Berita Desa
Kegiatan Sosialisasi dan Pembentukan Desa Siaga Tubekulosis di Desa Sapari
Lampiran File
Kegiatan Sosialisasi dan Pembentukan Desa Siaga Tuberkulosis di Desa Sapari
Meta Deskripsi: Kegiatan Sosialisasi dan Pembentukan Desa Siaga Tuberkulosis (TBC) di Desa Sapari pada Senin hari 24 November 2025. Pembahasan mencakup latar belakang, penjelasan mengenai TBC, tujuan pembentukan desa siaga, peran pemerintah desa, tantangan, hingga harapan seluruh pihak dalam menekan kasus TBC melalui kolaborasi lintas sektor.
Desa Sapari, Kecamatan Muruk Rian, menjadi salah satu desa yang aktif mendorong peningkatan kesehatan masyarakat melalui pembentukan Desa Siaga Tuberkulosis (TBC). Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 24 November 2025, bertempat di Pendopo Kantor Desa Sapari, dan dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan desa serta tenaga kesehatan dari Dinas .Kesehatan Tana Tidung.
Acara yang berlangsung dari pagi hingga siang ini dibuka langsung oleh Kepala Desa Sapari, Eliyanto, A.A, Md, Pd, SD, dan dihadiri oleh Babinsa, Ketua BPD beserta anggota, Pendamping Lokal Desa (PLD), kader Posyandu, kader PKK, serta tim dari Dinas Kesehatan Tana Tidung, termasuk Bapak Rudi, SKM, selaku Pengelola Program TBC yang menjadi narasumber utama.
Latar Belakang Kegiatan
Program Desa Siaga Tuberkulosis merupakan bagian dari upaya nasional untuk menurunkan angka kasus TBC, yang hingga kini masih menjadi salah satu penyakit menular penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Dengan target eliminasi TBC pada tahun 2030, pemerintah pusat mendorong agar desa–desa membentuk sistem siaga dan pemantauan TBC berbasis komunitas.
Desa Sapari bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Tana Tidung merespons cepat kebijakan ini dengan mengadakan sosialisasi, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta menginisiasi pembentukan struktur Desa Siaga Tuberkulosis (TBC) yang akan menjadi garda terdepan dalam deteksi dini, pencegahan, dan pendampingan pasien.
Apa Itu Tuberkulosis?
Dalam paparannya, narasumber menjelaskan bahwa:
- Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru, namun dapat juga menyerang organ lain.
- Penularan terjadi melalui droplet dari penderita saat batuk, bersin, atau berbicara.
- TBC dapat disembuhkan, namun memerlukan pengobatan teratur selama 6–12 bulan.
Dalam paparannya Bapak Rudi, SKM, menegaskan bahwa pemahaman masyarakat mengenai gejala dan penanganan TBC sangat penting, karena banyak kasus terjadi akibat keterlambatan pemeriksaan atau ketidaktahuan masyarakat tentang penularannya.
Maksud dan Tujuan Sosialisasi
Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan:
- Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang TBC, gejala, pencegahan, dan pengobatannya.
- Mendorong desa memiliki sistem siaga dengan kader terlatih yang mampu melakukan deteksi dini serta pemantauan kasus.
- Memperkuat kolaborasi lintas lembaga desa dalam pengendalian penyakit menular.
- Membangun kesadaran bersama bahwa TBC bukan hanya masalah kesehatan individu, tetapi tantangan komunitas.
- Menyusun rencana tindak lanjut dalam pembentukan Desa Siaga TBC sesuai arahan Dinas Kesehatan.
Pembentukan Desa Siaga Tuberkulosis
Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan proses pembentukan Desa Siaga Tuberkulosis (TBC ) yang meliputi:
- Identifikasi kader desa yang akan terlibat dalam pemantauan TBC
- Penyusunan struktur organisasi
- Penetapan tugas dan alur koordinasi kader
- Penyepakatan mekanisme pemantauan dan pelaporan kasus
- Integrasi dengan Posyandu, PKK, dan layanan kesehatan desa
Para kader diberi pemahaman mengenai tugas mereka, seperti melakukan edukasi rumah ke rumah, mengidentifikasi gejala TBC, serta mendampingi masyarakat menuju pemeriksaan di fasilitas kesehatan.
Peran Pemerintah Desa dan Tantangannya
Dalam sambutannya, Kepala Desa Sapari, Eliyanto, menyampaikan bahwa pemerintah desa memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan warganya memperoleh layanan kesehatan yang memadai. Ia mengatakan:
“Pencegahan dan penanganan TBC adalah tugas bersama. Melalui Desa Siaga Tuberkulosis (TBC), kita ingin memastikan masyarakat kita sehat, terlindungi, dan mendapat edukasi yang tepat.”
Tantangan utama desa antara lain:
- Masih adanya stigma terhadap penderita TBC
- Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri
- Keterbatasan tenaga kader
- Jarak tempuh ke fasilitas kesehatan
- Data kesehatan yang belum optimal terintegrasi
Namun dengan kolaborasi berbagai pihak, tantangan tersebut dapat diatasi secara bertahap.
Sinergi Lintas Lembaga Desa
Dinas Kesehatan Tana Tidung menekankan pentingnya sinergi seluruh lembaga desa, seperti: Pemerintah Desa, BPD, Kader Posyandu, Kader PKK, Babinsa, PLD dan Tokoh masyarakat. Sinergi ini akan memperkuat keberlanjutan program, terutama dalam pendataan, pemantauan kasus, edukasi, dan pencegahan.
Menurut narasumber Bapak Rudi, SKM:
“Kunci keberhasilan Desa Siaga Tuberkulosis adalah koordinasi yang teratur, pendataan yang akurat, dan edukasi yang konsisten.”
Harapan dari Pembentukan Desa Siaga Tuberkulosis
Dengan terbentuknya Desa Siaga TBC, diharapkan:
- Desa Sapari mampu menjadi contoh desa sehat dan tanggap TBC
- Kasus TBC dapat ditemukan lebih cepat dan ditangani sesuai standar
- Tidak ada lagi masyarakat yang terlambat mendapatkan pengobatan
- Kader desa mampu menjadi motor utama edukasi dan pemantauan
- Desa memiliki sistem siaga kesehatan yang berkelanjutan
Kepala desa menutup kegiatan dengan pesan:
“Mari kita jadikan Desa Sapari sebagai desa yang peduli kesehatan, peduli sesama, dan menjadi desa yang kuat dalam melawan TBC. Dengan kebersamaan, kita bisa.”
Kesimpulan
Kegiatan Sosialisasi dan Pembentukan Desa Siaga Tuberkulosis di Desa Sapari menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan kader masyarakat diyakini akan menciptakan perubahan signifikan dalam upaya pencegahan dan pengendalian TBC.
Desa Sapari kini tidak hanya lebih siap menghadapi ancaman TBC, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen nasional menuju Indonesia Eliminasi TBC 2030.
Sahrul r
22 Desember 2025 20:39:17
Mantap...