lagi. Satu file. Tidak terbuka. File kedua. Tidak terbuka. File ketiga. Muncul pesan kesalahan.

Theo berdiri dari kursinya. "Tidak mungkin."

 

File yang Tidak Bisa Dibuka

Siska Damayanti yang sedang berada di meja sebelah menoleh. "Theo?"

Theo tidak menjawab. Ia terus memeriksa.

"Theo?" Siska berdiri. "Kenapa?"

Theo menunjuk layar. Tangannya sedikit gemetar. "Beberapa file bermasalah."

Siska mendekat. "File apa?"

"Dokumentasi."

Siska melihat layar. "Terhapus?"

"Belum tahu."

Theo membuka folder lain. Kali ini ia menemukan beberapa dokumen administrasi yang juga tidak dapat dibuka. Wajahnya berubah pucat.

"Bukan cuma dokumentasi."

Siska mulai khawatir. "Data desa?"

Theo tidak menjawab. Ia terus memeriksa. Folder demi folder. Semakin banyak file yang tidak bisa diakses.

"Sebagian," katanya akhirnya. Suaranya serak.

Theo menarik kursi. "Jangan sentuh komputer ini dulu."

"Kenapa?"

"Saya mau periksa. Kalau ada yang mengubah file, saya tidak bisa melacak sumber masalahnya."

Siska mengangguk. "Baik. Saya akan sampaikan ke yang lain."

Ia segera menghubungi Raka. "Raka, kamu harus ke kantor desa sekarang."

"Ada apa?"

"Data bermasalah. Theo panik."

 

Kepanikan Pertama

Raka datang beberapa menit kemudian. Ia berlari kecil. Wajahnya masih terlihat baru bangun tidur.

"Ada apa?"

Siska menjawab, "Data bermasalah. Banyak file tidak bisa dibuka."

Raka melihat Theo. "Seberapa parah?"

Theo tidak langsung menjawab. Ia membuka beberapa folder. "Belum tahu."

Raka mendekat. "Bisa diperbaiki?"

"Mungkin."

"Mungkin?"

Theo menghela napas panjang. "Aku tidak mau memberi kesimpulan sebelum tahu penyebabnya."

Raka melihat wajah Theo. Ia tahu sahabatnya sedang serius. Jarang sekali Theo terlihat seperti ini—wajah pucat, tangan gemetar, mata tidak fokus.

"Yang penting jangan panik," kata Raka.

Theo menatap layar. "Aku justru takut kalau kita panik, kita membuat kesalahan kedua."

Raka mengangguk. "Baik." Ia kemudian berkata kepada Siska, "Jangan ada yang membuka atau memindahkan file sebelum Theo selesai memeriksa."

Siska mengangguk. "Saya akan sampaikan ke semua perangkat desa."

 

Theo Mulai Memeriksa

Theo mulai melakukan pemeriksaan. Ia membuka folder satu per satu. Sebagian file masih bisa dibuka. Sebagian lainnya rusak. Ada file yang ukurannya berubah. Ada dokumen yang namanya masih terlihat, tetapi isinya tidak dapat dibaca.

Raka berdiri di sampingnya. "Kenapa bisa terjadi?"

Theo menggeleng. "Bisa karena banyak hal. Kesalahan penyimpanan. Sinkronisasi yang gagal. Atau..." Ia berhenti.

"Atau apa?"

"Atau virus. Atau perangkat yang rusak."

Raka terdiam.

Theo terus memeriksa. Folder sejarah desa. Ia membukanya. Beberapa hasil wawancara masih ada. Namun sebagian dokumen hasil transkripsi tidak bisa dibuka.

Theo langsung berdiri. "Sejarah."

Raka mendekat. "Apa?"

"Sebagian hasil kerja kamu ada di sini."

Raka melihat layar. Wajahnya berubah pucat. "Yang mana?"

Theo menunjuk beberapa file. "Ini tidak bisa dibuka."

Raka terdiam. Di dalam file itu terdapat hasil wawancara dengan beberapa tokoh desa. Catatan yang ia susun berhari-hari. Informasi yang sulit diperoleh kembali. Beberapa nama. Tanggal. Cerita. Detail sejarah. Semua ada di sana. Dan sekarang sebagian tidak dapat diakses.

Raka menelan ludah. "Kalau hilang?"

Theo menatapnya. "Kita cari cara untuk memulihkan."

"Bisa?"

Theo tidak menjawab.

 

Theo Mulai Menyalahkan Diri Sendiri

Waktu berjalan. Theo memeriksa penyimpanan. Ia mencoba membuka salinan di perangkat lain. Tidak semua berhasil. Ia kemudian memeriksa perangkat penyimpanan eksternal. Sebagian data masih ada. Namun tidak lengkap.

Theo duduk terdiam.

Siska melihatnya. "Kamu kenapa?"

"Aku yang membuat sistemnya."

"Lalu?"

"Berarti aku yang bertanggung jawab."

Siska duduk di sampingnya. "Bertanggung jawab bukan berarti harus menyalahkan diri sendiri."

Theo diam.

Siska melanjutkan, "Yang penting sekarang bagaimana cara menyelesaikannya."

Theo menatap Siska. "Kamu tidak panik?"

"Panik." Siska tersenyum tipis. "Tapi kalau saya ikut panik, siapa yang akan mengingatkan kamu?"

Theo tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak masalah itu muncul, wajahnya sedikit lebih tenang.

"Siska," panggilnya.

"Ya?"

"Aku takut."

Siska terkejut. Ini pertama kalinya Theo mengakui ketakutannya. "Takut apa?"

Theo menunjuk layar. "Aku takut semua yang sudah kita bangun selama ini hilang. Aku takut aku gagal."

"Kamu belum gagal."

"Belum."

"Kalau begitu jangan berpikir tentang kegagalan. Pikirkan tentang apa yang bisa kita selamatkan."

Theo menatap Siska. "Kamu tahu?"

"Apa?"

"Aku beruntung kamu ada di sini."

Siska tersenyum kecil. "Kamu juga beruntung timmu masih di sini. Sekarang telepon mereka."

 

Rapat Darurat

Raka mengumpulkan seluruh anggota kelompok di ruang sekretariat. Suasana tegang.

"Kita punya masalah," kata Raka membuka pembicaraan. "Data digital kita sebagian rusak."

Evianti langsung berdiri. "Data perpustakaan?"

"Sebagian."

Agatha menutup mulut. "Dokumentasi?"

"Juga."

Bagas bertanya, "Berapa banyak yang hilang?"

Theo menjawab, "Belum tahu pasti. Tapi cukup banyak."

Fajar tampak gelisah. "Kalau dokumentasi hilang, kita harus mengulang dari awal?"

"Belum tentu," kata Theo. "Sebagian masih bisa dipulihkan."

Farida bertanya, "Bagaimana caranya?"

Theo menjelaskan. "Kita harus memeriksa semua sumber. Kamera. Hard drive cadangan. Data manual. Semua."

Agatha mengangguk. "Kami punya salinan di kamera."

Evianti menambahkan, "Kami juga punya data cetak perpustakaan."

Sifa bertanya, "Kalau data sejarah?"

Semua menatap Raka.

Raka menghela napas. "Sebagian hilang. Transkripsi wawancara."

Jevin bersiul pelan. "Itu berat."

Raka mengangguk. "Aku tahu."

Theo berbicara lagi, "Tapi kita tidak boleh panik. Kita akan mengerjakan semuanya satu per satu."

Bagas bertanya, "Berapa lama?"

Theo menjawab jujur, "Tidak tahu. Tapi kita akan tetap bekerja sampai selesai."

 

Pak Karto Masuk

Di tengah rapat, Pak Karto masuk. Wajahnya masam.

"Theo."

Theo menoleh. "Ya, Pak?"

"Saya dengar data kita hilang."

Theo mengangguk. "Sebagian, Pak."

Pak Karto menatapnya lama. "Kamu bilang sistemmu aman."

Theo tidak bisa menjawab.

"Kamu bilang data tidak akan hilang."

Theo menunduk. "Maaf, Pak. Saya—"

Pak Karto mengangkat tangan. "Saya tidak datang untuk menyalahkan."

Semua terkejut.

Pak Karto berjalan mendekat. "Saya datang untuk bertanya: apa yang bisa saya bantu?"

Theo terbelalak. "Pak?"

Pak Karto menggerutu. "Jangan lihat saya seperti itu. Saya sudah mulai belajar komputer. Kalau ada yang bisa saya kerjakan, katakan."

Theo tersenyum. "Terima kasih, Pak."

"Jangan berterima kasih. Kerja."

 

Agatha Menemukan Harapan

Agatha tiba-tiba berkata, "Tunggu."

Theo menoleh. "Apa?"

"Sebagian foto yang hilang dari komputer masih ada di kamera."

Theo langsung berdiri. "Serius?"

Agatha mengangguk. "Kita belum memindahkan semuanya. Masih ada di kartu memori."

Farida membuka beberapa kartu memori. Jevin ikut memeriksa.

"Ini masih ada," kata Farida.

Jevin menambahkan, "Dan ini juga."

Theo tersenyum lega. "Bagus."

Agatha tertawa. "Berarti kebiasaan kami tidak selalu buruk."

Theo tersenyum. "Justru kali ini menyelamatkan kita."

Raka bertanya, "Berapa banyak yang bisa diselamatkan?"

Agatha memeriksa. "Hampir semua foto kegiatan. Mungkin delapan puluh persen."

"Bagus. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali."

Mereka mulai menyalin dokumentasi dari kamera ke penyimpanan yang lebih aman. Satu demi satu foto kembali tersimpan. Foto perpustakaan. Foto kegiatan desa. Foto anak-anak. Foto mahasiswa. Foto perangkat desa. Semua kembali memiliki tempat.

 

Perpustakaan Menyimpan Salinan

Evianti juga menemukan sesuatu.

"Theo."

Theo menoleh. "Ya?"

"Kita punya data cetak."

"Apa?"

"Daftar koleksi perpustakaan." Evianti menunjukkan buku catatan tebal. "Semua buku yang sudah kita data ada di sini. Lengkap."

Leni menambahkan, "Kami juga punya catatan peminjaman manual."

Theo tersenyum lebar. "Bagus sekali."

Sifa berkata, "Jadi kalau data digital hilang, kita masih bisa memasukkan lagi."

Theo mengangguk. "Ini justru prinsip penting."

Raka bertanya, "Apa?"

Theo menjawab, "Jangan pernah hanya punya satu bentuk penyimpanan."

Ia mengambil spidol dan menulis di papan:

DATA PENTING HARUS MEMILIKI CADANGAN.

 

Raka dan Sejarah yang Hilang

Namun masalah Raka ternyata lebih berat.

Beberapa transkripsi wawancara tidak bisa dipulihkan. Raka duduk sendiri di ruang kerja. Ia membuka buku catatan manual. Ada sebagian informasi. Tetapi tidak semuanya.

Ia memejamkan mata. Ia teringat satu per satu orang yang telah diwawancarai. Tokoh masyarakat. Mantan perangkat desa. Orang tua yang mengingat masa lalu. Cerita yang mereka sampaikan tidak bisa diulang dengan mudah.

Siska datang. "Kamu belum pulang?"

Raka menggeleng. "Belum."

"Kenapa?"

"Beberapa catatan sejarah hilang."

Siska duduk di sebelahnya. "Tidak semuanya."

"Tapi bagian penting."

Siska melihat buku catatan Raka. "Ini masih ada."

"Tidak lengkap."

"Kalau begitu kita lengkapi lagi."

Raka menatapnya. "Kamu mau bantu?"

Siska tersenyum. "Bukankah saya dari awal membantu?"

Raka tertawa kecil. "Iya."

"Pak Hasan masih bisa dihubungi," kata Siska. "Besok kita wawancara ulang."

"Kalau dia mau?"

"Kita minta."

"Kalau tidak?"

"Kita cari sumber lain."

Raka tersenyum. "Kamu selalu membuat masalah terasa lebih sederhana."

Siska menggeleng. "Bukan sederhana." Ia menatap Raka. "Cuma jangan menyerah sebelum mencoba."

Raka menatapnya lama. "Siska."

"Ya?"

"Aku—" Ia berhenti.

"Apa?"

"Tidak jadi."

Siska tersenyum tipis. "Kamu memang selalu begitu."

"Begitu bagaimana?"

"Mau mengatakan sesuatu, lalu berhenti."

Raka tertawa kecil. "Karena aku takut."

"Takut apa?"

Raka menatapnya. "Takut mengatakannya dan kemudian kehilangan."

Siska terdiam. Kemudian menjawab pelan, "Kadang-kadang diam juga bisa membuatmu kehilangan."

Raka tidak menjawab. Tapi ia menyimpan kalimat itu di dalam kepalanya.

 

Theo Hampir Menyerah

Sementara itu, Theo masih di depan komputer. Malam mulai turun. Lampu kantor desa hanya menyisakan satu sudut yang terang.

Theo sudah berjam-jam mencoba memulihkan data. Beberapa file berhasil. Banyak yang tidak.

Ia menyandarkan kepalanya di meja.

Raka datang. "Kamu belum pulang?"

"Belum."

"Kamu sudah bekerja berjam-jam."

"Belum selesai."

Raka duduk di sampingnya. "Theo, istirahat."

Theo mengangkat kepalanya. Matanya merah. "Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Karena jika aku istirahat, aku akan berpikir tentang semua yang hilang."

Raka diam.

Theo melanjutkan, "Aku membangun sistem ini. Aku yang bertanggung jawab. Aku yang seharusnya memastikan semuanya aman."

"Theo—"

"Aku gagal, Rak." Suara Theo bergetar. "Aku pikir aku cukup pintar. Ternyata tidak."

Raka menatap sahabatnya. Ia belum pernah melihat Theo seperti ini. Theo yang selalu percaya diri. Theo yang selalu punya jawaban. Kini duduk di depan komputer dengan wajah hancur.

"Kamu belum gagal," kata Raka.

"Data hilang."

"Tapi tidak semua. Dan yang hilang bisa dibuat ulang."

Theo menatapnya. "Bagaimana dengan wawancara Pak Hasan? Bisakah kita buat ulang ingatan orang?"

Raka tidak menjawab.

Theo tertawa pahit. "Lihat. Kamu juga tidak bisa menjawab."

Raka menarik napas. "Aku tidak bisa menjawab karena aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal."

"Apa?"

"Kalau kamu menyerah sekarang, kita benar-benar kehilangan semuanya."

Theo terdiam.

Raka melanjutkan, "Kamu yang selalu bilang bahwa kita harus meninggalkan sesuatu yang bisa diteruskan. Kalau kamu menyerah, apa yang akan kau tinggalkan?"

Theo menatap layar komputer. Kemudian berkata pelan, "Kau benar."

"Aku selalu benar."

Theo tertawa kecil. "Sombong."

Raka tersenyum. "Sudah. Kerja. Aku bantu."

 

Siska Membawa Kopi dan Harapan

Siska datang membawa dua gelas kopi. "Minum."

Theo menerima. "Terima kasih."

"Apa kabar datanya?"

Theo menghela napas. "Sebagian berhasil dipulihkan. Sebagian tidak."

"Berapa persen?"

"Kira-kira enam puluh persen."

Siska mengangguk. "Itu lebih baik daripada nol."

Theo tersenyum tipis. "Kamu selalu melihat sisi baiknya."

"Karena kalau tidak, saya sudah menangis sejak hari pertama kerja di sini."

Raka tertawa. Siska tersenyum.

Theo memandang mereka. "Kalian berdua..."

"Kenapa?" tanya Raka.

"Tidak apa-apa." Theo tersenyum. "Aku hanya berpikir, beruntung kalian ada di sini."

 

Malam Pemulihan

Pukul sebelas malam. Kantor desa belum sepi.

Theo masih di depan komputer. Raka di sampingnya. Siska beberapa kali membuatkan kopi. Agatha dan tim PDD memastikan seluruh foto telah disalin. Evianti dan kelompok perpustakaan membuat kembali daftar koleksi.

Semua bergerak dalam diam.

Pak Karto tiba-tiba muncul dengan segelas kopi dan beberapa lembar kertas.

"Theo."

Theo menoleh. "Pak, Bapak belum pulang?"

"Tidak." Pak Karto meletakkan kertas di meja. "Ini. Saya tulis ulang beberapa data yang saya ingat."

Theo terkejut. "Pak, Bapak tidak perlu—"

"Saya mau membantu." Pak Karto menatapnya. "Kamu sudah mengajari saya. Sekarang giliran saya."

Theo terdiam. Kemudian tersenyum. "Terima kasih, Pak."

"Jangan berterima kasih. Kerja."

 

Theo Menemukan Harapan

Pukul setengah dua belas malam.

Theo tiba-tiba berseru, "Dapat!"

Raka langsung menoleh. "Apa?"

"Sebagian file berhasil dipulihkan."

Raka berdiri. "Berapa banyak?"

Theo memeriksa. "Cukup banyak. Mungkin delapan puluh persen dari yang rusak."

Siska mendekat. "Dokumen sejarah?"

Theo membuka folder. Beberapa file muncul.

Raka menahan napas. Ia membuka salah satunya. Terbuka.

Raka tersenyum. "Ini ada."

Theo mengangguk. "Tidak semuanya."

"Tapi sebagian besar."

Theo bersandar. Untuk pertama kalinya malam itu ia merasa lega.

Pak Karto yang masih di sudut ruangan berkata, "Berhasil?"

Theo mengangguk. "Berhasil, Pak."

Pak Karto tersenyum. "Bagus."

Kemudian ia berdiri. "Saya pulang. Besok kerja lagi."

"Pak, terima kasih."

Pak Karto melambaikan tangan. "Jangan berterima kasih. Kerja."

Ia pergi. Theo, Raka, dan Siska saling memandang. Kemudian tertawa.

 

Data Bukan Sekadar File

Raka menatap layar. Di sana bukan sekadar file. Ada cerita manusia. Ada hasil kerja mahasiswa. Ada sejarah desa. Ada foto. Ada dokumen. Ada nama-nama. Ada kenangan.

Raka berkata pelan, "Ternyata data bisa punya nilai emosional."

Theo menoleh. "Karena di balik data ada manusia."

Raka mengangguk.

Siska yang mendengar percakapan itu tersenyum. Ia kemudian berkata, "Makanya kalau sudah digital, jangan menganggapnya hanya file."

Theo menatapnya. "Betul."

"Karena kalau hilang, yang hilang bukan hanya file."

Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.

Theo akhirnya berkata, "Mulai besok, kita ubah sistem."

 

Theo Mengubah Sistem

Keesokan harinya Theo mengumpulkan seluruh mahasiswa dan perangkat desa. Ia tidak datang membawa kesalahan. Ia membawa solusi.

"Mulai sekarang kita akan memperbaiki sistem pencadangan."

Ia menjelaskan bahwa setiap data penting harus memiliki lebih dari satu salinan.

Kemudian ia membuat aturan:

SALINAN PERTAMA: Disimpan pada komputer kerja.
SALINAN KEDUA: Disimpan pada media cadangan.
SALINAN KETIGA: Disimpan pada penyimpanan terpisah yang aman.

Selain itu, setiap data harus memiliki struktur folder yang jelas. Tidak boleh lagi menyimpan file dengan nama seperti:

FILE BARU.docx
FIX TERBARU.docx
FIX BENAR.docx

Semua tertawa.

Siska berkata, "Yang terakhir memang sering terjadi."

Theo tersenyum. "Makanya kita ubah."

 

Perubahan Cara Kerja

Theo kemudian membuat standar sederhana.

Nama file harus memuat: Tanggal – Kegiatan – Jenis Dokumen.

Folder harus sesuai kategori. Data yang selesai harus dicadangkan. Setiap perangkat yang digunakan harus memiliki pengguna yang jelas. Dan setiap perubahan penting harus dicatat.

Tidak rumit. Tidak membutuhkan teknologi mahal. Hanya membutuhkan disiplin.

Theo berkata, "Teknologi bisa membantu kita menyimpan data."

Ia berhenti. "Tapi manusia tetap harus menjaga sistemnya."

Raka mengangguk. "Ini yang harus kita tinggalkan kepada desa."

Pak Karto yang duduk di belakang bertanya, "Kalau saya lupa?"

Theo tersenyum. "Saya buatkan panduan."

"Panduan?"

"Iya. Jadi Bapak bisa baca kapan saja."

Pak Karto mengangguk. "Bagus."

 

Siska Menjadi Bagian Penting

Setelah pertemuan selesai, Theo berkata kepada Siska, "Kamu yang paling cocok menjadi penghubung sistem ini."

Siska terkejut. "Saya?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena kamu memahami pekerjaan desa dan sudah memahami sistemnya."

Siska tersenyum. "Berarti tanggung jawab saya bertambah."

Theo mengangguk. "Tapi bukan berarti kamu bekerja sendiri."

Raka menyela, "Kita akan membuat panduan."

Siska mengangguk. "Baik."

Ia menerima tanggung jawab itu. Bukan karena ingin dekat dengan mahasiswa. Bukan karena ingin mendapat pujian. Tetapi karena ia mulai menyadari bahwa sistem yang sedang dibangun itu memang berguna bagi desa.

"Siska," panggil Theo.

"Ya?"

"Aku percaya kamu bisa."

Siska menatap Theo. "Kamu serius?"

"Serius. Selama empat puluh hari ini aku melihat cara kerjamu. Kamu cepat belajar. Kamu sabar. Kamu juga bisa mengajari orang lain."

Siska tersenyum. "Terima kasih."

 

Raka dan Siska: Percakapan Malam

Malam itu, setelah semua pekerjaan selesai, Raka dan Siska duduk di teras kantor desa. Desa mulai sunyi.

Raka berkata, "Hari ini berat."

Siska mengangguk. "Sangat."

"Tapi kita berhasil."

"Kita berhasil."

Raka menatapnya. "Kamu tahu kenapa kita berhasil?"

Siska menoleh. "Kenapa?"

"Karena kita tidak menyerah."

Siska tersenyum. "Itu jawaban klise."

Raka tertawa. "Tapi benar."

Siska diam sejenak. Kemudian berkata, "Raka."

"Ya?"

"Kalau suatu hari nanti sistem ini bermasalah lagi..."

"Aku akan bantu."

"Kamu tidak di sini."

"Aku bisa dihubungi."

Siska menatapnya. "Janji?"

Raka tersenyum. "Janji."

 

Satu Kesalahan, Banyak Pelajaran

Hari kesebelas berakhir dengan suasana yang berbeda.

Data yang hampir hilang telah menjadi pelajaran bagi semua.

Theo belajar bahwa sistem yang baik harus memiliki cadangan. Raka belajar bahwa sejarah tidak boleh hanya disimpan di satu tempat. Tim PDD belajar bahwa kamera dan arsip digital harus berjalan bersama. Kelompok perpustakaan belajar bahwa data manual tetap penting sebagai cadangan.

Siska belajar bahwa dirinya bukan hanya operator yang menjalankan pekerjaan administratif. Ia mulai menjadi bagian dari proses perubahan.

Dan Pak Karto belajar bahwa teknologi tidak selalu buruk—yang buruk adalah ketika orang tidak mau menjaganya.

Seluruh mahasiswa mulai memahami satu hal:

Pengabdian bukan tentang membuat sesuatu terlihat sempurna selama mereka berada di desa. Pengabdian adalah memastikan sesuatu tetap berjalan ketika mereka sudah tidak berada di sana.

 

Sebuah Catatan di Buku Theo

Malam itu Theo kembali membuka buku catatannya.

Ia menulis:

"Hari ke-11. Kami hampir kehilangan data."

Kemudian ia berhenti.

Ia menambahkan:

"Tetapi yang hampir hilang sebenarnya bukan data."

Ia berpikir sejenak. Lalu menulis:

"Yang hampir hilang adalah cerita, kerja keras, ingatan, dan kepercayaan."

Theo menutup buku. Namun sebelum tidur, ia menulis satu kalimat terakhir:

"Mulai hari ini, kami tidak hanya membangun sistem untuk menyimpan data. Kami membangun sistem untuk menjaga jejak."

 

Raka Menulis di Buku Catatannya

Di tempat lain, Raka membuka buku catatan kecil pemberian Siska. Ia menulis:

"Hari ke-11.

Hari ini kami hampir kehilangan semuanya.

Saya belajar bahwa data bukan sekadar angka dan huruf. Data adalah cerita. Data adalah ingatan. Data adalah orang-orang yang pernah bekerja, berjuang, dan percaya.

Saya juga belajar bahwa ketakutan terbesar Theo bukanlah kegagalan teknis. Ketakutan terbesarnya adalah mengecewakan orang-orang yang mempercayainya.

Dan saya belajar satu hal lagi tentang Siska.

Dia tidak pernah panik. Dia tidak pernah menyerah. Dia selalu ada ketika dibutuhkan.

Saya tidak tahu apakah saya pantas menyukainya. Tapi hari ini saya sadar: saya sudah terlalu jauh untuk berpura-pura tidak."

Raka menutup buku. Di luar, malam Desa Awan Biru semakin sunyi.

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari kemudian, jejak-jejak itu akan semakin banyak. Foto. Dokumen. Sejarah. Buku. Cerita masyarakat.

Dan bahkan perasaan yang tumbuh diam-diam di antara Raka dan Siska.

Semuanya akan menjadi bagian dari sebuah perjalanan yang belum selesai.

Empat puluh hari masih terus berjalan.

Dan mereka baru memasuki hari kesebelas.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XII

PDD DAN DESA DALAM SEBUAH CERITA

Hari kedua belas.

Pagi di Desa Awan Biru terasa lebih cerah setelah ketegangan yang mereka alami sehari sebelumnya.

Masalah data yang hampir hilang masih menjadi bahan pembicaraan, tetapi bukan lagi sebagai sesuatu yang menakutkan.

Kini ia menjadi pelajaran.

Theo telah membuat sistem pencadangan baru.

Raka mulai menyimpan catatan sejarah dalam beberapa bentuk.

Kelompok perpustakaan membuat salinan data koleksi secara berkala.

Dan tim PDD—Agatha, Farida, dan Jevin—mendapat tugas yang tidak kalah penting:

membangun arsip visual perjalanan Desa Awan Biru selama KKN.

Pagi itu Agatha berdiri di tengah ruang sekretariat sambil memegang kamera.

“Kita selama ini terlalu sibuk mengambil foto kegiatan.”

Farida mengangguk.

“Memangnya salah?”

“Tidak.”

Agatha melihat hasil foto di layar kamera.

“Tapi kita harus mulai melihat desa sebagai sebuah cerita.”

Jevin yang sedang memeriksa kamera bertanya,

“Cerita seperti apa?”

Agatha tersenyum.

“Bukan cuma cerita tentang mahasiswa KKN.”

Ia mengarahkan pandangan ke luar jendela.

“Cerita tentang desa.”

 

Bukan Sekadar Foto Kegiatan

Selama sebelas hari pertama, kamera PDD hampir selalu mengikuti kegiatan mahasiswa.

Rapat.

Gotong royong.

Perpustakaan.

Digitalisasi.

Kegiatan masyarakat.

Namun Agatha mulai menyadari bahwa dokumentasi yang baik tidak hanya merekam apa yang dilakukan mahasiswa.

Ia harus merekam mengapa kegiatan itu penting.

Farida membuka folder foto.

“Kalau kita bikin dokumentasi besar, apa yang harus kita ambil?”

Agatha menjawab,

“Wajah.”

“Wajah mahasiswa?”

“Bukan hanya.”

Ia menunjuk ke arah jalan desa.

“Wajah warga.”

Kemudian menunjuk kantor desa.

“Wajah perangkat desa.”

Lalu ke arah perpustakaan.

“Wajah anak-anak.”

Jevin mengangguk.

“Jadi manusia di balik program.”

“Ya.”

Agatha kemudian berkata,

“Karena suatu hari nanti orang mungkin lupa nama kegiatannya.”

Ia tersenyum.

“Tapi mereka bisa mengingat wajah orang yang pernah terlibat.”

 

Kamera Mulai Berjalan

Pukul delapan pagi, tim PDD mulai bergerak.

Agatha membawa kamera utama.

Farida membawa kamera cadangan dan catatan.

Jevin bertugas merekam video.

Mereka tidak langsung menuju kantor desa.

Mereka berjalan menyusuri jalan.

Kamera menangkap kehidupan Desa Awan Biru.

Seorang petani sedang membawa hasil kebun.

Seorang ibu menyapu halaman.

Anak-anak berangkat sekolah.

Seorang warga memperbaiki pagar.

Pedagang membuka warung.

Seorang perangkat desa mengendarai sepeda motor menuju kantor.

Tidak ada yang terlihat luar biasa.

Tetapi Agatha justru menyukai kesederhanaan itu.

“Jangan terlalu banyak foto yang dibuat-buat,” katanya.

Farida bertanya,

“Kenapa?”

“Karena kehidupan tidak selalu sedang berpose.”

Jevin mengangguk.

Kamera kembali merekam.

 

Wajah Desa yang Jarang Terlihat

Di depan sebuah rumah, seorang nenek sedang duduk sendiri.

Agatha berhenti.

Ia tidak langsung memotret.

Ia mendekat.

“Permisi, Bu.”

Nenek itu tersenyum.

“Mau apa, Nak?”

“Kami dari mahasiswa KKN.”

“Oh.”

“Kami sedang membuat dokumentasi tentang Desa Awan Biru.”

Nenek itu tertawa.

“Desa ini memang mau difoto?”

Agatha ikut tertawa.

“Bukan desanya saja, Bu. Orang-orangnya juga.”

Nenek itu mengangguk.

“Kalau begitu jangan cuma foto yang muda.”

Agatha terdiam.

“Kenapa, Bu?”

“Karena yang tua juga bagian dari cerita desa.”

Kalimat sederhana itu membuat Agatha tersentuh.

Ia kemudian meminta izin.

Nenek tersebut mengangguk.

Agatha mengangkat kamera.

Klik.

Satu foto.

Satu wajah.

Satu cerita.

 

Dokumentasi yang Bertemu Sejarah

Siang harinya Agatha menunjukkan foto tersebut kepada Raka.

“Bagaimana?”

Raka melihatnya.

“Bagus.”

“Cuma foto biasa.”

“Tidak.”

Raka memperbesar gambar.

“Ini bisa masuk buku sejarah.”

Agatha menoleh.

“Kenapa?”

“Karena sejarah bukan hanya tanggal dan nama kepala desa.”

Ia menunjuk foto.

“Orang seperti beliau juga bagian dari sejarah.”

Agatha tersenyum.

“Berarti PDD membantu sejarah?”

“Bukan hanya membantu.”

Raka mengangguk.

“Kalian menyimpan bukti visualnya.”

Agatha mulai memahami hubungan antara pekerjaan mereka.

PDD mendokumentasikan.

Raka menyusun cerita.

Theo menyimpan dan mengelola.

Perpustakaan menjadi tempat pengetahuan itu dapat diakses.

Semua mulai terhubung.

 

Satu Foto, Banyak Makna

Sore itu Agatha memperlihatkan beberapa foto kepada Raka.

Ada foto anak-anak membaca.

Ada foto perangkat desa bekerja.

Ada foto Theo bersama perangkat desa.

Ada foto Siska di depan komputer.

Ada foto kelompok perpustakaan.

Ada foto warga mengikuti kegiatan.

Raka memperhatikan satu per satu.

“Yang ini.”

Ia menunjuk foto Siska.

“Kenapa?”

“Bisa masuk dokumentasi digitalisasi.”

Agatha tersenyum.

“Kenapa bukan dokumentasi pribadi?”

Raka langsung menatapnya.

“Agatha.”

Agatha tertawa.

“Bercanda.”

Raka menggeleng.

Namun senyumnya tidak bisa disembunyikan.

 

PDD Memasuki Dunia Theo

Sore itu Agatha, Farida, dan Jevin menemui Theo.

Agatha membawa hard drive.

“Kami mau membuat arsip dokumentasi.”

Theo mengangguk.

“Bagus.”

“Bantu kami membuat strukturnya.”

Theo kemudian membuat folder:

PDD DESA AWAN BIRU

Di dalamnya:

2026

KKN

PEMERINTAHAN DESA

MASYARAKAT

PERPUSTAKAAN

DIGITALISASI

SEJARAH DESA

KEGIATAN KHUSUS

FOTO

VIDEO

DESAIN

ARSIP PUBLIKASI

Agatha melihat struktur itu.

“Rapi sekali.”

Theo menjawab,

“Kalau tidak rapi, beberapa bulan lagi kita tidak akan tahu file mana yang dicari.”

Farida bertanya,

“Kalau jumlah foto sampai ribuan?”

Theo tersenyum.

“Justru itu alasan kenapa dari sekarang harus rapi.”

Jevin mengangguk.

“Berarti dokumentasi bukan selesai saat foto diambil.”

“Betul.”

Theo menatap mereka.

“Dokumentasi baru selesai ketika foto itu bisa ditemukan dan dipahami bertahun-tahun kemudian.”

Kalimat itu membuat mereka terdiam.

 

Siska dan Arsip Desa

Siska datang membawa beberapa dokumen.

“Ini arsip kegiatan desa.”

Theo menoleh.

“Untuk apa?”

“Agatha minta.”

Agatha mengangguk.

“Kami ingin menyatukan dokumentasi kegiatan dengan data resmi.”

Siska menyerahkan dokumen.

“Ini daftar kegiatan.”

Raka yang kebetulan berada di sana langsung tertarik.

“Boleh saya lihat?”

Siska memberikan.

Raka membaca.

“Ini bisa membantu sejarah desa.”

Siska tersenyum.

“Makanya saya berikan.”

Raka memandangnya.

“Terima kasih.”

“Tidak perlu terima kasih.”

“Kenapa?”

“Karena kita sedang mengerjakan hal yang sama.”

Raka tersenyum.

Mereka saling pandang sesaat.

Agatha memperhatikan.

Namun kali ini ia memilih diam.

 

PDD Menjadi Mata Cerita

Hari demi hari, kamera PDD semakin aktif.

Agatha mulai membuat daftar dokumentasi.

Bukan berdasarkan siapa yang paling penting.

Tetapi berdasarkan cerita yang ingin disimpan.

CERITA TENTANG DESA

CERITA TENTANG ORANG

CERITA TENTANG PENGABDIAN

CERITA TENTANG PERUBAHAN

Farida bertanya,

“Kenapa dibagi begitu?”

Agatha menjawab,

“Supaya nanti kita tidak hanya punya album foto.”

“Lalu?”

“Kita punya perjalanan.”

Jevin mengangguk.

“Dari awal sampai akhir.”

Agatha tersenyum.

“Ya.”

 

Anak-Anak Perpustakaan Menjadi Bagian Cerita

PDD kembali ke perpustakaan.

Anak-anak sudah mulai mengenal mereka.

“Kak Agatha!”

Seorang anak melambaikan tangan.

Agatha tersenyum.

“Mau difoto?”

Anak-anak langsung berebut.

“Jangan semuanya pose.”

“Kenapa?”

“Baca saja.”

Anak-anak kembali membaca.

Agatha mengambil foto.

Tidak ada pose.

Tidak ada arahan.

Hanya anak-anak dan buku.

Klik.

Foto itu sederhana.

Tetapi justru terlihat nyata.

Sifa berkata,

“Kalau foto ini masuk dokumentasi, mereka pasti senang.”

Agatha mengangguk.

“Bukan hanya mereka.”

“Siapa?”

“Suatu hari orang tua mereka.”

 

Theo Menemukan Fungsi Baru PDD

Malamnya Theo menyampaikan ide.

“Bagaimana kalau dokumentasi PDD tidak hanya disimpan?”

Agatha bertanya,

“Maksudnya?”

“Kita masukkan sebagian ke Perpustakaan Digital.”

Farida langsung tertarik.

“Foto?”

“Foto, video, dan cerita pendek.”

Jevin mengangguk.

“Berarti orang bisa melihat sejarah desa melalui dokumentasi.”

Theo menjawab,

“Ya.”

Raka yang mendengar menambahkan,

“Dan sebagian bisa menjadi bahan Buku Sejarah Desa.”

Semua mulai melihat gambaran yang lebih besar.

Dokumentasi PDD tidak berdiri sendiri.

Ia menjadi bagian dari ekosistem.

Foto menjadi arsip.

Arsip menjadi sejarah.

Sejarah menjadi pengetahuan.

Pengetahuan menjadi bagian dari perpustakaan digital.

 

Raka Mulai Menyusun Bab Baru

Malam itu Raka membuka dokumen Buku Sejarah Desa Awan Biru.

Ia mulai menambahkan bagian baru:

WAJAH-WAJAH DI BALIK SEJARAH DESA

Bukan hanya kepala desa.

Bukan hanya perangkat.

Bukan hanya tokoh masyarakat.

Tetapi juga:

petani,

guru,

ibu rumah tangga,

pemuda,

anak-anak,

dan orang-orang yang selama ini bekerja tanpa pernah dicatat namanya.

Ia menulis:

“Sebuah desa tidak dibangun hanya oleh mereka yang namanya tertulis dalam dokumen pemerintahan. Desa juga tumbuh dari tangan-tangan yang bekerja dalam diam.”

Raka berhenti.

Ia membaca ulang.

Kemudian tersenyum.

Kalimat itu terasa tepat.

 

Ketika Foto Menjadi Ingatan

Beberapa hari kemudian, Agatha menyusun galeri kecil di ruang sekretariat.

Foto-foto ditempel.

Foto hari pertama kedatangan.

Foto pertemuan dengan pemerintah desa.

Foto Theo memulai digitalisasi.

Foto perpustakaan yang masih berantakan.

Foto proses penataan.

Foto anak-anak mulai membaca.

Foto perangkat desa bekerja.

Foto masyarakat.

Foto Raka bersama tokoh desa.

Foto Siska di depan komputer.

Semua menjadi satu rangkaian.

Farida berdiri di depan galeri.

“Kalau dilihat begini, ternyata kita sudah banyak melakukan sesuatu.”

Jevin mengangguk.

“Padahal baru dua belas hari.”

Agatha tersenyum.

“Justru itu.”

Ia menunjuk foto pertama.

“Suatu hari kita akan melihat foto ini dan tidak percaya bahwa semuanya pernah dimulai dari sini.”

 

Sebuah Foto yang Tidak Direncanakan

Menjelang sore, hujan turun.

Raka sedang membawa beberapa buku sejarah dari kantor desa menuju sekretariat.

Siska datang dari arah berlawanan.

“Kamu belum pulang?”

“Belum.”

Siska melihat buku di tangannya.

“Banyak sekali.”

“Bahan sejarah.”

Siska membantu membawa sebagian.

Mereka berjalan berdampingan.

Agatha yang berada cukup jauh melihat mereka.

Kamera terangkat.

Klik.

Tidak ada pose.

Tidak ada rencana.

Raka membawa buku.

Siska membawa beberapa dokumen.

Mereka berjalan di bawah langit mendung.

Agatha menurunkan kameranya.

Farida bertanya,

“Dapat?”

Agatha melihat hasil foto.

“Dapat.”

“Bagus?”

Agatha tersenyum.

“Bagus sekali.”

 

Foto yang Menjadi Lebih dari Sekadar Foto

Malamnya Agatha membuka foto tersebut.

Ia memperbesar.

Raka dan Siska terlihat berjalan berdampingan.

Tidak ada sentuhan.

Tidak ada kata-kata.

Tetapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan.

Farida melihat.

“Wah.”

Agatha tersenyum.

“Jangan bilang siapa-siapa.”

“Kenapa?”

“Ini bukan dokumentasi percintaan.”

Farida tertawa.

“Tapi kelihatannya seperti itu.”

Agatha menyimpan foto tersebut di folder:

HARI KE-12

Bukan di folder pribadi.

Bukan di folder percintaan.

Tetap di arsip KKN.

Karena bagi Agatha, foto itu adalah bagian dari perjalanan.

Apa pun yang kelak terjadi antara Raka dan Siska, foto itu akan menjadi saksi bahwa pernah ada dua orang yang berjalan bersama di sebuah desa.

 

Malam Refleksi

Malam itu seluruh mahasiswa berkumpul.

Theo membuka pembicaraan.

“Setelah masalah kemarin, saya berpikir bahwa kita terlalu sibuk mengejar hasil.”

Raka menatapnya.

“Maksudmu?”

“Kita ingin semua selesai.”

Theo berhenti.

“Padahal yang lebih penting adalah memastikan prosesnya tercatat.”

Agatha mengangguk.

PDD akhirnya mendapat tempat yang lebih penting.

Bukan sekadar pelengkap.

Bukan hanya tukang foto.

Mereka adalah penjaga memori.

Raka kemudian berkata,

“Kalau tidak ada dokumentasi, banyak hal akan hilang.”

Evianti menambahkan,

“Kalau tidak ada perpustakaan, banyak pengetahuan tidak punya tempat.”

Siska berkata,

“Kalau tidak ada arsip, data sulit ditelusuri.”

Theo mengangguk.

“Kalau tidak ada sistem, semuanya mudah berantakan.”

Semua terdiam.

Raka kemudian tersenyum.

“Berarti kita saling membutuhkan.”

Theo menjawab,

“Memang dari awal begitu.”

 

Desa yang Mulai Menjadi Cerita

Hari kedua belas berakhir.

Namun pekerjaan mereka belum selesai.

PDD terus memotret.

Theo terus membangun sistem.

Perpustakaan terus menata koleksi.

Raka terus menulis sejarah.

Siska terus menjaga administrasi dan membantu menghubungkan semua pekerjaan.

Sedikit demi sedikit, Desa Awan Biru mulai memiliki sesuatu yang sebelumnya tidak mereka miliki:

sebuah ingatan yang tersusun.

Bukan hanya dalam bentuk dokumen.

Bukan hanya dalam bentuk buku.

Tetapi dalam bentuk wajah.

Suara.

Foto.

Video.

Cerita.

Dan data.

Suatu hari, ketika para mahasiswa itu sudah kembali ke kampus dan kehidupan masing-masing telah berubah, mungkin mereka akan membuka sebuah folder lama.

Di dalamnya ada foto seorang anak yang sedang membaca.

Ada foto seorang petani.

Ada foto perangkat desa.

Ada foto perpustakaan.

Ada foto Theo di depan komputer.

Ada foto Agatha dengan kameranya.

Dan mungkin ada foto Raka berjalan bersama Siska di bawah langit mendung.

Mereka mungkin akan tersenyum.

Mungkin juga terdiam.

Karena pada saat itu mereka akan mengerti:

PDD tidak hanya merekam apa yang terjadi.

PDD menyelamatkan apa yang kelak akan dirindukan.

Dan di Desa Awan Biru, kamera-kamera kecil itu perlahan sedang mengumpulkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar dokumentasi.

Sebuah cerita.

Cerita tentang sebuah desa.

Tentang pengabdian.

Tentang orang-orang yang bekerja dalam diam.

Tentang persahabatan.

Tentang perubahan.

Dan tentang beberapa perasaan yang mulai tumbuh di sela-sela kesibukan.

Perasaan yang belum diberi nama.

Tetapi suatu hari nanti mungkin akan menjadi bagian paling sulit untuk dilupakan.

Empat puluh hari terus berjalan.

Dan tanpa mereka sadari, semakin banyak jejak yang mereka tinggalkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XIII

SEJARAH YANG HAMPIR BELUM SELESAI

Hari ketiga belas.

Pagi itu, Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tipis. Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Dari kejauhan terdengar suara ayam dan aktivitas warga yang mulai menjalani kesibukan.

Di kantor desa, Raka sudah duduk sejak pukul tujuh.

Di hadapannya terdapat beberapa map tua.

Sebagian sampulnya sudah kusam. Sudut-sudut kertas mulai menguning. Ada dokumen yang masih cukup jelas, tetapi ada pula yang tulisannya hampir tidak terbaca.

Di samping tumpukan dokumen itu terdapat buku catatan Raka.

Pada halaman pertama tertulis:

BUKU SEJARAH DESA AWAN BIRU

Raka menatap judul itu cukup lama.

Semakin ia menggali sejarah desa, semakin ia menyadari bahwa tugas yang semula ia anggap sebagai program tambahan ternyata jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan.

Ia bukan hanya sedang menulis sebuah buku.

Ia sedang berusaha menyatukan ingatan banyak orang.

Dan ingatan manusia tidak selalu sama.

 

Cerita yang Berbeda

Siska Damayanti datang membawa beberapa dokumen.

“Pagi.”

Raka menoleh.

“Pagi.”

Siska meletakkan map di atas meja.

“Ini yang kamu minta.”

Raka membuka.

“Arsip lama?”

“Iya.”

“Dari mana?”

“Lemari arsip belakang.”

Raka tersenyum.

“Kalau tidak ada kamu, mungkin saya tidak akan menemukan ini.”

Siska tertawa.

“Jangan terlalu memuji.”

“Serius.”

Siska duduk.

“Ada apa?”

Raka menunjukkan dua dokumen.

“Lihat ini.”

Siska membaca.

“Beda?”

“Bukan cuma beda.”

Raka menunjuk tanggal.

“Yang ini menyebut perubahan wilayah terjadi pada tahun tertentu.”

Ia membuka dokumen lain.

“Yang ini menyebut tahun yang berbeda.”

Siska mengerutkan kening.

“Berarti salah satu salah?”

Raka menggeleng.

“Belum tentu.”

“Lalu?”

“Bisa jadi keduanya berasal dari sumber yang berbeda.”

Siska terdiam.

Raka berkata,

“Masalahnya, masyarakat juga punya cerita sendiri.”

 

Pertemuan dengan Pak Hasan

Hari itu Raka dan Siska mendatangi rumah Pak Hasan, salah seorang tokoh masyarakat yang sebelumnya pernah mereka wawancarai.

Pak Hasan sudah cukup tua.

Ingatan tentang masa lalu masih kuat, meskipun beberapa bagian terkadang bercampur dengan cerita yang pernah ia dengar dari orang lain.

Raka membuka buku catatan.

“Pak, kami ingin memastikan lagi soal sejarah awal desa.”

Pak Hasan tersenyum.

“Masih belum selesai juga?”

“Belum, Pak.”

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Kalau sejarah ditulis terburu-buru, nanti anak cucu kita yang bingung.”

Raka tersenyum.

“Kami ingin memastikan semuanya benar.”

Pak Hasan mengangguk.

Kemudian mulai bercerita.

Tentang orang-orang pertama yang membuka kawasan tersebut.

Tentang perubahan nama wilayah.

Tentang masa ketika desa masih sederhana.

Tentang tokoh-tokoh yang dahulu berperan.

Raka mencatat.

Siska sesekali membantu mengingatkan tahun.

Namun ketika Raka menyebut satu tanggal, Pak Hasan menggeleng.

“Bukan tahun itu.”

Raka berhenti menulis.

“Bukan, Pak?”

“Setahu saya bukan.”

“Tapi di dokumen desa tertulis demikian.”

Pak Hasan tersenyum.

“Dokumen bisa menyimpan tanggal.”

Ia menatap Raka.

“Tapi orang tua menyimpan cerita.”

Raka terdiam.

 

Antara Dokumen dan Ingatan

Sepulang dari rumah Pak Hasan, Raka tidak banyak bicara.

Siska berjalan di sampingnya.

“Kamu bingung?”

“Iya.”

“Karena ceritanya berbeda?”

“Bukan hanya berbeda.”

Raka berhenti sejenak.

“Kalau saya memilih dokumen, mungkin cerita masyarakat terasa diabaikan.”

“Kalau memilih cerita masyarakat?”

“Dokumennya bisa dianggap salah.”

Siska mengangguk.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

Raka tersenyum kecil.

“Cari lagi.”

“Ke siapa?”

“Sebanyak mungkin.”

Siska mengangguk.

“Berarti belum selesai.”

Raka menatap jalan di depan.

“Justru baru mulai.”

 

Sejarah Tidak Boleh Dipaksakan

Siang harinya Raka mengumpulkan beberapa anggota kelompok.

Theo, Siska, Agatha, dan beberapa anggota lainnya ikut hadir.

Raka menjelaskan persoalan.

“Data sejarah kita punya beberapa versi.”

Theo bertanya,

“Versi mana yang paling kuat?”

“Itulah masalahnya.”

Agatha berkata,

“Kalau begitu dokumentasikan semua?”

Raka menatapnya.

“Maksudmu?”

“Jangan langsung memilih.”

Agatha menjelaskan,

“Kita bisa mencatat bahwa ada beberapa versi cerita.”

Raka mengangguk.

“Itu lebih jujur.”

Theo menambahkan,

“Dan setiap informasi bisa diberi sumber.”

Raka tersenyum.

“Itu yang saya cari.”

Siska berkata,

“Berarti nanti pembaca tahu mana yang berasal dari dokumen dan mana yang berasal dari wawancara.”

“Betul.”

Raka mulai mencatat.

Hari itu ia membuat prinsip baru untuk buku sejarah:

Setiap informasi harus memiliki sumber yang jelas.

 

Nama-Nama yang Hampir Hilang

Penelusuran berikutnya membawa Raka kepada persoalan lain.

Ada beberapa nama orang yang dahulu berperan penting, tetapi tidak tercatat dengan baik.

Salah satunya adalah seorang tokoh masyarakat yang hanya dikenal dengan nama panggilan.

Tidak ada foto.

Tidak ada dokumen lengkap.

Hanya cerita dari beberapa warga.

Raka mulai mencari.

Ia bertanya kepada orang tua.

Kemudian pemuda.

Kemudian perangkat desa.

Sebagian mengenal namanya.

Sebagian hanya pernah mendengar ceritanya.

Siska berkata,

“Kalau namanya tidak ditemukan bagaimana?”

Raka menjawab,

“Jangan dihilangkan.”

“Lalu?”

“Kita tulis sesuai sumber yang ada.”

“Dengan catatan?”

“Dengan catatan.”

Siska tersenyum.

“Kamu benar-benar serius dengan buku ini.”

Raka menatapnya.

“Kalau nama seseorang pernah menjadi bagian dari desa, saya tidak ingin namanya hilang hanya karena arsipnya tidak lengkap.”

Siska terdiam.

Ada kekaguman di wajahnya.

Bukan karena Raka seorang ketua KKN.

Tetapi karena ia mulai memahami alasan di balik pekerjaannya.

 

PDD Menemukan Jejak Lama

Agatha dan Farida membantu pencarian dokumentasi.

Mereka mencari foto-foto lama yang masih disimpan warga.

Seorang warga memberikan sebuah album tua.

Sampulnya sudah rusak.

Foto-fotonya mulai pudar.

Namun ada beberapa gambar yang masih cukup jelas.

Agatha sangat berhati-hati.

“Jangan sampai rusak.”

Farida mengangguk.

Mereka memotret setiap halaman.

Jevin merekam prosesnya.

Agatha kemudian menyerahkan hasil digitalisasi kepada Theo.

“Ini bisa disimpan?”

“Bisa.”

Theo membuat folder khusus:

ARSIP FOTO SEJARAH DESA

Raka melihat hasilnya.

Ia tersenyum.

“Ini luar biasa.”

Agatha berkata,

“Foto lama bisa menyelamatkan cerita yang tidak tertulis.”

Raka mengangguk.

“Dan kamera kalian menyelamatkan foto itu dari hilang.”

Theo menambahkan,

“Sekarang kita simpan dalam dua bentuk.”

Siska tersenyum.

“Fisik dan digital.”

Theo mengangguk.

 

Sebuah Dokumen Lama

Sore itu Siska kembali ke ruang arsip.

Ia menemukan satu map yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat.

Sampulnya bertuliskan:

CATATAN PERKEMBANGAN DESA

Siska membukanya.

Beberapa halaman berisi catatan lama.

Ada nama.

Ada tanggal.

Ada perubahan wilayah.

Ada kegiatan pembangunan.

Ada catatan masyarakat.

Siska segera memanggil Raka.

“Raka!”

Raka datang.

“Ada apa?”

“Lihat ini.”

Raka membaca halaman pertama.

Matanya membesar.

“Dari mana kamu dapat?”

“Di lemari paling bawah.”

Raka membalik halaman.

Kemudian menemukan satu tanggal yang selama ini ia cari.

Ia terdiam.

“Ini penting.”

Siska tersenyum.

“Berarti kita menemukan sesuatu?”

“Bukan cuma sesuatu.”

Raka memegang dokumen itu dengan hati-hati.

“Ini bisa menjelaskan perbedaan beberapa cerita.”

 

Satu Dokumen Mengubah Banyak Hal

Raka mencocokkan dokumen tersebut dengan hasil wawancara.

Beberapa bagian mulai cocok.

Tetapi ada satu persoalan.

Tanggal dalam dokumen itu juga berbeda dengan dua sumber sebelumnya.

Raka menghela napas.

Siska menatapnya.

“Masih berbeda?”

“Iya.”

Siska tertawa kecil.

“Sejarah memang tidak mau dibuat mudah.”

Raka ikut tertawa.

“Sepertinya begitu.”

Kemudian ia berkata,

“Justru perbedaan ini yang harus kita jelaskan.”

“Bukan disembunyikan?”

“Bukan.”

Raka menatap dokumen.

“Kalau kita menulis sejarah hanya berdasarkan versi yang paling nyaman, kita sedang mengubah sejarah.”

Siska mengangguk.

 

Wawancara Ketiga

Mereka mencari narasumber lain.

Kali ini seorang mantan perangkat desa.

Usianya sudah cukup lanjut.

Raka membuka percakapan dengan hati-hati.

“Pak, kami sedang menyusun sejarah desa.”

“Untuk apa?”

“Supaya generasi berikutnya bisa mengetahui perjalanan desa.”

Mantan perangkat desa itu tersenyum.

“Bagus.”

Kemudian ia mulai bercerita.

Ada informasi yang sama dengan Pak Hasan.

Ada yang berbeda.

Namun satu cerita membuat Raka tertarik.

Tentang sebuah peristiwa yang ternyata menjadi titik penting perubahan desa.

Raka mencatat dengan cepat.

Siska merekam suara setelah mendapat izin.

Agatha yang ikut bersama mereka mengambil beberapa foto.

Tiga pekerjaan berjalan bersamaan:

Raka mencatat.

Siska mengarsipkan.

PDD mendokumentasikan.

Dan untuk pertama kalinya mereka benar-benar merasakan bagaimana seluruh program KKN saling terhubung.

 

Raka Mulai Memahami Makna Sejarah

Malam itu Raka kembali ke sekretariat.

Ia membuka semua catatan.

Dokumen.

Wawancara.

Foto.

Rekaman.

Ia menyusun semuanya.

Kemudian menulis:

“Sejarah Desa Awan Biru bukan satu cerita yang berdiri sendiri. Ia terdiri dari banyak suara yang datang dari berbagai generasi.”

Ia berhenti.

Kemudian melanjutkan:

“Ada cerita yang sama. Ada cerita yang berbeda. Ada pula nama yang hampir hilang dari ingatan. Namun semuanya adalah bagian dari perjalanan desa.”

Raka membaca ulang.

Ia merasa mulai menemukan arah.

Buku ini tidak harus membuat semua orang sepakat.

Buku ini harus membuat semua orang mengingat.

 

Raka dan Siska

Menjelang malam, hanya Raka dan Siska yang masih berada di kantor desa.

Siska sedang menyusun arsip.

Raka membaca catatan.

“Capek?” tanya Siska.

“Lumayan.”

“Menyesal mengambil program ini?”

Raka tersenyum.

“Tidak.”

“Padahal paling banyak menyita waktu.”

“Justru itu yang membuatnya berarti.”

Siska terdiam.

Kemudian berkata,

“Kamu tahu?”

“Apa?”

“Kalau nanti buku ini selesai, nama kamu akan ada di dalamnya.”

Raka menggeleng.

“Bukan nama saya yang penting.”

“Lalu?”

“Nama desa.”

Siska tersenyum.

“Kalau begitu, kamu salah.”

Raka menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena nama orang-orang yang membuatnya juga penting.”

Raka terdiam.

Siska melanjutkan,

“Termasuk kamu.”

Untuk beberapa detik Raka tidak mampu menjawab.

Siska kembali bekerja.

Seolah tidak mengatakan sesuatu yang istimewa.

Tetapi bagi Raka, kalimat itu tinggal lama.

 

Kalimat yang Membuat Raka Terdiam

Raka akhirnya berkata,

“Siska.”

“Ya?”

“Kalau suatu hari nanti kamu melihat buku ini lagi…”

Siska menoleh.

“Kenapa?”

“Kamu akan ingat saya?”

Siska tersenyum.

“Kenapa harus bertanya?”

Raka tertawa kecil.

“Tidak tahu.”

Siska menatapnya.

“Beberapa orang memang tidak perlu ditulis di buku untuk diingat.”

Raka terdiam.

Siska kembali menatap layar komputer.

Namun ia sendiri sebenarnya sedang menyembunyikan senyum.

 

Malam Semakin Larut

Pukul sepuluh malam.

Siska bersiap pulang.

“Kamu jangan terlalu malam.”

Raka mengangguk.

“Sebentar lagi.”

“Besok lanjut.”

“Iya.”

Siska berjalan menuju pintu.

Kemudian berhenti.

“Raka.”

“Ya?”

“Jangan lupa istirahat.”

Raka tersenyum.

“Kamu juga.”

Siska pergi.

Raka memandang pintu beberapa saat.

Kemudian kembali ke meja.

Ia membuka dokumen Buku Sejarah Desa Awan Biru.

Namun sebelum melanjutkan, ia menulis satu kalimat kecil di halaman catatannya:

“Ada nama yang belum boleh ditulis di buku ini, tetapi sudah mulai tertulis di hati.”

Raka segera menutup buku catatan itu.

Ia merasa kalimat tersebut terlalu pribadi.

Tetapi ia tidak menghapusnya.

 

Sejarah yang Belum Selesai

Hari ketiga belas berakhir tanpa sebuah kesimpulan final.

Justru semakin banyak pertanyaan muncul.

Siapa yang paling tepat menjadi sumber?

Kapan sebenarnya perubahan penting terjadi?

Siapa saja tokoh yang selama ini terlupakan?

Bagaimana menyatukan cerita masyarakat dengan dokumen resmi?

Dan bagaimana menyelesaikan semuanya sebelum empat puluh hari berakhir?

Raka tahu waktunya semakin sedikit.

Namun ia tidak lagi merasa terburu-buru.

Karena kini ia mengerti:

sejarah tidak boleh ditulis hanya untuk mengejar selesai.

Sejarah harus ditulis dengan kesabaran.

Dengan ketelitian.

Dengan penghormatan kepada orang-orang yang pernah menjadi bagian darinya.

Dan dengan keberanian untuk mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Sebab kadang-kadang, pengakuan bahwa sebuah sejarah belum selesai justru merupakan langkah pertama untuk menemukan kebenarannya.

Di luar kantor desa, malam Desa Awan Biru semakin sunyi.

Di dalam ruangan, komputer masih menyala.

Di layar terdapat dokumen:

BUKU SEJARAH DESA AWAN BIRU

Status: BELUM SELESAI.

Raka tersenyum.

Ia tahu masih banyak halaman yang harus ditulis.

Masih banyak orang yang harus ditemui.

Masih banyak cerita yang harus ditemukan.

Dan mungkin, tanpa disadarinya, ada satu cerita lain yang juga sedang ditulis oleh waktu.

Cerita tentang dirinya.

Cerita tentang Siska.

Cerita yang belum mereka berani beri judul.

Empat puluh hari terus berjalan.

Dan sejarah Desa Awan Biru belum selesai ditulis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XIV

HARI KETIKA PERASAAN MULAI TERBACA

Hari keempat belas.

Dua minggu.

Empat belas hari telah berlalu sejak mahasiswa KKN Universitas Harapan tiba di Desa Awan Biru.

Jika dihitung dari empat puluh hari masa pengabdian, mereka telah melewati sepertiga perjalanan.

Program-program mulai menunjukkan bentuk.

Digitalisasi administrasi desa mulai berjalan.

Perpustakaan mulai berubah menjadi ruang yang lebih hidup.

PDD telah mengumpulkan ratusan foto dan beberapa rekaman video.

Buku Sejarah Desa Awan Biru mulai memiliki kerangka yang semakin jelas.

Namun ada satu hal yang tidak tercatat dalam laporan program kerja.

Sesuatu yang tumbuh perlahan di antara kesibukan.

Sesuatu yang awalnya hanya berupa perhatian kecil.

Kemudian menjadi kebiasaan.

Lalu berubah menjadi rasa ingin bertemu.

Dan sekarang mulai terlihat oleh orang lain.

Perasaan Raka dan Siska.

Mereka belum pernah mengatakannya.

Belum pernah membuat pengakuan.

Tetapi ternyata perasaan tidak selalu membutuhkan kata-kata untuk terbaca.

Kadang-kadang cukup dari cara seseorang memandang.

Dari cara seseorang menunggu.

Atau dari cara seseorang tiba-tiba tersenyum ketika nama tertentu disebut.

 

Pagi yang Terlalu Cerah

Pagi itu seluruh mahasiswa berkumpul di sekretariat.

Raka sedang menjelaskan agenda kegiatan.

“Pukul sembilan kelompok perpustakaan ke balai desa.”

Evianti mencatat.

“Pukul sepuluh Theo ke kantor desa.”

Theo mengangguk.

“PDD ikut kegiatan?”

Agatha menjawab,

“Pasti.”

Raka kemudian melihat catatan.

“Setelah itu saya ke kantor desa untuk melanjutkan sejarah.”

Farida tiba-tiba mengangkat tangan.

“Dengan siapa?”

Raka menatapnya.

“Dengan siapa apanya?”

“Ke kantor desa.”

“Sendiri.”

Farida tersenyum.

“Yakin?”

Raka mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Jevin menahan tawa.

Agatha pura-pura sibuk dengan kameranya.

Sifa menoleh kepada Leni.

Mereka saling tersenyum.

Raka mulai curiga.

“Ada apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Theo hanya tersenyum kecil.

Raka menunjuknya.

“Kamu juga?”

Theo mengangkat kedua tangan.

“Aku tidak ikut campur.”

“Bagus.”

Raka kembali menjelaskan agenda.

Namun suasana sekretariat sudah dipenuhi senyum-senyum yang sulit disembunyikan.

 

Nama yang Terlalu Sering Disebut

Beberapa menit kemudian Raka kembali menyebut sesuatu.

“Untuk data administrasi, nanti koordinasikan dengan Siska.”

Farida langsung batuk kecil.

“Uhuk.”

Raka menoleh.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Raka melanjutkan.

“Kalau ada data yang kurang, tanyakan ke Siska.”

Farida kembali tersenyum.

Raka mulai sadar.

“Kenapa setiap saya menyebut nama Siska kalian tersenyum?”

Jevin menjawab santai,

“Karena kamu menyebut namanya terlalu sering.”

Semua tertawa.

Raka menggeleng.

“Dia memang operator desa.”

Farida menyahut,

“Tidak ada yang bilang bukan.”

“Lalu?”

“Tidak ada.”

Raka menghela napas.

“Sudah. Kerja.”

Namun pipinya mulai memerah.

 

Theo Memilih Diam

Setelah yang lain bubar, Theo masih berada di sekretariat.

Raka menghampirinya.

“Kamu tahu mereka sedang apa?”

Theo menatapnya.

“Menertawakanmu.”

“Kenapa?”

“Karena mereka melihat sesuatu.”

“Apa?”

Theo tersenyum.

“Kamu sendiri yang paling tahu.”

Raka duduk.

“Memangnya kelihatan?”

“Lumayan.”

Raka menunduk.

“Aku tidak pernah mengatakan apa-apa.”

“Tidak perlu.”

Theo membuka laptop.

“Kadang-kadang tindakan lebih jelas daripada ucapan.”

Raka terdiam.

Ia teringat banyak hal.

Kopi yang dibuat Siska.

Pesan-pesan singkat.

Perhatian kecil.

Percakapan mereka.

Dan terutama kalimat Siska malam sebelumnya:

“Beberapa orang memang tidak perlu ditulis di buku untuk diingat.”

Raka tersenyum tanpa sadar.

Theo melihat.

“Nah.”

Raka langsung sadar.

“Apa?”

“Tidak ada.”

 

Siska Mulai Menyadari

Di kantor desa, Siska sedang menyelesaikan pekerjaan administrasi.

Seorang perangkat desa masuk.

“Raka sudah datang?”

Siska menoleh.

“Belum.”

Kemudian ia tersadar.

Mengapa pertanyaan sederhana itu membuat dirinya otomatis melihat pintu?

Ia kembali menatap layar.

Beberapa menit kemudian suara langkah terdengar.

Raka muncul.

“Pagi.”

Siska tersenyum.

“Pagi.”

Entah kenapa, hari itu senyum mereka terlihat lebih lama.

Seorang perangkat desa yang berada tidak jauh dari mereka memperhatikan.

Ia tersenyum kecil.

“Kalau boleh tahu,” katanya bercanda, “hari ini kita kerja atau menunggu orang datang?”

Siska langsung salah tingkah.

Raka tertawa.

“Kita kerja, Pak.”

“Bagus.”

Perangkat desa itu kemudian pergi.

Siska menutup wajah sebentar.

“Malunya.”

Raka tertawa.

“Kenapa malu?”

“Karena dia mulai tahu.”

Raka terdiam.

“Mulai tahu apa?”

Siska menatapnya.

“Kamu tahu.”

Raka tidak menjawab.

 

Pertemuan yang Tidak Lagi Formal

Hari itu Raka dan Siska kembali bekerja menyusun sejarah desa.

Namun suasananya berbeda.

Mereka tidak lagi hanya membicarakan dokumen.

Sesekali muncul percakapan kecil.

“Kamu suka hujan?”

Siska bertanya tiba-tiba.

Raka mengangguk.

“Kenapa?”

“Tidak tahu. Kamu?”

“Suka.”

“Kenapa?”

“Karena membuat orang punya alasan untuk tinggal lebih lama.”

Raka menatapnya.

Siska langsung menyesal mengucapkan kalimat itu.

“Kamu mulai aneh,” kata Raka.

Siska tertawa.

“Belajar dari kamu.”

Mereka kembali bekerja.

Namun masing-masing menyimpan arti berbeda dari percakapan itu.

 

Satu Foto yang Membuka Rahasia

Siang hari Agatha datang ke kantor desa untuk mencari dokumentasi.

Ia melihat Raka dan Siska sedang berdiskusi.

Tidak ada yang istimewa.

Namun ketika Raka mengatakan sesuatu, Siska tertawa.

Agatha mengangkat kamera.

Klik.

Raka menoleh.

“Jangan foto.”

Agatha tersenyum.

“Kenapa?”

“Tidak siap.”

“Justru bagus kalau tidak siap.”

Siska tertawa.

Agatha melihat layar kamera.

Foto itu bagus.

Sangat natural.

Ia kemudian menyimpan kamera.

Tidak mengatakan apa-apa.

Namun dalam pikirannya ia tahu:

foto itu bukan sekadar dokumentasi pekerjaan.

Ada sesuatu di antara dua orang itu.

 

Ketika Teman Mulai Menggoda

Sore hari Agatha kembali ke sekretariat.

Farida sedang memilah foto.

Agatha menunjukkan satu gambar.

Farida langsung tertawa.

“Ini bagus!”

“Jangan macam-macam.”

“Kenapa?”

“Ini dokumentasi.”

Farida memperbesar gambar.

“Dokumentasi?”

“Iya.”

“Raka dan Siska?”

“Iya.”

“Kelihatannya seperti pasangan.”

Agatha mengambil kameranya.

“Jangan disebarkan.”

Farida tertawa.

“Aku cuma bilang kelihatannya.”

Jevin datang.

“Apa yang kalian lihat?”

Farida memperlihatkan.

Jevin langsung berseru,

“Wah!”

Agatha memberi isyarat agar diam.

“Jangan keras-keras.”

Namun sudah terlambat.

Raka masuk.

“Ada apa?”

Ketiganya langsung diam.

Raka curiga.

“Kenapa diam?”

Farida tersenyum.

“Tidak ada.”

Raka melihat Agatha.

“Kamu habis ambil foto?”

Agatha mengangguk.

“Foto apa?”

“Dokumentasi.”

“Di mana?”

“Kantor desa.”

Raka mulai curiga.

“Boleh lihat?”

Agatha ragu.

Farida tertawa.

“Sudah, kasih saja.”

Agatha menunjukkan layar.

Raka melihat foto dirinya bersama Siska.

Wajahnya langsung berubah.

“Ini...”

“Bagus kan?” tanya Farida.

Raka tidak menjawab.

Ia hanya mengembalikan kamera.

“Jangan disebar.”

Farida tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena itu foto pribadi.”

Agatha langsung menjawab,

“Justru kamu mengakui ada sesuatu.”

Raka terdiam.

Semua tertawa.

 

Pengakuan yang Tidak Sengaja

Raka akhirnya berkata,

“Ya sudah.”

Mereka semua diam.

Raka menarik napas.

“Saya memang nyaman dengan Siska.”

Suasana mendadak berubah.

Farida berhenti tertawa.

Jevin menatap Raka.

Agatha tersenyum.

Theo yang baru datang juga mendengar.

Raka melanjutkan,

“Tapi saya belum tahu apakah itu cinta.”

Theo tidak berkata apa-apa.

Raka menatap teman-temannya.

“Dan saya tidak mau memaksakan sesuatu hanya karena kita sedang KKN.”

Agatha mengangguk.

“Bagus.”

Farida tersenyum.

“Kami cuma bercanda.”

Raka mengangguk.

“Saya tahu.”

Kemudian ia berkata,

“Tapi kalau kalian melihat saya dekat dengan Siska, jangan jadikan dia bahan lelucon.”

Suasana menjadi serius.

“Dia bukan bagian dari permainan kita.”

Semua mengangguk.

Theo tersenyum tipis.

Ia tahu Raka benar-benar menghargai Siska.

 

Theo Memberikan Nasihat Kedua

Malam hari, Theo dan Raka kembali berbicara.

“Kamu tadi jujur.”

Raka mengangguk.

“Tidak sepenuhnya.”

“Cukup.”

Raka menatap langit.

“Aku takut.”

“Masih?”

“Masih.”

Theo berkata,

“Takut itu wajar.”

“Kalau aku salah?”

“Kamu akan tahu.”

“Kalau dia tidak merasakan hal yang sama?”

“Setidaknya kamu tidak memaksakan.”

Raka diam.

Theo kemudian berkata,

“Yang paling penting jangan membuat dia merasa berutang perasaan karena kamu mahasiswa KKN.”

Raka menatap Theo.

“Tidak akan.”

“Bagus.”

Raka tersenyum.

“Kamu cocok jadi penasihat.”

Theo tertawa.

“Aku cuma tidak mau kamu membuat masalah yang bisa mengganggu pengabdian.”

Raka mengangguk.

“Aku juga tidak mau.”

 

Siska Mendengar Sesuatu

Tanpa diketahui Raka, sore itu Siska sempat mendengar sebagian percakapan dari luar ruangan.

Ia tidak mendengar semuanya.

Namun satu kalimat terdengar jelas:

“Saya memang nyaman dengan Siska.”

Siska terdiam.

Ia tidak masuk.

Ia memilih kembali ke kantor desa.

Di perjalanan, pikirannya dipenuhi kalimat itu.

Nyaman.

Satu kata sederhana.

Tetapi cukup membuat hatinya berdebar.

Ia tidak tahu apakah Raka menyukai dirinya.

Ia juga tidak tahu apakah dirinya menyukai Raka.

Namun kini ia tahu satu hal:

kehadiran Raka sudah memiliki tempat tertentu dalam pikirannya.

 

Malam yang Penuh Pertanyaan

Siska duduk sendirian di kamarnya.

Ia membuka ponsel.

Ada pesan dari Raka.

Raka: Besok data sejarah yang kemarin sudah saya susun. Bisa dicek?

Siska mengetik:

Siska: Bisa.

Ia hampir mengirim.

Kemudian menambahkan:

Jangan lupa istirahat.

Ia berhenti.

Menghapus.

Menulis lagi.

Besok saja kita cek.

Kemudian mengirim.

Beberapa detik kemudian balasan masuk.

Raka: Baik. Selamat malam.

Siska tersenyum.

Ia meletakkan ponsel.

Namun beberapa saat kemudian mengambilnya lagi.

Membaca pesan itu sekali lagi.

Kemudian tertawa kecil kepada dirinya sendiri.

“Kenapa cuma selamat malam saja bikin senyum?”

 

Batas yang Harus Dijaga

Keesokan paginya Raka dan Siska kembali bertemu.

Mereka sama-sama tahu bahwa sesuatu telah berubah.

Tetapi tidak ada yang membicarakannya.

Raka tetap menjalankan tugas.

Siska tetap menjalankan pekerjaannya.

Mereka menjaga sikap di depan orang lain.

Karena mereka tahu satu hal:

pengabdian harus tetap menjadi tujuan utama.

Perasaan boleh tumbuh.

Tetapi jangan sampai mengganggu tanggung jawab.

Mereka belum tahu ke mana perasaan itu akan membawa mereka.

Namun untuk saat ini, mereka memilih membiarkannya berjalan perlahan.

Tanpa paksaan.

Tanpa janji.

Tanpa tuntutan.

 

Raka Menulis di Buku Catatannya

Malam itu Raka kembali menulis.

Bukan sejarah desa.

Bukan laporan KKN.

Melainkan catatan pribadi.

“Hari keempat belas.”

“Teman-teman mulai melihat sesuatu yang bahkan belum berani saya akui sepenuhnya.”

Ia berhenti.

Kemudian menulis:

“Siska bukan sekadar seseorang yang saya temui di kantor desa.”

Ia kembali berhenti.

“Tetapi saya belum tahu apakah perasaan ini akan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan atau sesuatu yang cukup disimpan sebagai bagian dari empat puluh hari pengabdian.”

Raka menutup buku.

Ia tahu jawabannya belum ada.

 

Empat Puluh Hari yang Semakin Pendek

Empat belas hari.

Dua minggu telah berlalu.

Dua puluh enam hari tersisa.

Dan kini mereka mulai memahami bahwa waktu bukan hanya menjadi ukuran keberhasilan program.

Waktu juga menjadi ukuran bagi sesuatu yang lebih pribadi.

Karena semakin sedikit hari yang tersisa, semakin sulit bagi Raka untuk berpura-pura bahwa Siska tidak berarti.

Namun ada satu hal yang belum ia ketahui:

Siska pun mulai merasakan hal yang sama.

Hanya saja, perempuan itu memilih menyimpannya lebih dalam.

Sebab Siska tahu—

Raka akan pergi.

Mahasiswa KKN akan kembali ke kampus.

Desa Awan Biru akan kembali seperti semula.

Dan mungkin setelah itu, kehidupan mereka akan berjalan ke arah masing-masing.

Mungkin.

Tetapi untuk saat ini, mereka masih memiliki dua puluh enam hari.

Dua puluh enam hari untuk bekerja.

Dua puluh enam hari untuk mengabdi.

Dua puluh enam hari untuk menyelesaikan sejarah desa.

Dua puluh enam hari untuk membangun sesuatu yang dapat diteruskan.

Dan entah berapa hari untuk memahami perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka.

Di kejauhan, kamera PDD kembali merekam aktivitas desa.

Theo memperbarui sistem.

Kelompok perpustakaan bekerja.

Raka menulis.

Siska mengarsipkan.

Semua tampak seperti pekerjaan biasa.

Namun sejak hari itu, tidak ada lagi yang benar-benar biasa.

Karena perasaan mulai terbaca.

Dan ketika sesuatu yang selama ini disembunyikan mulai terlihat oleh orang lain, pertanyaan berikutnya bukan lagi:

“Apakah mereka saling menyukai?”

Melainkan:

“Beranikah mereka mengakuinya sebelum waktu memisahkan mereka?”

Hari keempat belas pun berakhir.

Dan Desa Awan Biru menyimpan satu rahasia baru yang perlahan mulai diketahui banyak orang.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XV

EMPAT PULUH HARI SEMAKIN DEKAT

Hari kelima belas.

Setengah perjalanan belum tercapai, tetapi bagi para mahasiswa KKN Universitas Harapan, waktu tiba-tiba terasa bergerak jauh lebih cepat.

Lima belas hari.

Dari empat puluh hari.

Angka itu tertulis jelas di kalender yang tergantung di dinding sekretariat.

Raka berdiri di hadapannya cukup lama.

Ia menghitung dalam hati.

Empat puluh dikurangi lima belas.

Dua puluh lima hari.

Dua puluh lima hari lagi mereka akan meninggalkan Desa Awan Biru.

Dua puluh lima hari lagi kantor desa yang setiap pagi mereka datangi akan menjadi tempat yang hanya mereka ingat melalui foto.

Dua puluh lima hari lagi perpustakaan yang mereka tata akan mereka tinggalkan.

Dua puluh lima hari lagi Theo harus menyerahkan sistem yang selama ini dibangunnya.

Dan dua puluh lima hari lagi—

Raka harus meninggalkan seseorang.

Seseorang yang bahkan belum pernah benar-benar menjadi miliknya.

Siska Damayanti.

Raka menghela napas.

Ia segera mengalihkan pandangan dari kalender.

“Jangan mulai berpikir macam-macam.”

Namun pikirannya tidak mau berhenti.

 

Program yang Mulai Menunjukkan Hasil

Pagi itu seluruh kelompok melakukan evaluasi.

Raka memimpin rapat.

“Bagaimana perkembangan masing-masing?”

Theo membuka laptop.

“Digitalisasi administrasi sudah berjalan. Struktur arsip sudah dibuat. Sistem pencadangan juga sudah diperbaiki.”

“Perangkat desa?”

“Mulai terbiasa.”

Raka mengangguk.

“Perpustakaan?”

Evianti menjawab,

“Sudah jauh lebih rapi. Katalog buku hampir selesai.”

Sifa menambahkan,

“Anak-anak juga mulai rutin datang.”

“Bagus.”

Raka kemudian menoleh kepada Agatha.

“PDD?”

Agatha tersenyum.

“Dokumentasi sudah banyak. Kami sedang menyusun arsip berdasarkan kategori.”

Farida menambahkan,

“Dan kami mulai membuat video perjalanan KKN.”

Jevin mengangguk.

“Bukan cuma kegiatan mahasiswa, tetapi juga aktivitas warga.”

Raka tersenyum.

“Bagus.”

Kemudian ia membuka catatan.

“Sejarah desa?”

Semua melihatnya.

Raka menarik napas.

“Masih berjalan.”

Farida tertawa.

“Jawaban paling aman.”

Raka ikut tertawa.

“Memang belum selesai.”

Theo berkata,

“Yang penting sekarang sudah punya arah.”

Raka mengangguk.

“Betul.”

 

Keberhasilan yang Justru Menimbulkan Kesedihan

Setelah rapat selesai, mereka menyadari sesuatu.

Semua program mulai berhasil.

Perpustakaan semakin hidup.

Digitalisasi semakin teratur.

Dokumentasi semakin lengkap.

Sejarah desa mulai tersusun.

Namun keberhasilan itu justru membuat mereka semakin sadar bahwa waktu mereka terbatas.

Sifa berkata pelan,

“Kalau begini terus, rasanya sayang harus pulang.”

Evianti mengangguk.

“Iya.”

Fajar menatap ruangan perpustakaan.

“Padahal baru mulai terasa seperti milik kita.”

Leni tersenyum.

“Bukan milik kita.”

“Maksudnya?”

“Sudah menjadi milik desa.”

Kalimat itu membuat mereka diam.

Mereka mulai memahami arti pengabdian.

Mereka tidak datang untuk memiliki.

Mereka datang untuk membantu sesuatu tumbuh.

Dan ketika sesuatu itu sudah tumbuh, mereka harus siap meninggalkannya.

 

Theo dan Serah Terima yang Mulai Dipikirkan

Theo mulai membuat daftar.

SISTEM YANG HARUS DISERAHKAN

  1. Struktur arsip digital.
  2. Sistem pencadangan.
  3. Panduan pengelolaan data.
  4. Data perpustakaan digital.
  5. Arsip dokumentasi.
  6. Panduan penggunaan sistem.

Siska melihat daftar itu.

“Banyak.”

Theo mengangguk.

“Karena saya tidak mau setelah kami pulang sistemnya berhenti.”

Siska membaca satu per satu.

“Saya bisa lanjutkan bagian ini.”

Theo menatapnya.

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

“Tidak takut?”

“Takut.”

Theo tersenyum.

“Bagus.”

Siska heran.

“Kenapa bagus?”

“Karena orang yang merasa takut biasanya akan lebih berhati-hati.”

Siska tertawa.

“Berarti saya cocok jadi operator.”

Theo mengangguk.

“Bukan hanya cocok.”

Ia menatap Siska.

“Kamu sudah menjadi bagian penting dari sistem ini.”

Siska tersenyum.

Namun dalam hati ia sadar bahwa ketika mahasiswa KKN pergi, ia akan menjadi salah satu orang yang harus menjaga jejak mereka.

 

Perpustakaan yang Tidak Lagi Sepi

Di perpustakaan, perubahan semakin terasa.

Anak-anak mulai datang tanpa harus dipanggil.

Beberapa duduk membaca.

Sebagian memilih buku.

Ada yang bertanya kepada Evianti.

“Kak, boleh pinjam?”

“Boleh.”

“Dibawa pulang?”

“Iya, tapi dicatat dulu.”

Anak itu tersenyum.

Kelompok mahasiswa saling memandang.

Mereka bahagia.

Beberapa minggu sebelumnya ruangan itu hampir tidak memiliki aktivitas.

Kini suara anak-anak memenuhi ruangan.

Bagas berkata,

“Kalau kita pulang, mereka masih datang?”

Sifa menjawab,

“Harus.”

Fajar menambahkan,

“Karena perpustakaan ini bukan milik kita.”

Leni tersenyum.

“Berarti tugas kita membuat mereka tidak merasa kehilangan kita.”

Mereka kembali terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun sebenarnya sangat dalam.

 

PDD Membuat Film Perjalanan

Sementara itu, Agatha, Farida, dan Jevin mulai mengerjakan video dokumenter.

Mereka mengumpulkan semua rekaman.

Hari pertama.

Kedatangan.

Rapat.

Perpustakaan.

Digitalisasi.

Kegiatan masyarakat.

Anak-anak.

Warga.

Tokoh desa.

Dan berbagai aktivitas lainnya.

Farida melihat timeline video.

“Kalau dibuat sampai akhir, bisa panjang.”

Agatha mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa?”

“Karena ini bukan cuma laporan.”

Jevin bertanya,

“Lalu?”

Agatha menjawab,

“Ini kenangan.”

Mereka kemudian memilih satu judul sementara:

EMPAT PULUH HARI DI AWAN BIRU

Namun mereka belum tahu bahwa video itu kelak akan menjadi salah satu benda yang paling sulit ditonton tanpa menahan air mata.

 

Raka dan Siska Semakin Dekat

Sore hari Raka kembali ke kantor desa.

Siska sedang menginput data.

“Sudah selesai?”

“Belum.”

“Banyak?”

“Lumayan.”

Raka duduk di sampingnya.

“Aku bantu.”

Siska tersenyum.

“Boleh.”

Mereka bekerja berdampingan.

Tidak banyak bicara.

Tetapi keduanya sudah terbiasa dengan kehadiran masing-masing.

Beberapa menit kemudian Siska bertanya,

“Raka.”

“Ya?”

“Kalau KKN selesai, kamu akan kembali ke sini?”

Raka berhenti mengetik.

“Kenapa bertanya?”

“Tidak apa-apa.”

Raka menatapnya.

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Kalau ada kesempatan.”

Siska kembali melihat layar.

“Oh.”

Raka bertanya,

“Kamu ingin saya kembali?”

Siska diam.

Kemudian menjawab,

“Desa ini mungkin membutuhkan kalian.”

Raka tersenyum.

“Bukan itu yang saya tanyakan.”

Siska tidak menjawab.

 

Pertanyaan yang Menggantung

Raka menyadari bahwa ia hampir mendapatkan jawaban.

Namun ia tidak memaksa.

Siska tetap menatap layar.

Kemudian berkata,

“Kamu akan pulang.”

“Iya.”

“Kampusmu jauh.”

“Iya.”

“Kamu punya kehidupan di sana.”

“Iya.”

Siska tersenyum tipis.

“Jadi jangan membuat janji yang belum tentu bisa kamu tepati.”

Raka terdiam.

Kalimat itu terasa seperti peringatan.

Atau mungkin pertahanan diri.

Raka menjawab pelan,

“Aku tidak ingin membuat janji.”

Siska menoleh.

“Lalu?”

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa saya tidak akan mudah melupakan desa ini.”

Siska tersenyum.

“Bagus.”

Raka menatapnya.

“Dan mungkin…”

Siska menunggu.

Raka berhenti.

“Tidak jadi.”

Siska tertawa.

“Kamu memang selalu begitu.”

 

Raka Mulai Takut Kehilangan

Malam itu Raka duduk sendirian.

Ia membuka buku catatan.

Tidak menulis sejarah.

Tidak menulis laporan.

Ia hanya memandang halaman kosong.

Ia mencoba membayangkan hari terakhir.

Bus datang.

Barang dimasukkan.

Teman-temannya naik.

Theo mungkin sibuk memastikan semua sistem sudah diserahkan.

Agatha dan tim PDD sibuk dengan dokumentasi terakhir.

Kelompok perpustakaan melakukan perpisahan.

Raka sendiri berdiri di depan kantor desa.

Dan Siska ada di sana.

Apa yang akan terjadi?

Apakah mereka akan berjabat tangan?

Apakah Siska akan tersenyum?

Apakah mereka akan mengatakan sesuatu?

Atau justru tidak mengatakan apa-apa?

Raka menutup buku.

Ia tidak ingin memikirkan hari itu.

Belum.

Namun waktu tidak mau menunggu.

 

Siska Juga Menghitung Hari

Di rumah, Siska membuka kalender.

Ia melihat tanggal.

Hari kelima belas.

Dua puluh lima hari lagi.

Ia menghela napas.

“Cepat sekali.”

Siska sebenarnya tidak ingin mengakuinya.

Namun sejak mahasiswa KKN datang, hari-harinya berubah.

Kantor desa yang biasanya terasa biasa menjadi tempat yang lebih ramai.

Pekerjaan terasa lebih banyak.

Tetapi juga lebih menyenangkan.

Dan ada satu orang yang kini selalu ia cari tanpa sadar.

Ketika Raka belum datang, ia melihat pintu.

Ketika Raka datang, ia tersenyum.

Ketika Raka pulang, ia menyadari suasana kantor terasa berbeda.

Siska memejamkan mata.

Ia tahu.

Ia mulai menyukai Raka.

Tetapi ia juga tahu bahwa menyukai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya.

 

Sebuah Kegiatan yang Mengubah Suasana

Beberapa hari kemudian, pemerintah desa mengadakan kegiatan bersama masyarakat.

Mahasiswa KKN terlibat.

Perpustakaan membuka kegiatan literasi.

PDD mendokumentasikan.

Theo membantu data kegiatan.

Raka mengoordinasikan mahasiswa.

Siska mengurus administrasi.

Desa terasa hidup.

Anak-anak berlari.

Orang tua berbincang.

Mahasiswa bekerja.

Perangkat desa sibuk.

Agatha mengambil foto.

Jevin merekam video.

Raka berdiri di tengah kegiatan.

Ia melihat semuanya.

Kemudian menyadari:

Inilah yang sebenarnya mereka bangun.

Bukan sekadar program.

Tetapi hubungan antara mahasiswa dan masyarakat.

 

Foto Bersama

Menjelang sore, Agatha mengumpulkan semua mahasiswa.

“Ayo foto!”

Semua berkumpul.

Raka berdiri di tengah.

Theo di sampingnya.

Evianti, Sifa, Bagas, Leni, Fajar, Agatha, Farida, dan Jevin berdiri bersama.

Siska berada di sisi lain bersama perangkat desa.

Agatha mengatur kamera.

“Semua lihat sini!”

Kamera mengambil gambar.

Klik.

Satu foto.

Semua tersenyum.

Tidak ada yang tahu bahwa kelak foto itu akan menjadi salah satu kenangan paling berharga.

 

Raka dan Siska dalam Satu Bingkai

Setelah foto kelompok, Agatha berkata,

“Sekarang perangkat desa dan mahasiswa.”

Semua kembali berdiri.

Kemudian Farida berseru,

“Raka, sebelah Siska!”

Raka menoleh.

Siska juga.

Mereka saling pandang.

Kemudian berdiri berdampingan.

Kamera kembali berbunyi.

Klik.

Satu foto.

Tidak ada yang istimewa.

Tetapi ketika Agatha melihat hasilnya, ia tersenyum.

Raka dan Siska berdiri tidak terlalu dekat.

Namun cukup dekat untuk terlihat bahwa keduanya nyaman.

Agatha menyimpan foto itu.

Tanpa komentar.

 

Malam Refleksi Kelompok

Malam itu Raka mengajak semua mahasiswa berbicara.

“Sudah lima belas hari.”

Semua diam.

“Kita sudah melewati banyak hal.”

Theo tersenyum.

“Termasuk hampir kehilangan data.”

Semua tertawa.

Raka melanjutkan,

“Program kita mulai berjalan. Tapi jangan merasa selesai.”

Ia memandang semua anggota.

“Justru sekarang kita harus mulai memikirkan bagaimana semuanya tetap hidup setelah kita pergi.”

Evianti mengangguk.

“Perpustakaan harus diteruskan.”

Theo berkata,

“Digitalisasi harus diteruskan.”

Agatha menambahkan,

“Dokumentasi harus terus diperbarui.”

Raka berkata,

“Dan sejarah desa harus selesai.”

Semua mengangguk.

Kemudian Raka menatap mereka.

“Yang paling penting, jangan sampai masyarakat hanya mengenal kita sebagai mahasiswa yang pernah datang.”

Ia berhenti.

“Buat mereka mengingat manfaat yang pernah kita tinggalkan.”

 

Pengabdian yang Mulai Terasa

Malam semakin larut.

Namun tidak ada yang langsung beranjak.

Sifa berkata,

“Awalnya saya pikir KKN hanya soal program.”

Leni menambahkan,

“Ternyata bukan.”

“Lalu apa?”

Leni tersenyum.

“Belajar meninggalkan sesuatu tanpa harus memilikinya.”

Theo mengangguk.

“Itu inti pengabdian.”

Raka memandang teman-temannya.

Ia bangga.

Lima belas hari lalu mereka datang sebagai mahasiswa.

Kini mereka mulai memahami arti menjadi bagian dari masyarakat.

 

Dua Puluh Lima Hari

Malam itu, sebelum tidur, Raka kembali melihat kalender.

Hari ke-15.

Ia menulis besar-besar:

25 HARI LAGI

Kemudian ia menatap tulisan itu.

Dulu angka empat puluh terasa sangat panjang.

Sekarang dua puluh lima terasa terlalu pendek.

Ia menutup kalender.

Namun sebelum pergi, ia melihat satu nama yang tertulis di catatan kecilnya:

Siska Damayanti.

Raka tersenyum.

Kemudian berbisik,

“Belum sekarang.”

Ia belum akan mengatakan apa pun.

Belum.

Masih ada program yang harus diselesaikan.

Masih ada sejarah yang harus ditulis.

Masih ada sistem yang harus disempurnakan.

Masih ada perpustakaan yang harus dipastikan dapat berjalan.

Masih ada dokumentasi yang harus dikumpulkan.

Dan masih ada dua puluh lima hari.

Tetapi jauh di dalam hatinya, Raka mulai menyadari satu hal:

Semakin dekat hari kepulangan, semakin sulit ia membayangkan Desa Awan Biru tanpa Siska.

 

Hari-Hari yang Mulai Dihitung

Di tempat lain, Siska juga menatap kalender.

Ia tidak menulis apa-apa.

Hanya memandang tanggal.

Kemudian berkata dalam hati:

“Ternyata empat puluh hari memang terlalu singkat untuk sebuah pertemuan yang meninggalkan begitu banyak cerita.”

Ia mematikan lampu.

Hari kelima belas selesai.

Program berjalan.

Persahabatan semakin kuat.

Desa semakin berubah.

Dan perasaan Raka dan Siska semakin sulit disembunyikan.

Namun keduanya belum tahu bahwa hari-hari berikutnya akan membawa mereka kepada ujian yang lebih berat.

Karena keberhasilan program bukan berarti perjalanan menjadi lebih mudah.

Justru ketika semua mulai berjalan baik, mereka akan dihadapkan pada pertanyaan terbesar:

Apa yang akan tetap hidup setelah mahasiswa KKN pergi?

Dan untuk Raka serta Siska, pertanyaan itu akan menjadi jauh lebih pribadi:

Apa yang akan tetap hidup setelah empat puluh hari berakhir?

Jawabannya belum ada.

Tetapi waktunya semakin dekat.

Dua puluh lima hari lagi.

 

 

 

 

 

 

 

BAB XVI

KONFLIK DI TENGAH JALAN

Hari kedelapan belas.

Pagi di Desa Awan Biru datang seperti biasanya. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika para mahasiswa KKN Universitas Harapan mulai beraktivitas. Dari dapur sekretariat terdengar suara peralatan makan. Beberapa mahasiswa bersiap menuju kantor desa. Sebagian lainnya sudah merencanakan kegiatan di perpustakaan.

Secara kasatmata, semuanya berjalan baik.

Program digitalisasi mulai digunakan. Perpustakaan semakin ramai. Dokumentasi PDD semakin lengkap. Buku Sejarah Desa Awan Biru mulai mendekati bentuk akhir.

Namun di balik perkembangan itu, mulai muncul persoalan yang selama ini belum benar-benar mereka hadapi.

Semakin besar program yang mereka bangun, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya.

Dan pada hari kedelapan belas, persoalan itu mulai muncul satu demi satu.

 

Pagi yang Tidak Biasa

Theo tiba di kantor desa lebih awal. Ia langsung membuka komputer. Namun beberapa saat kemudian dahinya berkerut.

"Kenapa?" Siska yang sedang menyusun dokumen menoleh.

Theo tidak menjawab. Ia mencoba membuka salah satu folder arsip. Tidak bisa. Ia mencoba folder lain. Bisa. Kemudian folder lain. Tidak bisa lagi.

"Sebentar." Theo mulai memeriksa sistem.

Siska mendekat. "Ada masalah?"

"Beberapa file tidak bisa dibuka."

"Rusak?"

"Belum tentu."

Theo memeriksa ukuran file. Sebagian masih normal. Sebagian lainnya menunjukkan ukuran yang tidak sesuai. Ia membuka folder pencadangan. Kondisinya sama.

Theo menarik napas panjang. "Ini aneh."

Siska mulai cemas. "Apakah datanya hilang?"

"Belum." Theo menatap layar. "Tapi kalau kita tidak tahu penyebabnya, bisa lebih buruk."

Ia menutup laptop. Kemudian membukanya lagi. Mencoba lagi. Hasilnya sama.

"Kenapa?" tanya Siska.

"Aku tidak tahu."

Itu adalah pertama kalinya Siska mendengar Theo mengakui ketidakmampuannya. Selama ini Theo selalu punya jawaban. Selalu punya solusi. Tapi kali ini, ia hanya duduk diam di depan komputer dengan wajah tegang.

 

Raka Datang

Kabar itu akhirnya diketahui Raka. Ia datang ke kantor desa bersama beberapa anggota kelompok.

"Apa yang terjadi?" tanyanya.

Theo menjelaskan. "Beberapa arsip digital bermasalah."

"Data penting?"

"Sebagian."

Raka langsung serius. "Bisa diperbaiki?"

"Harusnya bisa."

"Harusnya?" Raka mengerutkan kening.

Theo menatapnya. "Karena saya belum tahu sumber masalahnya."

Raka tidak menyalahkan. Ia justru berkata, "Kalau butuh bantuan, bilang."

Theo mengangguk. Namun wajahnya menunjukkan bahwa ia merasa persoalan itu adalah tanggung jawabnya. Selama ini Theo selalu menjadi orang yang paling yakin terhadap sistem. Kini untuk pertama kalinya ia menghadapi sesuatu yang tidak dapat ia kendalikan sepenuhnya.

"Jangan cemas," kata Raka. "Kita cari tahu dulu."

Bagas yang ikut datang bertanya, "Ini bukan masalah dari sistem yang kemarin hampir hilang?"

Theo menggeleng. "Bedanya. Yang kemarin kesalahan penyimpanan. Ini... aku tidak tahu."

Bagas bersiul pelan. "Kalau Theo tidak tahu, berarti serius."

Agatha menatap Theo. "Kamu baik-baik saja?"

Theo tersenyum pahit. "Tidak. Tapi aku harus tetap bekerja."

 

Siska Tetap Bertahan

Siska duduk di samping Theo. "Aku bantu cek arsip manual."

Theo menoleh. "Kamu tidak harus."

"Aku operator desa."

"Justru karena itu."

Siska tersenyum. "Kalau nanti kalian pulang, saya yang akan mengurusnya. Jadi mulai sekarang saya harus belajar."

Theo akhirnya tersenyum. "Baik."

Mereka bekerja bersama. Satu memeriksa data digital. Satu memeriksa arsip fisik.

Raka melihat dari kejauhan. Ia menyadari sesuatu. Theo bukan hanya sedang mengajarkan teknologi kepada desa. Ia sedang membangun orang yang akan meneruskan pekerjaannya. Dan Siska adalah salah satu orang yang dipilih keadaan untuk memegang tanggung jawab itu.

"Raka," panggil Siska.

"Ya?"

"Bantu cari dokumen tahun 2023 di lemari belakang."

Raka tersenyum. "Siap."

Ia berjalan ke lemari arsip. Ketika membukanya, ia menemukan beberapa map yang sudah berdebu. Ia membersihkannya.

Siska mendekat. "Ada?"

"Ada. Tapi banyak."

"Sabar. Kita kerjakan satu per satu."

 

Bagas Meledak

Sore itu, di perpustakaan, suasana mulai memanas.

Kelompok perpustakaan telah menyusun sistem peminjaman dan katalog buku. Namun beberapa buku yang tercatat dalam daftar ternyata tidak ditemukan.

Bagas memeriksa rak. "Di sini tidak ada."

Fajar mencari di rak lain. "Di sini juga tidak."

Sifa membuka catatan lama. "Menurut data lama, buku ini masih ada."

Leni menghela napas. "Berarti datanya yang tidak sesuai."

Bagas membanting buku ke meja. "Ini sudah yang kesekian kalinya!"

Semua menatapnya.

"Aku capek," kata Bagas. "Kita sudah bekerja berhari-hari. Tapi setiap kali kita pikir selesai, muncul masalah baru."

Evianti mencoba menenangkan. "Bagas—"

"Jangan, Ev." Bagas mengangkat tangan. "Aku tahu kita harus sabar. Tapi ini terlalu banyak. Data hilang. Buku tidak sesuai. Sistem bermasalah. Kapan selesainya?"

Fajar berkata, "Kita tidak bisa selesai dalam satu hari."

"Justru itu! Kita tidak punya banyak hari. Dan kalian semua..." Bagas menunjuk ke arah umum, "kalian sibuk dengan urusan masing-masing. Theo dengan sistemnya. Raka dengan Siska. PDD dengan kameranya. Siapa yang benar-benar peduli dengan perpustakaan?"

Keheningan menyelimuti ruangan.

Evianti akhirnya berkata, "Aku peduli."

Bagas menatapnya.

"Kita semua peduli," lanjut Evianti. "Tapi kita tidak bisa menyelesaikan semuanya sekaligus. Kita harus memilih prioritas."

Bagas tertawa pahit. "Prioritas. Kata-kata itu selalu dipakai ketika seseorang tidak mau mengakui bahwa mereka kewalahan."

"Bagas—"

"Maaf." Bagas mengambil jaketnya. "Aku butuh udara."

Ia keluar. Pintu perpustakaan tertutup dengan agak keras.

Sifa menatap pintu. "Apakah dia—"

"Dia hanya lelah," kata Fajar. "Kita semua lelah."

Evianti duduk. Ia memijat kepalanya. "Dia benar."

Leni menatapnya. "Benar tentang apa?"

"Kita kewalahan. Dan kita tidak mau mengakuinya."

 

Bagas Ditemukan

Raka mendengar kabar itu dari Evianti. Ia segera mencari Bagas.

Ia menemukannya duduk di bawah pohon dekat lapangan desa. Bagas menatap langit. Wajahnya datar.

"Bagas."

Bagas tidak menoleh. "Kau datang untuk menenangkanku?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku datang untuk mendengar."

Bagas akhirnya menatap Raka. "Dengar apa?"

"Semua yang ingin kau katakan."

Bagas terdiam. Kemudian ia berkata, "Aku capek, Rak."

"Aku tahu."

"Bukan hanya capek fisik. Capek hati." Bagas menunjuk ke arah perpustakaan. "Kita datang ke sini untuk membantu. Tapi rasanya kita seperti sedang memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain."

Raka duduk di sampingnya.

Bagas melanjutkan, "Dan aku benci melihat kalian semua. Theo yang sibuk dengan sistemnya. Kau yang sibuk dengan Siska. PDD yang sibuk dengan kameranya. Sementara aku, Fajar, Leni, Sifa, dan Evianti—kita berlima yang setiap hari mengurus perpustakaan."

"Kalian melakukan pekerjaan terberat."

"Kami hanya melakukan apa yang harus dilakukan." Bagas menatap Raka. "Tapi kadang aku bertanya: apakah kalian melihat kami?"

Raka terdiam.

Bagas melanjutkan, "Aku tahu kau ketua. Aku tahu kau punya banyak tanggung jawab. Tapi kadang... kadang aku merasa kami hanya pelengkap."

Raka menatap sahabatnya. "Bagas, maaf."

Bagas menggeleng. "Maaf tidak mengubah apa pun."

"Aku tahu. Tapi aku akan mencoba mengubah caraku."

Bagas menatapnya. "Kamu serius?"

"Aku serius."

Bagas menghela napas. "Baik. Aku akan kembali. Tapi aku belum memaafkan."

"Aku tidak memintamu memaafkan sekarang."

 

Rapat Darurat

Sore hari, seluruh anggota kelompok berkumpul. Raka membuka rapat.

"Ada masalah di digitalisasi dan perpustakaan." Ia menatap semua orang. "Tapi masalah terbesar bukan data atau buku."

Semua memperhatikan.

"Masalah terbesar adalah kita tidak saling melihat."

Keheningan.

Raka melanjutkan, "Kita terlalu sibuk dengan program masing-masing sampai lupa bahwa kita satu tim."

Theo mengangguk. "Aku salah."

Evianti menatapnya. "Kamu?"

Theo menjawab, "Aku terlalu fokus pada sistem. Aku lupa bahwa sistem tidak akan berarti tanpa orang yang menjalankannya."

Bagas yang duduk di sudut berkata, "Aku juga salah. Aku marah tanpa menyampaikannya dengan baik."

Agatha menambahkan, "Kami PDD juga terlalu sibuk dengan kamera sampai lupa bahwa dokumentasi adalah tentang manusia."

Raka mengangguk. "Jadi mulai sekarang, kita kerja sama. Benar-benar kerja sama."

Fajar bertanya, "Bagaimana caranya?"

Raka menjawab, "Kita mulai dengan mendengar. Setiap hari, kita duduk bersama. Bukan untuk rapat. Tapi untuk bicara."

Sifa tersenyum. "Itu ide bagus."

 

Raka dan Bagas Berdamai

Malam itu, Raka dan Bagas duduk di teras sekretariat.

Bagas berkata, "Aku minta maaf karena meledak tadi."

Raka menggeleng. "Kau berhak."

"Tapi aku tidak seharusnya membentak Evianti."

Raka tersenyum. "Dia sudah memaafkan."

Bagas menatapnya. "Kau benar-benar tidak marah padaku?"

"Aku tidak marah. Aku kecewa—bukan padamu, tapi pada diriku sendiri."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak melihat. Seharusnya aku tahu kalian kelelahan."

Bagas tersenyum tipis. "Kita sama-sama salah."

Raka mengangguk. "Ya. Tapi sekarang kita bisa memperbaikinya."

 

Raka Mulai Tertekan

Namun malam itu, setelah semua orang pulang, Raka duduk sendirian di ruang sekretariat.

Ia membuka daftar program. Semua terlihat belum sempurna. Digitalisasi belum selesai. Perpustakaan masih membutuhkan pembenahan. Dokumentasi belum seluruhnya tertata. Buku sejarah belum selesai.

Dan waktu terus berjalan.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Theo datang. "Masih di sini?"

Raka mengangguk. "Banyak yang belum selesai."

Theo duduk di sampingnya. "Kita memang tidak akan menyelesaikan semuanya."

Raka menoleh. "Apa maksudmu?"

Theo tersenyum. "Yang harus kita selesaikan adalah hal yang memungkinkan mereka melanjutkannya."

Raka diam.

Theo melanjutkan, "Kalau kita membuat sistem terlalu rumit hanya supaya terlihat hebat, setelah kita pergi tidak akan ada yang menggunakan."

Raka mengangguk perlahan. "Berarti kita harus menyederhanakan."

"Bukan mengurangi." Theo menatapnya. "Memprioritaskan."

Raka menghela napas. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana."

Theo menepuk bahunya. "Mulai dari yang paling penting."

"Apa yang paling penting?"

Theo berpikir. "Manusia."

Raka menatapnya.

Theo melanjutkan, "Sistem bisa diperbaiki. Buku bisa ditata ulang. Dokumentasi bisa dibuat lagi. Tapi kalau kita kehilangan kepercayaan masyarakat, kita kehilangan segalanya."

Raka tersenyum. "Kau benar."

"Aku selalu benar."

Raka tertawa. "Sombong."

Theo tersenyum. "Sudah. Istirahat. Besok kita mulai lagi."

 

Hari Kesembilan Belas: Rapat dengan Perangkat Desa

Raka mengadakan rapat dengan perangkat desa. Ia menyampaikan persoalan yang ditemukan.

Salah seorang perangkat desa, Pak Karto, berkata, "Kalau semua data harus dimasukkan seperti itu, kami takut nanti malah kesulitan."

Theo terdiam.

Raka melihatnya. Kemudian berkata, "Baik. Bagian mana yang paling sulit?"

Pak Karto menjelaskan. "Penamaan file. Terlalu banyak aturan."

Theo mencatat. Ia tidak membantah. Ia tidak mempertahankan sistemnya. Ia mulai mengubah pendekatan.

"Kalau begitu," kata Theo, "kita sederhanakan."

Pak Karto terkejut. "Kamu mau mengubah sistemmu?"

Theo mengangguk. "Sistem harus mengikuti penggunanya. Bukan sebaliknya."

Pak Karto menatap Theo lama. Kemudian tersenyum. "Kamu berbeda."

"Apa bedanya, Pak?"

"Kamu mau mendengar."

Theo tersenyum. "Saya belajar dari Bapak."

 

Theo Belajar Merendahkan Sistem

Sore itu Theo berkata kepada Siska, "Saya salah."

Siska menatapnya. "Salah apa?"

"Saya membuat sistem berdasarkan cara saya berpikir."

"Bukankah itu memang tugasmu?"

"Bukan." Theo tersenyum. "Seharusnya saya membuat sistem berdasarkan cara kalian bekerja."

Siska terdiam. Kemudian berkata, "Itu sebabnya saya suka bekerja denganmu."

Theo tertawa. "Karena saya mau mengakui kesalahan?"

"Karena kamu mau belajar."

Kalimat itu membuat Theo tersenyum.

 

Raka dan Siska: Percakapan Malam

Hubungan Raka dan Siska mulai terasa berbeda. Bukan karena mereka sering berbicara. Justru karena kini mereka mulai berhati-hati.

Setelah percakapan pada hari-hari sebelumnya, keduanya sadar bahwa perasaan mereka mulai tumbuh. Tetapi pekerjaan semakin berat.

Sore itu Raka datang ke kantor desa. Siska sedang memeriksa arsip.

"Masih bekerja?" tanya Raka.

Siska mengangguk. "Banyak yang harus diselesaikan."

Raka duduk. "Kamu tidak lelah?"

"Lelah."

"Kenapa tidak istirahat?"

Siska menatapnya. "Kalau saya istirahat, siapa yang mengurus?"

Raka tersenyum. "Kalau begitu saya bantu."

Siska menggeser beberapa berkas. "Silakan."

Mereka bekerja berdampingan. Hening.

Kemudian Siska berkata, "Raka."

"Ya?"

"Jangan terlalu memaksakan diri."

Raka tersenyum. "Kamu juga."

"Aku serius."

"Aku juga."

Siska akhirnya tertawa. "Kalau begitu kita sama-sama keras kepala."

 

Pertanyaan yang Tidak Dijawab

Siska tiba-tiba bertanya, "Setelah ini kamu mau apa?"

Raka berhenti. "Setelah KKN?"

"Iya."

"Kembali ke kampus."

"Setelah lulus?"

Raka berpikir. "Belum tahu."

Siska mengangguk. "Kalau saya?"

Raka menatapnya. "Kamu mau apa?"

"Entahlah." Siska tersenyum. "Mungkin tetap di sini."

Raka terdiam. "Berarti kamu akan tetap di Awan Biru?"

"Untuk sementara."

Raka mengangguk. Ia tahu pertanyaan sebenarnya bukan tentang pekerjaan. Mereka sedang berbicara tentang masa depan.

"Siska," panggil Raka.

"Ya?"

"Kalau—" Ia berhenti.

Siska menatapnya. "Kalau apa?"

Raka tersenyum tipis. "Tidak jadi."

Siska menghela napas. "Kamu memang selalu begitu."

"Begitu bagaimana?"

"Mau mengatakan sesuatu, lalu berhenti."

Raka tertawa kecil. "Karena aku takut."

"Takut apa?"

Raka menatapnya. "Takut bahwa jika aku mengatakannya, semuanya akan berubah."

Siska diam. Kemudian menjawab pelan, "Mungkin perubahan bukan selalu hal buruk."

Raka menatapnya. "Kamu benar."

"Aku sering benar."

Raka tertawa. Kali ini lebih riang.

 

Hari Kedua Puluh: Pak Karto dan Terobosan

Masalah data akhirnya menemukan sumber. Bukan kerusakan sistem besar. Melainkan kesalahan dalam proses pemindahan beberapa file dan tidak konsistennya struktur penyimpanan lama.

Theo memperbaikinya. Ia juga membuat prosedur sederhana: Simpan — Periksa — Cadangkan. Tiga langkah. Tidak rumit. Tetapi harus dilakukan terus-menerus.

Siska menuliskannya di dekat komputer.

Pak Karto yang melihat bertanya, "Hanya tiga langkah?"

Theo mengangguk. "Hanya tiga."

"Berarti tidak ribet?"

"Tidak ribet, Pak."

Pak Karto mendekat. "Ajar saya."

Theo terkejut. "Sekarang, Pak?"

"Sekarang."

Theo mengajari Pak Karto. Perlahan. Satu langkah demi satu langkah.

Setelah selesai, Pak Karto berkata, "Ternyata mudah."

"Memang mudah, Pak."

"Kenapa dulu saya tidak mau belajar?"

Theo tersenyum. "Karena Bapak belum menemukan guru yang tepat."

Pak Karto menatapnya. "Kamu guru yang baik, Theo."

Theo tidak menjawab. Tapi matanya berbinar.

 

Perpustakaan Menemukan Jalannya

Di perpustakaan, persoalan katalog juga mulai teratasi.

Mereka tidak lagi mengejar kesempurnaan. Buku yang benar-benar tersedia didata terlebih dahulu. Data lama diperiksa secara bertahap. Sistem peminjaman dibuat sederhana.

Anak-anak tetap dapat membaca tanpa harus berhadapan dengan aturan yang terlalu rumit.

Evianti melihat seorang anak meminjam buku. "Namanya siapa?"

"Rian."

"Buku apa?"

Anak itu mengangkat buku. "Cerita rakyat."

Evianti tersenyum. "Jangan lupa dikembalikan."

"Besok."

"Baik."

Sifa melihat pemandangan itu. "Sekarang kita tahu."

"Tahu apa?"

"Yang penting bukan berapa banyak buku yang kita data."

"Lalu?"

"Berapa banyak anak yang mulai membaca."

Evianti mengangguk. "Itu yang membuat semua kerja keras ini berarti."

 

Hari Ke-21: Rapat yang Mengubah Arah

Pada hari kedua puluh satu, Raka kembali mengumpulkan seluruh kelompok.

Ia menulis tiga kata di papan:

SELESAI — BERMANFAAT — BERLANJUT

"Mana yang paling penting?" tanyanya.

Bagas menjawab, "Bermanfaat."

Evianti berkata, "Berlanjut."

Theo mengangguk. "Berlanjut."

Agatha tersenyum. "Kalau bisa, ketiganya."

Raka tertawa. "Benar."

Kemudian ia menjelaskan keputusan baru. Mulai saat itu, mereka tidak lagi mengejar sebanyak mungkin kegiatan. Mereka akan memusatkan energi pada program yang benar-benar bisa diwariskan.

Theo: Digitalisasi yang sederhana dan berkelanjutan.
Evianti, Sifa, Bagas, Leni, Fajar: Perpustakaan yang dapat dikelola masyarakat.
Agatha, Farida, Jevin: Arsip dokumentasi yang terstruktur.
Raka: Buku Sejarah Desa Awan Biru.

Dan semuanya harus terhubung.

 

Bagas Minta Maaf pada Evianti

Setelah rapat, Bagas mendekati Evianti.

"Ev."

Evianti menoleh. "Ya?"

"Maaf karena membentakmu kemarin."

Evianti tersenyum. "Sudah saya lupakan."

"Tapi aku belum." Bagas menatapnya. "Aku seharusnya tidak meledak seperti itu. Terutama padamu."

Evianti menggeleng. "Kami semua lelah. Itu wajar."

"Tapi—"

"Bagas." Evianti menatapnya. "Aku memaafkanmu. Tapi jangan ulangi."

Bagas mengangguk. "Janji."

Mereka berjabat tangan. Sifa yang melihat dari kejauhan tersenyum.

 

Mereka Mulai Mengerti Arti "Meninggalkan"

Rapat hampir selesai. Raka berkata, "Kita sering berpikir pengabdian berarti memberikan sesuatu."

Semua mendengarkan.

"Tapi mungkin yang lebih penting adalah membuat sesuatu yang kita berikan bisa terus digunakan setelah kita tidak ada."

Theo mengangguk. "Kalau begitu kita harus mulai mengurangi ketergantungan desa kepada kita."

Kalimat itu membuat semua diam. Karena selama ini mereka justru merasa senang ketika masyarakat membutuhkan mereka.

Sekarang mereka memahami sesuatu yang lebih dewasa: Keberhasilan pengabdian adalah ketika masyarakat tidak lagi bergantung kepada orang yang datang untuk membantu.

 

Siska Mendengar dari Pintu

Tanpa diketahui mahasiswa, Siska berdiri di luar ruangan. Ia mendengar kalimat terakhir Raka. Ia tersenyum.

Karena ia tahu, sebentar lagi mahasiswa itu akan pulang. Tetapi ia juga tahu bahwa desa ini tidak boleh berhenti hanya karena mereka pergi.

Dan mungkin itulah bentuk pengabdian yang sesungguhnya.

 

Malam Ke-21

Malam itu Raka keluar dari sekretariat. Langit Awan Biru penuh bintang.

Theo menyusul. "Sudah lebih tenang?"

Raka mengangguk. "Sedikit."

"Masih memikirkan Siska?"

Raka tertawa. "Kamu ini."

Theo tersenyum. "Serius."

Raka terdiam sejenak. "Iya."

Theo menepuk bahunya. "Jangan sampai perasaan membuatmu lupa pada tujuan."

Raka mengangguk. "Tidak."

Kemudian ia menatap kantor desa. Lampunya masih menyala. Mungkin Siska masih bekerja.

Raka tersenyum. "Justru dia membuat saya semakin ingin menyelesaikan semuanya dengan baik."

Theo tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

 

Bagas Bergabung Kembali

Di sudut lain, Bagas duduk bersama Fajar dan Leni.

"Kita harus selesaikan perpustakaan," kata Bagas.

Fajar mengangguk. "Kita bisa."

Leni tersenyum. "Kita akan."

Bagas menatap mereka. "Maaf karena meninggalkan kalian."

Fajar menggeleng. "Kau kembali. Itu yang penting."

Bagas mengangguk. "Aku berjanji tidak akan meledak lagi."

Leni tertawa. "Kami akan mengingatkan."

 

Empat Puluh Hari Masih Jauh, Tetapi Tidak Lagi Terasa Panjang

Hari ke-21 berakhir.

Mereka masih memiliki sembilan belas hari. Namun setelah konflik yang mereka hadapi, seluruh kelompok mulai melihat KKN dengan cara berbeda.

Mereka tidak lagi mengejar kesempurnaan. Mereka mulai mengejar keberlanjutan.

Theo mulai belajar bahwa teknologi harus mengikuti manusia. Kelompok perpustakaan mulai memahami bahwa buku akan hidup jika masyarakat membutuhkannya. PDD memahami bahwa dokumentasi adalah penjaga ingatan. Raka memahami bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus mampu menyelesaikan semuanya sendiri.

Dan Siska semakin memahami bahwa suatu hari nanti ia harus melanjutkan apa yang telah mereka mulai.

Sementara di antara Raka dan Siska, sesuatu terus tumbuh. Pelan. Diam-diam. Tanpa janji. Tanpa kepastian. Tetapi nyata.

Mereka belum tahu bagaimana kisah itu akan berakhir.

Yang mereka tahu hanya satu: empat puluh hari ternyata bukan sekadar waktu untuk menyelesaikan program. Empat puluh hari adalah waktu yang cukup untuk membuat orang-orang yang awalnya tidak saling mengenal menjadi bagian dari sebuah cerita.

Dan perjalanan mereka belum selesai.

Masih ada sembilan belas hari. Sembilan belas hari untuk memperkuat program. Sembilan belas hari untuk menyelesaikan sejarah desa. Sembilan belas hari untuk menyiapkan perpisahan.

Dan sembilan belas hari untuk menghadapi pertanyaan yang semakin sulit dihindari:

Jika suatu hari mereka benar-benar pergi, apa yang akan tersisa?

Di Desa Awan Biru, jawabannya perlahan mulai terbentuk. Bukan hanya sistem. Bukan hanya perpustakaan. Bukan hanya buku. Bukan hanya foto.

Tetapi jejak manusia yang pernah datang, bekerja, mencintai, dan belajar melepaskan.

 

Sebuah Catatan di Buku Raka

Malam itu Raka membuka buku catatan kecilnya. Ia menulis:

"Hari ke-21.

Hari ini kami hampir hancur. Bukan karena data atau program. Tapi karena kami lupa bahwa kami adalah tim.

Bagas marah. Dan dia benar. Kami terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sampai lupa melihat satu sama lain.

Tapi kami belajar. Kami duduk bersama. Kami bicara. Kami memaafkan.

Saya belajar bahwa menjadi pemimpin bukan berarti selalu benar. Menjadi pemimpin adalah mau mendengar ketika orang lain mengatakan bahwa kita salah.

Dan Siska...

Dia ada di setiap bagian dari hari ini. Membantu Theo. Membantuku. Tersenyum ketika semuanya terasa berat.

Saya tidak tahu apakah saya pantas menyukainya. Tapi saya sudah terlalu jauh untuk berpura-pura tidak.

Besok kita mulai lagi. Dengan cara yang lebih baik."

Raka menutup buku. Di luar, malam Desa Awan Biru semakin sunyi.

Dan perjalanan mereka belum selesai.

 

 

BAB XVII

YANG HARUS TETAP HIDUP

Hari Ke-22 sampai Hari Ke-26

Pagi di Desa Awan Biru terasa lebih tenang setelah rapat evaluasi pada malam sebelumnya.

Tidak ada lagi keinginan untuk mengejar terlalu banyak kegiatan.

Tidak ada lagi ambisi agar semua program terlihat sempurna dalam laporan akhir.

Kini para mahasiswa KKN Universitas Harapan mulai memahami satu hal:

mereka tidak sedang berlomba menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan.

Mereka sedang menyiapkan sesuatu agar tetap berjalan ketika mereka sudah tidak berada di desa.

Hari ke-22 menjadi awal dari fase baru.

Fase ketika pengabdian bukan lagi sekadar membangun, tetapi mulai belajar melepaskan.

 

Pagi yang Berbeda

Theo datang ke kantor desa membawa sebuah map.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar panduan yang telah ia susun.

Siska sedang berada di depan komputer.

“Apa itu?”

“Panduan.”

Siska mengambil salah satunya.

Di bagian atas tertulis:

PANDUAN PENGELOLAAN ARSIP DIGITAL DESA AWAN BIRU

Siska membaca beberapa halaman.

“Ini mudah dipahami.”

Theo tersenyum.

“Memang sengaja.”

“Kenapa?”

“Karena kalau cuma saya yang bisa memahami, berarti sistem ini gagal.”

Siska menatap Theo.

“Sekarang saya mengerti.”

Theo menunjuk komputer.

“Kita harus mengajari lebih dari satu orang.”

“Supaya kalau saya tidak ada?”

“Bukan hanya kalau kamu tidak ada.”

Theo menatap perangkat desa lain yang mulai berdatangan.

“Supaya sistem ini tidak bergantung pada satu orang.”

 

Theo Mulai Mengajarkan, Bukan Mengerjakan

Hari itu Theo tidak banyak menyentuh komputer.

Ia justru meminta Siska dan beberapa perangkat desa melakukan sendiri.

“Coba buat folder baru.”

Siska mengikuti.

“Sekarang masukkan dokumen.”

Siska melakukannya.

“Beri nama sesuai format.”

Ia mengikuti lagi.

“Sekarang buat salinan cadangan.”

Siska berhenti.

“Di sini?”

“Ya.”

Beberapa perangkat desa ikut mencoba.

Ada kesalahan.

Ada yang salah mengetik.

Ada yang lupa menyimpan.

Theo tidak langsung memperbaiki.

Ia membiarkan mereka mencoba.

“Kalau salah, ulangi.”

Siska tertawa.

“Dulu kamu selalu langsung membetulkan.”

“Sekarang saya tidak boleh.”

“Kenapa?”

“Karena saya sebentar lagi tidak ada.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Theo segera tersenyum.

“Maksud saya, waktu KKN selesai.”

Siska menatapnya.

Ia tahu.

Semua orang mulai sadar bahwa waktu kepulangan semakin dekat.

 

Perpustakaan Mulai Diserahkan

Di perpustakaan, kelompok Evianti juga melakukan hal yang sama.

Mereka mulai mengurangi keterlibatan langsung.

Jika sebelumnya mereka yang melayani anak-anak, kini mereka mulai meminta pengelola desa untuk melakukannya.

Jika sebelumnya mereka yang mencatat buku, kini mereka mengajarkan caranya.

Evianti memberikan buku panduan sederhana.

“Ini daftar koleksi.”

Salah seorang pengelola bertanya,

“Kalau ada buku baru?”

“Tambahkan di sini.”

“Kalau buku rusak?”

“Catat.”

“Kalau hilang?”

“Catat juga.”

Pengelola itu mengangguk.

Sifa kemudian berkata,

“Tidak harus sempurna.”

“Yang penting?”

“Datanya terus diperbarui.”

 

Anak-Anak Mulai Belajar Mandiri

Hari itu seorang anak datang.

Ia langsung menuju rak.

Tidak lagi menunggu mahasiswa KKN.

Ia memilih buku sendiri.

Duduk sendiri.

Kemudian mengembalikannya ke meja.

Sifa memperhatikannya dari kejauhan.

“Lihat.”

Evianti tersenyum.

“Sekarang dia sudah tahu caranya.”

“Berarti kita berhasil?”

Evianti mengangguk.

“Justru karena dia tidak lagi mencari kita.”

Mereka saling pandang.

Ada rasa bangga.

Tetapi juga ada sedikit rasa sedih.

Karena semakin mandiri perpustakaan itu, semakin jelas bahwa kehadiran mereka memang hanya sementara.

 

PDD Mengubah Cara Menyimpan Ingatan

Agatha, Farida, dan Jevin mulai menyusun arsip dokumentasi.

Mereka membuat beberapa kategori:

01 — Pemerintahan Desa

02 — Program KKN

03 — Perpustakaan

04 — Digitalisasi

05 — Kegiatan Masyarakat

06 — Tokoh dan Sejarah Desa

07 — Dokumentasi Mahasiswa

Semua foto diberi tanggal.

Semua video diberi keterangan.

Tidak ada lagi file bernama:

IMG_1234

atau

VID_5678

Agatha menggantinya dengan nama yang jelas.

2026-XX-XX_Kegiatan_Literasi_Desa_Awan_Biru

Jevin melihat layar.

“Kalau sepuluh tahun lagi dibuka, orang masih tahu ini apa.”

Farida mengangguk.

“Itulah yang kita inginkan.”

 

Raka dan Sejarah Desa

Sementara itu, Raka semakin tenggelam dalam penyusunan buku sejarah.

Ia mulai menyadari bahwa buku tersebut bukan sekadar program tambahan.

Setiap halaman berisi nama manusia.

Nama kepala desa terdahulu.

Nama tokoh masyarakat.

Nama orang-orang yang pernah berjuang membangun desa.

Ada kisah tentang masa sulit.

Ada kisah tentang perubahan.

Ada pula cerita yang hampir hilang karena orang yang mengetahuinya sudah semakin tua.

Raka menulis dengan hati-hati.

Ia tidak ingin sejarah desa berubah menjadi cerita yang hanya bagus dibaca tetapi kehilangan kebenaran.

 

Satu Cerita dari Seorang Sesepuh

Raka menemui seorang sesepuh desa.

Usianya sudah lanjut.

Ia menceritakan masa ketika Desa Awan Biru belum seperti sekarang.

“Dulu jalan itu belum seperti ini.”

Raka mencatat.

“Kalau hujan, susah sekali.”

“Terus bagaimana warga?”

“Ya berjalan.”

“Tidak menyerah?”

Sesepuh itu tertawa.

“Kalau menyerah, desa ini tidak akan sampai sekarang.”

Kalimat itu membuat Raka berhenti menulis.

Ia mengangkat wajah.

“Pak, boleh saya masukkan kalimat itu?”

Sesepuh itu tersenyum.

“Masukkan.”

Raka menulis:

“Kalau menyerah, desa ini tidak akan sampai sekarang.”

Ia tahu kalimat itu bukan hanya tentang masa lalu.

Kalimat itu juga seperti pesan kepada mereka.

 

Raka Mulai Menulis Bagian Akhir

Hari ke-23.

Raka mulai menyusun bagian akhir buku.

Ia menulis tentang Desa Awan Biru hari ini.

Bukan hanya sejarah masa lalu.

Tetapi juga tentang desa yang sedang bergerak menuju masa depan.

Digitalisasi.

Perpustakaan.

Generasi muda.

Dokumentasi.

Partisipasi masyarakat.

Ia ingin buku itu tidak berhenti pada nostalgia.

Sejarah harus menjadi jembatan menuju masa depan.

 

Siska Menjadi Jembatan

Siska semakin sering membantu Raka.

Ia mencocokkan nama.

Memeriksa dokumen.

Mencari arsip lama.

Menghubungkan Raka dengan orang-orang yang mengetahui sejarah desa.

Suatu sore Raka berkata,

“Tanpa kamu, buku ini mungkin tidak selesai.”

Siska tersenyum.

“Jangan lebay.”

“Serius.”

“Yang menulis kamu.”

“Tapi yang membuka pintunya kamu.”

Siska diam.

Raka melanjutkan,

“Kadang orang yang membantu sebuah cerita tidak pernah ditulis di halaman depan.”

Siska menatapnya.

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa?”

“Yang penting ceritanya benar.”

Raka tersenyum.

Ia tahu kalimat itu sangat Siska.

Tidak mencari pengakuan.

Tidak meminta namanya disebut.

Namun justru karena itu, Raka semakin menghargainya.

 

Hari Ke-24 — Masalah Baru

Tidak semua berjalan lancar.

Pada hari ke-24, muncul persoalan baru.

Salah satu perangkat desa mengatakan bahwa beberapa sistem yang dibuat mahasiswa terlalu banyak langkah.

Ia merasa pekerjaan sehari-hari justru menjadi lebih lambat.

Theo mendengarnya.

Ia tidak langsung membela diri.

Ia bertanya,

“Bagian mana yang paling mengganggu?”

Perangkat tersebut menjelaskan.

Theo mencatat.

Kemudian mencoba sendiri.

Benar.

Ada tahapan yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

Theo menghapusnya.

Raka yang melihat itu berkata,

“Tidak masalah?”

Theo menggeleng.

“Justru bagus.”

“Kenapa?”

“Karena kita menemukan bagian yang harus diperbaiki.”

 

Belajar Menerima Kritik

Malamnya Theo berkata kepada Raka,

“Dulu saya berpikir kalau sistem dibuat dengan baik, semua orang pasti mau menggunakannya.”

Raka tertawa kecil.

“Dan sekarang?”

“Sekarang saya tahu sistem yang baik adalah sistem yang cocok dengan penggunanya.”

Raka mengangguk.

“Berarti kamu berubah.”

Theo tersenyum.

“Semua orang berubah di sini.”

 

Hari Ke-25 — Sebuah Pertemuan

Hari ke-25 menjadi hari yang lebih ringan.

Pemerintah desa mengadakan kegiatan bersama masyarakat.

Mahasiswa kembali terlibat.

Namun kali ini mereka tidak menjadi pusat kegiatan.

Masyarakat mulai mengambil peran lebih besar.

Pengelola perpustakaan menjalankan kegiatan.

Perangkat desa mengelola administrasi.

PDD hanya mendokumentasikan.

Theo mengawasi jika ada masalah.

Raka lebih banyak melihat dari jauh.

Ia tersenyum.

Mereka mulai berhasil melakukan apa yang mereka inginkan.

Masyarakat mulai berjalan sendiri.

 

Raka Melihat Theo

Raka menghampiri Theo.

“Lihat.”

Theo menatap kegiatan.

“Ya.”

“Dulu kita yang melakukan semuanya.”

“Sekarang?”

“Sekarang mereka.”

Theo tersenyum.

“Berarti kita boleh mulai mundur.”

Raka mengangguk.

“Tapi belum pulang.”

Theo tertawa.

“Masih ada lima belas hari.”

 

Hari Ke-26 — Persahabatan Mulai Diuji oleh Waktu

Hari ke-26.

Tinggal empat belas hari.

Angka itu mulai terasa.

Beberapa mahasiswa mulai menghitung hari.

Namun kali ini bukan dengan kegembiraan.

Melainkan dengan rasa kehilangan.

Di sekretariat, Farida berkata,

“Empat belas hari.”

Agatha menjawab,

“Jangan dihitung.”

“Kenapa?”

“Bikin sedih.”

Jevin tertawa.

“Tapi tetap akan habis.”

Mereka semua diam.

Benar.

Tidak peduli dihitung atau tidak.

Waktu tetap berjalan.

 

Raka dan Siska

Sore itu Raka kembali ke kantor desa.

Siska sedang menutup komputer.

“Sudah selesai?”

“Untuk hari ini.”

Raka mengangguk.

Mereka berjalan keluar bersama.

Langit mulai berubah warna.

Siska berkata,

“Empat belas hari.”

Raka tersenyum.

“Kamu juga menghitung?”

“Tidak sengaja.”

“Bohong.”

Siska tertawa kecil.

“Ya.”

Mereka berjalan perlahan.

Kemudian Siska berkata,

“Kalau nanti kalian pulang…”

Raka menunggu.

“Kamu jangan terlalu sibuk sampai lupa desa ini.”

Raka tersenyum.

“Bagaimana mungkin?”

“Bisa.”

“Kenapa?”

“Karena hidup di kampus berbeda.”

Raka berhenti.

“Siska.”

“Ya?”

“Yang saya takutkan bukan lupa desa.”

“Lalu?”

Raka menatapnya.

“Yang saya takutkan adalah kita terlalu jauh untuk tetap saling mengenal.”

Siska terdiam.

Kemudian menjawab pelan,

“Kalau dua orang sama-sama ingin tetap mengenal, jarak tidak selalu menang.”

Raka tersenyum.

“Kalimat itu akan saya ingat.”

 

Malam Hari Ke-26

Malam itu seluruh anggota kelompok berkumpul.

Raka melihat mereka satu per satu.

Theo.

Evianti.

Sifa.

Bagas.

Leni.

Fajar.

Agatha.

Farida.

Jevin.

Sepuluh mahasiswa.

Sepuluh karakter.

Sepuluh perjalanan.

Dan satu desa yang telah mempertemukan mereka.

Raka berkata,

“Kita sudah melewati lebih dari setengah perjalanan.”

Theo mengangguk.

“Tinggal empat belas hari.”

“Empat belas hari bukan untuk mengejar semua yang belum selesai.”

Semua memperhatikan.

“Empat belas hari untuk memastikan apa yang sudah kita mulai bisa terus berjalan.”

Evianti mengangguk.

Theo tersenyum.

Agatha menutup laptop.

Raka melanjutkan,

“Mulai besok, kita masuk fase akhir.”

Tidak ada yang bersorak.

Karena mereka tahu.

Fase akhir berarti waktu bersama mereka semakin sedikit.

 

Sebuah Keputusan

Malam itu mereka membuat kesepakatan:

Tidak ada program baru.

Yang ada hanya:

menyelesaikan, menyempurnakan, menyerahkan, dan memastikan keberlanjutan.

Theo akan menyelesaikan sistem digital.

Kelompok perpustakaan akan memastikan pengelola mampu menjalankannya.

PDD akan menyelesaikan arsip dokumentasi.

Raka akan menuntaskan Buku Sejarah Desa Awan Biru.

Dan seluruh mahasiswa akan mulai menyiapkan serah terima.

Mereka telah berhenti menjadi mahasiswa yang sibuk mengejar target.

Kini mereka menjadi orang-orang yang belajar meninggalkan sesuatu dengan cara yang benar.

 

Empat Belas Hari

Malam semakin larut.

Raka keluar dan duduk di teras.

Theo menyusul.

“Masih belum tidur?”

“Belum.”

Theo duduk.

“Kamu memikirkan apa?”

Raka menatap langit.

“Empat belas hari.”

Theo tersenyum.

“Kamu takut?”

“Sedikit.”

“Karena program?”

Raka menggeleng.

Theo tidak bertanya lagi.

Ia sudah tahu.

Beberapa saat kemudian Raka berkata,

“Empat puluh hari ternyata terlalu singkat.”

Theo menjawab,

“Untuk apa?”

Raka tersenyum tipis.

“Untuk mengenal sebuah desa.”

Ia berhenti.

“Dan mungkin untuk mengenal seseorang.”

Theo hanya tersenyum.

 

Jejak yang Mulai Terlihat

Hari ke-26 berakhir.

Empat belas hari tersisa.

Namun perubahan sudah terlihat.

Perpustakaan tidak lagi menunggu mahasiswa.

Perangkat desa mulai menguasai sistem digital.

Dokumentasi mulai tersusun menjadi arsip.

Buku sejarah hampir selesai.

Dan kelompok yang dahulu datang sebagai orang asing kini telah menjadi bagian dari kehidupan Desa Awan Biru.

Mereka belum pergi.

Tetapi jejak mereka sudah mulai terbentuk.

Dan justru karena jejak itu semakin jelas, rasa takut kehilangan mulai tumbuh.

Karena setelah seseorang memberikan bagian terbaik dirinya kepada sebuah tempat, meninggalkan tempat itu tidak pernah benar-benar sederhana.

Raka memandang lampu kantor desa yang masih menyala.

Ia tahu Siska masih berada di sana.

Ia tahu empat belas hari bukan waktu yang panjang.

Namun ia juga tahu satu hal:

perasaan yang tumbuh tidak pernah tunduk pada kalender.

Dan ketika waktu mulai menghitung mundur menuju hari kepulangan, mereka semua akan menghadapi ujian yang lebih besar.

Bukan lagi tentang apakah program mereka berhasil.

Tetapi tentang:

apakah semua yang mereka bangun benar-benar mampu hidup tanpa mereka?

Dan untuk Raka serta Siska, akan muncul pertanyaan yang jauh lebih sulit:

apakah hubungan yang mereka mulai di Desa Awan Biru juga mampu hidup setelah mereka berpisah?

Empat belas hari masih tersisa.

Tetapi sejak malam itu, setiap hari terasa seperti halaman terakhir yang perlahan mulai ditulis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XVIII

KETIKA WAKTU MULAI MENINGGALKAN MEREKA

Hari Ke-27 sampai Hari Ke-32

Hari ke-27.

Empat belas hari telah berubah menjadi tiga belas.

Tidak ada yang mengucapkannya pagi itu, tetapi semua mulai merasakan sesuatu yang sama.

Waktu benar-benar sedang meninggalkan mereka.

Jika pada awal KKN mereka sibuk menghitung berapa hari yang telah mereka jalani, kini mereka justru berusaha tidak menghitung berapa hari yang tersisa.

Namun kalender tidak pernah berbohong.

Angka 27 terpampang di sudut papan tulis sekretariat.

Di bawahnya, Raka menulis:

“Bukan berapa banyak yang kita kerjakan.
Tetapi apa yang tetap hidup setelah kita pergi.”

Theo membaca tulisan itu ketika masuk.

“Mulai filosofis.”

Raka tersenyum.

“Mulai sadar waktu.”

Theo meletakkan tas.

“Kalau begitu hari ini kita mulai serah terima.”

Raka menatapnya.

“Belum waktunya.”

“Bukan serah terima resmi.”

Theo menunjuk beberapa perangkat desa yang mulai masuk.

“Latihan serah terima.”

Raka mengangguk.

Ia mulai mengerti.

Meninggalkan tidak boleh dilakukan pada hari terakhir.

 

MULAI MELEPAS SATU PER SATU

Theo dan Sistem yang Harus Berjalan Tanpa Dirinya

Theo memutuskan untuk tidak lagi menjadi orang pertama yang memegang komputer ketika ada persoalan.

Ia meminta Siska mencoba sendiri.

“Coba buka data perpustakaan.”

Siska membuka.

“Sekarang cari buku berdasarkan kategori.”

Siska mengetik.

“Kalau ada buku baru?”

“Tambahkan.”

“Kalau data salah?”

“Perbaiki.”

“Kalau saya lupa?”

Theo menunjuk panduan.

“Baca.”

Siska tertawa.

“Kamu mulai tega.”

“Justru karena saya peduli.”

Siska menatap Theo.

“Kalau kamu terus membantu, kami tidak pernah benar-benar belajar.”

Theo tersenyum.

“Sekarang kamu mengerti.”

Siska mengangguk.

Ia mulai menyadari bahwa cara Theo bekerja telah berubah.

Dulu Theo selalu berada di depan komputer.

Sekarang ia lebih sering berdiri di belakang orang lain.

Membiarkan mereka mencoba.

Membiarkan mereka salah.

Membiarkan mereka belajar.

Itulah bentuk pengabdian yang sesungguhnya.

 

SISKA MULAI MEMEGANG TANGGUNG JAWAB

Hari ke-28.

Siska mendapat tugas mengelola beberapa bagian sistem tanpa bantuan langsung Theo.

Pagi itu ada data baru masuk.

Siska membuka sistem.

Ia sempat ragu.

Tangannya berhenti di atas mouse.

Theo berdiri tidak jauh darinya.

“Kenapa berhenti?”

“Saya takut salah.”

Theo tersenyum.

“Bagus.”

Siska mengerutkan kening.

“Kok bagus lagi?”

“Karena sekarang kamu sadar bahwa sistem ini harus dijaga.”

Siska menarik napas.

Kemudian melanjutkan.

Beberapa menit kemudian data berhasil masuk.

Ia menoleh kepada Theo.

“Sudah.”

Theo hanya mengangguk.

“Bagus.”

Siska tersenyum.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada perayaan.

Namun bagi Theo, itu adalah salah satu keberhasilan terbesar selama KKN.

Karena untuk pertama kalinya ia melihat sistem yang dibangunnya mulai berdiri di atas kaki orang lain.

 

PERPUSTAKAAN MULAI BERJALAN SENDIRI

Di perpustakaan, Evianti dan kelompoknya melakukan hal serupa.

Mereka membuat jadwal sederhana.

PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN

  • pembukaan;
  • pencatatan pengunjung;
  • peminjaman;
  • pengembalian;
  • penataan buku;
  • pemeriksaan koleksi;
  • kegiatan literasi.

Mereka kemudian menyerahkan jadwal tersebut kepada pengelola.

Evianti berkata,

“Mulai sekarang kami tidak perlu selalu ada.”

Salah satu pengelola tersenyum.

“Kalau ada anak-anak yang datang?”

“Layani seperti biasa.”

“Kalau ada buku baru?”

“Masukkan ke daftar.”

“Kalau ada masalah?”

“Hubungi kami kalau memang diperlukan.”

Pengelola itu mengangguk.

Kemudian berkata,

“Kalau kalian pulang, perpustakaan tetap buka.”

Sifa tersenyum.

“Itulah yang kami inginkan.”

 

SEBUAH PELAJARAN DARI ANAK-ANAK

Siang hari, beberapa anak datang ke perpustakaan.

Salah satu dari mereka mencari buku yang pernah dibacanya.

Ia membuka katalog.

“Tidak ada.”

Leni mendekat.

“Coba cari di rak sebelah.”

Anak itu mencari.

Kemudian menemukan bukunya.

“Kak, ketemu!”

Leni tersenyum.

“Sekarang kamu sudah bisa mencari sendiri.”

Anak itu mengangguk bangga.

Sifa yang melihat dari kejauhan tersenyum.

Ia kemudian berkata kepada Evianti,

“Dulu kita yang mengajari.”

Evianti mengangguk.

“Sekarang mereka sudah mengajari diri mereka sendiri.”

Mereka saling tersenyum.

 

PDD MENYUSUN ARSIP TERAKHIR

Hari ke-29.

Agatha, Farida, dan Jevin mulai menghadapi pekerjaan yang paling melelahkan.

Bukan mengambil gambar.

Tetapi memilih gambar.

Ribuan foto harus diperiksa.

Mana yang penting?

Mana yang terlalu mirip?

Mana yang tidak memiliki keterangan?

Mana yang harus disimpan sebagai arsip?

Mana yang akan dimasukkan dalam video dokumenter?

Farida menatap layar.

“Kenapa memilih foto lebih susah daripada mengambil foto?”

Agatha tertawa.

“Karena mengambil foto hanya membutuhkan kamera.”

“Kalau memilih?”

“Harus menggunakan ingatan.”

Jevin mengangguk.

“Dan hati.”

Mereka terdiam.

Karena setiap foto membawa cerita.

Menghapus satu foto terasa seperti menghapus satu bagian kecil dari perjalanan.

Namun mereka tahu tidak semuanya bisa disimpan di ruang utama.

Mereka akhirnya membuat sistem arsip yang lebih teratur.

Tidak ada foto yang benar-benar dibuang.

Yang berubah hanya tempat penyimpanannya.

 

Raka DAN BUKU SEJARAH

Sementara itu, Raka memasuki tahap akhir penyusunan Buku Sejarah Desa Awan Biru.

Ia mulai menyusun bab penutup.

Namun justru bagian itu yang paling sulit.

Bagaimana menulis masa kini?

Bagaimana menulis masa depan?

Bagaimana menempatkan empat puluh hari mahasiswa KKN di antara sejarah panjang sebuah desa?

Ia tidak ingin membuat KKN mereka terlihat terlalu penting.

Karena desa sudah ada jauh sebelum mereka datang.

Dan desa akan tetap ada setelah mereka pergi.

Siska membaca salah satu bagian.

“Kamu terlalu banyak menulis tentang kalian.”

Raka terdiam.

“Benarkah?”

“Iya.”

“Lalu bagaimana?”

“Ceritakan desa.”

Raka memandangnya.

Siska melanjutkan,

“Kalian hanya salah satu bagian kecil dari perjalanan desa.”

Kalimat itu membuat Raka terdiam cukup lama.

Kemudian ia menghapus beberapa bagian.

Dan menulis ulang.

Buku itu akhirnya terasa lebih jujur.

 

SEJARAH BUKAN TENTANG MEREKA

Raka akhirnya memahami sesuatu.

Ia datang sebagai mahasiswa dengan semangat ingin meninggalkan jejak.

Namun semakin banyak ia belajar, semakin ia sadar:

desa tidak membutuhkan nama mereka untuk menjadi besar.

Yang dibutuhkan desa adalah orang-orang yang mau melanjutkan.

Maka ia mengubah bagian penutup buku.

Ia menulis tentang masyarakat.

Tentang generasi muda.

Tentang perangkat desa.

Tentang perpustakaan.

Tentang masa depan.

Tentang orang-orang yang akan datang setelah mereka.

Dan hanya di bagian akhir, ia menulis sedikit tentang KKN.

Bukan sebagai pusat sejarah.

Melainkan sebagai satu halaman kecil yang pernah hadir.

 

HARI KE-30 — SETENGAH JALAN SUDAH MENJADI KENANGAN

Hari ke-30 tiba.

Tinggal sepuluh hari.

Pagi itu Raka melihat kalender.

Angka 30 terasa berbeda.

Sepuluh hari.

Hanya sepuluh.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Namun ketika berkumpul, semua tahu.

Theo berkata,

“Sepuluh hari.”

Fajar menjawab,

“Jangan bilang.”

“Kenapa?”

“Bikin sedih.”

Mereka tertawa.

Tetapi tawa itu tidak lagi sama.

Ada sesuatu yang mulai terasa berat.

 

MALAM KE-30

Malam itu mereka mengadakan makan bersama sederhana.

Tidak ada acara resmi.

Hanya mahasiswa KKN.

Mereka duduk melingkar.

Makanan sederhana tersaji.

Awalnya mereka bercanda.

Tentang kebiasaan masing-masing.

Tentang siapa yang paling sering terlambat.

Tentang siapa yang paling banyak mengeluh.

Tentang Theo yang selalu bersama laptop.

Tentang Agatha yang selalu membawa kamera.

Tentang Raka yang tidak pernah bisa lepas dari buku sejarah.

Tawa memenuhi ruangan.

Kemudian suasana perlahan berubah.

Sifa berkata,

“Kalau nanti kita sudah kembali ke kampus, apakah kita masih akan seperti ini?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Theo berkata,

“Kita mungkin tidak akan sesering ini bertemu.”

“Berarti berubah?”

“Tidak harus.”

Raka menambahkan,

“Kita hanya akan berada di tempat berbeda.”

Leni tersenyum.

“Semoga tidak menjadi orang berbeda.”

Kalimat itu membuat semuanya diam.

 

HARI KE-31 — PERPISAHAN MULAI TERLIHAT

Hari ke-31.

Beberapa warga mulai mengetahui bahwa mahasiswa akan segera pulang.

Anak-anak perpustakaan mulai bertanya.

“Berapa hari lagi?”

Evianti menjawab,

“Sebentar lagi.”

“Kenapa pulang?”

“Karena KKN selesai.”

“Bisa tinggal?”

Evianti tersenyum sedih.

“Tidak bisa.”

Anak itu kemudian bertanya,

“Kalau kakak pulang, siapa yang cerita?”

Evianti menahan haru.

“Buku-bukunya masih ada.”

Anak itu mengangguk.

“Berarti saya tetap bisa membaca.”

Sifa yang mendengar percakapan itu tersenyum.

Itulah jawaban yang mereka cari.

Mereka tidak harus tetap berada di sana agar sesuatu tetap hidup.

 

Raka DAN SISKA MULAI MEMBICARAKAN HARI SETELAH KKN

Sore itu Raka dan Siska duduk di teras kantor desa.

Tidak ada pekerjaan mendesak.

Untuk pertama kalinya mereka memiliki waktu untuk berbicara tanpa harus membahas program.

Siska bertanya,

“Setelah pulang, kamu langsung kembali ke kampus?”

“Iya.”

“Berapa lama perjalanan?”

“Lumayan.”

Siska mengangguk.

Kemudian diam.

Raka bertanya,

“Kamu?”

“Saya tetap di sini.”

“Berarti kita benar-benar berbeda tempat.”

Siska tersenyum.

“Memangnya selama ini kita satu tempat?”

Raka tertawa.

“Setidaknya selama empat puluh hari.”

Siska menatap jalan di depan mereka.

“Setelah itu?”

Raka tidak langsung menjawab.

Akhirnya berkata,

“Setelah itu kita lihat.”

Siska mengangguk.

Ia tidak meminta janji.

Raka juga tidak memberikannya.

Namun keduanya sama-sama tahu bahwa pertanyaan itu jauh lebih besar daripada sekadar jarak.

 

SISKA MEMBERIKAN SESUATU

Sebelum berpisah sore itu, Siska memanggil Raka.

“Raka.”

“Ya?”

Ia memberikan sebuah buku catatan kecil.

“Ini apa?”

“Catatan.”

Raka membukanya.

Beberapa halaman kosong.

“Kenapa diberikan kepada saya?”

“Untuk melanjutkan cerita.”

Raka tersenyum.

“Cerita apa?”

“Cerita yang belum selesai.”

Raka memandang Siska.

“Ini tentang desa?”

Siska tersenyum.

“Mungkin.”

“Dan mungkin?”

“Entahlah.”

Raka tertawa kecil.

Ia menyimpan buku itu.

“Terima kasih.”

 

HARI KE-32 — SERAH TERIMA DIMULAI

Hari ke-32 menjadi hari penting.

Theo menyerahkan dokumen panduan kepada pemerintah desa.

Kelompok perpustakaan menyerahkan daftar koleksi dan sistem layanan.

PDD menyerahkan struktur arsip digital.

Raka menyerahkan draft final Buku Sejarah Desa Awan Biru untuk diperiksa kembali.

Tidak ada acara besar.

Hanya pekerjaan administratif.

Namun justru di situlah makna pengabdian terasa.

Satu per satu tugas berpindah tangan.

Dari mahasiswa kepada masyarakat.

 

THEO MELAKUKAN UJIAN TERAKHIR

Theo sengaja tidak datang ke kantor desa pagi itu.

Siska terlihat kebingungan.

“Ke mana Theo?”

Raka menjawab,

“Dia bilang hari ini kamu harus mengerjakan sendiri.”

Siska menghela napas.

“Jadi ini ujian?”

“Anggap saja.”

Siska membuka komputer.

Ia melakukan semua tahapan yang telah diajarkan.

Menyimpan data.

Mengelompokkan.

Membuat cadangan.

Memeriksa.

Menutup sistem.

Tidak ada kesalahan.

Theo ternyata melihat dari kejauhan.

Setelah selesai, ia masuk.

Siska terkejut.

“Kamu dari tadi di luar?”

Theo tersenyum.

“Iya.”

“Kenapa tidak membantu?”

“Karena saya sedang memastikan saya tidak dibutuhkan.”

Siska tertawa.

“Berhasil?”

Theo mengangguk.

“Berhasil.”

 

PENGABDIAN YANG SEBENARNYA

Raka melihat Theo dan Siska.

Ia tersenyum.

Ia akhirnya mengerti apa yang selama ini Theo maksud.

Meninggalkan bukan berarti berhenti peduli.

Meninggalkan berarti percaya bahwa orang lain mampu melanjutkan.

Dan mungkin itulah makna paling sulit dari pengabdian:

Membangun sesuatu dengan sepenuh hati, lalu merelakannya menjadi milik orang lain.

 

MALAM KE-32

Malam itu mereka kembali berkumpul.

Namun kali ini bukan untuk membicarakan program.

Mereka membicarakan persiapan kepulangan.

Koper mulai diperiksa.

Barang-barang mulai dipilah.

Dokumen mulai dikemas.

Hadiah dari warga mulai disimpan.

Foto-foto dicetak.

Beberapa anak memberikan gambar kepada mahasiswa.

Ada yang menulis:

“Terima kasih, Kak.”

Ada yang hanya menggambar rumah.

Ada yang menggambar perpustakaan.

Ada pula yang menggambar sepuluh mahasiswa berdiri bersama.

Raka melihat gambar itu lama.

“Ini lebih berharga daripada sertifikat.”

Theo mengangguk.

 

SEPULUH HARI MENJADI DELAPAN

Ketika mereka selesai mengemas sebagian barang, Raka kembali melihat kalender.

Hari ke-32.

Delapan hari lagi menuju hari ke-40.

Namun mereka sepakat untuk tidak menghitungnya keras-keras.

Karena setiap angka terasa seperti pengurangan waktu.

Dan mereka belum siap kehilangan hari-hari yang tersisa.

Di luar, Desa Awan Biru masih seperti biasa.

Lampu rumah warga menyala.

Anak-anak bermain.

Suara kendaraan sesekali terdengar.

Kantor desa mulai sepi.

Perpustakaan telah tutup.

Tetapi di dalam sistem digital yang dibangun Theo, di rak-rak buku yang ditata kelompok Evianti, di arsip yang dikumpulkan PDD, dan di halaman sejarah yang ditulis Raka—

jejak mereka mulai memiliki tempat.

 

SEBELUM TIDUR

Raka membuka buku catatan kecil pemberian Siska.

Ia membaca halaman pertama.

Kosong.

Halaman kedua.

Kosong.

Ia tersenyum.

Kemudian mengambil pena.

Ia menulis:

Hari ke-32.

Hari ini saya belajar bahwa meninggalkan sesuatu tidak selalu berarti kehilangan.

Kadang-kadang, meninggalkan berarti percaya bahwa sesuatu itu akan tetap hidup meski kita tidak lagi berada di sana.

Tetapi ada satu hal yang belum saya mengerti.

Bagaimana cara meninggalkan seseorang yang justru membuat tempat ini terasa seperti rumah?

Raka berhenti menulis.

Ia menutup buku.

Untuk pertama kalinya ia berani menuliskan pertanyaan yang selama ini hanya berputar di kepalanya.

Siska.

Nama itu tidak ia tulis.

Tidak perlu.

Ia sudah tahu siapa yang dimaksud.

 

DELAPAN HARI YANG TERSISA

Hari ke-32 berakhir.

Program-program utama telah memasuki tahap akhir.

Theo telah mulai melepaskan sistem kepada perangkat desa.

Perpustakaan telah mulai berdiri dengan pengelolanya sendiri.

PDD telah mengubah dokumentasi menjadi arsip.

Raka hampir menyelesaikan sejarah desa.

Dan hubungan para mahasiswa dengan masyarakat telah berubah dari kedatangan menjadi perpisahan yang perlahan dipersiapkan.

Namun delapan hari terakhir tidak akan berjalan tenang.

Karena semakin dekat mereka dengan kepulangan, semakin banyak hal yang belum selesai.

Ada dokumen yang harus diperiksa.

Ada buku yang harus disempurnakan.

Ada program yang harus diuji.

Ada masyarakat yang harus diyakinkan bahwa mereka mampu melanjutkan.

Dan ada hati yang mulai takut kehilangan.

Delapan hari.

Waktu semakin sempit.

Dan Desa Awan Biru perlahan mulai mengajarkan kepada mereka sebuah kenyataan yang tidak pernah tertulis dalam proposal KKN:

Tidak semua yang kita cintai harus kita bawa pulang.

Sebagian cukup ditinggalkan sebagai jejak.

Dan mungkin, justru karena itulah ia akan selalu menemukan jalan untuk tinggal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XIX

SEBELUM NAMA-NAMA ITU MENJADI KENANGAN

Hari Ke-33 sampai Hari Ke-37

Hari ke-33.

Pagi datang dengan cahaya yang berbeda.

Bukan karena matahari lebih terang, bukan pula karena udara Desa Awan Biru berubah. Jalan desa masih sama. Pepohonan masih bergoyang perlahan diterpa angin. Suara anak-anak masih terdengar dari kejauhan.

Namun bagi sepuluh mahasiswa KKN Universitas Harapan, pagi itu terasa lebih pendek.

Tujuh hari lagi.

Angka itu tidak tertulis di papan.

Tidak ada yang menyebutkannya.

Tetapi semua tahu.

Mereka telah memasuki hari-hari terakhir.

Dan justru pada saat waktu semakin sempit, pekerjaan yang tersisa terasa semakin penting.

 

Hari Ke-33 — Tidak Ada Lagi Program Baru

Raka mengumpulkan seluruh anggota kelompok selepas sarapan.

Theo membawa laptop.

Evianti membawa map perpustakaan.

Agatha membawa kamera.

Sementara Raka membawa naskah Buku Sejarah Desa Awan Biru.

“Mulai hari ini,” kata Raka, “kita tidak membuat program baru.”

Fajar mengangguk.

“Fokus penyelesaian?”

“Ya.”

Raka menatap mereka satu per satu.

“Kita pastikan semua yang sudah kita mulai benar-benar bisa dilanjutkan.”

Theo membuka catatannya.

“Digitalisasi tinggal uji akhir dan serah terima.”

Evianti menyampaikan kondisi perpustakaan.

“Pengelola sudah bisa menjalankan sistem.”

Agatha berkata,

“Arsip dokumentasi hampir selesai.”

Raka mengangkat naskahnya.

“Sejarah desa tinggal pemeriksaan terakhir.”

Tidak ada lagi target besar.

Tidak ada lagi daftar panjang.

Kini yang tersisa adalah pekerjaan paling sulit:

memastikan semuanya benar-benar siap ditinggalkan.

 

UJI TERAKHIR SISTEM DIGITAL

Theo datang ke kantor desa bersama Raka.

Siska sudah menunggu.

“Hari ini kita tidak menggunakan komputer saya,” kata Theo.

Siska mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena saya mau lihat apakah sistem ini benar-benar bisa digunakan tanpa saya.”

Siska tersenyum.

“Baik.”

Theo berdiri di belakang.

Siska membuka sistem.

Ia memasukkan data.

Menyimpan dokumen.

Mengelompokkan arsip.

Mencadangkan file.

Memeriksa kembali.

Semua berjalan.

Theo tidak membantu.

Bahkan ketika Siska sempat berhenti beberapa detik, Theo tetap diam.

Siska melihat panduan.

Kemudian melanjutkan.

Setelah selesai, ia menoleh.

“Bagaimana?”

Theo tersenyum.

“Tidak ada yang perlu saya perbaiki.”

Siska tertawa kecil.

“Berarti saya lulus?”

“Bukan.”

Theo menggeleng.

“Desa yang lulus.”

Siska terdiam.

Kalimat itu terasa lebih dalam daripada pujian biasa.

 

Raka Melihat Dari Jauh

Raka memperhatikan keduanya.

Ia melihat perubahan Theo.

Dulu Theo datang sebagai mahasiswa yang ingin memperbaiki sistem.

Sekarang ia mulai menghilangkan dirinya dari sistem tersebut.

Raka akhirnya mengerti:

tujuan Theo bukan agar namanya dikenang sebagai orang yang membangun digitalisasi.

Tujuannya adalah agar digitalisasi itu tetap berjalan meskipun namanya tidak lagi disebut.

 

Hari Ke-34 — Buku yang Hampir Selesai

Raka menghabiskan sebagian besar hari ke-34 untuk membaca ulang Buku Sejarah Desa Awan Biru.

Ia menemukan kesalahan kecil.

Nama.

Tanggal.

Urutan peristiwa.

Semua diperiksa kembali.

Siska ikut membantu mencocokkan dokumen.

Mereka bekerja di meja yang sama.

Tidak banyak percakapan.

Hanya suara keyboard dan halaman yang dibalik.

Sesekali Siska menunjuk bagian tertentu.

“Ini harus diganti.”

Raka memperbaiki.

“Yang ini?”

“Benar.”

Mereka terus bekerja.

Sampai akhirnya Raka menutup laptop.

“Sudah.”

Siska tersenyum.

“Benar-benar selesai?”

“Untuk isi, iya.”

“Lalu?”

“Sekarang tinggal diserahkan.”

Siska menatap naskah itu.

“Empat puluh hari untuk menulis sejarah?”

Raka menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Empat puluh hari untuk belajar menghargai sejarah.”

Siska tersenyum.

 

Satu Halaman yang Tidak Ingin Ditulis

Malam itu Raka membuka kembali halaman terakhir buku.

Ia ingin menulis tentang para mahasiswa KKN.

Namun tangannya berhenti.

Ia tidak tahu bagaimana menuliskan bagian itu.

Karena ia sadar bahwa jika menuliskan semuanya, buku itu akan berubah menjadi kisah tentang mereka.

Padahal buku itu adalah milik desa.

Akhirnya ia hanya menulis:

“Pada suatu masa, beberapa anak muda pernah datang ke Desa Awan Biru selama empat puluh hari. Mereka datang membawa ilmu, tenaga, gagasan, dan harapan. Namun pada akhirnya, desa inilah yang mengajarkan kepada mereka bahwa pengabdian bukan tentang seberapa lama seseorang tinggal, melainkan seberapa jauh sesuatu yang baik dapat terus hidup setelah ia pergi.”

Raka membaca ulang.

Ia tidak mengubah satu kata pun.

 

Hari Ke-35 — Perpustakaan Mengadakan Kegiatan Terakhir

Hari ke-35 menjadi hari penting bagi kelompok Evianti.

Mereka mengadakan kegiatan literasi bersama anak-anak.

Namun kali ini mahasiswa tidak menjadi pengajar utama.

Pengelola perpustakaan yang memimpin.

Anak-anak membaca.

Bertanya.

Bercerita.

Mahasiswa hanya mendampingi.

Setelah kegiatan selesai, Evianti duduk di lantai perpustakaan.

Ia memandang rak-rak buku.

Dulu tempat itu tampak sepi.

Sekarang ada kehidupan.

Bagas berkata,

“Kalau kita pergi, tempat ini tetap ramai.”

Fajar tersenyum.

“Itu tujuan kita.”

Leni menatap papan informasi.

“Berarti kita tidak benar-benar pergi.”

Sifa menggeleng.

“Kita tetap pergi.”

Ia tersenyum.

“Tapi sesuatu dari kita tinggal.”

 

SEORANG ANAK MEMBERIKAN SURAT

Sebelum mereka pulang, seorang anak mendatangi Evianti.

“Kak.”

“Iya?”

Anak itu memberikan selembar kertas.

“Apa ini?”

“Buat Kakak.”

Evianti membukanya.

Tulisan tangan yang masih belum rapi:

“Terima kasih sudah membuat perpustakaan jadi menyenangkan.”

Evianti menahan napas.

“Siapa yang mengajar kamu menulis ini?”

Anak itu tertawa.

“Saya sendiri.”

Evianti tersenyum.

“Bagus.”

Ia memeluk anak itu.

Sifa yang melihat dari jauh segera mengalihkan wajah.

Matanya mulai berkaca-kaca.

 

Hari Ke-36 — Arsip Terakhir

Tim PDD menyelesaikan pekerjaannya.

Agatha memastikan semua foto memiliki keterangan.

Farida memeriksa video.

Jevin menata dokumen.

Mereka kemudian membuat satu folder utama:

ARSIP KKN UNIVERSITAS HARAPAN — DESA AWAN BIRU

Di dalamnya terdapat seluruh perjalanan mereka.

Foto pertama.

Saat mereka datang.

Rapat pertama.

Kegiatan pertama.

Perpustakaan.

Digitalisasi.

Masyarakat.

Anak-anak.

Perangkat desa.

Kegiatan malam.

Dan foto-foto terakhir.

Farida melihat foto pertama mereka.

Sepuluh orang berdiri di depan kantor desa.

Masih terlihat canggung.

Belum mengenal satu sama lain.

Kemudian ia membuka foto terbaru.

Mereka masih sepuluh.

Tetapi semuanya tampak berbeda.

Lebih dekat.

Lebih dewasa.

Lebih sulit untuk berpisah.

 

“Kita Berubah.”

Agatha berkata,

“Kita berubah.”

Jevin mengangguk.

“Banyak.”

Farida tersenyum.

“Empat puluh hari.”

Agatha menatap foto.

“Kadang waktu tidak perlu lama untuk mengubah seseorang.”

Mereka diam.

Karena masing-masing tahu.

Perubahan itu tidak hanya terjadi pada program.

Tetapi pada diri mereka sendiri.

 

Hari Ke-37 — Persiapan Serah Terima

Tiga hari lagi.

Kantor desa mulai sibuk mempersiapkan acara penutupan KKN.

Namun Raka meminta agar acara tersebut tidak hanya menjadi seremoni.

Ia ingin ada penyerahan nyata.

Theo menyiapkan:

  • panduan digitalisasi;
  • struktur arsip;
  • sistem pencadangan;
  • dokumen pelatihan.

Kelompok perpustakaan menyiapkan:

  • daftar koleksi;
  • sistem layanan;
  • panduan pengelolaan;
  • hasil revitalisasi.

PDD menyiapkan:

  • arsip foto;
  • video dokumentasi;
  • desain;
  • folder digital.

Raka menyiapkan:

  • naskah Buku Sejarah Desa Awan Biru.

Semua dikemas rapi.

 

Raka Bertemu Siska

Menjelang sore, Raka berada di kantor desa.

Siska datang membawa beberapa dokumen.

“Ini arsip terakhir.”

Raka menerimanya.

“Terima kasih.”

Siska tidak langsung pergi.

Ia berdiri beberapa saat.

“Raka.”

“Ya?”

“Besok kamu sibuk?”

“Pasti.”

“Lusa?”

“Lebih sibuk.”

Siska tersenyum.

“Berarti tinggal sedikit waktu.”

Raka menatapnya.

“Iya.”

Mereka terdiam.

Kemudian Siska berkata,

“Jangan terlalu sibuk sampai lupa berpamitan.”

Raka tersenyum.

“Mana mungkin?”

“Bisa saja.”

“Tidak akan.”

Siska mengangguk.

 

Percakapan yang Tidak Selesai

Raka kemudian bertanya,

“Kalau saya pergi nanti…”

Siska menunggu.

“Apa yang harus saya lakukan supaya tetap bisa berkomunikasi dengan kamu?”

Siska tersenyum kecil.

“Hubungi saja.”

“Tidak mengganggu?”

“Kalau saya sibuk, saya jawab nanti.”

Raka tertawa.

“Sesederhana itu?”

“Memangnya harus bagaimana?”

Raka menggeleng.

“Tidak.”

Siska menatapnya.

“Raka.”

“Ya?”

“Jangan membuat janji hanya karena kita akan berpisah.”

Raka terdiam.

“Aku tidak mau janji yang lahir dari rasa takut kehilangan.”

Kalimat itu membuat Raka tidak mampu menjawab.

Siska melanjutkan,

“Kalau memang setelah pulang kita masih ingin saling mengenal, biarkan waktu yang membuktikan.”

Raka mengangguk perlahan.

“Aku setuju.”

Untuk pertama kalinya mereka berbicara tentang perasaan tanpa menyebut kata cinta.

Namun keduanya memahami.

 

MALAM KE-37 — RASA KEHILANGAN MULAI NYATA

Malam itu sekretariat terasa berbeda.

Beberapa kardus mulai ditutup.

Pakaian mulai dikemas.

Peralatan mulai dikembalikan.

Meja yang selama ini penuh laptop mulai kosong.

Dinding yang dipenuhi catatan program mulai dibersihkan.

Raka berdiri di tengah ruangan.

Ia memandang tempat itu.

Di sinilah mereka pernah tertawa.

Berdebat.

Lelah.

Saling menyalahkan.

Saling menguatkan.

Dan akhirnya menjadi keluarga kecil.

Theo datang.

“Sudah?”

“Belum.”

“Apa yang dilihat?”

Raka tersenyum.

“Kenangan.”

Theo tertawa.

“Belum waktunya sentimental.”

“Besok mungkin lebih sentimental.”

 

SEPULUH NAMA

Raka mengambil selembar kertas.

Ia menulis nama mereka satu per satu.

Theo Rahman.

Raka.

Evianti.

Sifa.

Bagas.

Leni.

Fajar.

Agatha.

Farida.

Jevin.

Sepuluh nama.

Sepuluh orang yang datang sebagai mahasiswa.

Namun selama empat puluh hari mereka berubah menjadi sebuah keluarga.

Raka menatap daftar itu.

Ia kemudian menulis di bawahnya:

“Kami pernah datang.”

Lalu:

“Kami pernah bekerja.”

Kemudian:

“Kami pernah menjadi bagian dari desa ini.”

Dan terakhir:

“Semoga yang kami tinggalkan lebih panjang umurnya daripada kehadiran kami.”

 

DELAPAN HARI MENJADI TIGA

Hari ke-37 berakhir.

Tinggal tiga hari menuju kepulangan.

Program hampir selesai.

Sistem hampir sepenuhnya diserahkan.

Perpustakaan telah berjalan.

Dokumentasi telah tersusun.

Buku sejarah telah selesai.

Tetapi justru saat semua pekerjaan selesai, muncul kekosongan.

Karena selama ini kesibukan membuat mereka tidak sempat memikirkan perpisahan.

Kini pekerjaan hampir tidak ada.

Dan perasaan yang selama ini disimpan mulai muncul ke permukaan.

 

Malam Itu Raka Tidak Bisa Tidur

Ia membuka buku catatan pemberian Siska.

Halaman terakhir yang ia tulis masih terbuka.

Ia menambahkan:

“Hari ke-37.

Tiga hari lagi kami pulang.

Saya pikir yang paling sulit dari KKN adalah menyelesaikan program.

Ternyata saya salah.

Yang paling sulit adalah menerima bahwa setelah semua selesai, kita harus meninggalkan orang-orang yang membuat tempat ini terasa berarti.”

Ia berhenti.

Kemudian menambahkan:

“Saya tidak tahu apakah Siska akan tetap menjadi bagian dari hidup saya setelah ini.

Tetapi saya tahu satu hal.

Empat puluh hari terlalu singkat untuk melupakan seseorang.”

Raka menutup buku.

Di luar, angin malam bergerak perlahan.

Desa Awan Biru tetap terjaga.

Dan tanpa mereka sadari, desa itu sedang menyimpan satu per satu nama yang kelak akan menjadi kenangan.

 

TIGA HARI TERAKHIR

Hari ke-37 telah berlalu.

Besok mereka akan memasuki hari ke-38.

Setelah itu hari ke-39.

Kemudian hari terakhir.

Hari ke-40.

Hari yang sejak awal mereka tunggu.

Hari yang dulu terasa begitu jauh.

Kini justru menjadi sesuatu yang mereka takutkan.

Karena pada hari itu, mereka tidak hanya menyerahkan program.

Mereka akan menyerahkan sebuah bagian dari kehidupan mereka kepada Desa Awan Biru.

Dan bagi Raka, ada satu hal yang belum selesai.

Bukan buku.

Bukan digitalisasi.

Bukan perpustakaan.

Melainkan sebuah perasaan yang belum pernah benar-benar mereka beri nama.

Sementara bagi Theo, ada pertanyaan lain:

Apakah sistem yang ia bangun akan benar-benar hidup setelah ia pergi?

Dan bagi seluruh anggota kelompok:

Apakah persahabatan yang terbentuk selama empat puluh hari akan tetap utuh ketika mereka kembali ke dunia masing-masing?

Tiga hari.

Hanya tiga hari.

Dan setelah itu—

mereka akan pergi.

Tetapi mereka belum tahu bahwa hari-hari terakhir justru akan menjadi hari-hari paling berat dalam seluruh perjalanan KKN mereka.

Karena ketika seseorang tahu bahwa perpisahan sudah dekat, setiap percakapan menjadi lebih berarti.

Setiap tawa terasa lebih berharga.

Setiap tempat menjadi kenangan.

Dan setiap nama—

mulai terasa sulit untuk dilupakan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB XX

HARI KETIKA MEREKA PERGI

Hari Ke-40

 

Pagi itu datang terlalu cepat.

Tidak ada yang menyukai pagi seperti ini. Selama tiga puluh sembilan hari sebelumnya, mereka selalu memiliki alasan untuk bangun dan segera bergerak. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, program yang harus dikejar, rapat yang harus dihadiri, data yang harus diperiksa, buku yang harus ditata, foto yang harus dipilih, dan sejarah desa yang harus ditulis.

Tetapi pagi hari ke-40 berbeda.

Hari itu tidak lagi meminta mereka untuk mengejar sesuatu. Hari itu meminta mereka meninggalkan sesuatu.

Di dinding sekretariat masih tergantung kalender KKN. Raka berdiri di depannya cukup lama. Tangannya menyentuh angka yang dilingkari sejak hari pertama.

40.

Dulu angka itu terasa begitu jauh. Kini justru terasa terlalu dekat.

Ia menarik napas. Kemudian menoleh ke seluruh ruangan. Kamar yang selama empat puluh hari menjadi tempat mereka makan, bercanda, berdebat, bekerja, mengeluh, tertawa, bahkan menangis, kini mulai kosong.

Beberapa kardus telah ditutup. Tas-tas sudah tersusun. Kabel-kabel telah digulung. Meja yang biasanya penuh laptop dan dokumen kini hampir bersih.

Raka tersenyum tipis. "Jadi benar-benar selesai."

Dari belakang terdengar suara Theo. "Programnya selesai."

Raka menoleh. Theo berdiri sambil membawa laptop.

"Kalau kita?" tanya Raka.

Theo mengangkat bahu. "Kita belum tentu selesai."

Raka tersenyum. Mereka saling memandang. Tidak ada yang perlu dijelaskan.

 

Pagi Terakhir

Satu per satu anggota kelompok keluar dari kamar. Evianti membawa tas kecil. Sifa memegang beberapa buku yang akan dikembalikan. Bagas dan Fajar mengangkat kardus. Leni memeriksa barang-barang terakhir. Agatha membawa kamera. Farida dan Jevin membawa hard drive dokumentasi.

Mereka masih terlihat seperti kelompok KKN yang sama. Tetapi ada sesuatu yang telah berubah.

Mereka tidak lagi datang sebagai sepuluh mahasiswa yang belum saling mengenal. Mereka pergi sebagai sepuluh orang yang telah berbagi empat puluh hari kehidupan.

Raka berdiri di tengah ruangan. "Semua sudah?"

"Sudah," jawab mereka hampir bersamaan.

Theo tersenyum. "Coba periksa sekali lagi."

Fajar menghela napas. "Sudah tiga kali."

Theo tertawa. "Kalau begitu empat kali."

Mereka tertawa. Tawa yang sederhana. Namun di baliknya ada kesedihan yang mulai sulit disembunyikan.

Bagas menatap ruangan itu. "Aku tidak percaya kita akan meninggalkan tempat ini."

Fajar mengangguk. "Rasanya baru kemarin kita datang."

Evianti tersenyum sedih. "Empat puluh hari ternyata cepat sekali."

Agatha mengangkat kameranya. "Satu foto lagi?"

"Foto apa?" tanya Farida.

"Foto ruangan kosong." Agatha menatap sekretariat. "Untuk mengingat bahwa kita pernah di sini."

Ia mengambil foto. Ruangan yang kosong. Meja yang bersih. Dinding yang tanpa catatan.

Jevin berkata, "Ini foto yang paling menyedihkan."

"Tapi paling jujur," kata Agatha.

 

Kunjungan Terakhir ke Kantor Desa

Sekitar pukul delapan pagi, mereka berjalan bersama menuju kantor desa. Tidak ada lagi proposal di tangan. Tidak ada lagi daftar program. Tidak ada lagi jadwal kegiatan. Yang mereka bawa hanyalah dokumen-dokumen terakhir untuk diserahkan.

Pemerintah desa telah menunggu.

Theo menyerahkan dokumen digitalisasi. "Ini panduan lengkapnya."

Ia menjelaskan sekali lagi: pengelolaan arsip, struktur folder, pencadangan, pemeliharaan data, pengelolaan informasi, dan langkah jika terjadi kendala.

Salah seorang perangkat desa berkata, "Kalau nanti ada yang lupa?"

Theo tersenyum. "Buka panduannya."

Semua tertawa.

Kemudian Theo menambahkan, "Kalau masih tidak mengerti, baru hubungi kami."

Seorang perangkat desa menjawab, "Berarti kalian belum benar-benar pergi."

Theo menggeleng. "Kami pergi. Tapi ilmu yang kami tinggalkan tidak boleh ikut pergi."

Ruangan mendadak hening.

Pak Karto yang duduk di belakang berdiri. "Theo."

Theo menoleh. "Ya, Pak?"

Pak Karto mendekat. Tangannya gemetar sedikit. "Saya... mau berterima kasih."

Theo terkejut. "Pak, tidak perlu—"

"Biarkan saya selesai." Pak Karto menatapnya. "Empat puluh hari lalu, saya tidak mau menyentuh komputer. Sekarang saya bisa menyimpan data sendiri. Saya bisa mencari arsip sendiri."

Ia berhenti. "Kamu mengajari saya dengan sabar. Padahal saya sering memarahimu."

Theo tersenyum. "Saya tidak pernah marah, Pak."

"Kenapa?"

"Karena Bapak bukan musuh saya. Bapak adalah orang yang harus saya bantu."

Pak Karto terdiam. Kemudian ia mengulurkan tangan. "Terima kasih, Theo."

Theo menjabat tangannya. "Terima kasih kembali, Pak. Karena Bapak mau belajar."

Mereka berjabat tangan cukup lama. Siska yang melihat dari kejauhan tersenyum.

 

Serah Terima Perpustakaan

Setelah itu, giliran kelompok Evianti. Mereka menyerahkan daftar koleksi buku, sistem layanan, jadwal kegiatan literasi, data inventaris, dan panduan pengelolaan perpustakaan.

Evianti berkata, "Mulai hari ini perpustakaan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab desa."

Pengelola perpustakaan mengangguk. "Kami akan menjaganya."

Sifa tersenyum. "Bukan hanya menjaganya."

Pengelola itu menatapnya. "Lalu?"

"Buat semakin hidup."

Pengelola tersenyum. "Kami akan coba."

Evianti melihat rak-rak buku. Ada rasa bangga sekaligus sedih. Tempat itu bukan lagi ruangan yang sama seperti ketika mereka datang. Namun justru karena itulah mereka bisa pergi dengan tenang.

"Ev," panggil Bagas.

Evianti menoleh. "Ya?"

"Maaf karena dulu aku marah di perpustakaan."

Evianti tersenyum. "Sudah lama."

"Tapi aku masih ingat." Bagas menatapnya. "Aku minta maaf karena tidak melihat betapa keras kalian bekerja."

Evianti menggeleng. "Kita semua lelah saat itu. Yang penting kita selesai bersama."

Bagas mengangguk. "Kita selesai bersama."

 

Arsip yang Menyimpan Empat Puluh Hari

Agatha, Farida, dan Jevin kemudian menyerahkan dokumentasi. Hard drive diserahkan. Folder diperiksa. Foto dan video telah tersusun.

Agatha berkata, "Jangan hanya disimpan."

Perangkat desa mengangguk.

"Setiap kegiatan desa setelah ini harus didokumentasikan," lanjut Agatha.

Farida menambahkan, "Karena suatu hari nanti dokumentasi ini akan menjadi sejarah."

Jevin tersenyum. "Seperti kami sekarang."

Agatha menatapnya. "Kita belum jadi sejarah."

Jevin tertawa. "Di desa ini, mungkin sudah."

Mereka kembali tertawa. Tetapi kali ini tawa itu terdengar lebih pelan.

Agatha kemudian menatap perangkat desa. "Satu pesan."

"Ya?"

"Jangan pernah berhenti mendokumentasikan desa ini. Karena foto-foto itu akan menjadi saksi bagi generasi yang akan datang."

Perangkat desa mengangguk. "Kami akan ingat."

 

Buku Sejarah Desa Awan Biru

Raka berdiri membawa satu buku. Sampulnya sederhana.

SEJARAH DESA AWAN BIRU

Ia menyerahkannya kepada pemerintah desa. "Ini hasil terakhir yang bisa kami tinggalkan."

Buku itu diterima dengan hati-hati.

Raka berkata, "Masih bisa dikembangkan."

"Masih ada yang kurang?"

"Sejarah tidak pernah benar-benar selesai." Ia tersenyum. "Karena desa ini akan terus membuat sejarah baru."

Kepala desa membuka beberapa halaman. "Ada nama kalian di sini?"

Raka menggeleng. "Hanya sedikit. Buku ini tentang desa."

Kepala desa menatapnya. "Tapi kalian yang menulisnya."

"Kami hanya alatnya." Raka tersenyum. "Desa ini yang punya ceritanya."

Siska berdiri beberapa langkah dari sana. Mata mereka sempat bertemu. Tidak ada kata. Namun keduanya tahu bahwa buku itu menyimpan lebih banyak cerita daripada yang tertulis di dalamnya.

 

Pak Karto dan Siska

Setelah serah terima, Pak Karto mendekati Siska.

"Siska."

"Ya, Pak?"

Pak Karto menatapnya. "Kamu akan menjaga sistem ini?"

Siska mengangguk. "Saya akan."

"Kamu tidak takut?"

Siska tersenyum. "Takut. Tapi saya sudah belajar."

Pak Karto mengangguk. "Kalau kamu butuh bantuan, panggil saya."

Siska terkejut. "Pak Karto mau membantu?"

"Kenapa tidak?" Pak Karto menggerutu. "Saya sudah bisa komputer sekarang."

Siska tertawa. "Baik, Pak. Saya akan panggil."

Pak Karto tersenyum kecil. Lalu pergi.

Siska menatap punggungnya. Ia tidak menyangka bahwa lelaki tua yang dulu paling menolak perubahan kini menjadi salah satu orang yang paling siap menjaganya.

 

Foto Terakhir di Kantor Desa

Sebelum acara perpisahan, Agatha meminta semua berkumpul.

"Foto terakhir!"

Mereka berdiri di depan kantor desa. Raka di tengah. Theo di sampingnya. Evianti, Sifa, Bagas, Leni, Fajar, Agatha, Farida, dan Jevin berdiri mengapit. Siska dan perangkat desa berada di belakang.

Agatha mengatur kamera. "Semua lihat sini."

Mereka tersenyum.

Klik.

Satu foto.

Tidak ada yang tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, mungkin foto itulah yang akan paling sering mereka buka ketika ingin mengingat empat puluh hari yang pernah mereka jalani.

"Bagus," kata Agatha. "Sekarang satu lagi."

"Untuk apa?" tanya Farida.

Agatha tersenyum. "Untuk kami."

Ia mengatur timer. Kamera diletakkan di atas meja. Semua berkumpul. Mahasiswa dan perangkat desa.

Klik.

Foto kedua.

Agatha memeriksa hasilnya. "Ini yang paling bagus."

 

Anak-Anak Perpustakaan Datang

Ketika mereka keluar dari kantor desa, beberapa anak sudah menunggu.

"Kak!"

Evianti berhenti. Anak-anak berlari mendekat.

"Kakak mau pulang?" tanya seorang anak.

"Iya."

"Besok datang lagi?"

Evianti terdiam sejenak. "Tidak besok."

"Lusa?"

Sifa tersenyum sedih. "Tidak juga."

Anak itu menunduk. Kemudian bertanya, "Kalau Kakak pulang, perpustakaannya tetap buka?"

Evianti mengangguk. "Buka."

"Buku-bukunya tetap ada?"

"Masih."

Anak itu tersenyum. "Kalau begitu Kakak boleh pulang."

Evianti memeluknya. Matanya berkaca-kaca. "Jangan berhenti membaca."

Anak itu mengangguk. "Janji."

Seorang anak lain mendekati Raka. "Kak Raka."

Raka menunduk. "Ya?"

"Kakak yang menulis buku sejarah?"

Raka tersenyum. "Iya."

"Boleh saya baca?"

"Tentu. Buku itu untuk semua orang."

Anak itu mengangguk. "Kalau begitu saya akan membaca."

Raka menepuk kepalanya. "Bagus."

 

Theo dan Sistem yang Ditinggalkannya

Sebelum berangkat, Theo kembali ke kantor desa. Ia membuka komputer. Sistem berjalan. Data tersimpan. Cadangan tersedia.

Siska berdiri di sampingnya. "Sudah?"

Theo mengangguk. "Sudah."

"Tidak ada yang perlu diperiksa lagi?"

Theo melihat layar untuk terakhir kalinya. Kemudian menutup laptop. "Tidak."

Siska tersenyum. "Kamu lega?"

Theo berpikir sejenak. "Bukan lega."

"Lalu?"

"Puas."

"Karena sistemnya berhasil?"

Theo menggeleng. "Karena saya tahu sistem ini bisa berjalan tanpa saya."

Siska tersenyum. "Sekarang kamu benar-benar boleh pulang."

Theo berdiri. "Jaga baik-baik."

Siska mengangguk. "Pasti."

Theo kemudian menatap ruangan itu sekali lagi. Ia tahu bahwa sebagian dari dirinya akan tetap berada di sana. Bukan dalam bentuk namanya. Tetapi dalam kebiasaan baru yang telah ia tinggalkan.

"Theo," panggil Siska.

"Ya?"

"Terima kasih."

Theo tersenyum. "Untuk apa?"

"Untuk tidak menyerah."

Theo mengangguk. "Aku tidak bisa menyerah. Ada yang harus aku buktikan."

"Apa?"

"Bahwa teknologi bisa membantu, bukan menggantikan."

Siska tersenyum. "Kamu berhasil."

Theo tidak menjawab. Tapi matanya berkata: terima kasih.

 

Raka dan Siska

Menjelang keberangkatan, Raka kembali ke kantor desa. Siska berada di teras.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri. Tidak ada pekerjaan yang bisa dijadikan alasan. Tidak ada dokumen yang harus diperiksa. Tidak ada rapat. Tidak ada program. Hari itu mereka hanya memiliki satu alasan untuk berbicara: perpisahan.

Raka berkata, "Jadi..."

Siska tersenyum. "Jadi."

"Empat puluh hari."

"Cepat."

"Dulu rasanya lama."

"Sekarang?"

Raka menggeleng. "Seperti terlalu sebentar."

Siska menunduk. Angin pagi bergerak perlahan.

Raka berkata, "Terima kasih."

Siska menatapnya. "Untuk apa?"

"Untuk semuanya."

"Termasuk sejarah desa?"

"Termasuk."

Siska tersenyum. "Dan?"

Raka terdiam. Kemudian berkata, "Termasuk karena sudah membuat saya merasa bahwa ada bagian dari desa ini yang sulit saya tinggalkan."

Siska tidak langsung menjawab. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Raka."

"Ya?"

"Jangan membuat saya menangis."

Raka tersenyum tipis. "Saya juga sedang berusaha tidak menangis."

Mereka tertawa kecil. Namun tawa itu segera hilang.

 

Tidak Ada Janji

Siska berkata pelan, "Kita sudah pernah membicarakannya."

Raka mengangguk. "Jangan membuat janji karena takut kehilangan."

"Iya."

"Kalau setelah pulang kita masih ingin berbicara..."

"Kita berbicara."

"Kalau masih ingin bertemu?"

"Kita cari waktu."

"Kalau ternyata kesibukan membuat kita semakin jauh?"

Raka terdiam. Kemudian menjawab, "Kita tidak perlu memaksa sesuatu yang memang tidak bisa dipaksa."

Siska mengangguk. Itulah jawaban paling dewasa yang bisa mereka berikan. Tidak ada janji seumur hidup. Tidak ada kata-kata besar. Hanya sebuah kesempatan. Kesempatan untuk melihat apakah perasaan yang lahir selama empat puluh hari mampu bertahan setelah mereka kembali ke dunia masing-masing.

"Tapi," kata Raka.

"Tapi?"

"Aku ingin kamu tahu."

"Tahu apa?"

Raka menatap matanya. "Aku tidak akan melupakanmu."

Siska tersenyum. "Aku juga."

 

Satu Kalimat yang Belum Diucapkan

Raka menggenggam tangan Siska. "Siska."

"Ya?"

"Aku—" Ia berhenti.

Siska menatapnya. Kali ini ia tidak membiarkan Raka berhenti. "Apa?"

Raka menarik napas. "Aku menyukaimu."

Siska terdiam.

Raka melanjutkan, "Aku tidak tahu apakah ini cinta. Aku tidak tahu apakah ini hanya karena empat puluh hari. Tapi aku tahu satu hal: selama di sini, kamu adalah alasan aku selalu ingin datang ke kantor desa."

Siska tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca.

Raka tersenyum. "Kamu tidak perlu menjawab. Aku hanya ingin kamu tahu."

Siska akhirnya berkata, "Raka..."

"Ya?"

"Aku juga."

Raka terkejut. "Serius?"

Siska mengangguk. "Tapi aku tidak mau membuat janji."

"Aku tidak memintamu."

"Bagus."

Mereka tersenyum. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Hanya dua orang yang saling menatap dengan mata berkaca-kaca.

"Jaga diri," kata Siska.

"Kamu juga."

"Jangan lupa Awan Biru."

Raka tersenyum. "Tidak mungkin."

Kemudian ia berkata, "Dan kamu..."

Siska menunggu.

"Jangan lupa saya."

Siska tersenyum. "Bagaimana mungkin?"

 

Sebuah Buku Kecil

Siska kemudian memberikan sesuatu kepada Raka. Buku catatan kecil yang pernah diberikannya beberapa hari sebelumnya.

Raka melihatnya. "Kenapa dikembalikan?"

"Bukan dikembalikan." Siska tersenyum. "Tambahkan satu halaman terakhir."

Raka membuka buku itu. Halaman terakhir masih kosong.

"Harus ditulis sekarang?"

Siska mengangguk.

Raka mengambil pena. Ia menulis:

"Hari ke-40.

Hari ini kami pergi.

Kami meninggalkan kantor desa, perpustakaan, sistem digital, buku sejarah, foto, dan banyak hal lain yang pernah kami kerjakan.

Tetapi saya tahu, ada sesuatu yang tidak saya tinggalkan.

Sesuatu itu saya bawa pulang.

Namanya: kenangan.

Dan seseorang yang bernama Siska Damayanti.

Saya tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi. Tapi saya tahu satu hal: empat puluh hari bersamamu adalah bagian terbaik dari perjalanan ini.

Terima kasih."

Raka menutup buku. Siska membaca. Ia tersenyum.

"Sudah?"

"Sudah."

"Bagus."

 

Ketika Kendaraan Sudah Menunggu

Dari kejauhan terdengar suara kendaraan. Fajar berteriak, "Raka! Berangkat!"

Raka menoleh. Kemudian kembali melihat Siska.

Mereka berjabat tangan. Kali ini tidak segera dilepaskan.

"Jaga diri," kata Siska.

"Kamu juga."

"Jangan lupa Awan Biru."

Raka tersenyum. "Tidak mungkin."

Kemudian ia berkata, "Dan kamu..."

Siska menunggu.

"Jangan lupa saya."

Siska tersenyum. "Bagaimana mungkin?"

Raka terdiam. Siska kemudian melepaskan tangannya.

"Pergilah."

Raka mengangguk. Ia berbalik. Berjalan beberapa langkah. Kemudian berhenti. Menoleh sekali lagi.

Siska masih berdiri di sana.

"Raka!" teriak Siska tiba-tiba.

Raka menatapnya.

"Aku akan menunggu!" teriak Siska.

Raka tersenyum lebar. Ia mengangkat tangan. Kemudian berbalik dan berjalan menuju kendaraan.

 

Mereka Naik ke Kendaraan

Satu per satu mahasiswa naik. Theo duduk dekat jendela. Evianti masih melambaikan tangan kepada anak-anak. Sifa memeluk Leni. Bagas dan Fajar mencoba bercanda untuk mengurangi kesedihan. Agatha menyiapkan kamera. Farida melihat kembali foto-foto terakhir. Jevin duduk diam.

Raka mengambil tempat di dekat jendela.

Kendaraan mulai bergerak. Perlahan.

Tidak ada yang berbicara.

Desa Awan Biru mulai bergerak mundur di balik kaca. Kantor desa. Perpustakaan. Jalan yang selama empat puluh hari mereka lalui. Rumah-rumah warga. Lapangan. Pohon-pohon. Semuanya semakin jauh.

 

Satu Kali Lagi

Raka menoleh ke belakang. Siska masih berdiri. Kali ini lebih jauh. Raka mengangkat tangan. Siska membalas.

Kendaraan terus bergerak. Jarak semakin panjang. Kemudian sebuah tikungan menutup pandangan. Siska menghilang.

Raka tetap menatap jalan yang telah kosong.

Theo yang duduk di sebelahnya berkata, "Sudah."

Raka tidak menjawab.

Theo menepuk bahunya. "Jangan melihat ke belakang terus."

Raka tersenyum. "Saya hanya ingin memastikan."

"Memastikan apa?"

Raka menarik napas. "Bahwa tempat itu benar-benar ada."

Theo memandang ke luar. "Ada."

"Sekarang kita pergi."

"Iya."

 

Bagas Menangis

Di belakang, Bagas tiba-tiba menunduk. Bahunya bergetar.

Fajar melihatnya. "Bagas?"

Bagas tidak menjawab.

Fajar menepuk punggungnya. "Hei."

Bagas mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Aku... aku tidak tahu kenapa."

Fajar tersenyum. "Kita semua."

"Aku tidak pernah menangis."

"Pertama kali untuk semuanya."

Leni yang duduk di sebelah mereka tersenyum sedih. "Aku juga hampir."

Sifa memeluk Leni. "Jangan."

"Sudah."

Evianti menatap ke luar. "Empat puluh hari."

Sifa mengangguk. "Cukup untuk membuat kita seperti ini."

 

Theo dan Raka

Theo menatap Raka. "Kamu baik-baik saja?"

Raka tersenyum. "Tidak."

Theo mengangguk. "Aku juga."

"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"

Theo berpikir. "Kembali ke kampus. Menyelesaikan skripsi. Mungkin..."

"Mungkin apa?"

Theo tersenyum. "Mungkin kembali ke sini suatu hari."

Raka menatapnya. "Benarkah?"

Theo mengangguk. "Ada yang harus saya pastikan."

"Apa?"

Theo menunjuk ke arah belakang—ke arah desa yang sudah tak terlihat. "Sistem itu masih berjalan."

Raka tersenyum. "Kamu tidak percaya?"

"Aku percaya. Tapi aku ingin melihat."

 

Desa yang Tetap Tinggal

Kendaraan semakin jauh meninggalkan Desa Awan Biru. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Mereka membiarkan kesunyian mengisi perjalanan.

Empat puluh hari.

Begitu banyak hal terjadi dalam waktu yang begitu singkat.

Mereka datang membawa program. Mereka menemukan persoalan. Mereka menghadapi perbedaan. Mereka berdebat. Mereka gagal. Mereka mencoba lagi. Mereka membangun. Mereka belajar. Mereka tertawa. Mereka menangis. Mereka saling mengenal.

Dan tanpa pernah merencanakannya—mereka meninggalkan sebagian hati mereka di sebuah desa.

 

Agatha Membuka Foto

Agatha membuka kameranya. Ia melihat foto terakhir yang diambil. Semua orang tersenyum. Di belakang mereka, kantor desa Awan Biru berdiri kokoh.

"Agatha," panggil Farida.

"Ya?"

"Foto itu akan kita simpan?"

Agatha mengangguk. "Selamanya."

Jevin tersenyum. "Aku akan mencetaknya."

"Untuk apa?"

"Untuk mengingat bahwa kita pernah di sini."

 

Di Ujung Jalan

Sebelum Desa Awan Biru benar-benar hilang dari pandangan, Raka membuka buku catatan kecilnya sekali lagi. Ia melihat halaman terakhir yang baru saja ditulisnya.

Kemudian menambahkan satu kalimat di bawahnya:

"Kami datang hanya selama empat puluh hari, tetapi mungkin desa ini akan tinggal bersama kami jauh lebih lama."

Ia menutup buku. Kendaraan terus bergerak menuju perjalanan pulang.

Di belakang mereka, Desa Awan Biru kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Namun sesuatu telah berubah.

Sistem digital mulai digunakan. Perpustakaan mulai berjalan dengan caranya sendiri. Dokumentasi desa tersimpan. Buku sejarah telah memiliki tempat.

Dan nama-nama sepuluh mahasiswa itu kini menjadi bagian kecil dari perjalanan sebuah desa.

Mereka tidak membangun monumen. Tidak mendirikan patung. Tidak meninggalkan sesuatu yang megah. Mereka hanya meninggalkan kemampuan untuk melanjutkan.

Dan mungkin, itulah bentuk pengabdian yang paling jujur.

 

Siska di Kantor Desa

Di kantor desa, Siska masih berdiri di teras. Ia telah melihat kendaraan itu menghilang di tikungan.

Ia tidak menangis. Tidak juga tersenyum. Ia hanya berdiri diam.

Pak Karto mendekatinya. "Siska."

Siska menoleh. "Ya, Pak?"

"Mereka sudah pergi."

"Iya."

"Kamu baik-baik saja?"

Siska tersenyum. "Saya baik-baik saja, Pak."

Pak Karto menatapnya. "Kamu berbohong."

Siska tertawa kecil. "Mungkin."

Pak Karto mengangguk. "Aku juga berbohong. Aku juga tidak baik-baik saja."

Mereka berdiri berdampingan. Menatap jalan yang sudah kosong.

Pak Karto berkata, "Mereka akan kembali?"

Siska menggeleng. "Tidak tahu."

"Kamu berharap?"

Siska tersenyum. "Mungkin."

 

Siska Membuka Komputer

Siska kembali ke dalam kantor. Ia duduk di depan komputer. Sistem masih berjalan. Data tersimpan. Folder tertata.

Ia membuka satu folder. Di dalamnya ada foto-foto empat puluh hari terakhir. Foto Raka. Foto Theo. Foto semua mahasiswa. Foto perpustakaan. Foto anak-anak.

Ia menatap layar cukup lama.

Kemudian ia menutup komputer dan berkata pelan, "Aku akan menunggu."

 

Raka di Dalam Kendaraan

Raka masih memegang buku catatan kecil itu. Ia tidak membukanya lagi. Cukup digenggam.

Theo menatapnya. "Apa isinya?"

Raka tersenyum. "Cerita."

"Cerita apa?"

Raka menatap ke luar jendela. "Cerita tentang desa yang menyimpan namamu."

Theo mengangguk. "Judul yang bagus."

Raka tersenyum. "Ya."

 

Kendaraan Semakin Jauh

Kendaraan terus melaju. Desa Awan Biru telah benar-benar hilang dari pandangan. Yang tersisa hanyalah jalan panjang dan kenangan.

Raka memejamkan mata. Ia tidak lagi melihat ke belakang. Ia sudah cukup.

Ia tahu tempat itu ada. Ia tahu orang-orang itu ada. Ia tahu sistem itu ada. Ia tahu buku itu ada. Ia tahu perpustakaan itu ada.

Dan ia tahu Siska ada.

Mungkin suatu hari ia akan kembali. Mungkin tidak. Tapi satu hal yang ia tahu: empat puluh hari itu bukanlah akhir. Itu adalah awal dari sesuatu yang akan terus hidup—dalam ingatan, dalam kebiasaan, dalam buku, dalam foto, dan dalam hati orang-orang yang pernah berada di sana.

 

Desa Awan Biru

Di kejauhan, Desa Awan Biru tetap berdiri. Matahari mulai meninggi. Anak-anak berlarian di jalan. Perpustakaan mulai dibuka. Kantor desa mulai ramai.

Pak Karto duduk di depan komputer. Ia membuka sistem yang diajarkan Theo.

Siska berdiri di sampingnya. "Sudah bisa, Pak?"

Pak Karto menggerutu. "Saya sudah belajar."

Siska tersenyum. "Coba saya lihat."

Pak Karto menyimpan sebuah file. Dengan benar.

"Bagus, Pak."

Pak Karto tersenyum kecil. "Theo akan bangga."

Siska mengangguk. "Iya. Dia akan bangga."

 

Dan di suatu tempat di perjalanan pulang, Raka membuka buku catatan kecilnya sekali lagi. Ia menulis satu kalimat terakhir:

"Aku datang untuk mengabdi selama empat puluh hari. Tapi aku pergi dengan membawa sebuah desa di dalam hatiku. Dan seseorang yang namanya tidak akan pernah aku lupakan."

Ia menutup buku. Menyimpannya di saku paling dekat dengan jantungnya.

Kendaraan terus melaju.

Desa Awan Biru tetap di belakang.

Tapi jejaknya—akan selalu ada.

 

EPILOG

DESA YANG MENYIMPAN NAMAMU

Ketika Mereka Pergi, Sebuah Desa Belajar Melanjutkan Mimpi

Beberapa bulan setelah kendaraan itu meninggalkan Desa Awan Biru, kehidupan desa berjalan seperti biasa.

Matahari tetap terbit dari balik pepohonan.

Anak-anak tetap berangkat sekolah.

Petani tetap pergi ke ladang.

Kantor desa tetap membuka pintunya setiap pagi.

Tidak ada yang berubah secara dramatis.

Namun jika seseorang memperhatikan lebih dekat, akan terlihat bahwa ada sesuatu yang berbeda.

Perubahan itu tidak berteriak.

Tidak meminta perhatian.

Ia tumbuh perlahan, seperti benih yang mulai menemukan tanahnya.

 

SISTEM YANG TETAP BERJALAN

Pagi itu Siska Damayanti duduk di depan komputer kantor desa.

Sebuah data baru masuk.

Ia membukanya.

Memeriksa.

Menyimpan.

Kemudian membuat pencadangan.

Semua dilakukan tanpa bantuan siapa pun.

Ia berhenti sejenak.

Menatap layar.

Kemudian tersenyum.

Dulu Theo Rahman selalu berdiri di belakangnya.

Mengingatkan.

Mengoreksi.

Menjelaskan.

Kini kursi di belakangnya kosong.

Tetapi apa yang diajarkan Theo masih bekerja di tangannya.

Siska membuka folder arsip.

Semua tersusun rapi.

Dokumen pemerintahan.

Data kegiatan.

Dokumentasi.

Arsip sejarah.

Dan berbagai informasi desa.

Ia kemudian membuka satu folder yang diberi nama:

KKN UNIVERSITAS HARAPAN

Di dalamnya terdapat foto-foto empat puluh hari yang pernah mereka lalui.

Siska tersenyum.

Kemudian menutup folder itu.

Pekerjaan harus dilanjutkan.

 

PERPUSTAKAAN YANG TIDAK LAGI SEPI

Di tempat lain, perpustakaan Desa Awan Biru juga berubah.

Pagi itu beberapa anak duduk membaca.

Rak buku sudah lebih teratur.

Koleksi baru mulai bertambah.

Data peminjaman tercatat.

Kegiatan literasi dilaksanakan secara berkala.

Tidak ada lagi mahasiswa KKN yang harus mengingatkan pengelola.

Tidak ada lagi Evianti.

Tidak ada Sifa.

Tidak ada Bagas, Leni, atau Fajar.

Tetapi sistem yang mereka tinggalkan masih berjalan.

Seorang anak mengambil buku dari rak.

Ia kemudian duduk di tempat yang dulu sering digunakan Evianti untuk membacakan cerita.

Pengelola perpustakaan memperhatikannya.

“Buku bagus?”

Anak itu mengangguk.

“Bagus.”

“Dulu Kak Evianti pernah bilang, kalau suka membaca jangan berhenti.”

Pengelola tersenyum.

“Kalau begitu, jangan berhenti.”

Anak itu kembali membaca.

Di sudut ruangan, sebuah foto kecil mahasiswa KKN masih terpajang.

Tidak besar.

Tidak mencolok.

Tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa pernah ada sepuluh anak muda yang datang dan membantu membuat ruangan itu kembali bernapas.

 

FOTO-FOTO YANG MENJADI INGATAN

Agatha, Farida, dan Jevin telah lama kembali ke kehidupan kampus.

Namun dokumentasi yang mereka buat tetap hidup.

Setiap kegiatan desa didokumentasikan oleh perangkat desa.

Foto-foto baru mulai mengisi arsip.

Video kegiatan masyarakat tersimpan.

Dokumentasi lama menjadi pembanding dengan keadaan sekarang.

Tanpa disadari, pekerjaan PDD selama empat puluh hari telah mengajarkan satu hal sederhana:

Sebuah desa tidak hanya membutuhkan kegiatan, tetapi juga ingatan tentang kegiatan itu.

Karena waktu akan menghapus wajah.

Tetapi dokumentasi memberi kesempatan kepada generasi berikutnya untuk mengenali siapa yang pernah bekerja sebelum mereka.

 

BUKU SEJARAH DESA

Di kantor desa, Buku Sejarah Desa Awan Biru ditempatkan di sebuah rak khusus.

Sampulnya mulai sedikit berdebu.

Namun buku itu tetap dibuka sesekali.

Ketika ada warga yang ingin mengetahui sejarah desa, buku itu menjadi salah satu rujukan.

Ketika ada kegiatan desa, beberapa bagian di dalamnya kembali dibaca.

Dan ketika ada generasi muda yang bertanya tentang masa lalu, nama-nama lama kembali disebut.

Pada salah satu halaman terdapat sebuah catatan kecil:

“Disusun dengan bantuan mahasiswa KKN Universitas Harapan.”

Hanya satu kalimat.

Tidak lebih.

Tetapi di balik kalimat itu terdapat empat puluh hari kerja keras.

Raka pernah berharap namanya tercatat dalam sejarah.

Namun setelah waktu berlalu, ia justru memahami sesuatu:

yang penting bukan nama siapa yang ditulis.

Yang penting adalah sejarah itu tidak hilang.

 

THEO DAN SEBUAH PESAN

Suatu malam, Theo menerima pesan dari Siska.

Siska:
Theo, sistem hari ini berjalan lancar.

Theo membaca pesan itu sambil tersenyum.

Ia membalas:

Theo:
Berarti saya sudah benar-benar tidak dibutuhkan.

Beberapa saat kemudian Siska membalas:

Siska:
Bukan tidak dibutuhkan. Tapi sudah berhasil membuat kami bisa berjalan sendiri.

Theo menatap layar cukup lama.

Kemudian ia menyimpan ponselnya.

Ia tersenyum.

Bagi Theo, itulah kabar terbaik yang mungkin ia terima.

Karena sejak awal ia tidak ingin Desa Awan Biru bergantung kepada mahasiswa.

Ia ingin desa memiliki kemampuan untuk melanjutkan.

Dan sekarang, kabar itu datang dari orang yang dulu paling sering ia dampingi.

Siska Damayanti.

 

RAKA DAN SEBUAH NAMA

Sementara itu, Raka masih menyimpan buku catatan kecil yang diberikan Siska.

Buku itu tidak pernah ia buang.

Tidak pula ia simpan di tempat khusus.

Ia membawanya di dalam tas.

Kadang dibuka.

Kadang tidak.

Malam itu ia membaca kembali tulisan terakhirnya:

“Kami datang hanya selama empat puluh hari, tetapi mungkin desa ini akan tinggal bersama kami jauh lebih lama.”

Raka tersenyum.

Ia kemudian membuka ponsel.

Ada pesan dari Siska.

Singkat.

“Apa kabar?”

Raka membalas:

“Baik. Kamu?”

Siska menjawab:

“Baik.”

Percakapan sederhana.

Tidak ada kata cinta.

Tidak ada janji.

Tidak ada pembicaraan tentang masa depan.

Namun komunikasi itu tidak pernah benar-benar putus.

Kadang mereka berbicara tentang desa.

Kadang tentang pekerjaan.

Kadang tentang hal-hal kecil yang tidak penting.

Tetapi justru dari hal-hal kecil itulah hubungan mereka tetap hidup.

 

JARAK YANG TIDAK SELALU MEMISAHKAN

Raka pernah berpikir bahwa setelah KKN selesai, jarak akan membuat semuanya hilang.

Ternyata tidak.

Jarak memang mengubah cara mereka berkomunikasi.

Tetapi tidak selalu menghapus perasaan.

Mereka tidak memaksakan hubungan menjadi sesuatu yang belum waktunya.

Mereka hanya membiarkannya tumbuh dengan cara yang sederhana.

Jika suatu hari ada kesempatan bertemu, mereka akan bertemu.

Jika ada waktu untuk berbicara, mereka berbicara.

Jika pekerjaan membuat mereka sibuk, mereka menunggu.

Tidak ada kepastian.

Tetapi juga tidak ada keharusan untuk melupakan.

Mungkin begitulah beberapa kisah cinta bekerja.

Tidak selalu dimulai dengan pengakuan.

Tidak selalu berakhir dengan pernikahan.

Kadang ia hanya menjadi sebuah nama yang tetap membuat seseorang tersenyum ketika mengingat sebuah tempat.

 

SATU TAHUN KEMUDIAN

Suatu pagi, Raka kembali ke Desa Awan Biru.

Kali ini bukan sebagai mahasiswa KKN.

Ia datang sendiri.

Tidak membawa rompi.

Tidak membawa proposal.

Tidak membawa jadwal program.

Hanya sebuah tas dan buku catatan lama.

Ketika memasuki kantor desa, ia melihat Siska.

Mereka terdiam sesaat.

Kemudian tersenyum.

“Datang juga,” kata Siska.

Raka mengangguk.

“Katanya saya tidak boleh lupa.”

Siska tertawa.

“Masih ingat?”

“Mana mungkin lupa?”

Mereka berjalan masuk.

Theo tidak ada.

Mahasiswa lain tidak ada.

Tetapi jejak mereka ada di mana-mana.

 

“KALIAN BERHASIL.”

Siska menunjukkan komputer.

“Lihat.”

Raka melihat sistem digital.

Data tersusun.

Arsip bertambah.

Dokumen semakin rapi.

“Masih berjalan.”

“Bukan hanya berjalan,” kata Siska.

Ia membuka beberapa menu.

“Sudah berkembang.”

Raka tersenyum.

Kemudian mereka pergi ke perpustakaan.

Anak-anak sedang membaca.

Rak buku bertambah.

Kegiatan literasi berlangsung.

Raka berdiri di pintu.

Ia tidak berkata apa-apa.

Siska berkata,

“Sekarang kamu tahu.”

“Apa?”

“Kalian tidak sia-sia datang ke sini.”

Raka tersenyum.

“Bukan kami.”

“Lalu?”

“Desa ini sendiri yang melanjutkan.”

 

SEBUAH FOTO LAMA

Di dinding perpustakaan masih terdapat foto sepuluh mahasiswa.

Raka mendekatinya.

Ia melihat dirinya sendiri.

Theo.

Evianti.

Sifa.

Bagas.

Leni.

Fajar.

Agatha.

Farida.

Jevin.

Mereka semua masih tersenyum seperti empat puluh hari yang lalu.

Namun bagi Raka, foto itu terasa seperti berasal dari kehidupan yang berbeda.

Ia menyentuh bingkai foto.

“Masih dipasang?”

Siska berdiri di sampingnya.

“Kenapa harus dilepas?”

“Sudah lama.”

“Justru karena itu.”

Raka tersenyum.

 

MAKNA SEBUAH JEJAK

Mereka keluar dari perpustakaan.

Sore mulai turun.

Anak-anak pulang.

Jalan desa kembali tenang.

Raka memandang sekeliling.

Ia akhirnya memahami arti sebenarnya dari judul yang pernah ia tulis di buku catatannya.

Desa yang Menyimpan Namamu.

Bukan berarti nama mereka terukir di batu.

Bukan berarti mereka memiliki monumen.

Bukan berarti setiap orang akan selalu mengingat mereka.

Tetapi karena ada sesuatu dari mereka yang masih digunakan.

Sistem yang mereka bangun.

Buku yang mereka susun.

Perpustakaan yang mereka hidupkan.

Dokumentasi yang mereka tinggalkan.

Kebiasaan baru yang diteruskan.

Dan hubungan manusia yang pernah terjalin.

Itulah jejak.

 

SEBELUM PULANG UNTUK KEDUA KALINYA

Raka berdiri di depan kantor desa.

Siska berada di sampingnya.

“Sekarang kamu mau pulang lagi?” tanya Siska.

Raka tersenyum.

“Sepertinya begitu.”

“Tidak takut?”

“Takut apa?”

“Takut pergi lagi.”

Raka memandangnya.

“Kali ini berbeda.”

“Kenapa?”

“Dulu saya pergi tanpa tahu apakah akan kembali.”

Siska diam.

“Sekarang?”

Raka tersenyum.

“Sekarang saya tahu jalan pulangnya.”

Siska tersenyum.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada janji besar.

Hanya dua orang yang berdiri berdampingan di sebuah sore.

Namun kali ini mereka tidak merasa sedang kehilangan.

Karena mereka telah belajar:

perpisahan tidak selalu berarti akhir.

 

KEMBALI KE DESA

Kendaraan yang akan membawa Raka pulang sudah menunggu.

Ia melangkah beberapa meter.

Kemudian berhenti.

Menoleh.

Desa Awan Biru masih terlihat sama.

Tetapi sekarang ia tahu bahwa tempat itu telah menjadi bagian dari dirinya.

Ia membuka buku catatan kecil.

Di halaman terakhir, ia menulis:

“Saya pernah datang ke desa ini untuk mengabdi selama empat puluh hari.”

“Saya pikir saya datang untuk memberikan sesuatu.”

“Ternyata desa ini jauh lebih banyak memberi kepada saya.”

“Ia memberi saya persahabatan.”

“Ia memberi saya pelajaran tentang pengabdian.”

“Ia mengajarkan saya bahwa perubahan tidak harus besar untuk menjadi berarti.”

“Dan ia mempertemukan saya dengan seseorang yang sampai hari ini masih membuat saya ingin kembali.”

Raka menutup buku.

Ia tidak menulis nama Siska.

Tidak perlu.

Karena ada nama-nama yang tidak perlu dituliskan agar tetap diingat.

 

DESA YANG MENYIMPAN NAMAMU

Raka masuk ke kendaraan.

Siska berdiri di depan kantor desa.

Mereka saling melambaikan tangan.

Kali ini tidak ada kesedihan seperti setahun sebelumnya.

Karena mereka tahu:

ada pertemuan yang tidak membutuhkan kepastian.

Ada hubungan yang tidak membutuhkan janji.

Dan ada tempat yang tidak membutuhkan seseorang untuk terus tinggal agar tetap berarti.

Desa Awan Biru akan terus tumbuh.

Anak-anak akan terus membaca.

Perangkat desa akan terus bekerja.

Sistem digital akan terus digunakan.

Sejarah desa akan terus diperbarui.

Foto-foto baru akan terus memenuhi arsip.

Generasi baru akan datang.

Generasi lama akan pergi.

Begitulah kehidupan sebuah desa.

Namun di antara semua perubahan itu, akan selalu ada satu bagian kecil yang tidak pernah benar-benar hilang:

nama-nama mereka yang pernah datang dan memberikan bagian terbaik dari dirinya.

Sepuluh mahasiswa.

Empat puluh hari.

Satu desa.

Begitu banyak cerita.

Dan satu jejak yang tidak bisa dihapus oleh waktu.

 

KATA TERAKHIR

Mungkin suatu hari nanti, seorang anak yang sedang membaca buku di Perpustakaan Desa Awan Biru akan membuka halaman sejarah lama.

Ia akan menemukan nama-nama yang tidak dikenalnya.

Theo Rahman.

Raka.

Evianti.

Sifa.

Bagas.

Leni.

Fajar.

Agatha.

Farida.

Jevin.

Ia mungkin bertanya:

“Siapa mereka?”

Dan seseorang mungkin menjawab:

“Mereka pernah datang ke desa ini.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengabdi.”

“Berapa lama?”

“Hanya empat puluh hari.”

Anak itu mungkin terkejut.

“Hanya empat puluh hari?”

Dan orang itu akan tersenyum.

“Ya. Tetapi kadang-kadang, empat puluh hari sudah cukup untuk membuat sebuah nama tinggal jauh lebih lama.”

Di luar jendela perpustakaan, angin bergerak melewati pepohonan.

Halaman buku terbuka perlahan.

Dan di sebuah desa kecil bernama Awan Biru—

nama-nama itu tetap ada.

Bukan sebagai patung.

Bukan sebagai prasasti.

Bukan sebagai kenangan yang dipaksa.

Melainkan sebagai jejak kehidupan yang pernah benar-benar berarti.

Karena pada akhirnya—

mereka datang untuk mengabdi,

mereka pergi untuk melanjutkan hidup,

tetapi Desa Awan Biru menyimpan nama mereka.

Dan mungkin, di sanalah arti sesungguhnya dari sebuah pengabdian:

Kita tidak harus tinggal selamanya untuk menjadi bagian dari sebuah tempat.

Cukup pernah hadir dengan hati, bekerja dengan ketulusan, dan meninggalkan sesuatu yang membuat kehidupan terus berjalan setelah kita pergi.

DESA YANG MENYIMPAN NAMAMU

SELESAI

Empat puluh hari telah berakhir. Namun sebuah jejak baru saja dimulai.

 

 

Beri Komentar

Komentar Facebook

layananmandiri

Hubungi Aparatur Desa
Untuk mendapatkan PIN

Statistik Penduduk

Desa Sapari

153 LAKI-LAKI

147 PEREMPUAN

Total

300

Orang/Jiwa

Pendidikan

Wilayah

Agama

Usia/Umur

Pemilih

Perkawinan

Pekerjaan

Vidio
Profil Desa
Menu Kategori
Arsip Artikel
Agenda
Sinergi Program
Komentar
Media Sosial
Statistik Pengunjung
Jam Kerja

MEDIA SOSIAL
Desa Sapari, Kecamatan Muruk Rian, Kabupaten Tana Tidung - Kalimantan Utara

Hari ini:23
Kemarin:33
Total:40.006
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:216.73.216.229
Browser:Mozilla 5.0
Hari Mulai Selesai
Senin 08:00:00 16:00:00
Selasa 08:00:00 16:00:00
Rabu 08:00:00 16:00:00
Kamis 08:00:00 16:00:00
Jumat 08:00:00 16:00:00
Sabtu 08:00:00 16:00:00
Minggu Libur
Peta Lokasi Kantor
Peta Wilayah Desa

Transparansi APBD Desa

APBDes 2026 Pelaksanaan

PENDAPATAN

Anggaran:Rp 1.711.962.157,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

BELANJA

Anggaran:Rp 2.530.182.580,98
Realisasi:Rp 0,00
0%

PEMBIAYAAN

Anggaran:Rp -285.987.262,98
Realisasi:Rp 0,00
0%

APBDes 2026 Pendapatan

Dana Desa

Anggaran:Rp 215.869.000,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

Bagi Hasil Pajak dan Retribusi

Anggaran:Rp 15.509.923,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

Alokasi Dana Desa

Anggaran:Rp 1.419.979.968,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

Lain-lain Pendapatan Desa Yang Sah

Anggaran:Rp 60.603.266,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

APBDes 2026 Pembelanjaan

BIDANG PENYELENGGARAN PEMERINTAHAN DESA

Anggaran:Rp 957.883.941,98
Realisasi:Rp 0,00
0%

BIDANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DESA

Anggaran:Rp 317.830.498,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

BIDANG PEMBINAAN KEMASYARAKATAN DESA

Anggaran:Rp 1.203.256.000,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

BIDANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

Anggaran:Rp 24.745.831,00
Realisasi:Rp 0,00
0%

BIDANG PENANGGULANGAN BENCANA, DARURAT DAN MENDESAK DESA

Anggaran:Rp 26.466.310,00
Realisasi:Rp 0,00
0%